
Bugh! Yongju meninju wajah Daehyun dengan keras hingga Daehyun terhuyung ke samping dan hampir terjatuh ke lantai. "Yongju! Daehyun!" panggil semuanya. Masing-masing berusaha memisahkan keduanya, mencegah perkelahian tadi berlanjut kembali. Nyonya Kim langsung membantu Daehyun berdiri tegak. Sedangkan Tuan Kim langsung melindungi sang putra dengan berdiri di depannya, menghalau Yongju yang berjalan mendekat. Seojun juga langsung menahan Yongju dengan memeluknya dari belakang.
"Lepaskan!" bentak Yongju pada Seojun secara memberontak kuat dalam dekapan kakaknya itu. "Yongju, hentikan! Ingat, ini rumah sakit! Jangan membuat keributan di sini!" kata Seojun yang mulai kewalahan. "Berhenti, kau, Min Yongju! Selangkah lagi kau maju, aku akan menghubungi polisi!" ancam Tuan Kim. Nyonya Kim yang ketakutan, berteriak memanggil pihak keamanan dan malah membuat perhatian semua orang semakin beralih kepada kami.
"Apapun yang kau lakukan, aku akan membunuhnya dan apapun yang aku lakukan, aku akan benar-benar membuatnya jadi nyata hari ini juga!" teriak Yongju tepat saat ia berhasil melepaskan diri dari Seojun yang terjungkal di lantai. "Yongju oppa, hentikan! Jangan seperti ini, aku mohon!" teriakku panik. "Eomma! Appa! Cepat, hentikan oppa!" pintaku pada kedua orang tuaku yang langsung meninggalkanku dan berusaha menahan Yongju. Tapi Yongju seolah dalam mode binatang buas yang ingin memangsa Daehyun sampai mati.
Tuan Kim yang menghalangi langkah Yongju pun turut mendapatkan pukulan dari Yongju sampai menubruk dinding, setelah Yongju mendorongnya untuk membuka jalannya ke Daehyun. Begitu pula, appa dan eomma yang juga gagal menahannya. "Oppa, hentikan!" pintaku yang langsung memeluk Yongju dari depan. Kali ini, Yongju tidak memberontak karena tidak ingin menyakitiku. "Lepaskan, Hana!" katanya dengan suara tertahan. "Tidak mau! Apa oppa gila, hah! Jangan bertindak kejam seperti itu!" kataku seraya mengeratkan pelukanku. "Siapa yang gila? Aku lebih baik darinya! Dia seratus kali lebih kejam dariku! Dia pikir, kau hanya gadis yang mudah dipermainkan, Hana!" ucap Yongju dengan rahang bergetar, meski ia berhasil tidak menaikan suaranya di depanku.
Direktur rumah sakit beserta pihak keamanan berdatangan dan berusaha menenangkan situasi. Nyonya Kim meminta pihak keamanan untuk membawa Yongju ke kantor polisi. Tapi tentu saja setelah sang direktur melihat ketiga putra pemilik rumah sakit itu, ia tidak mungkin melakukannya. "Hana, lepas!" kata Yongju lagi. "Aku katakan, tidak! Berjanjilah, oppa tidak akan melukainya lagi!" pintaku dengan sangat. Semua jadi ambigu di mata Yongju dan Daehyun. Mereka berpikir, aku melindungi Daehyun, padahal aku hanya tidak ingin Yongju jadi tersangka kriminal.
"Maaf, bagaimana kalau kita membahas dan menyelesaikan masalah ini di ruangan saya saja?" tawar direktur rumah sakit itu dengan sopan. Tapi direktur itu tidak bisa melanjutkan satu baris kalimatnya karena Nyonya Kim memotongnya. "Tidak ada yang perlu dibahas lagi, penjarakan saja dia!" kata Nyonya Kim seraya menunjuk Yongju. "Sebenarnya, saya tidak ingin mencampuri masalah kalian sebagai keluarga pasien di sini, tapi karena anda sekalian sudah membuat keributan di sini, saya harap anda sekalian mengikuti saya ke ruangan!" kata direktur itu, tanpa menghiraukan Nyonya Kim.
Seojun menghampiri aku dan Yongju. Dengan lembut, Seojun membujukku untuk melepaskan Yongju, lalu meminta Junghwa membawaku kembali ke kamar. Sedangkan dia kembali membujuk Yongju untuk tenang, "Sadarlah, perbuatanmu ini juga melukai Hana!" katanya. Akhirnya, hanya dua-tiga kata dari Seojun itu mampu membuat Yongju menurunkan amarahnya. "Pikirkan juga pasien-pasien di sini yang terganggu dengan ulah kita. Appa juga tidak akan suka, jika tahu. Penggemarmu juga, pasti mereka akan kecewa. Ayo, kita pergi temani Hana. Dia lebih membutuhkanmu sekarang," bujuknya lagi. Yongju lagi-lagi menepis tangan Seojun yang menahan tangannya. Tapi meski terlihat masih kesal, sang adik menuruti sang kakak, menyusul aku dan Junghwa yang lebih dulu menuju kamar inapku bersama kedua orang tuaku.
"Seojun Hyung, aku juga ingin menemani Hana," ucap Taehyun dengan wajah memohon pada Seojun yang diam menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sesaat kemudian, Seojun mengalihkan pandangannya sambil menghela nafas panjang. "Tae, kembali pada dirimu sendiri dan lihat ke cermin, apa kau masih pantas menemui mereka?" ucapnya. "Tapi, hyung..." ucap Daehyun. "Jika kau menginginkan maaf dari mereka, buatlah keadaan menjadi tenang terlebih dahulu. Cobalah untuk menyelesaikan masalahmu dengan Sooyun dulu. Tunjukan ketulusanmu, walaupun hanya sedikit," kata Seojun berusaha untuk netral karena keduanya sama-sama adiknya.
"Daehyun, ayo, kita pulang sekarang!" perintah Tuan Kim seraya menyeret sang putra. "Tidak mau. Aku mau menemani Hana! Hyung, aku mohon bantu aku menemui Hana!" ucap Daehyun keras sambil menghempaskan tangan appa-nya. "Daehyun, menurutlah dan pulang!" bentak Nyonya Kim. "Kau sudah mendapatkan predikat buruk, Daehyun. Aku juga bukan siapa-siapa yang bisa membantumu, tapi aku akan pastikan Hana baik-baik saja untukmu. Sekarang, pulanglah dengan orang tuamu!" lanjut Seojun seraya berbalik menghampiri direktur rumah sakit untuk membicarakan kekacauan di rumah sakit yang didirikan Tuan Jeon atas nama putra sulungnya itu.
Namun, "Sial!" umpat Seojun tiba-tiba di tengah sapaannya pada sang direktur, saat menyadari Yongju yang berlari menyelinap ke belakangnya. Kemudian, Yongju langsung memukul Daehyun lagi. Daehyun yang sudah mulai kelelahan, sampai tersungkur ke lantai akibat serangan tidak terduga itu. Yongju tersenyum puas melihat Daehyun yang memuntahkan darah segar dari mulutnya. "Bangun dan hadapi aku dulu kalau kau masih mau menemui Hana!" tantangnya. Daehyun menatap murka Yongju yang berdiri di depannya sambil menyeka mulutnya. "Kenapa diam saja? Apa yang kau takutkan, hah? Aku yakin, jika aku pemukul yang baik! Masih mau mencoba pukulanku?" ucap Yongju dengan swag-nya, semakin memprovokasi Daehyun.
Sooyun dan Nyonya Kim langsung membantu Daehyun bangun, tapi Daehyun lagi-lagi menepis tangan Sooyun dengan kasar. "Lepaskan! Kau pengemis! Tak punya otak! Miskin! Mata duitan! Jangan berani menyentuhku!" bentak Daehyun melampiaskan emosinya pada Sooyun. Melihat Daehyun yang tidak menggubrisnya, Yongju menjadi lengah, tidak menyadari sebuah pukulan mengarah padanya dan membuatnya tersungkur di lantai seperti Daehyun tadi. "Dasar anak haram!" umpat Daehyun dengan keras saat melayangkan pukulannya pada Yongju. Yongju tertegun bukan karena sakitnya pukulan yang ia terima, tapi dari kata "anak haram" yang baru saja ia dengar. Begitu pula, aku, Junghwa, Seojun dan kedua orang tuaku yang terkejut mendengarnya. "Jangan katakan itu!" ucapku lirih seraya menutup mulutku.
__ADS_1
Yongju pun menatap murka Taehyun, seolah ada api yang membara di kedua matanya. Hanya dalam hitungan detik, pertikaian keduanya pun tidak dapat dicegah lagi. Yongju menjadi kalap, memukuli Daehyun secara membabi buta, tanpa peduli siapapun yang mencoba menahannya, akan mendapatkan pukulan yang sama. "Iya, aku anak haram, tapi aku tidak perlu kau untuk hidup!" kata Yongju saat membalas ucapan Daehyun dengan pukulan keras di rahangnya. "Iya, aku anak haram, tapi aku tak perlu Givenchy karena aku seorang artis!" kata Yongju lagi untuk pukulan keduanya. "Iya, aku anak haram, tapi aku tak perlu HUGO karena aku sudah menjadi bosnya sejak lahir!" kata Yongju dengan suara datarnya yang deep dan menakutkan seiring pukulan ketiganya. "Iya, aku anak haram, bukan Buddha yang suci dan aku akan membantaimu hari ini!" lanjutnya.
Daehyun kewalahan menangkis serangan membabi buta Yongju karena tangan kanannya yang terluka. Bahkan jahitan di lengan kanannya kembali mengeluarkan darah. "Meskipun aku anak haram, kau tak akan pernah bisa merebut milikku!" kata Yongju lagi dengan berapi-api. "Hentikan, Yongju! Eomma mohon! Demi eomma, demi appa, demi Hana, demi penggemarmu, demi karirmu! Eomma mohon, hentikan!" teriak eomma yang panik melihat Yongju diluar kendali. Yongju sama sekali tidak menghiraukan apa-apa lagi. Bahkan telinganya menuli dengan teriakanku yang terus memanggilnya.
"Tak masalah jika aku punya banyak haters, asal aku bisa membunuhnya! Aku tidak peduli jika mereka mulai menggali karirku dan menguburku di dalamnya!" kata Yongju dalam hatinya seraya berjalan pelan ke arah Daehyun yang menjauh berusaha melarikan diri dengan merangkak. "Yongju, pertimbangkanlah masa depanmu, nak!" kata appa, turut berusaha menenangkan amarah Yongju. "Aku tidak peduli, meski aku harus memulai hidupku dari awal lagi! Aku tidak peduli, meski masa depanku hancur!" sahut hati Yongju lagi yang sebenarnya mendengar semua suara itu, tapi tetap menolak menurutinya.
Suasana benar-benar menjadi semakin kacau. Banyak penghuni rumah sakit yang lainnya, ikut keluar saat mendengar keributan dan menjadi penonton adegan action yang ilegal ini. Bahkan banyak dari mereka yang meabadikan adegan Yongju menghajar Daehyun. Terlebih pelaku adegan kekerasan ini adalah seorang publik figur seperti Yongju. Daehyun berhasil berdiri dibantu Sooyun, tapi ke manapun dia pergi, Yongju terus mengikutinya dalam diam, hanya matanya yang seolah berkata, "aku akan membunuhmu, Kim Daehyun!" Sedangkan, Daehyun yang terluka sudah tidak bisa menolak bantuan Sooyun yang memapahnya.
Tuan Kim sibuk menghubungi polisi lewat ponselnya. Sedangkan Nyonya Kim sibuk memaki Yongju dengan mulutnya. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Hyunwo dengan berbisik pada Junghwa yang sejak tadi memelukku dari belakang untuk menahanku mendekat seperti yang eomma-ku perintahkan padanya. "Lihat situasi saja. Biarkan Yongju hyung melakukannya. Jika sudah gawat, baru bantu!" jawab Junghwa seraya masih memperhatikan Yongju dari jauh. "Kita tidak punya alasan untuk ikut campur, tapi beritahu mereka untuk tetap bersiap!" lanjutnya.
Aku yang mendengarnya, menatap Junghwa dengan wajah memohon, "Junghwa, jangan diam saja seperti ini! Tolong, pisahkan mereka, Junghwa! Aku mohon! Aku tidak ingin mereka terluka seperti ini!" pintaku dengan sangat. "Kalau tidak, biar aku saja yang ke sana! Lepaskan aku, Junghwa!" pintaku lagi seraya menggeliat dalam pelukannya, berusaha membebaskan diri. Aku yang kehabisan akal, akhirnya menggigit kuat tangan Junghwa sampai ia melepaskan tangannya yang melingkar di perutku. Aku langsung berlari ke arah Yongju, tanpa peduli teriakan Junghwa yang memanggilku.
Sepanjang langkahku menuju Yongju, aku mendengar orang-orang yang membicarakan Yongju dengan buruk. Mendengarnya, aku semakin berlari dengan pikiran kacau dan nafasku semakin memburu saat melihat Yongju yang berhasil menumbangkan Daehyun lagi dan kembali menghajar kekasih hatiku itu tanpa ampun. Tanpa sengaja, aku menabrak seseorang saat berlari. Aku terjatuh, tapi langsung berusaha bangun lagi. Entah kenapa, saat aku berhasil berdiri, aku tiba-tiba merasa mual dan ingin memuntahkan isi perutku.
"Baiklah, aku akan menghentikan Yongju hyung. Jadi, berhentilah menangis!" kata Junghwa menenangkanku dengan menepuk-nepuk punggungku. Junghwa mengira yang aku maksud adalah hatiku yang sakit melihat perkelahian Yongju dan Daehyun. "Junghwa... perutku... sakit..." lirihku lagi dengan suara bergetar. Bahkan kini tubuhku mulai gemetar menahan sakitnya. Aku makin mengeratkan lingkaran tanganku di leher Junghwa. Bahkan sampai menjinjitkan kedua kakiku saat menahan sakitnya. "Perut?" tanya Junghwa bingung. "Perutku, Junghwa..." ulangku. "Perut noona? Di mananya?" kata Junghwa seraya berusaha melepaskan pelukanku untuk memeriksaku, tapi aku semakin menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya dan semakin menangis kesakitan.
"Noona, tunggu! Lepaskan dulu!" kata Junghwa dengan meraih lenganku yang memeluknya. "Sakit!" pekikku dan membuat Junghwa mengurungkan niatnya. "Baiklah, kita kembali ke kamar, ya? Aku akan meminta dokter memeriksanya," kata Junghwa lembut. "Yongju oppa..." sahutku lagi dengan pelan. "Tenanglah, aku akan menyuruh Hyunwo hyung untuk mengurusnya, oke? Sekarang, lepaskan dulu pelukan Noona, agar aku bisa menggendong noona kembali ke kamar," lanjut Junghwa dengan sangat lembut sambil membelai rambutku yang terurai.
Perlahan, aku melepaskan lingkaran tanganku. Junghwa membantuku berdiri dengan memegangi pinggangku. "Noona!" ucap Junghwa terkejut saat melihat wajahku yang sudah sangat pucat, terlebih saat aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir di antara kedua kakiku. Dengan gerakan lambat, tapi dengan jantung yang memacu cepat, aku menundukan pandanganku ke arah kakiku. Begitu pula, Junghwa yang mengikuti arah pandanganku. Kami berdua pun sama-sama tercengang dengan apa yang kami lihat.
Darah segar mengalir dari antara kedua kakiku dan membasahi lantai. Pandanganku yang nanar plus air mata yang mengalir panjang di kedua pipiku, aku alihkan ke wajah Junghwa yang tiba-tiba berubah dengan ekspresi menakutkan yang belum pernah aku lihat sebelumya. Aku benar-benar tidak tahu harus apa, pikiranku semakin kosong. Bahkan aku tidak lagi merasakan sakit di perutku. Tatapanku hanya berisi wajah Junghwa yang tampak marah. Perlahan, tanganku meraih tangan Junghwa dan menggenggamnya, saat aku merasa tubuhku akan terjatuh ke belakang.
__ADS_1
Dengan sigap, Junghwa langsung menarik tangannya yang aku genggam dan menggendongku. Junghwa berteriak memanggil dokter dan langsung berlari membawaku ke kamar inapku. Teriakannya berhasil membuat Yongju menghentikan pukulannya. Melihat Junghwa yang berlari sambil menggendongku dengan panik, Yongju langsung meninggalkan Daehyun dan mengejar Junghwa. Disusul kedua ke orang tuaku, juga Seojun. Daehyun yang juga ingin melakukannya, ditahan oleh kedua orang tuanya.
Di kamar inapku, dokter tidak mengizinkan siapapun untuk masuk. Hanya Junghwa yang sempat masuk karena tengah menggendongku. "Katakan, ada apa dengan Hana?" tanya eomma khawatir. "Tenanglah, Bi. Kita tunggu dokter memeriksanya," kata Seojun. Sedangkan Yongju hanya diam memandangi genangan darah di lantai dengan bingung. "Darah siapa? Sebenarnya, apa yang terjadi?" pikirnya.
Beberapa menit kemudian, Junghwa keluar dengan ekspresi yang tidak biasa. Junghwa berjalan tanpa mengatakan apa pun, meski yang lain berebut menanyakan kondisiku. "Bawa Daehyun ke sini!" ucapnya datar, setelah sampai di depan Hyunwo. "Apa?" ucapnya dan yang lainnya, tidak mengerti maksud Junghwa. Deg! Hyunwo dan Seojun tertegun saat menyadari tatapan Junghwa yang berubah. Tatapan yang hanya diketahui orang-orang yang sangat dekatnya. Tatapan yang selalu berhasil disembunyikan si bocah nakal dibalik wajah bayinya itu.
"Baiklah, aku akan memanggilnya," kata Hyunwo seraya bergegas melangkah. Junghwa memiringkan kepalanya, lalu sebuah seringai iblis yang menakutkan terukir di wajah malaikatnya itu, "Tunggu!" ucapnya dingin. Degh! Hyunwo menghentikan langkahnya. Seojun yang seolah bisa membaca isi pikiran sang adik, mendadak berkata, "biar aku yang memanggilnya!" membuat Junghwa mengalihkan tatapan itu padanya. Gulp! Seojun menelan ludahnya dengan kasar. Tatapan sang adik benar-benar mengintimidasinya dengan kuat. "Jung, ini Korea, bukan Jepang!" kata Seojun ragu. "Jangan macam-macam di rumah sakitku!" lanjutnya yang kehabisan kata-kata.
Lagi-lagi, seringai iblis itu muncul. "Kalau begitu, lihatlah siapa yang ada di atas hyung sekarang!" ucap Junghwa datar seraya berjalan ke arah Seojun. "Biar aku sendiri yang menyeret bajing** itu ke hadapan noona!" lanjutnya sambil melewati Seojun dengan tatapan mematikannya. "Hyunwo! Kau diam saja? Cepat, cegah bocah gila itu!" kata Seojun seraya mengguncang bahu Hyunwo yang masih terdiam. "Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa dengan Junghwa dan bagaimana dengan Hana?" tanya eomma. Seojun tidak menjawabnya dan semakin mendesak Hyunwo melakukan sesuatu untuk menahan Junghwa.
Saat panik seperti ini, tanpa sengaja mata Seojun menangkap darahku di lantai, "darah?" ucapnya. Kemudian, mata Seojun membulat saat mengingat sesuatu. Seojun menatap Hyunwo yang melakukan hal yang sama padanya setelah melihat darahku itu. "Hyunwo, apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Seojun dan Hyunwo pun bergegas menghubungi anak buahnya yang berjaga di depan untuk menahan Junghwa.
Yongju yang sejak tadi tidak bersuara, seperti cenayang seolah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya dari pembicaraan mereka. "Apa Junghwa pernah membunuh?" tanyanya tiba-tiba dan mengejutkan kedua orang tuaku. Seojun semakin gelagapan mendapatkan pertanyaan itu. Ada satu rahasia yang disimpan keluarga Jeon. Si bungsu yang imut akan berubah menjadi seorang psikopat setiap kali mata bulatnya melihat darah orang yang ia sayangi. "Apa Hana termasuk orang yang disayanginya?" pikir Seojun tiba-tiba. Otak pintar Seojun berusaha merangkai kebohongan untuk menutupi rahasia adiknya itu, meski yang bertanya sekarang juga adiknya yang lain. "Diamlah, aku sudah tahu!" kata Yongju seraya berbalik ke arah yang sama dengan yang diambil Junghwa.
Namun, keributan kembali terjadi di ujung lorong. Dari kejauhan, terlihat Junghwa yang menyeret paksa tuan muda Kim yang arogan itu. Junghwa membawa Daehyun tanpa ada hambatan karena para pengawalnya yang menahan keluarga Kim dan Shin yang mencoba menghalanginya. "Sudah aku katakan, jika kalian mencoba mencegahnya hanya dengan kata-kata, itu hanya akan semakin membuatnya semakin menggila!" ucap Hyunwo seraya menghela nafasnya. "Saat seperti ini, aku selalu cemburu dan iri dengannya! Seperti yang kau tahu, ia selalu bisa melakukan apa yang ia katakan," kata Seojun tanpa sadar. Sesaat, ketiganya terperangah melihat si bungsu yang tampak sangat keren berjalan tanpa sepatah kata pun, menyeret Taehyun yang berontak dari cengkeraman kuat tangannya. Junghwa berjalan dengan tatapannya yang tajam seperti tatapan elang yang berada di atas rantai makanan dan terbang tinggi mencengkeram tikus di kakinya.
"Ada apa ini?" tanya Namgil yang baru kembali setelah mengantarkan Jiwon ke stasiun terdekat untuk pulang. Dengan bodohnya, Namgil menahan Junghwa saat ia melihat kondisi Taehyun yang babak belur. Junghwa menghentikan langkahnya saat Namgil menyalipnya dan berdiri di depannya. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan Taehyun!" kata Namgil yang merasa kasihan, meski masih marah pada adik sepupunya itu. Namgil mengedarkan pandangannya dan baru sadar, jika paman dan bibinya sedang ditahan beberapa orang yang tidak ia kenal. Bahkan dua orang berseragam polisi juga ikut ditahan oleh mereka.
Namgil mengembalikan pandangannya pada Junghwa, tepat saat Junghwa menodongkan sebuah pistol ke arahnya. "Minggir!" perintah Junghwa dengan datar. "Hyung, tolong aku!" ucap Taehyun pelan dan terdengar lemah. Namgil sempat tertegun karena untuk yang pertama kalinya, ia mendengar adik sepupunya itu meminta sesuatu padanya. "Keluarga Lee Hana!" panggil seorang perawat yang membuka pintu ruanganku. Kedua orang tuaku pun bergegas masuk ke dalam. "Cepat!" kata Junghwa lagi. Klik! Terdengar bunyi dari pistol yang Junghwa pegang. Mendengarnya, Namgil pun melangkah ke samping, memberikan jalan untuk Junghwa lewat karena ia juga ingin mendatangi ruanganku untuk mengetahui apa yang terjadi padaku.
Sesampainya di depan ruanganku, Junghwa mendobrak pintu yang tertutup itu dengan menendangnya. Kemudian, melemparkan Daehyun ke lantai, tepat di samping ranjang di mana aku terbaring tak berdaya dengan mata tertutup. "Dokter, katakan pada bajing** ini apa yang terjadi pada noona!" kata Junghwa dengan suara bergetar menahan segala amarahnya. Jiwa psikopatnya sudah bergejolak ingin membantai Daehyun saat ini juga. Tapi memikirkan aku yang mungkin akan membencinya setelahnya, membuat Junghwa mempertahankan kewarasannya sekuat tenaga. "Pasien baru saja pasien mengalami pendarahan hebat. Maaf, kami sudah melakukan sebisanya, tapi kami tidak bisa mempertahankan janinnya. Pasien mengalami keguguran," kata dokter yang seketika seperti tamparan telak di wajah Daehyun.
__ADS_1