
Beberapa saat kemudian, Yongju dan Hyunwo sudah duduk di depan Tuan Jeon yang meminta mereka menghadap di ruang meeting yang ada di rumah sakit ini. Begitu pula, Seojun dan Junghwa yang sudah datang sejak beberapa menit yang lalu. Hening, belum ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Tuan Jeon, hanya tatapan tajamnya yang mengintimidasi keempat pemuda di depannya itu. Seojun masih mengatur nafasnya yang sempat ngos-ngosan setelah berlari dari lobby saat mendapat panggilan dari sang appa.
" Jeon Yongju, tanpa appa memiliki waktu untuk melihat pertumbuhanmu selama ini, sekarang kau sudah menjadi kebanggaan appa. Apa ini yang kau inginkan? Apa hanya sampai di sini batas kesuksesan yang kau impikan?" kata Tuan Jeon seraya menatap Yongju yang hanya terdiam. "Jeon Junghwa, appa selama ini diam dan membiarkanmu karena appa menganggap ini hanya kenakalan saat pubertas karena appa juga sepertimu saat muda dan tak punya apapun untuk ditakuti, tapi sekarang apa masih belum cukup appa untuk diam?" lanjut Tuan Jeon seraya beralih menatap si bungsu.
"Appa tahu, kau berbeda dengan hyung-mu, tapi..." kata Tuan Jeon. "Tidak ada yang berbeda! Bila ada yang berbeda, itu hanya umurku dan tinggi badanku!" sela Seojun yang tidak pernah suka jika appa-nya mulai membeda-bedakan dirinya yang goodboy dan sang adik yang selalu dicap badboy. Seojun memang lebih kalem dari adik-adiknya. Mungkin karena dia anak sulung, dia menjadi lebih dewasa di umurnya saat ini yang baru 22 tahun. Seojun juga anak yang penurut, bahkan sangat penurut dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya di depan eomma-nya.
Ketiganya mengawali masa muda mereka dengan cara yang berbeda. Jika Yongju memilih dunia entertainment dan Junghwa yang sudah akrab dengan dunia mafia sejak kecil, lain halnya dengan Seojun yang lebih fokus menyelesaikan pendidikannya demi predikat pewaris perusahaan. Eomma-nya selalu menuntut Seojun untuk fokus melanjutkan pendidikannya di bidang bisnis agar menjadi pengganti appa-nya di perusahaan kelak. Padahal sebenarnya, Seojun selalu bercita-cita menjadi seorang dokter. Berkat ide gila sang adik pula, Seojun memberanikan diri membohongi eomma-nya dan keluarga Kim bahwa ia pindah ke LA untuk kuliah di bidang bisnis dan bersiap meneruskan perusahaan. Padahal yang sebenarnya, ia memilih berkuliah di bidang kedokteran seperti impiannya.
"Tidak apa-apa, hyung. Jangan terlalu berlebihan membela kami! Appa tidak akan menghukum kami," celetuk Junghwa santai. "Benarkah?" sahut Tuan Jeon geram dengan perkataan sang putra yang semakin kurang ajar ini. "Bila kau bertingkah seakan tahu segalanya dan akan membuat kekacauan lagi, appa akan memulangkanmu ke Jepang tanpa uang sepeserpun!" ancam Tuan Jeon dengan emosi. "Terserah appa. Aku tidak peduli!" sahut Junghwa dengan santai. Bahkan setelahnya, Junghwa malah memberikan tatapan iba pada sang appa. "Apa tidak ada ancaman yang lain?" tanyanya dengan wajah polosnya yang menyebalkan itu. "Tanpa appa paksa juga, aku sudah sangat sering mengunjungi kakek. Tanpa uang appa juga, aku mempunyai sendiri. Paling-paling, malah eomma yang akan mengamuk pada appa!" ancam Junghwa balik.
__ADS_1
Puas sudah membuat sang appa bungkam, Junghwa bangun dari duduknya, "Sudah aku katakan buka, terserah appa mau berkata apa, aku hanya ingin hidup seperti yang aku inginkan dengan keyakinanku sendiri. Jadi, tidak usah memusingkan keadaanku," katanya. "Di matamu, kau pikir bagaimana keadaanmu sekarang, hah? Kau pikir, bagaimana appa menangani semua kekacauan yang kau buat ini? Apa kalian tahu, seberapa banyak video yang tersebar dan harus ditangani tim I.T kita? Terlebih tadi, kau menodongkan pistol ke kepala anak presiden? Kau ingin menghancurkan keluarga kita, hah!" bentak Tuan Jeon yang kehilangan kesabarannya.
"Aku tidak peduli!" sahut Junghwa lagi tanpa ekspresi sama sekali di wajahnya, bahkan Tuan Jeon sampai terperangah melihatnya. Tuan Jeon menyandarkan kepalanya di kursi seraya menghela nafasnya panjang sambil melonggarkan dasinya dan seperti yang selalu ia katakan ratusan kali, setiap kali putra kesayangannya itu berulah, "Lupakan saja! Percuma bicara denganmu!" Seojun menarik tangan Junghwa agar sang adik kembali duduk dan berhenti melawan appa mereka. Junghwa sempat ingin melawan, tapi terpaksa menurut saat Yongju yang duduk di sisi sebelahnya, turut menarik tangan Junghwa yang satunya. "Duduk!" perintah Yongju seraya menatap tajam Junghwa.
Tuan Jeon menundukan kepalanya, tampak frustasi menyesapi kegagalannya mendidik anaknya. "Appa, maafkan kami. Kami masih muda dan kekanak-kanakan. Belum bisa mempertimbangkan mana yang baik dan yang benar. Jangan khawatir, kami akan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi," kata Seojun, mewakili kedua adiknya. "Sudahlah, Seojun! Berhenti membela kedua adikmu itu!" kata Tuan Jeon seraya memijit ruang di antara kedua alisnya. "Lupakan masalah tadi! Sekarang, kita bicarakan rencana kalian berdua untuk ke depannya! Apa yang akan kalian lakukan setelah keluar dari K entertainment?" lanjut Tuan Jeon pada Yongju dan Junghwa.
Kedua orang yang ditanya hanya saling melempar pandang, lalu masing-masing terdiam. "Appa tidak akan bertanya seperti ini, jika semua yang kalian capai mengecewakan, tapi kalian berdua berbakat! Betapa sayangnya kalau kalian berhenti di tengah jalan seperti ini," kata Tuan Jeon. "Kalau kalian memutuskan keluar dari K entertainment, appa mendukungnya! Tapi tidak, jika kalian berhenti begitu saja!" lanjut Tuan Jeon. "Tapi..." ucap Yongju ragu. "Tapi apa? Tapi keadaan sudah terlanjur kacau? Tapi karena kalian sudah terlanjur membuat kecewa penggemar kalian?" potong Tuan Jeon.
"Karena kalian tidak bisa kembali ke K entertainment, kalian akan pindah ke agensi saingan K entertainment. Sebelum K entertainment mengklarifikasi pemutusan kontrak, kita harus lebih dulu mengeluarkan statemen pindah agensi. Kita akan lebih dulu maju dan membalikan kesalahan pada K entertainment!" kata Tuan Jeon. "Kapan kita mulai melakukannya?" tanya Junghwa bersemangat. "Sekarang juga kalian akan membuat statemen di sini! Untuk Yongju, sepertinya perlu make up untuk menutupi luka di wajahmu," jawab Tuan Jeon seraya memandang wajah sang putra.
__ADS_1
"Apa? Sekarang? Di sini?" tanya Seojun, Yongju dan Junghwa hampir bersamaan. "Appa bercanda!" kata Junghwa tidak percaya. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Seojun gelagapan. "Apa aku harus keluar?" tanya Hyunwo juga. "Tunggu dulu! Sebelum kami membuat statemen, apa appa yakin agensi itu akan menerima kami?" tanya Yongju yang masih berusaha tenang. Tuan Jeon tidak menjawab dan malah menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Bagaimana? Apakah semuanya beres? Apa persiapannya sudah selesai? Kita juga perlu make up artis terbaik untuk Yongju! Lalu, apa orang itu setuju? Bagaimana dengan akuisisi agensi itu, selesai? Baiklah, kalau begitu bersiaplah!" kata Tuan Jeon dengan lawan bicaranya.
"Persiapan sudah selesai, hanya tinggal menunggu make up artis itu datang. Appa juga sudah mengakuisisi sebagian sahamnya. Jadi, mereka langsung menerima kalian sebagai artis baru di agensi mereka. Bukan, agensi kalian sendiri karena saham yang appa beli atas nama kalian berdua," kata Tuan Jeon menjelaskan. "Appa juga sudah meminta bibi Lee untuk ikut bersama kalian, tapi bibi Lee memutuskan untuk istirahat dulu sekaligus merawat Hana. Untuk manajer, appa sudah menghubungi manajer kalian di K entertainment dan dia bersedia mengikuti kalian," lanjut Tuan Jeon.
Yongju diam ternganga mendengarnya. Sedangkan Junghwa hanya tersenyum puas mendengar pergerakan super cepat sang appa. "Baiklah, sekarang pergilah ke ruangan sebelah. Ada staff yang akan memberikan briefing pada kalian berdua," kata Tuan Jeon. Junghwa pun berdiri dan mengajak Yongju pergi bersama. "Tunggu dulu!" tahan Tuan Jeon. Yongju dan Junghwa pun menahan langkah mereka. "Kalian tahu, ini tidak mudah untuk kalian, juga untuk semua orang yang membantu kalian. Jadi, tanamkan di dada kalian untuk tidak mengecewakan semua orang yang mendukung kalian!" pesan Tuan Jeon.
"Setajam apapun jalan di depan kalian, larilah! Walaupun ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa ditahan seperti penilaian para haters, jangan pedulikan karena appa tahu, kalian lebih baik dari itu! Jangan menyerah dan lakukanlah dengan baik!" lanjut Tuan Jeon seraya tersenyum bangga pada keduanya. Yongju sempat terenyuh mendengarnya. Sebuah pesan yang pertama kali ia dapatkan dari seorang appa. Dalam hatinya, Yongju bertekad untuk membuktikan dirinya pada sang appa. Sedangkan Junghwa hanya menunduk diam, menyembunyikan matanya yang melembab.
"Seojun, kau tetap di sini temani appa bicara dengan paman Lee! Dan kau, Hyunwo, untuk sementara, aku serahkan keamanan Hana padamu karena mulai besok dua anak nakal ini akan sibuk! Pastikan Hana tenang dari Daehyun, mengerti!" perintah Tuan Jeon yang langsung mendapat anggukan Hyunwo. "Tunggu dulu! Kenapa jadi appa yang memberikan perintah pada Hyunwo hyung? Bukankah hyung itu pengawal pribadiku dari kakek!" protes Junghwa dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau tidak mau meminjamkan pengawalmu untuk Hana?" tanya Yongju. Junghwa menatap Yongju bingung. "Sebelum appa, aku sudah memintanya mengawasi Daehyun karena aku yakin, Daehyun pasti masih berusaha menemui Hana," lanjut Yongju. "Benarkah?" tanya Junghwa ragu. "Kalau mengingat watak Daehyun yang keras kepala, itu mungkin saja!" tambah Seojun juga. Junghwa mengerutkan keningnya, memikirkan kemungkinan yang ada.
"Baiklah, Hyunwo hyung akan menjaga keamanan noona! Kalau perlu, tambahkan yang lain untuk bergiliran menjaga di depan ruangan, tapi pastikan noona tidak terganggu dengan kalian!" titah sang tuan. "Kirimkan juga beberapa orang untuk mengawasi pergerakan keluarga Kim, terutama Daehyun! Setidaknya, sampai pernikahan Daehyun dan Sooyun. Kalau ada yang mencurigakan, laporkan segera! Sekarang, hyung kembalilah ke ruangan noona! Tolong, lindungi noona untukku," perintah Junghwa pada Hyunwo.