The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Pasang Saja Sendiri Cincin Sialan Itu Di Jarimu!


__ADS_3

Setelah acara makan bersama keluarga kedua belah pihak selesai, Namgil mendekati Yongju dan Junghwa yang sedang berbincang. "Annyeong, hyung," sapanya pada Yongju dengan ramah plus senyum lesung pipinya. Tak lupa, ia juga menyapa Junghwa untuk pertama kalinya. Namgil berkenalan dengan Junghwa yang membalasnya dengan ramah pula, sedangkan Yongju masih tampak dingin terhadap Namgil. Bahkan sampai Namgil sudah meminta maaf soal hubungannya dengan Hana, Yongju tetap diam tidak merespon perkataannya. Junghwa yang tidak tahu apa-apapun hanya menyimak.


"Hei, Namgil, haruskah hyung juga menjadi bintang seperti mereka berdua? Kau mengabaikan hyung dan malah menghampiri dua adik hyung?" kata Seojun yang ikut bergabung dengan ketiganya. Sejak tadi, Seojun sudah memperhatikan interaksi antara Namgil dan Yongju yang tidak hangat. Seojun yang sudah mulai mengenal Yongju, mengira kalau Yongju bersikap sombong pada adik sepupunya, Namgil. Jadi, ia menghampiri mereka untuk mencairkan suasana. "Yongju, Namgil juga adik hyung. Jangan terlalu sombong padanya!" katanya, bercanda. "Bukan begitu, hyung! Yongju hyung tidak begitu! Aku tahu, Yongju hyung bukan orang sombong! Aku salah satu penggemarnya. Hanya saja, sepertinya aku lah yang sudah menjadi buruk di mata Yongju hyung," sahut Namgil, tak enak hati.


"Kurasa, aku sudah bukan orang suci lagi!" ucap Namgil dalam hati merasa bersalah karena sudah berpacaran dengan adik idolanya itu. "Memangnya, ada apa?" tanya Seojun bingung. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang tidak ingin bicara," sahut Yongju. "Jangan begitu! Kalau ada yang mengajakmu bicara, kau tidak boleh diam saja seperti tadi! Bagaimana kalau kau membuat orang itu tersinggung? " tegur Seojun pada Yongju. "Tidak apa-apa, hyung. Aku tidak tersinggung. Aku sudah senang bisa bertemu orang hebat seperti Yongju hyung. Lagi pula, aku bukan siapa-siapa, hanya penggemar biasa," kata Namgil merendah.


"Apa yang kau katakan? Kau lebih hebat karena appa-mu presiden!" sahut Yongju yang membuat Namgil terkejut karena Yongju akhirnya mau berbicara dengannya. Namgil tersenyum, tapi sesaat kemudian senyumannya memudar saat mencerna kalimat Yongju tadi. "Tidak sehebat itu! Selama ini, aku malah merasa terlahir sebagai mobil di tahun 94. Duniaku dimulai dan aku mulai menyetir sesuai jalur yang diarahkan. Bahkan terkadang aku sendiri tidak bisa membuka mobil ini sesukaku!" kata Namgil memberikan perumpamaan dirinya sambil tersenyum hambar.


Seojun terdiam mendengar penuturan sang adik sepupu dan tiba-tiba merasa iba karena berpikir bernasib sama. Sedangkan Junghwa juga terdiam karena kurang mengerti arti kalimat Namgil itu. Yongju diam menatap Namgil yang tersenyum malu dengan perkataannya sendiri. "Jangan jadi seseorang yang diarahkan! Jadilah siapa saja yang kau inginkan, daripada hidup sebagai mayat yang tidak bisa berdiri dengan tubuhnya sendiri!" kata Yongju dengan santainya. Jika Junghwa masih diam mencerna setiap kata dalam pesan Yongju tadi dan Namgil yang terdiam meresapi maknanya, lain halnya dengan Seojun yang sekali lagi merasa tertampar dengan perkataan adiknya itu.


Selagi keempat orang itu terdiam, aku datang menghampiri mereka. "Oppa!" ucapku dan membuat Seojun, Yongju, juga Namgil menoleh bersamaan ke arahku yang tersenyum kikuk karena yang aku maksud adalah Yongju. "Sebelumnya, terima kasih karena kalian semua sudah mau datang ke acara ini," kataku basa-basi dan memilih berdiri di antara Seojun dan Junghwa agar tidak membuat salah paham, jika aku berdiri di antara Namgil atau Yongju. Seperti halnya pada Namgil, reaksi Yongju padaku pun hanya sebatas tatapannya dan tentu saja semakin membuat Seojun bingung bagaimana harus mencairkan suasana yang terasa aneh dan tidak nyaman ini.


Terlebih saat aku bertanya pada Namgil, "Namgil oppa, apa kau tahu di mana Jiwon oppa sekarang? Daehyun terus mencarinya," kataku. Namgil tersenyum miring sambil berkata, "Katakan saja pada Daehyun, jika kau tidak bisa melihatnya, cari dia di hatimu!" Semua menoleh pada Namgil. "Memangnya, kenapa dengan Jiwon?" tanya Seojun yang juga mengenal Jiwon sebagai sahabat dekat kedua adik sepupunya itu. "Ah, iya! Dari tadi aku tidak melihat makhluk satu itu!" sahut Junghwa yang mulai aktif. Sedangkan Yongju yang tak mengenalnya, bertanya, "Siapa Jiwon?"


"Jiwon itu sahabat Daehyun," jawab Junghwa. "Hei, seharusnya kau memanggil mereka hyung!" tegur Seojun yang memang selalu sopan. "Tidak mau! Hyung-ku cuma dua!" sahut Junghwa bandel dan memulai ceramah Seojun, tapi ceramah itu terhenti saat Seojun mendengar aku bertanya pada Namgil. "Apa Namgil oppa masih marah padaku? Aku minta maaf..." ucapku pelan dengan kepala tertunduk. "Untuk apa kau meminta maaf padanya?" sahut Yongju seraya menatap tajam Namgil. "Apa kau juga melakukan sesuatu pada Hana?" tanya Yongju pada Namgil. "Melakukan apa? Bukankah di sini aku yang ditinggalkan!" jawab Namgil yang seketika membungkam mulut Yongju yang hendak memarahinya. "Ah, aku lupa, nasib kami sama!" pikir Yongju dalam hatinya.

__ADS_1


"Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa aku seperti satu-satunya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa di sini! Hei, kalian apa tidak ada yang mau menjelaskannya padaku?" tanya Seojun yang dicueki mereka. "Jujur saja, saat melihat kalian, aku tidak bahagia, tapi aku juga tidak marah lagi padamu karena bagaimana pun aku harus menerimanya, bukan? Seperti yang kau lihat, aku bisa tersenyum dan datang hari ini. Jadi, lupakan saja semuanya! Kau tidak perlu memikirkan aku!" kata Namgil.


"Namgil, kau jadi ikut pulang?" tanya Tuan Kim Dangwook, appa Namgil yang sudah pamit untuk undur diri lebih dulu karena jadwalnya yang padat sebagai presiden. "Iya, appa pergi saja. Aku akan menyusul," jawab Namgil. Sang presiden pun meninggalkan tempat acara menuju helikopter yang sudah menunggunya di helipad yang ada di puncak gedung hotel, sedangkan Namgil menyusul dengan mobilnya setelah pamit dengan semua orang.


***


Sepeninggal Namgil dan presiden, acara selanjutnya adalah pesta pertunanganku yang digelar di ball room hotel ini. Sebelum acara dimulai, Daehyun datang menjemput ke kamarku setelah ia selesai berganti setelan jasnya. Jika tadi penampilan Daehyun terkesan lebih santai dengan jas model tailored jacket, untuk pesta malam ini, ia mengganti outfit-nya menjadi lebih formal, all black tuxedo yang semakin membuat aura ketampanannya memancar.


Setelah aku selesai dihias, Daehyun meminta semua yang ada di kamarku untuk keluar dan tinggallah kami berdua. Ia menghampiriku yang berdiri di depan cermin untuk memeriksa penampilanku. "Cantik!" ucapnya seraya memelukku dari belakang. "Seperti bintang yang bersinar di langit malam dan selalu membuatku gila," lanjutnya seraya meletakan dagunya di salah satu bahuku dan memandang ke arah cermin juga. Di cermin, tatapan kami bertemu, lalu aku tersenyum bahagia. "Kau kalah! Lihatlah, aku juaranya! Aku yang memenangkan hati ini," kata Daehyun seraya tersenyum sangat tampan, lalu memutar tubuhku untuk ia cium dengan mesra.


"Ayolah, hyung! Jika hyung bisa melewati semua ini, hyung bisa melakukan apapun seperti kata appa!" kata Junghwa yang berdiri di samping pintu sambil melihat lagi bagaimana hyung-nya itu nelangsa karena perasaannya. "Kau tidak mengerti, Junghwa. Aku murka setiap hari di dalam hatiku setiap kali aku membayangkan Daehyun menyentuhnya dan yang lebih membuatku murka adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah duduk membunuh waktu dan perasaanku," kata Yongju. "Aku mencoba untuk mengusir semua perasaanku, bahkan aku mencoba untuk menyalakan cahaya lain di hatiku, tapi kau tahu sendiri, itu percuma!" lanjutnya yang menegakan tubuhnya dan mulai menjauh dari kamarku, diikuti Junghwa.


"Hana, pernahkah kau merasa betapa sulitnya menjadi aku? Untuk hidup, untuk bernapas dan tidak memilih untuk mati, hanya untuk tetap melihat senyumanmu itu?" kata Yongju dalam hatinya seiring derap langkahnya yang gontai. "Hyung, mau ke mana lagi? Hyung tidak akan pulang sekarang, bukan?" tanya Junghwa yang terus mengekor di belakang Yongju. "Ingatlah, kata appa, kita harus hadir juga di pestanya!" lanjutnya mengingatkan pesan appa-nya tadi. "Ayo, kita susul appa dan Seojun hyung saja!" ajak Junghwa.


Yongju mengikuti ajakan Junghwa, tapi saat aku dan Daehyun memasuki ruang pesta, Yongju merasa sudah cukup baginya untuk pergi dari pesta ini. Yongju meminta izin untuk undur diri dengan alasan masih ada jadwal yang tidak bisa ia tinggalkan. Saat ingin berpamitan denganku, eomma Daehyun memanggilku untuk diperkenalkan pada salah satu tamunya. Jadi, tinggallah Yongju yang berhadapan langsung dengan Daehyun yang tersenyum palsu menyambut kedatangan rivalnya itu. "Menyerahlah, sekarang Hana sudah menjadi milikku," katanya tersenyum penuh kemenangan di depan Yongju. Sebuah smirk tergurat di wajah putih Yongju, lalu dengan savage-nya berkata, "Bahkan yang sudah menikah saja bisa bercerai!" Daehyun terkejut, "Hei, tidak bisakah kau mendoakan hal yang baik?!" katanya geram. "Untukmu? Ck! Aku rasa, kau tidak memerlukan berkah dariku!" jawab Yongju pedas.

__ADS_1


"Lihat ini, siapa yang bicara di depanku! Tuan muda kedua di keluarga Jeon atau penumpang di keluarga Lee?" sindir Daehyun tak kalah pedas. Yongju tertawa kecil mendengarnya, lalu menggaruk telinganya dengan jari kelingkingnya. "Aish, kenapa telingaku tiba-tiba gatal!" katanya berlagak, "seperti ada kecoa yang berkicau!" balasnya seraya menghampiri Daehyun yang semakin kesal. "Jika kau ingin mengerti, kecoa itu sekarang berdiri di bawahku!" bisik Yongju, lalu selanjutnya menampilkan ekspresi swag-nya yang menjengkelkan itu dan membuat Daehyun sampai mengepalkan kedua tangannya karena harus menerima kenyataan itu.


"Satu hal lagi yang penting! Aku datang hanya untuk menghormati eomma dan appa yang sudah menampungku. Lalu, apa yang salah dengan kehidupan seseorang penumpang, jika akhirnya seseorang itu akan menjadi pembawa pesan kejayaan?" lanjut Yongju dengan tersenyum menang. "Tapi belajar dari perkataanmu tadi, aku baru terpikirkan bahwa semua kejayaan itu sangat singkat. Jadi, aku juga harus menyingkirkan sampah yang menggangguku. Bukankah hal seperti itu normal untuk tuan muda yang terbiasa hidup dalam kemewahan sejak lahir sepertimu?" tanyanya.


"Ada apa?" tanyaku yang menghampiri merek berdua, setelah dari jauh, aku memperhatikan perang urat syaraf antara Daehyun dan Yongju. "Kenapa dengan kalian berdua? Kalian bertengkar lagi?" tanyaku lagi seraya menatap keduanya bergantian. "Tidak!" jawab Daehyun cepat seraya memasang senyumannya. "Kata siapa, kami bertengkar? Kami hanya sedang bicara biasa. Lihatlah, oppa bahkan memeluk oppa-mu!" lanjutnya seraya langsung memeluk Yongju yang langsung terkejut. "Lepaskan! Kenapa kau memelukku?" protes Yongju seraya berontak karena risih dengan pelukan Daehyun yang semakin kuat. "Diamlah!" bisik Daehyun dengan geram, bahkan rahangnya terdengar menggeretak.


"Apa kau tahu? Aku sengaja memeluk orang yang aku benci supaya aku tahu seberapa besar lubang yang harus aku gali untuk menguburnya!" bisik Daehyun di telinga Yongju, sambil semakin keras memeluknya. "Apa? Apa yang kau katakan?" kata Yongju tidak mengerti. "Sudah aku katakan, Hana milikku dan aku tidak akan membiarkan satu orang pun merebutnya dariku, meski dia sudah menjadi bekasku sekalipun, apalagi padamu!" jawab Daehyun. Yongju membeku mendengar perkataan Daehyun itu.


Seketika rasa khawatir dan ketakutan menguasai hatinya, terlebih saat melihat senyum licik di wajah evil Daehyun. "Kenapa? Kau takut, aku menguburmu hidup-hidup? Atau kau pesimis bisa merebutnya lagi dariku?" tantang Daehyun. "Baiklah, kalau itu maumu! Aku akan tinggal, aku akan menunggu dan sekali pun aku terjatuh, aku akan jatuh seperti raja dalam kuburan yang kau gali itu!" kata Yongju menantang setelah berhasil menghempaskan tangan Daehyun yang memeluknya.


"Hei, Kim Daehyun, aku sudah diam, tapi kau tetap saja mengoceh omong kosong di depanku! Padahal kalau aku mau melawanmu, aku bisa menjadi raja selamanya di hati Hana!" lanjut Yongju terang-terangan di depanku, seraya menatap tajam Daehyun. "Oppa!" bentakku terkejut mendengarnya, sedangkan Daehyun tertawa dan membuat semua perhatian tertuju pada kami bertiga. "Siapa di sini yang bicara omong kosong? Aku atau kau?" katanya angkuh dan keduanya pun saling menatap tajam.


"Ada apa ini?" tanya Seojun yang langsung menghampiri kami. Begitu pula, kedua orang tuaku serta Junghwa dan appa-nya karena hanya mereka yang tahu tentang perasaan Yongju padaku dan konflik antara kami bertiga. "Yongju, jangan membuat masalah sekarang!" tegur eomma seraya berbisik pada Yongju. "Yongju, ikut appa!" titah Tuan Sungjin. "Hyung, ayolah, kita pulang saja!" ajak Junghwa seraya menarik tangan kakaknya itu, tapi Yongju tidak bergerak sama sekali. Sepasang mata Yongju masih menatap nyalang Daehyun yang sudah membuatnya murka.


"Yongju, dengarkan appa! Ayo, pulanglah!" kata Seojun lagi. "Hana, kau saja yang ajak Daehyun menjauh dulu!" perintah appa yang juga berusaha melerai. Yongju menghempaskan tangan Junghwa yang berniat menariknya pulang dari tempat itu. "Kita lihat saja, siapa yang akan jadi pemenangnya di akhir!" kata Yongju yang membuat semua orang menatapnya khawatir dengan perkataannya selanjutnya. "Awalnya, aku berniat menyerahkannya padamu, tapi semakin aku melihat wajahmu itu, aku semakin yakin kalau aku tidak boleh menyerahkan Hana padamu!" lanjutnya yang kembali bertekad dalam hatinya atas perasaannya.

__ADS_1


"Yongju!" bentak kedua orang tuaku, Seojun dan appa-nya secara bersamaan. "Apa?" bentak Yongju lebih keras dari mereka. "Apa yang kau lakukan? Apa kau lupa, kita sedang ada di mana?" kata eomma pelan berusaha menahan emosinya. "Iya, aku ingat. Pesta pertunangan Hana," jawab Yongju seraya beralih menatapku yang malam ini sangat cantik di matanya. Yongju berjalan mendekatiku. "Maaf, oppa sudah mengacaukan pestanya," katanya, menurunkan suaranya padaku. "Tapi oppa tidak akan memberikan ucapan selamat untukmu karena oppa yang akan menikahimu kelak, meski dunia sialan ini menentangnya!" bisik Yongju yang seketika membuatku merinding mendengarnya. "Dan aku akan membuat kau memasang sendiri cincin sialan itu di jarimu!" lanjut Yongju tepat di depan wajah Daehyun yang semakin merah menahan amarahnya.


__ADS_2