
"Apa noona masih tidur?" tanya Junghwa pada Yongju yang baru saja menutup pintu kamarku setelah mencari tahu, aku sudah bangun apa belum. Yongju menggelengkan kepalanya. Melihat aku yang masih tertidur, ia memilih tidak membangunkan aku untuk makan malam. "Ada apa?" tanya Yongju seraya berjalan ke arah Junghwa. "Tidak ada. Aku hanya berpikir, setiap hari libur seperti ini, ke mana aku akan pergi?" jawab Junghwa dengan bibirnya yang ia majukan, seraya sesekali melirik Yongju. "Kalau kau ingin keluar, pergi saja!" sahut Yongju yang meneruskan langkahnya ke kamarnya.
"Sebenarnya, salah satu member di grupku ada yang berulang tahun dan ia mengajak kami makan-makan malam ini," kata Junghwa yang mengikuti langkah hyung-nya itu. "Ke mana?" tanya Yongju singkat. "Katanya, salah satu restoran di daerah Itaewon," jawab Junghwa. Yongju yang membelakangi Junghwa, memalingkan wajahnya ke belakang, "Itaewon?" tanyanya dengan kening berkerut curiga. Junghwa menarik garis senyumnya. "Yakin, restoran? Kenapa harus ke sana? Seperti tidak ada restoran di tempat lain!" kata Yongju seraya memutar badannya menghadap Junghwa dengan kedua tangannya yang ia silangkan di depan dada.
"Mana aku tahu! Bukan aku yang menentukan tempatnya," jawab Junghwa cemberut. Junghwa yakin, Yongju tidak akan memberinya izin. Yongju memperhatikan ekspresi kecewa di wajah imut adiknya itu. "Pergilah, tapi ingat aku tidak suka kalau kau sering pergi ke tempat itu! Kau harus berhati-hati karena selain terkenal dengan restorannya, di sana juga terkenal dengan hiburan malamnya. Bahkan pub gay-nya, jika kau belum tahu!" kata Yongju dingin.
Senyuman kelinci yang imut itu mencuat keluar, lalu langsung melompat dan berlari keluar dari kamar Yongju seperti kelinci gila. Namun, saat ia sudah di depan pintu kamar kakaknya itu, kepalanya kembali menyembul, "Apa Hyung mau ikut?" tawar Junghwa saking senangnya. Yongju menggeleng, "Aku di sini saja sepanjang hari," tambahnya. "Baiklah, aku hanya akan pergi untuk makan. Setelah makan, aku akan langsung pulang," kata Junghwa meyakinkan. "Hmm... aku harap kau aman," sahut Yongju. Junghwa jadi tertegun, "Aman?" tanyanya tidak mengerti.
Yongju menghela nafasnya panjang melihat reaksi polos sang adik. "Sayangnya, di sana banyak paparazi dan kau tahu sendiri, mekanismenya jika paparazi bertemu dengan idol seperti kita!" jawab Yongju. "Kalau kau ingin menjadi terkenal, menjadi teratas, menjadi bintang dengan karya dan prestasimu, kau harus menjaga jarak dengan mereka. Jangan biarkan rumor menghancurkanmu, mengerti!" lanjut Yongju seraya menutup pintu kamarnya. Junghwa tertegun kembali, "Ya, aku ingin menjadi raja di industri ini!" katanya dalam hatinya, lalu pergi. Sedangkan di dalam kamar Yongju, "dan aku masih saja berpikir ingin memenangkan hatimu!" katanya seraya tersenyum hambar di depan fotoku bersamanya.
***
__ADS_1
Selain itu, di kamar gelap minim penerangan, seorang perempuan berbicara sendiri di depan cermin, "aku ingin kaya lebih dari sekarang! Aku ingin semua menjadi milikku! Aku ingin menjadi... Nyonya muda Kim!" ucapnya dengan sebuah seringai di wajah cantiknya. Sementara itu, di tempat lain, sebuah bayangan perlahan bergerak di bawah kakiku. Aku yang menyadarinya pun melihat ke bawah dan seketika saat pandanganku bertemu, pandangan itu menjadi lebih besar dan menangkap kakiku.
Aku panik, melepaskan cengkeraman hitam itu di kakiku. Aku yang ketakutan, berlari sekuat, secepat dan sejauh yang aku bisa, seolah-olah bayangan itu akan melahap aku sampai habis, jika aku tidak berlari darinya. Bayangan hitam itu semakin membesar dan membuatku semakin merasa kecil tak berdaya. Namun, semua itu tidak sebanding dengan cahaya yang tiba-tiba muncul. Di tengah lariku, sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat cahaya yang mengikutiku itu.
Hingga sampai lariku terhenti karena tanah yang aku pijak berujung sebuah jurang yang memisahkan dua daratan di depanku. Semakin menoleh ke belakang, ke arah bayangan yang semakin dekat, semakin aku ketakutan. Aku takut jika bayangan itu akhirnya berhasil menangkapku. Tapi aku juga takut, jika harus melompati jurang ini untuk sampai di seberangnya. Sedangkan aku bukan malaikat bersayap yang bisa terbang tinggi melintasinya, tanpa terjatuh ke dasarnya.
Aku menurunkan pandanganku ke dalam jurang. Gelap gulita, bahkan aku tak bisa melihat sedalam apa dasarnya dan tidak ada yang memberitahu aku betapa sepinya, jika terjatuh ke dalam sana. Aku terus berpikir keras. Jika aku melompat, lompatanku bisa saja gagal dan aku bisa terjatuh karenanya. Tapi sekarang, saat aku kembali melihat ke belakang, melarikan diri adalah satu-satunya jalanku sekarang. Aku berhenti sejenak untuk menarik nafas dan mengumpulkan keberanian. Aku memejamkan kedua mataku untuk memulai mengambil langkah dan meyakinkan diriku sendiri, tapi sebuah cahaya yang lain, menerpa pelupuk mataku.
Di dalam kegelapannya, aku memejamkan mataku dengan pasrah. Tapi lagi-lagi ada cahaya yang menerpa kedua pelupuk mataku dan menggelitikku untuk membuka mata. Sekali lagi, aku tertegun, melihat diriku yang terbang tinggi melintasi jurang yang aku takutkan tadi. Di dalam bayangan yang masih menyelimutiku, sepasang tangan memelukku dari belakang dengan sepasang sayapnya yang mengepak membawaku terbang.
Dalam pelukannya, aku menghirup aroma lembut yang menyeruak dari tubuh dan kepakan sayapnya. Aku menolehkan wajahku ke belakang, berusaha melihat wajah malaikat yang menolongku. Namun, wajahnya terlalu bersinar dan membuatku silau. Aku pun menundukan wajahku. Saat aku membuka mataku lagi, aku langsung menutupnya kembali. Kedua tanganku berpegangan erat ke tangan sosok bersayap yang memelukku itu sambil berkata, "Tolong, jangan biarkan aku terbang dan terjatuh! Jangan kecewakan aku! Aku takut..."
__ADS_1
Aku membuka kedua mataku dengan peluh yang membasahi dahiku. Dengan nafas tersengal, aku berusaha mengumpulkan kesadaranku. Berulang kali, mataku mengerjap sambil berusaha mencerna apa yang baru saja aku alami. "Mimpi!" ucapku tidak percaya, saat menyadari sekarang aku baik-baik saja di dalam kamarku, bukan di atas jurang seperti tadi. "Tapi... mimpi tadi benar-benar seperti nyata," lanjutku seraya menyentuh dadaku yang berdegup kencang.
Ponselku berdering di saat yang tepat dan membangunkanku dari mimpi buruk yang aneh tadi. Beberapa saat kemudian, aku pun menghubungi kembali nomor yang memanggilku tadi, setelah menenangkan diriku sendiri. "Sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?" suara Daehyun yang aku dengar semakin membuatku tenang. "Sudah tidak sakit lagi. Aku baru saja bangun," jawabku dengan suara serak. "Baru bangun sejak oppa tinggal tadi? Berarti sayang belum makan malam. Kalau begitu, makanlah dulu!" kata Daehyun manis.
"Baiklah, nanti aku hubungi lagi!" sahutku. "Tidak usah. Setelah makan, istirahatlah lagi. Oppa juga mau tidur sekarang. Oppa sudah mengantuk," sahut Daehyun. "Besok oppa akan ke sana menemani sayang, oke? Bye, sayang. Oppa menyayangimu," lanjut Daehyun yang diakhirinya dengan sebuah kecupan. "Oppa!" panggilku dengan ragu. Daehyun yang semula berniat mengakhiri panggilan, mengurungkan niatnya dan kembali bertanya, "ada apa, sayang?" dengan lembut. "Apa kita benar-benar akan menikah?" tanyaku dengan konyolnya. Daehyun terdiam sesaat, "ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanyanya.
Giliranku yang terdiam sejenak, lalu dengan ragu aku mengatakan, "Tidak ada. Aku hanya bermimpi buruk tadi." Sesaat kami berdua sama-sama saling diam, sampai Daehyun berkata, "Iya, kita akan menikah. Kita akan bersatu, sayang adalah milik oppa dan oppa adalah milik sayang. Bahkan sekarang saja tubuh kita sudah menyatu, bukan? Jadi, tenanglah dan jangan memikirkan hal yang aneh karena mimpi yang tidak ada artinya seperti itu!"
Di tempatnya berada, Daehyun mengatakan semua itu dengan hati yakin. Tapi mendadak ia merasa harus mengakhiri sambungannya denganku saat menyadari kedatangan seseorang yang tidak di duga. Daehyun memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, seiring tatapan tajamnya beralih pada orang yang masuk ke dalam mobilnya tanpa izin. "Mau apa lagi kau? Apa kau tidak pernah bisa melepaskanku, huh!" kata Daehyun super dingin pada orang yang duduk di sebelahnya. Lawan bicara Daehyun itu tersenyum licik, "Seperti yang aku katakan, aku tidak bisa menghapus kau dalam hatiku, apapun yang kau lakukan! Akui saja, malam itu, kau juga menikmatinya! Akan lebih nyaman untuk mengakuinya. Kita bisa mengulanginya lagi!" lanjutnya seraya berusaha mencium Daehyun.
Daehyun menjauhkan wajahnya dan menatap marah padanya, "Tapi aku menolak untuk mengakuinya! Bahkan aku tidak ingat kapan dan di mana aku pernah menyentuh tubuh kotormu ini, lagi!" Daehyun mengatakannya dengan penuh penekanan. Daehyun keluar dari mobil, lalu membuka pintu mobilnya dan menarik kasar lawan bicaranya itu keluar dari mobilnya. Kemudian, pergi begitu saja melajukan mobilnya, meninggalkan Sooyun yang berteriak dengan kesal, "Kau tidak bisa lari, brengsek! Kemana pun, aku akan menuntutmu bertanggung jawab!"
__ADS_1