
Junghwa mengerutkan keningnya saat melihatku duduk di depan wastafel. "Apa yang dilakukannya? Apa dia memecahkan sesuatu?" pikirnya seraya kembali melangkah tanpa suara, tapi langkahnya terhenti saat mendengar isak tangisku. "Noona menangis?" tanyanya seraya menunduk untuk melihat wajahku yang aku tundukan. Mendengar suaranya, aku bergegas menyapu air mataku, tanpa mau memperlihatkannya pada Junghwa. Junghwa menangkap tanganku dan menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Tiba-tiba ia menarik tanganku. Aku yang bingung dan sempat blank, akhirnya berteriak saat melewati kamar Junghwa.
Namun, tanpa mengatakan apa-apa, Junghwa terus menarikku sampai ke pintu apartemen. Hyunwo dan Namgil yang mendengar teriakanku pun keluar dari kamar, tapi tidak sempat mencegah Junghwa karena kami lebih dulu keluar dari apartemen itu. Hyunwo berusaha mengejar kami. Sedangkan Namgil berlari ke kamar Yongju untuk memanggil Yongju dan Seojun. "Apa? Junghwa membawa Hana?" kata keduanya terkejut. "Mungkin saja mereka hanya jalan-jalan. Junghwa tidak mungkin menyakiti Hana," kata Seojun.
***
"Naik!" kata Junghwa memerintahku untuk naik ke atas motor sport-nya. "Dasar bayi gila, apa kau ingin menculikku?" kataku seraya menyilangkan tangan di depan dadaku. Tuk! Junghwa memukulkan helm di tangannya ke kepalaku. "Sinting!" umpatnya. "Kau yang sinting! Kau menarikku sampai ke parkiran dan menyuruhku naik ke motormu. Memangnya, kau mau membawaku kemana, hah?" bentakku. "Naik saja! Jangan banyak tanya!" sahut Junghwa seraya menyerahkan helm tadi padaku. "Cepatlah!" perintahnya lagi. Akhirnya, aku memasang helm itu dengan kesal karena tidak bisa menolak kehendak bayi aneh satu ini. "Pegangan!" ucap Junghwa lagi seraya mulai memacu motornya. Aku memeluk Junghwa, membiarkannya membawaku entah kemana. Di tengah perjalanan, aku menyandarkan dahiku di punggungnya. Rasanya, kepalaku terasa berat setelah menangis.
***
__ADS_1
"Cafe? Untuk apa kau membawaku ke sini?" tanyaku pada Junghwa, saat ia menghentikan motornya di depan sebuah cafe yang tampak ramai. Tapi bukannya menjawabku, ia malah menarik tanganku lagi. Kali ini, ia melakukannya dengan lembut. "Hei, apa sekarang kau bisu? Kenapa kita ke sini? Di dalam banyak pengunjung. Bagaimana kalau ada yang mengenalimu?" kataku mengingat saat ini Junghwa tidak memakai masker ataupun topi. Junghwa masih tidak menghiraukan aku dan tampak berbicara dengan seorang pelayan di sana, yang kemudian menuntun untuk menunjukan jalan pada kami. Junghwa meminta private room di lantai atas. "Aku sudah sering ke sini," ucapnya saat melepaskan tanganku sesampainya kami di ruangan.
Ponselku berdering. Aku pun langsung mengangkatnya saat nama Yongju tertera di layarnya. "Oppa!" sahutku, tapi Junghwa langsung merebut ponselku dan berkata dengan santainya, "noona bersamaku. Tidak. Aku hanya perlu bantuannya untuk membeli sesuatu." Aku mengernyitkan dahiku saat mendengarnya, "Kenapa kau berbohong?" tanyaku tidak suka. "Aku hanya tidak ingin mereka datang mengganggu!" jawabnya dengan cuek. "Tunggu di sini! Aku akan memesan minuman," lanjutnya seraya keluar dari ruangan, meninggalkan aku yang memilih mengamati interior ruangan.
Tidak lama kemudian, Junghwa kembali dengan nampan di tangannya. "Yang manis untuk wajah yang masam!" ucapnya seraya meletakan beberapa dessert dan eskrim, serta minuman di depanku. Aku tertegun, "Apa kau sedang menghiburku?" tanyaku seraya menatapnya. "Menghibur apanya? Kalau noona tidak mau, untukku saja!" sahutnya salah tingkah seraya menarik dessert yang tadi diletakannya. Aku merebutnya, "Kata siapa, aku tidak mau? Bukankah kau sudah memesan yang lain? Makan punyamu saja!" kataku. Aku pun memulai melahap beberapa hal manis di depanku itu dengan sesekali melirik Junghwa yang juga melakukan hal yang sama.
Entah dimulai dari mana, tanpa sadar, aku mulai mencurahkan isi hatiku padanya. Bahkan aku tidak pernah seterbuka ini dengan Yongju yang selalu menjadi orang terdekatku selama ini. Aku bercerita tanpa tekanan, seperti sedang bercerita dengan seorang adik yang hanya bisa mendengarkan dengan baik, tanpa mengerti untuk menggurui. Junghwa hanya diam mendengarkan keluh-kesahku, tanpa berkomentar apapun. Padahal dari tadi di rumah, bocah ini selalu berkata menyebalkan padaku. Tapi saat ini, dia memberikan kenyamanan padaku.
"Tidak bisakah aku memberitahumu bahwa aku juga menyukaimu? Rasanya, melihatmu menangis seperti ini, aku ingin memelukmu. Sepanjang hari, hanya senyummu yang ada di kepalaku. Kenapa kau semakin membuatku bimbang?" pikir Junghwa seraya menatapku lembut. "Apa noona akan pergi dengan Yongju hyung?" tanyanya tiba-tiba, tanpa sadar. Padahal pertanyaan yang ada di kepalanya adalah "apa noona akan kembali bersama Yongju hyung?"
__ADS_1
"Ya?" ucapku dengan ekspresi bingung dan Junghwa pun menjadi gelagapan sendiri. "Mulai hari ini, aku akan selalu ada untuk jadi teman curhat noona. Noona bisa menghubungiku kapanpun. Kalau aku tidak sibuk, aku pasti datang, meskipun aku tidak bisa makan manis seperti ini," ocehnya, langsung mengganti topik pembicaraan. Aku terperangah mendengarnya, lalu memperhatikan dessert miliknya yang memang hanya satu dan itu pun tidak ia habiskan. Aku tersenyum menyadarinya. Aku baru tahu, dibalik tingkahnya yang menyebalkan, ada sisi manis darinya.
"Baiklah, lain kali aku akan mengajakmu pergi makan makanan lezat saja! Aku akan memberi makan yang banyak pada bayiku. Bukankah kau bayi kelaparan?" kataku sambil meledeknya. Junghwa pun cemberut karena aku memanggilnya bayi lagi. Aku tertawa melihat reaksi imutnya saat cemberut, "persis seperti bayi!" ucapku seraya menatapnya dengan gemas. Aku pun mulai menggoda Junghwa terus, terlebih saat aku sadari wajahnya sangat imut jika sedang merajuk. Tanpa aku sadari wajah yang sama itu juga kadang memerah karena godaanku itu.
Seperti saat ini, ketika aku memaksanya berfoto bersama. Aku yang fokus pada layar ponselku saat memeriksa beberapa foto yang sudah kami ambil, tidak menyadari Junghwa yang duduk di sampingku sedang menatapku begitu lekat. "Bukankah ini seperti cerita cinta yang dimulai di dalam sebuah drama? Mungkin ini seperti menggantung setengah hatiku padamu. Meskipun rasanya kau akan menolakku, jika aku mengatakan perasaanku. Tapi jika perasaan ini semakin tidak bisa aku kontrol, mungkin saja aku akan mencobanya suatu hari nanti," pikir Junghwa dalam diamnya.
"Aku sudah mengirimnya ke ponselmu. Apa aku boleh meng-upload fotoku yang ini di akun sosial mediaku? Tidak ada wajahmu di sini, hanya bahumu yang terfoto," kataku meminta izinnya. "Yang mana? Sini, aku lihat!" kata Junghwa seraya merebut ponselku. Padahal dia hanya ingin mengetahui akun mediaku. Junghwa meng-upload sendiri fotoku itu dan mengingat nama akunku di kepalanya. Tak lupa, ia menekan "suka" pada fotoku itu. "Sudah!" katanya seraya mengembalikan ponselku, lalu langsung memainkan ponselnya. Aku menatap layar ponselku saat ada notifikasi akun baru yang memfollow akunku. "Jangan disebarkan!" katanya, swag.
***
__ADS_1
Aku dan Junghwa sudah kembali ke apartemen. Sebelum masuk ke dalam apartemen, aku berpaling menatap Junghwa yang berjalan di belakangku. Melihatnya yang meneruskan langkahnya melewatiku, aku memegang tangannya. "Apa?" tanyanya saat aku menghentikan langkahnya. "Terima kasih, sudah menghiburku saat aku merasa sangat sedih. Terima kasih, sudah membuat hari ini begitu manis!" ucapku dengan tersenyum tulus, lalu kembali mendahuluinya, masuk ke dalam apartemen. "Iya, hari ini manis, sangat manis. Dan kau benar-benar sangat manis!" gumamnya tanpa mengalihkan pandangannya padaku yang langsung masuk dengan tersenyum lebar menyapa Yongju yang menunggu kami. Tanpa Junghwa sadari, Hyunwo yang menyambut kedatangan kami, menyadari tatapan suka Junghwa itu.