The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Kau Yang Berpacaran Dengan Tunanganku


__ADS_3

Namgil yang tertidur setelah kelelahan kuliah, baru terbangun saat langit malam sudah semakin hitam. "Astaga, sudah jam berapa sekarang?!" ucapnya seraya bergegas bersiap-siap menyusul dua sahabatnya yang merayakan kelulusan mereka malam ini. Sesampainya di lobby hotel, Namgil yang tampak terburu-buru menuju lift bersama beberapa orang yang juga turut masuk, terpaksa harus bersabar mengantri gilirannya di depan lift yang akan membawanya ke lantai atas, tempat pesta berlangsung.


Sementara itu di dalam tempat pesta yang megah, "Ready or not, we don't give a what!" teriak sang DJ memulai pesta ini dengan musiknya dan seketika membuat lantai dansa yang tadinya lengang menjadi penuh sesak, bahkan aku tidak bisa melihat satu langkah pun di depan. "Ya Tuhan, di sini bising sekali!" ucapku yang baru pertama kali pergi ke club, seraya menutup kedua telingaku dengan tanganku. "Hah?" tanya Daehyun yang tidak mendengarnya. "Bising!" teriakku dan membuat Daehyun tertawa. "Apa sayang pikir ini tempat ibadah! Biarkan saja suaramu meledak di sini!" teriaknya dengan sesekali menertawakan reaksiku yang menurutnya lucu, tapi tawanya berhenti saat ekspresiku berubah menjadi risih saat beberapa orang menyenggolku tanpa sengaja.


"Ayo, kita pergi!" ajak Daehyun seraya menarikku menjauh dari lantai dansa. "Ke mana?" tanyaku yang tetap mengekor Daehyun. "Ke tempat di mana tidak ada yang menganggu kita," jawab Daehyun dalam hati. Selama Daehyun menuntunku, aku beberapa kali tersentak dengan pemandangan di depanku. Berulang kali aku mengalihkan pandangan, tetap saja aku melihat pemandangan yang tidak berbeda. Sejauh kakiku melangkah di tempat yang baru bagiku ini, aku menemukan sesuatu. Tidak ada lagi martabat laki-laki dan kepura-puraan perempuan di sini, yang ada hanya kenyamanan laki-laki dan para gadis menjadi rendah di depan mereka.


"Gila! Apa semua orang di sini tidak bisa menyembunyikan kegilaannya!" kataku dalam hati saat melihat interaksi tak senonoh beberapa pengunjung lain. Aku sampai harus menghela nafasku panjang beberapa kali untuk menenangkan diriku. "Yang anehnya lagi, kenapa yang lainnya biasa saja menonton hal yang tidak patut dilihat ini, tanpa malu-malu?! Rasanya, tubuhku jadi gatal-gatal melihatnya!" kataku lagi dalam hati seraya menundukkan pandanganku sampai aku tidak sadar ke mana Daehyun membawaku.


Bugh! Aku yang terus menunduk sampai menabrak punggung Daehyun, saat tunanganku itu menghentikan langkahnya. "Duduklah, kita di sini saja!" katanya seraya langsung duduk di sebuah sofa panjang. Daehyun membawaku ke meja VIP yang ada di lantai atas yang terisolir dari kerumunan karena posisinya yang tepat di ujung lorong dan hanya ada aku dan Daehyun di lantai ini. Dari sini, kami bisa melihat pemandangan di lantai dansa dengan mudah.

__ADS_1


"Kenapa kita ke sini?" tanyaku lagi dengan polosnya. "Mengubah suasana buruk," sahut Daehyun yang menyandarkan kepalanya yang sudah mulai terasa berat di sandaran sofa, tapi masih melirik ke arahku. "Bagaimana kalau ada yang mencari kita?" tanyaku lagi yang masih berdiri di depannya. "Kenapa harus memikirkan mereka? Lihat saja ke bawah, mereka bahkan tidak ingat kalau kita ada," sahutnya. "Sayang, kemarilah!" pintanya seraya menarik tanganku pelan dan aku pun mendekatinya dengan ragu. "Hei, kenapa tunangan oppa malam ini seperti kucing yang ketakutan?" tanyanya menggodaku.


Sret! Daehyun menarik tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku sampai aku terjatuh di pangkuannya. "Padahal malam ini dia sangat cantik!" bisiknya memujiku. Deg! Deg! Deg! Jantungku memacu cepat mendengarnya. "Benar, aku takut karena tiba-tiba teringat kejadian waktu di tempat karaoke, tapi kenapa suara husky-nya yang seksi jadi menggema di telingaku!" pikirku seraya menatap lekat Daehyun.


Entah apa lagi yang Daehyun katakan di depanku, aku tidak mendengarnya dengan jelas. Sepasang mata hitamnya yang seolah berkilau di bawah cahaya minim selalu membuatku terpaku menatapnya. Melihat reaksiku yang hanya diam menatapnya, Daehyun sampai kembali berbisik di telingaku, tapi aku benar-benar menjadi tuli. Suara deep-nya yang memabukkan di telingaku malah seperti lagu yang menyanyikan godaan. Satu alis Daehyun terangkat dengan keningnya yang mengerut, melihat aku yang masih diam dengan tatapan kosong. Kemudian, sebuah jeritan tak nyaring keluar dari mulutku saat Daehyun tiba-tiba mengigit ujung daun telingaku dengan gemas karena aku tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Oppa bertanya, apa sayang mau pesan minuman atau makanan?" ulang Daehyun ketiga kalinya. Aku menggeleng cepat sambil menyentuh telingaku yang baru saja ia gigit, lalu aku pun tersipu karena malu. "Apa ini? Tunanganku malu-malu? Sebenarnya, apa yang sayang pikirkan sampai bengong seperti tadi? Hmm? Jangan bilang, otak sayang traveling!" kata Daehyun seraya tersenyum nakal. "Wah, sayang nakal!" ejeknya sambil mencolek daguku.


Lama, Daehyun menatapku dalam dengan tatapan yang sulit aku artikan, sampai sebuah bisikan suaranya kembali terdengar di telingaku. "Malam ini, kau benar-benar membuatku gila!" bisiknya seraya meniup telingaku. Karena merasakan geli, aku pun sedikit menggeliat di bawah tubuhnya. "Hentikan, jangan bergerak seperti itu!" pintanys semakin menindihku. "Tapi oppa membuatku geli! Oppa, lepaskan! Bangunlah!" sahutku masih menggerakan tubuhku untuk lepas dari Daehyun.

__ADS_1


Bukannya beranjak bangun atau melonggarkan kungkungannya, Daehyun malah menyambar bibirku dengan rakus. Jelas, ia kembali ke mode aslinya, tapi tidak seperti saat kejadian di tempat karaoke dulu, kali ini aku tidak menolak perlakuan kurang ajarnya padaku. Gilanya, di telingaku saat ini seolah-olah terdengar melodi setan yang membisikanku untuk membalas tautan racun hitam yang Daehyun berikan di bibirku. Bahkan setiap sentuhannya seperti membakar tubuh dan hatiku. Sepertinya malam ini, kami akan kehilangan kendali.


***


"Hyung di mana?" tanya Jiwon pada Namgil saat ia menghubunginya. "On the way," sahut Namgil singkat. "Cepatlah!" kata Jiwon. "Iya, iya. Sampai jumpa di sana," kata Namgil seraya terkekeh karena sebenarnya dia sudah di depan pintu club. "Maaf, aku terlambat!" kata Namgil seraya menepuk bahu Jiwon yang duduk membelakanginya. "Hyung di sini? Aku pikir, masih jauh," sahut Jiwon. "Selamat atas kelulusan kalian. Akhirnya, menyusul juga," kata Namgil lagi.


"Terima kasih, hyung! Akhirnya, kita bisa bersama lagi. Duduklah, bergabung dengan kami di sini!" ajak Jiwon. Namgil pun duduk di tengah teman-temannya itu. "Sunbaenim datang sendiri?" tanya salah satu teman mereka. "Iya. Memangnya, siapa yang bisa aku bawa saat ini? Pacar saja tidak punya," jawab Namgil sambil bercanda. "Aku kira, hyung terlambat karena harus mengantar pacar hyung pulang dulu, baru berlari sepanjang malam ke sini!" ledek Jiwon. "Kau ini, seperti tidak tahu aku punya pacar atau tidak! Tadi aku tertidur setelah pulang kuliah sampai sore," jelas Namgil. "Susah, ya, anak kuliahan! Kau sudah bekerja keras, nak!" kata Jiwon sambil menepuk bahu Namgil.


"Di mana Daehyun?" tanya Namgil. "Entahlah. Anak itu menghilang dari tadi," jawab Jiwon. "Mungkin ada di atas. Biasa, berduaan dengan gadisnya!" celetuk salah satu teman mereka yang sudah hafal dengan kebiasaan Daehyun setiap pergi ke club. Namgil bangkit dari duduknya dan berniat menemui Daehyun. Awalnya, Jiwon cuek saja, tapi saat ia terpikirkan mungkin saja saat ini Daehyun sedang bersamaku, Jiwon langsung berdiri dan mencari Namgil. Namun terlambat, Namgil sudah menaiki tangga ke lantai dua.

__ADS_1


Menyadari kehadiran seseorang di lantai yang sama dengan kami, Daehyun mengangkat wajahnya di ceruk leherku. Seiring dengan tubuh Daehyun yang beranjak bangun dari tubuhku, aku menarik ke atas tali bajuku yang sempat Daehyun lepaskan saat mencumbuku tadi. Aku mematung seperti orang yang baru saja melanggar hukum saat melihat Namgil lah, orang yang tengah berdiri di depan kami. "Kalian?" ucap Namgil tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Aku sudah panik bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Namgil, tapi dengan santainya Daehyun berkata, "Mari, kita selesaikan semuanya malam ini!" Namgil menatap tajam Daehyun, "Bukankah minggu depan kau akan bertunangan? Kau tahu aku menyukainya. Kenapa kau lakukan ini? Kau pengkhianat, Daehyun!" katanya. "Terserah kau mau menganggapku apa! Iya, minggu depan aku akan bertunangan dengan gadis yang sudah eomma-ku jodohkan sejak aku kecil dan gadis itu adalah Hana. Jadi, kau lah yang sudah memacari tunanganku!" katanya santai. Namgil terdiam mendengarnya. Lampu disko berwarna merah cerah yang menari-nari di langit-langit ruangan itu malah membuat kepalanya tiba-tiba terasa pusing seperti ditembak 3 kali headshoot dari segala arah. Bang! Bang! Bang!


__ADS_2