
Beberapa hari kemudian, Jiwon yang baru saja sampai di rumahnya setelah mencari pekerjaan, mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah setelah melihat sebuah rombongan yang datang ke rumah salah satu tetangganya. Ia yang tidak tahu apa yang sedang terjadi pun penasaran untuk melihat lebih dekat, terlebih saat sampai di depan rumah tetangganya itu, para pria yang ada dalam rombongan itu mengenakan kostum dengan wajah dihitamkan dan berteriak, "Dijual hahm! Dijual hahm!"
"Bibi, maaf, ada apa ini? Apa yang sedang terjadi?" tanya Jiwon pada salah satu tetangganya. "Hari ini putri keluarga itu bertunangan. Rombongan pria itu adalah teman-teman dari pihak calon pengantin pria yang membawakan hadiah pertunangan untuk calon pengantin perempuan," jawab si bibi. "Hadiah yang diantar ke rumah perempuan ditempatkan dalam sebuah kotak yang disebut hahm. Setelah pria-pria itu berteriak seperti tadi, keluarga dari pihak perempuan akan keluar dan menawarkan uang untuk mereka. Biasanya, proses ini dilalui dengan negosiasi penuh tawa dan berlangsung sampai hahm terakhir diantarkan," lanjut si bibi yang menjelaskan.
Jiwon tersenyum manis menanggapinya, tapi sesaat ia teringat dengan Daehyun. "Bukankah hari ini hari pertunangan Daehyun dan Hana? Apa pesta mereka juga dipenuhi tawa seperti ini? Sepi juga rasanya tanpa si sialan itu! Apa yang harus kulakukan tanpa mulut bawelnya itu?" pikirnya melamun.
***
Sementara itu, di sebuah hotel bintang 5, beberapa jam sebelum pesta pertunangan aku dan Daehyun dimulai, semua anggota keluarga sudah berkumpul di hotel ini sejak pagi tadi. Namun, si pemeran utama, Daehyun tiba-tiba menghilang dari kamarnya. Tuan dan Nyonya Kim beserta beberapa karyawan hotel dan panitia pesta tampak bingung mencarinya yang meninggalkan ponselnya di kamar. Bahkan sampai akhirnya menanyakan keberadaan Daehyun padaku yang sedang menunggu di kamarku.
Aku pun turut membantu mencarinya dan akhirnya menemukan Daehyun sedang berenang di kolam renang pribadi yang ada di hotel miliknya ini. Daehyun menyandarkan tubuhnya di tepi kolam, dengan tubuh yang terendam di dalam kolam. Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya sambil memainkan kakiku di dalam air. "Masih mencarinya?" tanyaku mencoba menebak isi pikiran Daehyun. Tanpa melihatku, Daehyun hanya mendengus kesal untuk menjawab pertanyaanku.
"Padahal oppa sudah mengaturnya. Setelah pesta selesai, rencananya oppa ingin memberikan Jiwon beasiswa untuk kuliahnya, tapi ia malah pergi mencampakan oppa," kata Daehyun seraya merebahkan kepalanya di pahaku. "Dia membuat kepala oppa berputar. Oppa juga lelah mencarinya kemana-mana. Oppa hanya bercanda, kenapa dia malah marah seperi itu!" gerutunya seperti anak kecil yang sangat manja. "Semua itu oppa sebut bercanda? Jadi, sampai sekarang oppa tidak sadar sudah membuat kami kecewa?" kataku protes.
Daehyun langsung merubah posisinya menjadi berdiri di depan lututku. "Apa oppa juga membuatmu kecewa?" tanyanya. Tapi belum sempat aku menjawabnya, Daehyun lebih dulu menjawab sendiri pertanyaannya, "Tidak mungkin. Oppa terlalu mempesona untuk sampai membuatmu kecewa!" Aku langsung menatapnya, "Astaga, apa yang terjadi pada pemikiran indah oppa itu!" ucapku terperangah dengan kenarsisannya itu, sedangkan Daehyun menutup mulutnya dengan tangan dan menahan tawanya, malu dengan ucapannya sendiri yang terdengar menggelikan.
"Sayang, oppa sangat pusing. Bagaimana kalau nanti oppa pingsan di tengah pesta?" tanya Daehyun seraya meletakan dagunya di atas lututku dengan sangat manja. Aku memutar mataku jengah dan ia lagi-lagi tertawa melihatnya. "Oppa bercanda!" katanya tersenyum, lalu berbalik. Aku membuka kakiku dan menggapai bahunya, lalu menariknya. "Oppa, berhentilah mengkhawatirkannya. Kita memang tidak tahu apa yang menimpa Jiwon oppa di luar sana, tapi percayalah Jiwon oppa akan baik-baik saja," ucapku sambil memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini oppa biarkan Jiwon dalam perjalanan misteri ajaibnya itu!" kata Daehyun saat aku melepaskan pelukanku dan ia kembali menghadapku. Cup! Aku mengecup bibirnya, "nah, aku sudah memberikan obat pusingnya. Jadi, cepatlah keluar!" kataku. Bukannya keluar dari kolam, ia malah menenggelamkan dirinya perlahan ke dalam kolam, seolah dia benar-benar pingsan. "Oppa, berhenti bercanda! Cepatlah, kita harus kembali ke kamar untuk bersiap!" kataku, tapi ia tidak merespon sama sekali.
Perlahan, tubuh Daehyun yang tertelungkup naik dan mengembang di permukaan air di tengah-tengah kolam. Aku pun seketika panik, terlebih aku tidak bisa berenang untuk menolongnya. Berulang kali, aku memanggil namanya dan berusaha menggapai tubuhnya dengan tanganku. Tiba-tiba aku melihat gelembung di dekat kepala Daehyun yang ada di dalam air. "Oppa!" teriakku saat menyadari Daehyun masih bisa bernafas dan ia pun langsung merubah posisinya dengan berdiri di lantai kolam sambil tertawa terbahak-bahak. Aku terduduk lemas dibuatnya. "Oppa gila, hah! Ini tidak lucu!" bentakku kesal, bahkan nafasku sampai tersengal-sengal karena takut.
Srukk! Daehyun keluar dari kolam dengan hanya mengenakan celana pendek. Rasanya, aku malah semakin lemas melihatnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat tunanganku ini tanpa baju. Kalau selama ini, dengan baju, ia memang terlihat kurus, ternyata tanpa baju, dia juga berotot. "Satu, dua, tiga, empat, lima... six pack!" hitungku dalam hati seraya memandang otot perutnya dan menghitung setiap kotaknya secara menurun dan saat pandanganku tertuju ke tempat yang tidak seharusnya. "Astaga, oppa gila dan aku kehilangan akal!" gumamku tanpa sadar seraya langsung menutup mataku.
Daehyun berjongkok di depanku. "Apa sekarang, sayang juga ingin pingsan?" tanyanya dengan smirk nakalnya yang membuatku sadar. Aku bergegas berdiri, tapi karena lantai yang basah, membuatku terpeleset. Untungnya, dengan sigap, Daehyun menangkapku. Deg! Deg! Deg! "Astaga, apa ini! Ya Tuhan, sepertinya, aku akan kehilangan akal sungguhan!" pekikku dalam hati. Aku menutup bibirku rapat-rapat, padahal batinku ingin berteriak sekeras yang aku bisa. Tunanganku yang memang sudah tampan ini, semakin mempesona dengan wajah dan rambutnya yang basah, terlebih shirtless! "Ya Tuhan, aku meleleh dalam pelukannya!" pekik batinku.
"Oppa, lepaskan! Sebentar lagi acara akan dimulai," kataku pelan, tapi Daehyun malah memelukku lagi. "Diam lah, ada yang ingin oppa katakan. Sebelum kita benar-benar bertunangan, oppa ingin jujur padamu," katanya. "Kau... benar-benar membuat oppa jatuh cinta untuk yang pertama kalinya dan setelah hari ini, oppa tidak akan pernah melepaskanmu karena semua diri oppa, mencintai semua yang ada pada dirimu," ucapnya dan aku mendengarkannya dengan jantung berdegup kencang.
"Oppa tidak hanya mencintai lekuk tubuhmu, tapi semua sisimu, juga semua ketidaksempurnaanmu. Jadi, tolong berikan semuanya pada oppa. Oppa mohon, jangan ada pria lain di hatimu," lanjut Daehyun yang membuatku tiba-tiba teringat Yongju. "Oppa bersumpah, akan oppa memberikan semua milik oppa padamu. Lee Hana, aku Kim Daehyun, ingin kau menjadi awal dan akhirku," lanjutnya seraya mengecup mesra pucuk kepalaku, lalu menatapku lekat dengan sepasang mata indahnya. "Tapi ingat juga, oppa tidak menerima kekalahan! Karena oppa memberikan semuanya padamu, kau juga harus memberikan semuanya pada oppa! Arraseo?" lanjutnya dengan ekspresi wajah yang hanya dalam hitungan detik berubah menakutkan.
"Oppa, aku mohon jangan mengecewakanku!" ucapku pelan dengan kepala tertunduk. "Sayang, mengertilah, oppa melewati semua suasana hati hari ini! Oppa ingin bersamamu. Temani oppa sebentar lagi, hmm?" sahutnya seraya mulai menyerang leherku. "Kau air terjunku, kau inspirasiku!" bisiknya menggoda tepat di telingaku dan seketika membuatku merinding setelah beberapa detik sebelumnya tersentak karena punggungku tiba-tiba tersandar di tembok. Daehyun memagariku dengan kedua tangannya yang ia tekan ke arah dinding.
Daehyun adalah gangguan terburuk dalam hidupku. Tatapannya, sentuhannya, irama nafasnya, gerakan bibirnya membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya di kepalaku. "Berikan semua padaku! Bukankah hati kita sama?" bisiknya lagi seraya kembali mendekat. "Belum saatnya!" kataku seraya mendorong dadanya dengan kedua tanganku. "Aku tidak ingin mempertaruhkan semua. Meskipun sulit, tahanlah. Aku akan memberikan semua pada oppa hanya saat malam pertama kita," ucapku dengan malu-malu. Melihat Daehyun yang terdiam memandangku. Aku bergegas meloloskan tubuhku melalui bawah tangannya. "A-aku duluan, dah!" kataku langsung kabur dan meninggalkannya yang hanya bisa menghela nafas panjang kecewa.
***
__ADS_1
Satu jam kemudian, sampailah pada acara yang sudah ditentukan, acara lamaran aku dan Daehyun yang dilakukan secara tertutup antar dua keluarga, sebelum pesta pertunangan dimulai. Lamaran ini diadakan di restoran yang ada di hotel ini dan terkenal dengan kemewahannya. Daehyun yang tampil santai dengan setelan jas putih polos fit body plus kemeja putih tanpa dasi, tampak tengah sibuk mengumpulkan anggota keluarganya bersama orang tuanya, sebelum memasuki tempat pesta.
"Di mana Namgil?" tanya Tuan Kim Taeyang pada kakaknya, Kim Dangwook, Sang Presiden yang menyempatkan hadir. "Itu dia!" jawab Kim Dangwook seraya menunjuk Namgil yang baru tiba dengan jas hitamnya, sesuai dress code. "Terima kasih sudah datang," ucap Daehyun saat kakak sepupunya itu melaluinya, tanpa sebuah tegur sapa. "Tapi aku datang bukan untukmu!" sahut Namgil dingin dan Daehyun tidak berniat membalasnya meski kesal mendengarnya. Begitu pula di dalam kamarku, semua anggota keluarga sudah lengkap, kecuali Yongju yang masih tidak kelihatan batang hidungnya. "Aku tidak yakin, dia akan datang," ucap eomma pesimis.
Dalam acara lamaran ini, selain saling bertukar hadiah pertunangan yang banyak dengan harga bervariasi, kedua orang tua dari masing-masing pihak juga akan diperkenalkan secara formal, beserta anggota keluarga yang lain. Karena sudah saatnya acara dimulai, aku pun masuk ke tempat pesta lamaran bersama kedua orang tuaku tanpa dihadiri Yongju sebagai oppa-ku. Daehyun yang masuk menyusul setelah aku, terkesima melihat penampilanku yang begitu cantik.
Karena tradisi pesta pertunangan diadakan dengan teman modern-tradisional, aku pun memakai hanbok modern, dengan chima yang merupakan rok-nya yang mengembang indah berwarna putih polos dan pendek selutut. Sedangkan untuk jeogori, yaitu padanan chima berupa penutup tubuh bagian atas, terbuat dari organza berwarna pink nude yang dihamburi aplikasi bordir 3D chiffon rosette merah muda plus pita di bagian dada yang senada dengan bordir daunnya yang hijau muda.
Karena ini hanbok modern, aku memilih jeogori berlengan pendek. Karena aku yang tomboi belum terbiasa memakai heels, untuk pasangan hanbok-ku malam ini, aku juga memilih memakai kitten heels dengan warna senada dengan chima-ku, putih. Rambut lurusku yang sudah panjang pun dibiarkan terurai, hanya rambut di bagian atas telinga yang dianyam kecil dan disatukan ke belakang dan dipercantik dengan pita berbentuk bunga.
Ternyata bukan hanya Daehyun yang terpesona dengan penampilanku saat ini, tapi juga Namgil yang seperti tidak ingin mengedipkan matanya sekalipun, terlebih karena wajahku untuk pertama kalinya di make up oleh ahlinya. "Wah, Daehyun ternyata mendapat seorang bidadari!" kata Kim Dangwook memujiku dan membuat Namgil berhenti memandangiku. "Bagaimana? Cantik bukan menantuku?" sahut eomma Daehyun semakin membuatku tersipu malu.
Setelah itu, kami semua pun duduk berhadapan di sebuah meja besar dan mulai memperkenalkan masing-masing anggota keluarga satu persatu. Di sisiku, hanya ada aku dan kedua orang tuaku, Lee Daeshim dan Lee Miyoung. Di sisi Daehyun, ada kedua orang tuanya, Kim Taeyang dan Kim Eunha. Kemudian, ada Kim Dangwook, kakak dari Kim Taeyang, beserta istrinya, 2 putrinya dan si bungsu, Namgil. Juga ada Kim Youra, adik dari Kim Taeyang yang juga ibu kandung dari Seojun.
Setelah selesai berkenalan, "Jadi, pada hari ini, maksud kami adalah ingin mewakili putra kami, Daehyun untuk melamar Hana, sebagai calon istrinya," ucap Tuan Kim Taeyang mengutarakan niatnya dan lamaran pun diterima oleh kedua orangtuaku. Sebuah kotak berisi cincin berlian pun diserahkan Nyonya Kim Eunha pada putranya, untuk Daehyun pakaikan di jari manis tangan kiriku dan setelah memasangkannya, semua anggota keluarga pun saling berpelukan.
"Maaf, kami datang terlambat!" ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam restoran. Ternyata, orang itu adalah Seojun. Kim Youra, ibu Seojun yang awalnya tersenyum menyambut kedatangan sang putra semata wayangnya, tiba-tiba berubah dingin saat melihat Jeon Sungjin, mantan suaminya turut datang. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Youra pada Sungjin. "Menemani putraku," jawab Sungjin seraya tersenyum ramah dan mulai mengambil tempat di samping appa-ku. "Aku rasa aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi," kata Sungjin di depan semua anggota keluarga Kim yang juga pernah menjadi anggota keluarganya.
__ADS_1
"Tapi karena ada hubungannya dengan keluarga Lee, aku rasa, aku harus memperkenalkan putraku di sini," lanjut Sungjin yang membuat semua anggota keluarga Kim bingung. "Apa hubungannya dengan putra bungsumu?" tanya Taeyang tidak mengerti. "Oh, apa Youra tidak pernah menceritakannya pada kalian? Selain Seojun dan Junghwa, putra bungsuku, aku memiliki putra yang lain," tanya Sungjin seolah terkejut. "Namanya Jeon Yongju, putra keduaku. Tapi seperti Seojun, karena dia mengikuti marga ibunya, dia lebih dikenal dengan nama Min Yongju dan Yongju sendiri adalah keponakan satu-satunya dari Lee Miyoung," kata Sungjin santai dan membuat semua orang bermarga Kim di tempat ini terkejut, terutama Daehyun.
"Maaf, kami terlambat," kata Junghwa yang juga tiba-tiba datang dan langsung membungkuk sopan di depan semua orang. Sebuah senyuman bahagia yang terlihat begitu cantik membingkai bibirku, manakala aku melihat Yongju yang berjalan di belakang Junghwa. "Oppa!" panggilku seraya langsung berdiri dari dudukku dan membuat ekspresi wajah Daehyun langsung berubah kesal. Yongju tersenyum membalasku, lalu membungkuk sopan seperti Junghwa. Kalau saja eomma tidak menahan tanganku, mungkin aku sudah berlari memeluk Yongju, saking bahagianya.