The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Aku Nelangsa Merindukanmu


__ADS_3

"Sudah. Sudah, berhenti bercandanya! Sekarang, mari kita makan siang. Hyung, apa masakanmu sudah selesai? Apa kita bisa mulai sekarang?" kata Yongju. "Iya, ini sudah. Hyunwo, tolong bantu aku menyiapkannya," kata Seojun seraya meletakan sebuah mangkuk besar di tengah meja makan. Saat semua sibuk menyiapkan makan siang, aku dan Junghwa kembali ribut karena Junghwa tidak sengaja menyenggol aku yang lewat di sampingnya, sampai minuman yang aku bawa, tumpah ke bajuku.


"Hei, tidak bisakah kalian damai satu hari saja!" tegur Seojun. "Cepat, duduk dan makan makanan kalian!" tambah Yongju yang juga sudah mulai pusing mendengar kami selalu adu mulut. Di tengah makan siang yang kembali ramai dengan candaan Seojun dan Hyunwo yang tertawa meresponnya, ada Junghwa yang sesekali melirik ke arahku diam-diam. "Kalau saja bisa, walau hanya satu hari, aku ingin damai mabuk terlelap bersama aroma manismu. Tapi aku tidak ingin merebutmu dari Yongju hyung," katanya dalam hati.


"Hana, apa perutmu masih sakit?" tanya Yongju saat menyadari ekspresi wajahku yang berubah dan hanya diam saja dari tadi. "Hah? Bukan sakit, hanya tidak nyaman," jawabku yang awalnya mengangkat wajahku karena terkejut, tapi berakhir dengan menundukan kepalaku karena malu. "Hmm... Bagaimana kalau akhir pekan nanti, kita jalan-jalan, mumpung jadwal oppa belum sibuk. Itu juga kalau kondisimu sudah lebih baik," ajaknya dengan ragu-ragu. "Ke mana? Ah Yongju, kau memang adik yang baik! Apa kau merencanakan jalan-jalan dengan hyung-mu ini sebelum aku kembali kuliah?" sahut Seojun dengan percaya diri.


"Siapa yang mengajak hyung? Aku ingin pergi berdua saja dengan Hana!" jawab Yongju savage dan langsung membuat Seojun cemberut karena sudah salah paham. "Lihat saja nanti," kataku seraya tersenyum manis pada Yongju dan masih belum menyadari tatapan Junghwa. "Rasanya, ku ingin menempatkan tubuhku di depan semua pria yang kau beri senyuman dengan tatapan mata yang lembut dan dalam seperti itu! Aku tidak suka melihatnya!" kata Junghwa dalam hatinya seraya meletakan sendoknya di piringnya.


Selesai makan, aku kebagian tugas mencuci piring oleh Seojun. "Biar aku saja! Hana belum pernah mencuci piring," kata Yongju berusaha menggantikan aku. "Kau belum pernah mencuci piring sama sekali?" tanya Hyunwo tidak percaya mendengarnya. "Aku juga belum pernah! Bukankah di rumah sudah ada pelayan yang melakukannya?" sahut Namgil polos. "Ah, aku lupa kalau kalian keluarga konglomerat!" kata Hyunwo sarkas. "Memang tuan putri manja yang tidak bisa apa-apa!" celetuk Junghwa dari kejauhan. Aku kesal setengah mati mendengarnya. "Oppa, percaya saja padaku, oke! Seojun oppa, tolong bawa Yongju oppa menjauh! Jangan biarkan dia menggangguku!" pintaku pada keduanya. "Akan aku buktikan, aku juga bisa mencuci piring, bayi!" gerutuku pelan.


Mereka pun meninggalkan meja makan. Seojun mengajak Yongju ke kamarnya untuk membicarakan sesuatu. Sedangkan Hyunwo mengajak Namgil menyusul Junghwa yang sudah lebih dulu ke kamarnya. Aku pun memulai eksperimenku yang pertama kali di depan wastafel. Walaupun baru pertama kali mencuci piring, aku sudah sering melihat para pelayan di rumahku. Jadi, aku rasa, aku tidak mungkin kesulitan melakukannya. Tapi di tengah aktivitasku, aku terganggu dengan rambut panjangku yang terjatuh ke depan wajahku saat aku menundukkan kepala. Aku berusaha mengembalikannya dengan punggung tanganku karena tanganku yang dipenuhi busa sabun.


"Oh!" ucapku terkejut saat sebuah tangan membantuku menyampirkan rambutku ke telingaku. Aku ingin berbalik untuk melihat pemilik tangan itu, tapi ia menahanku dengan memajukan tubuhnya di belakangku. Tanpa mengatakan apa-apa, orang di belakangku itu mengikatkan rambutku dengan lembut. Mata Junghwa fokus menatap leher jenjangku. Selesai mengikat rambutku, ia mengambil beberapa helai rambutku yang menempel di leherku karena rontok. Aku diam merasakan jari-jarinya yang menyentuh leherku. "Ah!" pekikku tiba-tiba saat tangan itu malah mencubit leherku.

__ADS_1


"Kau? Aku kira Yongju oppa!" ucapku terkejut, tapi dengan cueknya Junghwa malah melenggang begitu saja setelah mengambil minuman di dalam kulkas. "Kenapa kau mencubitku?" tanyaku seraya mengelus leherku, tapi bayi itu hanya diam tak menjawabnya. "Hei, bayi! Apa kau tuli?" teriakku kesal. "Aku kesal karena kau akan pergi dengan hyung, tanpa mengajakku!" jawab bayi itu dalam hati dengan wajah cemberut. "Kemanapun kalian pergi, aku akan ikut! Kalau perlu, aku akan menempel dengan kalian seperti tas!" lanjutnya sambil menggerutu sepanjang lorong menuju kamarnya.


"Junghwa!" panggilku setelah berhasil menghadang Junghwa di depannya. "Kenapa kau menyubitku?" rengekku seraya menunjuk leherku. Bukannya mengatakan apapun, Junghwa malah tertegun melihat aku yang bersikap manja padanya. Aku mengomel di depannya, menumpahkan kekesalanku karena selalu diganggunya, tapi Junghwa menuli. Bagi Junghwa saat ini, aku yang marah-marah di depannya malah terlihat imut di matanya. "Junghwa!" panggilku kesal karena tidak digubris Junghwa sejak tadi, seraya menghentakan kakiku dan pergi dengan kesal.


Perlahan, Junghwa memutar pandangannya, mengikuti aku yang pergi sambil menggerutu. "Setiap kali aku melihatmu, aku seperti kehabisan napas! Suaramu ketika kau memanggilku membuatku merasa seperti terkunci di dalam hatimu dan berenang di cintamu dan semakin ingin tahu lebih banyak tentangmu!" pikirnya. "Sayangnya, petualanganku tidak akan pernah bisa aku mulai karena misteri hubunganmu bersama Yongju hyung. Aku hanya bisa menghargaimu sebagai gadis yang disukai hyung-ku dan cukup membayangkan ini semua setiap hari karena bersamamu, itu adalah mimpi yang berarti," putusnya seraya melangkah berlawanan arah denganku.


***


Di kamar Yongju, "Sehari saja, jika aku bisa bersamamu, jika aku bisa menggenggam tanganmu, akan aku cintai kau sepenuh hati. Aku akan jadikan kau ratuku," ucap Yongju dalam hatinya sambil memandang lekat fotoku yang ia jadikan wallpaper ponselnya, tanpa memperhatikan Seojun yang bicara padanya. "Kau masih menyukainya?" tanya Seojun yang memperhatikan senyuman lembut Yongju saat menatap layar ponselnya itu. Sang adik hanya diam, tak ingin menjawab. "Kenapa kau tidak berhenti saja? Kau sendiri tahu, seperti apa akhirnya," kata Seojun. Yongju tersenyum, "Semua di dunia ini pasti berakhir, tapi aku belum tahu bagaimana mengakhirinya," katanya.


"Kalau saja aku bisa tahu akan berakhir seperti ini, aku tidak akan pernah menyerahkannya pada Daehyun," kata Yongku yang pelan dan penuh sesal. Seojun terdiam tak tahu harus berkata apa-apa, selain "kita bisa apa? Semua sudah terjadi." Seojun menatap ke arah pintu kamar Yongju, "Dia masih tertawa dan tersenyum di depan kita, tapi pasti, dialah yang paling terluka," katanya. "Kalau aku perhatikan, dia tipe yang tidak mau menunjukan perasaannya pada orang lain," lanjutnya seraya menatap Yongju untuk membenarkan penilaiannya padaku.


"Kau benar, hyung! Dia gadis bodoh yang manja, tidak bisa apa-apa selain belajar dan tidak akan bisa hidup sendirian. Tapi malah selalu menyimpan sakitnya sendirian, tidak mau mengatakan pada siapapun kalau dia terluka," kata Yongju. "Kalau begitu, kita hanya bisa membuatnya senang agar dia tidak ingat dengan lukanya!" kata Seojun. "Bukankah kau ingin mengajaknya pergi? Ajak dia makan atau menonton film atau pergi kemana saja yang membuatnya nyaman dan melupakan Daehyun!" saran Seojun seraya tersenyum. "Iya, aku akan melakukan apapun untuknya, hyung," sahut Yongju. Seojun tersenyum pada adiknya itu.

__ADS_1


"Yongju, maafkan aku. Mungkin aku terlalu rasional, tapi tetap saja aku ingin mengingatkanmu, jangan memaksakan perasaanmu dan membuatnya lebih terluka dari ini," kata Seojun ragu. "Aku mengerti, hyung. Jika aku bisa membuatnya tersenyum bahagia lagi, itu sudah cukup. Aku juga tidak tahu, mungkin sekarang dia membenci Daehyun atau mungkin saja tidak. Aku tahu, aku tidak bisa mengharapkan lebih karena itu hanya mimpiku. Aku tahu, aku tidak bisa memilikinya, bahkan jika itu dalam mimpi," kata Yongju lirih. "Ingatlah dengan semua kata-katamu ini! Kau harus menelan perasaanmu karena bagaimana pun kau tidak bisa melawan realita hubungan darah di antara kalian berdua!" kata Seojun meyakinkan sebelum pergi meninggalkan Yongju yang terpaku di kamarnya.


***


Di kediaman Kim, Daehyun menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan. Sudah berhari-hari, dia dikurung di rumahnya dan tidak diizinkan keluar oleh orang tuanya. Ia berjalan dengan gontai, bahkan wajahnya terlihat lesu dan lebih kurus. Sesampainya di ruang makan, atensinya tertuju pada pas bunga yang ada di atas meja makan. Bunga lili putih yang mengingatkannya pada momen di mana ia mengejutkan aku yang berdiri terpesona di depan water lili garden di Changi Airport Singapura, saat kami akan kembali ke Korea.


Saat itu, Daehyun mengejutkan aku dengan memelukku dari belakang dengan begitu mesra dan menghujaniku dengan kecupan sayangnya. "Hentikan!" kataku saat itu seraya mendorong wajah nakalnya. "Sayang menyukainya? Kalau sayang suka, oppa akan membuatkan yang sama di rumah kita nanti," katanya seraya tersenyum. Daehyun yang melamun, tiba-tiba melihat sosokku yang berdiri di depannya, di mana bunga lili itu memisahkan jarak kami berdua. Daehyun tersenyum melihatku, tapi senyumnya hilang saat melihatku berkata, "Mari kita bertemu ketika bunga lili bermekaran dan mengucapkan selamat tinggal saat mereka layu."


Prang!! Daehyun menarik taplak meja makan dan membuat semua benda di atasnya berjatuhan ke lantai, termasuk vas dan bunga lilinya. Ia berdiri dengan terengah, memandangi bunga lili putih yang berhamburan di kakinya, lalu langsung berjalan dengan cepat kembali ke kamarnya. "Kenapa? Kenapa semua seperti ini?" tanyanya pada dirinya sendiri di tengah-tengah langkahnya. "Aku tahu, aku berhasil mendapatkanmu dengan mudah, tapi aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan lebih darimu. Anak kita... Aku tahu, kita sudah kehilangannya, tapi aku tetap tidak bisa menerima kalau aku juga harus kehilanganmu!" gumamnya seorang diri yang diakhirinya dengan membanting pintu kamarnya.


***


Aku berhasil menyelesaikan cucianku sendirian, tanpa ada satupun yang pecah. Saat ingin mencuci tanganku lagi, tiba-tiba aku teringat Daehyun dengan sendirinya. Aku melamun dengan air kran yang mengaliri tanganku. "Apakah aku bodoh, jika masih memikirkanmu. Apa aku egois, jika masih berharap semua kembali seperti dulu?" pikirku dengan tubuh yang mulai bergetar karena menahan tangis. "Aku membencimu, tapi aku masih mencintaimu. Aku berbohong, jika aku mengatakan aku bisa melupakanmu. Semuanya sudah terlanjur aku berikan untukmu. Aku sudah terlanjur menjadikanmu pusat kehidupanku dan terlalu sulit untuk melupakan..." kataku dalam hati hingga akhirnya, tubuhku perlahan merosot sambil berpegangan di wastafel.

__ADS_1


Kembali pada Daehyun, pemuda tampan itu duduk bersandar di pintu kamarnya. "Jika kita bisa bersama lagi, aku akan membawamu pergi ke tempat yang hanya ada kita berdua. Aku akan menciummu mesra setiap pagi. Aku akan menggenggam tanganmu sepanjang siang dan di tengah malam yang indah aku akan mengaku kepadamu dengan bulan sebagai cahaya kita bahwa aku akan selalu mencintaimu. Aku akan memelukmu sepanjang malam, menidurkanmu dalam buaianku... Hana, aku merindukanmu," gumamnya nelangsa.


__ADS_2