The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Berhentilah Bermain-main, Peterpan!


__ADS_3

"Hei, Hyung serius ingin membatalkan janji kita? Bagaimana dengan tempat yang sudah dipesan? Makanan dan minumannya? Masa hanya aku dan Jiwon, sedangkan hyung yang berulang tahun malah tidak datang!" kata Daehyun menggerutu pada Namgil. "Iya, maaf, tapi aku sedikit tidak enak badan. Aku akan menggantinya lain waktu," jawab Namgil dengan suara yang terdengar lesu. "Aneh! Bukankah tadi pagi Hyung baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba tidak enak badan?" sahut Daehyun di telepon. "Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit pusing. Istirahat sebentar, besok pasti sudah membaik," balas Namgil. "Baiklah, kalau itu mau hyung. Istirahatlah," sahut Daehyun seraya mematikan sambungan telepon mereka.


Namgil meletakan ponselnya di atas nakas dan kembali melamun di kamarnya sambil menghela nafas panjang. "Aku 20 tahun sekarang, tapi sepertinya, tidak ada yang istimewa hari ini. Bahkan Hana tidak mengingatnya..." katanya seorang diri. "Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidur? Aku bahkan malas beranjak dari tempat tidur ini! Apa aku benar-benar sudah tidak istimewa lagi di dalam hatinya?" katanya seraya kembali menghela nafasnya dengan berat. "Hari ini aku berulang tahun dan aku pikir, hari ini hari yang baik untuk menemuimu. Aku bahkan sangat bersemangat ingin mengajakmu keluar, tapi apa ini! Kau malah langsung pergi meninggalkan aku sebelum aku mengatakannya," lanjutnya seraya memandangi fotoku di ponselnya.


Namgil turut tersenyum melihat senyumanku di foto itu sambil kembali berkata, "tidak apa-apa. Mungkin kau memang lupa, tapi karena sekarang aku sudah 20, aku akan menunjukannya padamu kalau bukan hanya tubuhku yang bebas, tapi juga sikapku yang harus lebih dewasa di depanmu. "Tidak apa-apa, jika kau lupa. Sebagai gantinya, maukah kau datang ke dalam mimpiku malam ini, Hana-ya?" katanya seraya tersenyum. Cup! Ia mengecup layar ponselnya dengan penuh kasih, lalu berkata "Selamat malam, Hana."


***


"Hana, kau di mana sekarang? Kau sudah pulang sekolah?" tanya eomma saat jam siang ini. "Di dalam mobil menantu kesayangan eomma dan sedang di jalan menuju rumah. Kenapa?" jawabku seadanya. Daehyun yang tengah menyeruput minumannya di sampingku sampai tersedak mendengarnya. "Menantu?" tanyanya, terperangah. "Ada yang salah?" tanyaku pada Daehyun sambil menjauhkan ponselku dari mulutku. "Tidak. Oppa suka kata itu," jawabnya seraya tersenyum malu-malu. "Ada apa eomma?" lanjutku bertanya pada eomma yang menelponku. "Bisakah kau minta Daehyun mengantarmu ke agensi sekarang? Eomma butuh bantuanmu," jawab eomma.


Deg! Aku diam tidak menjawab. Di kepalaku, saat ini hanya terpikirkan, "ke agensi? Bagaimana jika aku bertemu Yongju oppa di sana? Apa aku sudah siap menemuinya?" Aku menggigit kukuku tanpa sadar sambil mendengarkan perkataan eomma. "Bisakah kau mengetikan beberapa berkas yang eomma butuhkan? Tidak banyak. Eomma juga akan membantumu. Kau tahu 'kan, sekretaris eomma sedang cuti melanjutkan kuliahnya, belum lagi asisten eomma juga harus cuti wajib militer. Sebenarnya, ada dua anak magang baru yang menggantikan mereka, tapi hari ini yang satu juga izin karena harus mengulang kelas dan yang satunya lagi juga mengundurkan diri tiba-tiba dan memilih mencari pekerjaan lain. Hana, kau mau bukan, membantu eomma?"


"Baiklah," jawabku dengan terpaksa. "Terima kasih, Hana. Eomma menyayangimu," balas eomma yang terdengar senang dengan jawabanku. Aku pun meminta Daehyun untuk mengantarkan aku ke agensi, walaupun harus meyakinkan Daehyun dulu kalau ini bukan keinginanku, tapi perintah eomma.


***

__ADS_1


Sudah hampir dua jam aku berkutat di depan laptop yang eomma sediakan untukku di ruang kerjanya, sedangkan Daehyun diminta eomma pulang setelah mengantarkan aku ke agensi dengan selamat. Awalnya, aku memang tidak mengerti apa yang harus aku ketik untuk membantu pekerjaan eomma, tapi dengan daya tangkapku yang tinggi saat eomma memberikan contoh, tidak butuh waktu lama untukku mengerjakannya sendiri. Melihat hasil yang aku kerjakan, eomma tampak terlihat sangat puas. "Nak, sepertinya kau berbakat menjadi sekretaris. Terima kasih, Hana," kata eomma tersenyum padaku yang masih duduk di depan laptop seraya mengelus lembut kepalaku.


Mungkin ini hal sepele bagi orang lain, tapi bagiku yang jarang mendapatkan perhatian kedua orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, hal sepele seperti ini adalah roman manis yang selalu aku harapkan dari kedua orangtuaku. Saat aku tersenyum menerima perlakuan manis eomma ini, eomma memintaku untuk mengantarkan file itu ke ruang fotocopy. Aku yang sedang senang pun, kembali menurutinya permintaan eomma dengan langkah ringan, tanpa menduga sesuatu akan terjadi tepat di depan pintu yang sedang aku buka.


Akhirnya, setelah sekian purnama, aku bertemu lagi dengan Yongju. Yongju tampak tergesa-gesa lewat di depan ruang kerja eomma dengan beberapa staf yang mengikutinya. Setelah menyadari keberadaan masing-masing, sejenak kami berdua sama-sama terdiam di tempat. Sebuah kecanggungan yang terjadi di antara kami pun turut membuat beberapa staf saling melempar pandang kebingungan, sampai Yongju memalingkan pandangannya dariku dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata pun untukku.


Lain halnya dengan pandanganku yang terus mengikutinya, meski masih di tempat yang sama. "Apa kabar? Apa oppa baik-baik saja? Kenapa oppa sekarang sekurus itu? Oppa bahkan terlihat seperti bulu yang terbang tanpa bisa aku tangkap lagi..." gumamku seorang diri. Aku terus menatap punggung Yongju sampai punggung itu menghilang dari atensiku, lalu menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan air mataku yang memaksa keluar.


Berulang kali aku mengatur nafasku agar emosiku kembali stabil. Setelah memastikan air mataku sudah menurut denganku, aku kembali mengangkat wajahku setelah kembali bergumam, "Sepertinya, oppa membenciku. Tapi bagus lah, karena oppa tidak akan jatuh lagi lebih dalam dari ini," dan melanjutkan langkahku juga. "Kau salah, Hana! Rasa ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku tidak akan jatuh lagi lebih dalam dari ini karena aku sudah benar-benar tenggelam di dalam namamu!" sahut Yongju dalam hatinya di sela-sela langkahnya yang semakin menjauh dariku.


Kami berdua memang sudah memilih langkah masing-masing untuk saling mengingkari perasaan yang entah sampai kapan masih saling terpaut satu sama lain ini. Yongju memilih langkah menyibukkan dirinya agar tidak terlalu mengingatku lagi dan aku memilih menerima Daehyun. Iya, hari ini aku sudah memutuskan untuk menerima Daehyun sepenuhnya. "Mungkin sudah waktunya aku menerima pertunangan ini. Lagipula, aku sudah terlalu lama menguji Daehyun dan membuatnya menunggu," pikirku yang berjalan sambil melamun. "Ini yang terbaik. Aku akan melupakanmu, oppa. Kau juga pasti bisa melupakan aku. Aku yakin, Daehyun bisa membuatku jatuh cinta padanya," ucapku dalam hati penuh dengan keyakinan dan harapan.


"Habisnya dari tadi aku melihat noona melamun. Bagaimana? Apa bayi noona ini tampan? Aku baru saja selesai pemotretan. Hari ini, aku jadi pangeran impian dari Neverland," kata Junghwa seraya memamerkan visual pangerannya, tanpa sedikit pun rasa menyesal sudah membuatku sport jantung. "Pangeran? Iya, benar, hari ini bayi noona terlihat seperti pangeran..." jawabku seraya tersenyum lebar, "katak!" lanjutku seraya mengubah senyumku dengan tatapan tajam. Pertengkaran aku dan Junghwa pun kembali terjadi.


"Hana, kau masih di sini? Kau juga Junghwa? Astaga! Pantas saja dari tadi eomma tunggu, kau lama sekali. Kenapa kalian berdua selalu bermusuhan seperti kakak beradik sungguhan? Sini, biar eomma fotokopi sendiri," kata eomma seraya mengambil lembaran kertas di tanganku. "Eomma, benar. Kenapa juga aku yang sudah besar harus meladeni bayi sepertimu. Bersikap dewasa itu lebih keren dari pada bersikap manja seperti bayi!" ucapku ketus seraya mengejek Junghwa.

__ADS_1


"Siapa yang bayi? Aku bukan bayi. Aku ini pemuda. Pe-mu-da!" sahut Junghwa tidak mau kalah. "Ck, pemuda yang naif. Sama saja!" balasku seraya mengangkat kedua bahuku. "Yah, memangnya kalau sok keren, sok dewasa seperti noona, ada yang melirik?" katanya sambil mencibirkan bibirnya. Mulutku sudah siap membalas ejekannya, tapi Junghwa tiba-tiba bertanya, "Tunggu dulu, apa tadi noona membawa berkas? Apa sekarang noona bekerja di sini sebagai karyawan? Dari pada jadi karyawan biasa, apa mau aku promosikan jadi artis juga? Tidak boleh! Kalau noona bekerja, bagaimana denganku? Siapa yang akan menjaga bayi ini? Sekarang saja, aku melewatkan makananku. Aku lapar, eomma!" kata Junghwa yang langsung berlari setelah puas membuat wajahku memerah menahan marah.


Junghwa berlari sampai ruangan di mana Yongju berada. Yongju melirik ke arah Junghwa yang tampak ngos-ngosan di depan pintu. "Apa kau habis dikejar anjing?" tanyanya. "Iya. Anjing gila!" jawab Junghwa seraya terkekeh dengan jawabannya sendiri. Junghwa sengaja berlari mencari Yongju karena ia yakin, aku tidak akan menyusulnya jika ada Yongju. Yongju mengerutkan keningnya, "apalagi yang kau lakukan? Mana ada anjing di sini, apalagi anjing gila! Kau bercanda?" tanyanya.


"Aku serius. Kalau hyung bertemu dengan anjing itu, hyung juga pasti kabur dan menyesal," jawab Junghwa meyakinkan, "iya, kabur dan hyung pasti sangat menyesal karena tidak bisa memeluk anjing cantik itu!" lanjutnya dalam hati seraya tersenyum nakal. Yongju semakin mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh adiknya itu dan kembali mengalihkan atensi pada kertas yang ada di tangannya. "Apa itu?" tanya Junghwa yang mendekat. "Hanya surat pemanggilan wajib militer," jawab Yongju seraya melempar surat itu ke atas meja.


Sepasang mata bulat Junghwa melebar. "Wajib militer? Jangan bilang, hyung mau ikut wajib militer! Hyung tidak serius mau pergi wajib militer, bukan? Hyung masih punya banyak waktu. Itu masih jauh, hyung!" kata Junghwa dengan wajah takutnya. "Entahlah, tapi bagaimana pun, cepat atau lambat, itu akan menjadi kenyataan," sahut Yongju ambigu. "Hyung bercanda, bukan? Bagaimana dengan karir hyung sekarang? Kenapa harus sampai pergi wajib militer hanya untuk menghindari noona?" protes Junghwa.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Hana," kata Yongju. "Terserah hyung, mau ada hubungannya atau tidak! Kalau aku, aku tidak mau pergi wajib militer. Katanya, kita tidak akan berperang lagi, jadi tidak perlu pergi wajib militer," kata Junghwa. "Kata siapa?" tanya Yongju, terkekeh. "Eomma!" jawab Junghwa polos. Yongju tertawa mendengar jawaban polos Junghwa itu, "dan kau mempercayainya?" tanyanya lagi yang tidak berhenti menertawakan sang adik.


"Kenyataannya, saat usia kita sudah memasuki usia wajib militer dan berbadan sehat, kita wajib menjadi seorang tentara dan tidak ada alasan untuk menolaknya! Ini tugas sipil untuk pria tangguh! Yah, kecuali kau masih bayi!" kata Yongju yang merubah tawanya menjadi senyuman. "Ck, bagaimana bisa hyung melakukan tugas sipil itu dengan kesehatan hyung sekarang! Sekalipun hyung berpura-pura sehat, melihat wajah hyung yang pucat itu saja, orang akan tahu kalau hyung penyakitan!" balas Junghwa.


"Sialan, kau ingin mati, hah! Memang sejak lahir warna kulitku pucat seperti ini! Siapa yang penyakitan!" bentak Yongju kesal. "Iya, iya. Aku hanya bercanda, hyung," sahut Junghwa yang memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ia menghela nafasnya panjang, "aku iri dengan negara lain. Bukankah ini seperti menghancurkan masa remaja yang seharusnya indah. Kalau bisa aku ingin menghindarinya. Masa ketika karir sedang baik-baiknya, ditinggalkan wajib militer?" katanya. "Membayangkannya saja sudah seperti neraka! Belum lagi setelah lulus harus melanjutkan kuliah atau sebaliknya. Dua tahun lebih mengasingkan diri? Tinggal di camp bersama orang asing, juga senjata? Horor!" lanjutnya bergidik ngeri.


Yongju geleng-geleng kepala melihat tingkah Junghwa itu. "Berhenti membayangkannya! Fokus saja dengan sekolahmu! Apa pun yang terjadi ke depannya, ini tetap hidup yang harus kau jalani," katanya. "Ah, jangan mengingatkanku dengan sekolah! Aku jadi malas ke sekolah besok!" rengek Junghwa. "Jangan bicara omong kosong! Apa kau mau aku laporkan pada appa dan eomma?" ancam Yongju. "Tapi katanya besok, gurunya berhalangan mengajar dan hanya memberikan tugas. Jadi, besok aku akan istirahat di dorm saja," kata Junghwa santai. "Junghwa, berhentilah main-main! Kau sendiri tahu, kau harus mengatur jadwalmu untuk sekolah. Apa kau ingin mengulang nilaimu atau dipindahkan ke sekolah yang lain hanya karena sering tidak hadir?" lanjut Yongju. "Iya, iya. Pak kepala sekolah!" sahut Junghwa yang langsung mendapat tatapan tajam Yongju.

__ADS_1


Kemudian, Junghwa tersenyum lebar sambil bangkit dari duduknya dan perlahan melangkah keluar. "Ya, Tuhan, kapan anak itu berhenti main-main dan bisa bersikap dewasa?" gumam Yongju seraya memijit dua ruang di antara dua alisnya setelah kepalanya terasa sakit mendengar ocehan sang adik. "Ada apa? Kau baik-baik saja? Kau sakit?" tanya sang manajer yang baru masuk setelah Junghwa pergi. "Tidak. Bukan apa-apa. Kepalaku hanya sedikit pusing," jawab Yongju. "Sungguh?" tanya manajer itu tidak percaya. "Iya, sungguh," jawab Yongju.


Manajer itu menatap lekat Yongju, lalu kembali meragukan sang artis, "tapi tidak seperti yang terlihat! Aku perhatikan belakangan ini sepertinya kesehatanmu menurun." Yongju tersenyum kecil, "Sungguh, ini tidak seperti yang hyung lihat!" jawabnya kembali berusaha menyakinkan sang manajer yang tampak khawatir. "Sungguh?" tanya manajer itu lagi. "Berhenti bertanya! Sekarang aku malah jadi sakit kepala sungguhan karena pertanyaan hyung itu!" bentak Yongju tiba-tiba kesal.


__ADS_2