The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Aku Takut, Aku Trauma


__ADS_3

"Sudah aku katakan, aku tidak mau menikah!" kata Daehyun keras kepala seraya berdiri dari duduknya. "Kim Daehyun!" bentak Tuan Kim dengan keras. Daehyun sudah berniat melawan appa-nya, tapi saat melihat eomma-nya menggelengkan kepala, ia memilih meninggalkan ruang makan. Braakk! Daehyun menendang pintu kamarnya setelah meninggalkan kedua orang tuanya dan Sooyun beserta keluarga Shin di ruang makan. Malam ini, keluarga Shin datang untuk membicarakan persiapan pesta pernikahan Daehyun dan Sooyun.


Di kamarnya, Daehyun mengambil ponselnya dan menghubungi nomorku lagi untuk kesekian kalinya. Tapi untuk kesekian kalinya juga, nomorku tidak bisa dihubungi sejak appa-ku mengambil alih ponselku agar Daehyun tidak menghubungiku lagi. Semakin frustasi, Daehyun pun membanting ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping. "Aaarrrgh!" teriaknya seraya memukul-mukul dinding kamarnya dengan kesal. Kemudian, dengan membabi buta, ia memporak-porandakan seisi kamarnya, mengeluarkan seluruh amarah dan lukanya.


"Aarrgh! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" teriaknya lagi seraya menjambak rambutnya sendiri dengan emosi yang meluap karena kesal dipaksa menikah dengan Sooyun dan harus menerima kenyataan bahwa hubungan kami sudah berakhir tanpa keinginannya. Akhirnya, ia merosotkan tubuhnya perlahan di lantai dan menyandarkan kepalanya di dinding. "Aku sudah memberikan seluruh hatiku. Aku mencintainya, appa... hanya dia..." lirih nya dengan kedua matanya yang terpejam.


***


Beberapa saat kemudian, aku membuka mata dengan peluh bercucuran seraya berteriak, "Jangan!" dengan cukup keras sampai membuat Yongju yang tengah tidur di sofa, terbangun. Entah kenapa, beberapa malam ini aku selalu bermimpi buruk tentang Daehyun. Seolah-olah mimpi buruk itu sudah menjadi arsip di benakku dan merekam ulang kehancuranku. Yongju langsung datang memelukku, "Ada apa? Kau bermimpi buruk lagi?" tanyanya. Aku mengangguk dengan nafas tersengal seraya meraih punggungnya untuk kupeluk. Setidaknya, pelukan hangat Yongju selalu menenangkanku seperti keajaiban. "Tidak apa-apa, itu hanya mimpi. Ada oppa di sini," katanya sambil menepuk-nepuk punggungku. "Ada apa dengannya? Kemarin malam juga seperti ini. Apa dia benar-benar tertekan dengan semua yang terjadi?" pikirnya.


"Oppa, bawa aku dari sini... Aku takut..." ucapku pelan dengan suara bergetar. Yongju menatapku diam, mempertimbangkan keinginanku yang tidak pernah bisa ia tolak. "Kemana? Ini sudah tengah malam," ucapnya lembut. "Terserah! Oppa, aku takut di sini. Bawa aku pulang! Aku takut Daehyun datang lagi," kataku dengan sangat memohon padanya. "Tidak, Daehyun tidak akan datang ke sini. Ada pengawal Junghwa yang berjaga di depan ruangan," katanya.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. "Kemarin juga Daehyun datang!" ucapku seraya meremas sprei. "Apa? Daehyun ke sini?" tanyanya terkejut dan aku mengangguk. "Apa yang dia lakukan? Apa dia melukaimu?" tanyanya memegangi kedua lenganku. Aku kembali menggeleng, "aku dan Junghwa mengusirnya," jawabku. "Jadi, kalian berdua menyembunyikan semua dari oppa?" katanya terlihat marah. Melihat sepasang matanya yang seperti memancarkan amarahnya, aku bergegas memeluknya. "Oppa, aku mau pulang!" rengekku.


Yongju mendengus kesal, lalu berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa. Aku sempat bingung dengan kepergiannya dan mengira ia sudah marah padaku, tapi beberapa menit kemudian, dia datang bersama seorang dokter jaga yang melepaskan infusku. "Terima kasih, kau bisa kembali!" katanya saat dokter itu selesai melakukan tugasnya. "Oppa dari mana?" tanyaku. "Apa lagi? Melapor kalau kau ingin pulang. Kau tahu, mereka tidak mengizinkan sampai aku menelpon Seojun hyung untuk bicara dengan dokter itu!" jawabnya kesal.


Tiba-tiba Yongju terdiam menatapku dari wajah sampai kakiku. Aku yang menyadarinya, jadi salah tingkah sendiri. "Apa?" tanyaku gugup. Ia berjalan menghampiriku sambil melepaskan hoodie yang ia kenakan, membuat jantungku sempat-sempatnya berdegup kencang. Tidak hanya sampai di situ, saat tepat berdiri di depanku, ia juga menanggalkan kaos putih polos yang ia kenakan di balik hoodie-nya itu, menampilkan tubuh bagian atasnya dengan kulitnya yang sama putihnya dengan milikku. Aku tertegun melihatnya, "Kapan terakhir kali aku melihatnya tanpa kaos? Rasanya, itu sudah sangat lama. Astaga! Aku tidak pernah membayangkan kalau oppa yang selalu bermain denganku saat kecil akan seperti ini!" pikirku.


"Baju gantimu, tidak ada, bukan? Ini, ganti baju pasien itu dengan kaos oppa dulu!" katanya membuyarkan lamunanku, seraya kembali memasang hoodie-nya. Aku pun mengambil kaos yang Yongju letakan di atas tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Deg! Saat aku keluar dari kamar mandi, giliran Yongju yang tertegun melihatku. Karena pakaian pasien yang tadi aku kenakan model kimono, jadi sekarang aku hanya memakai koas Yongju yang hanya sebatas di atas pahaku. Yongju memalingkan wajahnya, "Tidak mungkin bukan, oppa juga harus memberikan celana oppa?" gumamnya pelan. "Tidak. Ini saja sudah cukup," jawabku salah tingkah lagi. "Iya, sangat cukup membuatku berpikiran gila!" rutuknya dalam hati.


Atensi Yongju tiba-tiba tertuju pada kursi roda yang tersedia di sudut ruangan. Ia pun berjalan ke arah kursi roda itu, mendorongnya padaku dan memintaku duduk di atasnya. Dengan cepat, setelah aku menurutinya, ia menutupi pahaku yang terekspos dengan menyelimutiku dari pinggang ke kaki. "Ayo, kita pergi!" katanya seraya mulai mendorong kursi rodaku. Karena sama-sama salah tingkah, kami sampai melupakan pengawalnya yang tertidur di depan ruanganku. Akhirnya, kami berdua pergi tanpa memberitahu pengawal itu sama sekali.


Saat melewati taman rumah sakit, aku meminta Yongju menghentikan Ashton Martin miliknya. "Ada apa? Apa ada yang tertinggal?" tanya Yongju diam seraya menginjak remnya. Aku tidak menjawabnya, hanya memandang ke arah taman dari balik jendela mobil. Yongju yang ingin bertanya lagi jadi terdiam saat melihat aku tersenyum. Ia pun turut melihat keluar jendela. Di rumput taman yang hanya diterangi cahaya temaram lampu taman, cahaya kunang-kunang menjadi warna indah di taman itu. Ia ikut tersenyum sambil menyadarkan kepalanya di kursi kemudi, membiarkan aku menikmati pemandangan itu karena ia tahu, sejak kecil aku memang suka dengan cahaya kunang-kunang.

__ADS_1


"Cantik!" ucapku pelan, tapi tiba-tiba saja aku teringat dengan pengawal tadi. "Oppa! Kita meninggalkan pengawal itu," kataku seraya menoleh pada Yongju yang juga baru menyadarinya. "Dia pasti mencari kita!" kataku. "Biarkan saja, tadi sepertinya dia tertidur," kata Yongju cuek. "Junghwa pasti marah dan menghukumnya kalau tahu kita kabur. Kita tidak bisa meninggalkannya seperti ini," kataku merasa tidak enak. "Biarkan saja! Aku pikir, lucu juga kalau seperti itu!" sahut Yongju seraya terkekeh membayangkan kepanikan orang-orang saat mengetahui kami kabur.


"Oppa! Ayo, kembali dan bangunkan dia!" rengekku. "Sudah, diamlah! Kita pulang saja dulu. Biarkan dia tidur. Ini bukan masalah. Oppa akan katakan dengan Junghwa setelah kita sampai. Sekarang, kita pulang!" sahutnya. "Apa Junghwa di rumah?" tanyaku. "Di apartemen oppa," jawabnya. "Apa Hyunwo oppa dan Seojun oppa juga di sana?" tanyaku lagi. "Hyunwo, iya. Kalau Seojun hyung di rumah eomma-nya. Kenapa?" jawabnya. "Apa oppa menginap di rumah?" tanyaku ragu. "Tidak, oppa akan pulang," sahutnya tetap fokus mengemudi. "Kalau begitu, kita pergi ke apartemen oppa saja," kataku. Yongju kembali menginjak rem mobilnya yang sempat ia lajukan. "Kenapa? Bukannya kau mau pulang?" tanyanya panik. "Aku mau pulang, tapi pasti di rumah sepi kalau tidak ada oppa dan Junghwa. Aku tidak mau sendirian," jawabku sendu. Yongju yang sempat terdiam pun memutar mobilnya ke arah apartemennya.


***


Sementara itu di apartemen mewah Yongju, Junghwa dan Hyunwo masih belum tidur. Dua orang itu tengah bermain game di kamar Junghwa. "Kita akan tetap berpesta di kamar ini sepanjang malam sampai di antara kita ada yang terbunuh!" tantang Junghwa sebelum memulai battle game mereka. Keduanya pun bermain game tak ingat waktu dan tidak sadar waktu sudah berlalu hingga sepertiga malam. "Junghwa, sudah, aku menyerah saja!" kata Hyunwo sambil menguap. "Hyung sudah mengantuk? Padahal hyung sering begadang menjagaku!" kata Junghwa, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer di depannya.


Hyunwo kembali menguap lebar, meski tangannya masih bermain di atas keyboard-nya. "Mungkin karena aku kelelahan habis latihan dance," kata Hyunwo. Junghwa terkekeh, "Sebenarnya, hyung ini mafia atau dancer!" ledeknya. Giliran Hyunwo yang tertawa mendengarnya, "Itu adalah identitas palsuku!" jawabnya. "Ck, tidak terbalik?" kata Junghwa. Hyunwo tertawa lagi, "Kau memang mengenalku! Tidak ada yang bisa aku sembunyikan darimu!" sahut Hyunwo yang memang bermimpi menjadi seorang dancer sambil tertawa. "Masih mengantuk?" tanya Junghwa setelah berhasil membuat pengawalnya itu tertawa. Hyunwo yang memang mudah tertawa pun kembali tertawa, "wah, ternyata kau hanya menjebakku!" ucapnya. "Ayo, kita lanjutkan sampai matahari terbit. Hyung harus menemani aku main sepanjang malam!" perintahnya.


Ponsel Junghwa berdering, tapi ia yang terlalu fokus bermain, tidak memperdulikannya meski deringnya berbunyi berkali-kali. "Mau aku yang terima?" tawar Hyunwo. "Biarkan saja!" sahut Junghwa. Keduanya masih bertarung dengan sengit, sampai dering di ponsel Hyunwo berhasil mengalihkan fokus mereka berdua. Setelah mereka berdua melirik ke arah ponsel milik Hyunwo secara bersamaan, keduanya saling pandang. Hyunwo melepaskan game-nya dan bergegas meraih ponselnya, "ada apa?" tanyanya saat menempel benda pipih itu di telinganya.


Junghwa yang juga berhenti bermain, beralih memperhatikan Hyunwo yang tengah berbicara di depannya. Hyunwo tampak tenang mendengarkan lawan bicara, tapi saat ia mengarahkan pandangannya pada Junghwa, sang tuan muda seperti sudah bisa menebak pembicaraan sang pengawal. Junghwa beranjak sambil memasang jaketnya, diiringi Hyunwo di belakangnya. "Kim Daehyun sialan! Tunggu sampai aku menangkapmu, akan aku habisi kau!" kata Junghwa dalam hatinya dengan kedua tangannya yang mengepal.


Bukannya menjawab, Yongju malah masuk begitu saja, berjalan menuju kamarnya untuk menidurkan aku di sana. "Astaga! Apa aku sedang bicara dengan patung!" gerutu Junghwa seraya mengekor di belakang Yongju. Sedangkan Hyunwo membantu menutup pintu apartemen. "Hyung!" panggil Junghwa seraya membantu Yongju membukakan pintu kamar untuk hyung-nya itu. Tapi Yongju malah menutup kembali pintu kamarnya menggunakan kakinya, sebelum Junghwa masuk ke dalam. Junghwa yang kesal pun memilih kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar, Yongju memandangi wajahku yang terlelap dengan damai. "Apa ini mimpi, kau tidur di sini?" ucapnya dalam hatinya. Dengan pelan, ia duduk di lantai, di sisi tempat tidurnya sambil terus memandangi wajahku di minimnya penerangan lampu tidur. "Terkadang saat seperti ini, aku ingin waktu berhenti agar tidak ada yang berubah karena terkadang kenangan dan masalah ada di jalur yang kita lewati. Bahkan sekarang sepertinya, lebih banyak masalah yang harus kita hadapi," pikirnya seorang diri seraya menghela nafasnya berat.


Yongju berbalik, menyandarkan bahunya di sisi tempat tidur. "Hana, apa kau tahu? Sebesar apapun masalahmu, oppa akan selalu menanggungnya untukmu karena artimu lebih besar dari semua itu. Sekarang, pilihan ada di tanganmu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" ucapnya pelan. "Jujur, oppa masih menunggu untuk cintamu. Dan untukmu, oppa akan berjuang melindungimu. Kau sendiri tahu, oppa tidak bisa berhenti lagi sejak kau memulainya. Meskipun pada akhirnya perasaan ini tetap tidak bisa berlanjut, oppa hanya butuh kau percaya kalau oppa tulus padamu dan tetap di samping oppa seperti biasa, tidak menjauh lagi," lanjutnya.


"Walaupun sebenarnya oppa juga masih berharap kau akan melupakan Daehyun secepatnya dan mencintai oppa lagi," katanya seraya mulai tersipu malu. "Ini gila! Benar-benar gila! Jujur saja, kau juga masih ada rasa pada oppa, bukan?" katanya beberapa saat setelah ia terdiam. "Apa kau pikir, oppa tidak menyadari reaksimu tadi di rumah sakit saat oppa melepas baju? Apa menurutmu, oppa juga menarik?" gumamnya sangat pelan sambil menyembunyikan wajahnya yang bersemu dengan memeluk kedua lututnya.


Tiba-tiba Yongju teringat dengan perkataanku yang mengatakan kalau Daehyun datang menemuiku di rumah sakit. Ia pun meninggalkanku dan bergegas menemui Junghwa untuk menanyakan kebenarannya karena saat itu Junghwa yang bersamaku. Sepeninggal Yongju, aku membuka mataku. Tanpa Yongju tahu, aku mendengar semua perkataannya yang sangat menyentuh jiwaku dengan anggun itu. Tanpa ia katakan pun, aku tahu betapa tulusnya dirinya selama ini. Aku tahu, dia adalah orang yang selalu mendoakan kebahagianku.

__ADS_1


Namun, aku sudah memutuskan untuk tidak ingin mencoba memberi jalan lagi untuk Yongju memulai kegilaan antara kami karena aku sadar, jika aku memeluknya erat, Yongju tidak akan pernah melepaskanku. Aku takut, Yongju tidak akan membiarkan aku pergi seperti Daehyun. Siapapun itu, bahkan mau itu Daehyun ataupun Yongju, aku tidak ingin mempertaruhkan semuanya lagi atas nama cinta. Aku sudah tidak ingin terlibat dengan hubungan apapun, entah untuk hari esok atau selamanya. Setidaknya, untuk hari ini. Aku takut. Aku trauma!


***


Cekrek! Keesokan harinya, pintu apartemen Yongju terbuka dari luar. Seorang pria masuk tanpa kesulitan sedikit pun, dalam diam mulai menyusuri lorongnya yang berujung di kitchen room yang menyatu langsung dengan living room. Sesampainya di sana, pria itu menghentikan langkahnya, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada aktivitas di dapur itu. Bahkan tirai dinding kacanya yang menghadap langsung ke sungai Han, masih tertutup rapat. Sepi, tidak ada seseorang pun yang tampak selain dirinya. Perlahan, ia pun mulai melangkah untuk menemukan orang yang ia cari.


Dia berjalan menuju kamar di samping living room itu, tapi tangannya tampak ragu saat ingin membuka pintu kamar utama di apartemen ini. Lantas, ia pun berjalan kembali ke arah lorong, melewati kitchen room, loundry room dan closet room dengan isinya yang mencerminkan pemiliknya. Dengan sangat berhati-hati, ia membuka pintu kamar tamu itu. Cekrek! Sepasang mata Hyunwo yang tidur di dalamnya pun terbuka dengan waspada.


"Baru bangun?" tanya Seojun seraya berjalan ke arah tempat tidur di kamar itu. Hyunwo yang sempat terkejut mendengar suara pintu pun menghela nafas lega, "hyung, aku kira siapa!" ucapnya. "Kenapa? Apa kau pikir, aku penjahat?" tanya Seojun seraya tersenyum. "Kau pasti dipaksa bocah ini lagi untuk menemaninya bermain game, bukan? Sampai tidak ada satu pun yang tahu, aku datang!" lanjut Seojun. "Iya," sahut Hyunwo sambil menguap lebar dan kembali memejamkan matanya.


Seojun melirik ke arah Hyunwo yang kembali tertidur, lalu menghela nafasnya. "Junghwa, bangun!" katanya yang mulai membangunkan Junghwa yang tidur di samping Hyunwo. Beberapa kali, Seojun mencoba membangunkan Junghwa, sampai sang adik meresponnya dengan, "Hmm? Apa?" ucapnya dengan suara seraknya. "Tolong, bangunkan Yongju! Tadi, aku tidak berani membangunkannya. Cepatlah! Namgil masih menungguku di parkiran," jawab Seojun seraya menarik paksa Junghwa agar bangkit dari tempat tidurnya. Junghwa pun berjalan sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal, menuju kamar utama itu dengan mata berat yang hampir kembali terpejam.


Cekrek! Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Junghwa langsung membuka pintu kamar Yongju dan berjalan ke arah tempat tidur hyung-nya itu. "Hyung, bangun! Seojun hyung menunggumu di depan," katanya dengan mata terpejam. Tidak mendengar suara Yongju, raut wajah Junghwa berubah kesal. "Hyung!" panggilnya lagi seraya mulai naik ke atas tempat tidur. "Hyung!" ulangnya dengan suara semakin kecil seraya langsung merangkak naik ke atas tubuh orang yang dibangunkannya itu.


Seperti biasa hal yang sering Junghwa lakukan saat mengganggu tidur Seojun, Junghwa menindih tubuh itu sambil merosotkan tubuhnya sendiri ke samping orang itu seraya tangannya yang langsung memeluk tubuh itu seperti guling. "Hmm, apa ini? Kenapa ini bulat kenyal?" pikir Junghwa sambil meremas sesuatu yang ada dalam genggamannya. Aku yang sudah terusik saat tubuh berat Junghwa menindihku pun langsung memutar tubuhku yang tengah ia peluk dan langsung mendorongnya dengan kuat.


Brukk! Junghwa terjatuh ke lantai dengan keras. "Ada apa?" tanya Yongju yang akhirnya juga terbangun akibat suara yang Junghwa timbulkan. "****!" umpat Junghwa pelan sambil mulai duduk seraya mengelus pantatnya yang sakit. Ekspresi kesal Junghwa berubah bengong dengan sepasang mata bulatnya yang mengerjap saat mendapati aku duduk di atas tempat tidur dengan ekspresi marah menatapnya. Sempat tertegun sejenak untuk mengumpulkan ingatannya, Junghwa tiba-tiba menurunkan pandangannya ke arah dadaku. Glup! Junghwa menelan kasar salivanya saat menyadari kesalahan yang baru saja dilakukannya, terlebih saat atensinya juga menangkap Yongju yang duduk di belakangku dengan bareface-nya. Lantas, Junghwa pun tersenyum lebar untuk menutupi ketidaksengajaannya tadi.


"Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Yongju bingung. "A-aku... masuk karena disuruh Seojun hyung untuk membangunkan hyung. Aku kira, hyung sendirian di kamar," jawab Junghwa berusaha menjelaskan dengan terbata sambil melirik ke arahku yang masih menatapnya dengan wajah cemberut. "Aku tidak sengaja! Aku kira, noona itu hyung! Berhentilah cemberut!" kata Junghwa dengan kesal karena aku mempelototinya dari tadi. "Apanya yang tidak sengaja?" tanya Yongju semakin bingung melihat reaksi kami berdua.


Aku semakin melebarkan mataku saat mendengar Junghwa bergumam pelan. "Sekecil itu juga..." gumamnya meledak karena kesal. "Punya siapa yang kau sebut kecil, hah!" bentakku tidak terima seraya setengah berdiri di depannya sambil membusungkan dadaku ke arahnya. Junghwa yang terkejut sampai memundurkan kepalanya, "Apa noona gila, hah?" bentaknya. "Kau yang gila! Apa kau ingin melecehkan aku, hah?" balasku. "Melecehkan?" ucap Junghwa dan Yongju bersamaan. Yongju langsung beralih menatap Junghwa, meminta penjelasannya. "Sudah aku katakan, aku tidak sengaja!" ulang Junghwa seraya berdiri, saat menyadari tatapan marah Yongju.


"Salah sendiri, kenapa noona tidur dengan hyung!" balas Junghwa. Sekarang, giliranku yang beralih menatap Yongju yang langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat. "Kenapa oppa tidur di sini?" tanyaku seraya memicingkan kedua mataku saat baru sadar kalau Yongju tidur satu ranjang denganku semalam. "Oppa, takut kau mimpi buruk lagi. Jadi, oppa menemanimu tidur," jawab Yongju beralasan. Aku dan Junghwa memicingkan mata kami berdua menatapnya karena tidak puas dengan jawabannya itu. Yongju jadi gelagapan sendiri menerimanya. "Sudahlah, jangan membahasnya lagi! Ayo, sekarang waktunya kita bangun!" katanya asal dan langsung kabur ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2