
Setelah menuruni tangga menuju lantai satu, Daehyun menemukanku berjalan ke arah pintu keluar. Ia pun bergegas mengejarku. Greb! Daehyun berhasil menangkapku dan tanpa berkata apapun, langsung menarikku keluar dari sana. Aku tidak tinggal diam seperti biasanya. Kali ini, aku memberontak darinya. Berkali-kali, aku menarik tanganku, bahkan menahan langkahku agar ia melepaskanku atau sekedar berhenti menyeretku. Hingga Daehyun membawaku sampai di area parkir, barulah ia melepaskan tanganku. Namun, bukan karena ingin membiarkan aku pergi, tapi ia malah menggendongku di bahunya dan membawaku sampai masuk ke dalam mobilnya.
"Oppa!" bentakku semakin marah saat Daehyun berhasil membuatku duduk di dalam mobilnya. Masih tanpa suara, ia memasangkan sabuk pengaman untukku sambil menatap lekat mataku dan membuatku malah jadi menghindari tatapannya. Walaupun sedang marah besar padanya, entah parfumnya yang tercium sejak saat ia menggendong paksa aku, lalu sekarang dengan posisi sedekat ini atau tatapan indahnya lah yang sedikit menenangkan amarahku, aku tak tahu.
Setelah memastikan aku tidak bisa kabur lagi, Daehyun melajukan mobilnya dan melihat rute yang ia ambil, aku bisa pastikan ia membawaku pulang ke rumahku. Aku pun akhirnya, diam selama perjalanan, sama sepertinya. Aku pikir, setelah sampai di rumahku, ia akan berhenti dan langsung pulang. Tapi setelah aku turun dari mobilnya, ia kembali menarikku dalam diam sampai masuk ke dalam rumahku sendiri.
"Tunggu, kenapa rumah sepi?" ucapku seraya kembali menahan langkahku sambil mengedarkan pandanganku saat kami ada di ruang tamu. "Kemana semua orang?" gumamku tanpa memperdulikan Daehyun yang sudah melepaskan genggamannya. "Orang tua kita sedang keluar makan malam bersama dan semua pelayanmu sedang diliburkan," jawabnya yang sudah berdiri di depanku. "Sayang, apa sayang masih marah dengan oppa?" tanyanya dengan wajah memelas.
Seketika, aku jadi teringat lagi dengan kejadian di club tadi. Aku pun mendengus kesal di depannya dan memalingkan wajahku. Daehyun yang melihat reaksiku, menuntunku untuk duduk di sofa, sedangkan dia berlutut di depanku. "Baiklah, oppa akui semua itu benar, tapi oppa harus bagaimana? Semua itu terjadi sebelum kita pacaran. Sekarang itu hanya masa lalu. Bukankah selama ini, oppa sudah berusaha berubah?" katanya yang seperti anak kecil mengakui perbuatan nakalnya.
Aku kembali memalingkan wajahku. Sekilas aku melirik Daehyun menggigit bibir bawahnya dengan wajah khawatir aku tidak mau memaafkannya. Lalu dengan frustasi, ia mengacak-acak rambutnya. "Sekarang katakan, oppa harus apa? Jangan diam saja seperti ini! Oppa sudah mengakui semuanya. Oppa juga sudah minta maaf. Oppa tidak tahu harus bagaimana lagi!" katanya yang kesal sendiri sambil bangun, berdiri di depanku. "Sekalian saja oppa beritahu, oppa tidak pernah membujuk perempuan. Kalau perempuan itu tidak suka, cerewet atau marah, biasanya langsung oppa tinggalkan saja! Jadi, beritahu oppa, oppa harus apa untuk membujukmu?" lanjut Daehyun polos.
"Ya, sudah, tinggalkan saja aku!" bentakku seraya bangun dan meninggalkannya. Daehyun tersentak mendengarnya sambil berpikir, "hah! Salah apa lagi? Kenapa jadi malah tambah marah?" seraya kembali bergegas mengejarku. "Sayang!" panggilnya yang malah terdengar seperti merengek manja di telingaku. "Jangan marah, please!" rengeknya lagi saat sudah berhasil mendahului langkahku. "Haruskah oppa bersujud? Oppa bersumpah, oppa tidak pernah menyukai Sooyun sedikitpun dan sekarang cuma sayang yang ada di hati oppa. Sumpah!" ucapnya seraya menggenggam tanganku dan tangan satunya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Aku menarik tanganku. "Kenapa jadi seperti ini?" gumamku pelan seraya menatap wajah Daehyun yang memohon dengan sangat di depanku. "Hah? Apanya?" tanyanya dengan wajahnya yang mendadak blank. "Benarkah hanya ada aku?" tanyaku dengan tatapan tidak percaya menatapnya. "Iya, oppa..." sahutnya terpotong dengan perkataanku, "Padahal aku sudah tahu kalau oppa itu playboy, bahkan oppa sendiri hampir memperkosaku malam itu, tapi kenapa aku seperti melupakannya?" kataku. Daehyun tertunduk mendengarnya karena tidak bisa menyangkal perkataanku itu. "Kenapa aku melupakan hal sepenting itu? Bukankah aneh? Ini Ironis!" kataku dengan air mata yang kembali menetes.
__ADS_1
Daehyun kembali tersentak melihat air mataku. "Ternyata masih marah, ya? Kalau begitu, oppa pulang saja," katanya pasrah dan berniat pulang. "Jangan!" kataku mencegahnya dengan menarik ujung bajunya. "Jangan?" tanyanya seraya berbalik dan menatapku bingung. "Aku... takut sendiri!" jawabku seraya semakin meremas ujung bajunya. Daehyun pun terperangah mendengar jawabanku. "Sayang ini, ya! Kalau begitu berhentilah marah! Kalau tidak, oppa tinggal sendirian di sini!" ancamnya yang mendadak gemas melihatku ketakutan, bahkan berusaha menahan tawanya.
Daehyun tersenyum lembut, lalu memelukku dengan hangat, "Jangan takut, oppa tidak akan meninggalkan sayang sendirian," katanya dengan suaranya yang lagi-lagi menenangkanku. Dengan lembut pula, ia membelai rambutku. "Jangan merayuku dengan bersikap lembut!" ucapku seraya mendorongnya agar melepaskan pelukannya. "Kalau oppa terus seperti ini... Aku... Aku semakin tidak bisa marah pada oppa," lanjutku dengan terisak. "Hei, sayang! Berhentilah menangis! Jangan marah lagi pada oppa! Maafkan oppa, mau, ya?" ucapnya seraya menangkup kedua pipiku seraya menatap lembut aku.
"Aku marah pada diriku sendiri! Padahal aku tidak suka oppa yang playboy! Jelas-jelas aku membencinya!" bentakku dan membuat Daehyun membeku dengan kedua matanya yang membulat. "Aku benci oppa yang playboy, yang fuckboy, tapi kenapa aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekat pada oppa!" kataku yang semakin membuat Daehyun terdiam mendengarkannya. "Aku tidak tahu sejak kapan aku seaneh ini! Tidak. Aku pikir, semua ini dimulai sejak aku bertemu dengan oppa. Oppa seperti bersinar terlalu terang untuk ditolak," kataku kesal. "Setiap kali oppa mendekat ke arahku, seakan-akan oppa mengambil nafasku. Mata oppa yang menatapku, suara oppa yang memanggilku, itu semua sangat indah. Aku terus kehilangan kontrol! Sungguh menyebalkan!" lanjutku frustasi.
Daehyun tersenyum, lalu mendekat ke telingaku dan berbisik, "Apa sebanyak itu sayang menyukai oppa?" Wajahku langsung memerah mendengar bisikan suara seksi Daehyun itu. "Apa? Tidak. Aku benci... Uhm..." ucapku terpotong karena ia langsung menciumku lagi. Bahkan satu tangannya menangkup pipiku dan satu tangannya yang lain menahan tengkukku agar aku tidak bisa melepaskan diri. "Semua perkataan sayang tadi, bisakah aku artikan sayang sudah jatuh cinta padaku?" tanyanya dengan sebuah senyum di wajah tampannya saat ia melepaskan tautan bibirnya. "Aku tidak mengatakannya seperti itu!" jawabku berusaha mengelak.
Daehyun menyeringai mendengar jawabanku. Lantas, ia menunjuk bibirku, "ini!" katanya. Kemudian, "dan ini!" katanya lagi saat jari telunjuknya menyentuh dadaku, di mana hatiku terletak di dalamnya. "Mana yang berbohong?" tanyanya. "Bohong atau tidak, tetap saja oppa memperlakukan aku seperti gadis murahan!" sahutku asal karena menyembunyikan rasa maluku. Daehyun marah, rahangnya mengeras. Sret! Daehyun menarik pinggangku dengan kasar. "Kalau begitu, apakah kau tahu, bagaimana aku memperlakukan gadis-gadis murahan itu? Apa perlu aku beritahu sekarang?" tanyanya dengan geram.
Aku terenyuh melihat tatapan matanya yang teduh. "Berjanjilah, oppa tidak akan pernah berubah dan aku akan selalu sama," ucapku terisak. Daehyun tersenyum, lalu berkata, "aku bersumpah hanya untuk sayang," seraya kembali mengecup keningku. "Terima kasih, masih mau menerima kekurangan oppa. Sayang benar-benar seperti malaikat. Bagaimana ini? Sekarang sayang benar-benar memenuhi pikiran oppa! Oppa jadi ingin memeluk sayang. Bolehkah?" katanya.
Aku menyipitkan mataku menatapnya, Daehyun pun memanyunkan bibirnya dengan pipi yang sengaja ia gembungkan dan setelah melihat aku mengangguk, tanpa menunda sedikitpun, ia langsung memelukku erat. "Dan oppa berjanji, oppa tidak akan pernah berbohong pada sayang. Hanya saja, jangan menahan oppa lagi," kata Daehyun lagi. "Menahan apa?" tanyaku polos seraya mendongakkan wajahku yang hanya sebatas leher Daehyun. "Oppa ingin mencintai sayang sama kuatnya dengan pelukan ini!" jawabnya seraya makin mempererat pelukannya. "Oppa, sakit!" pekikku seraya memukul-mukul dadanya.
Daehyun pun tertawa dan melonggarkan pelukannya, lalu mengangkat tangan kananku. "Sayang, meskipun dunia dilanda musim dingin, bahkan jika angin bertiup kencang, setelahnya bunga akan tetap akan bermekaran indah, bukan? Jadi, kalau nanti kita sedang perang dingin, bahkan bertengkar hebat seperti ini, oppa tidak akan melepaskan tangan ini agar kita cepat berbaikan," ucap Daehyun yang mengecup punggung tanganku. Kemudian, ia kembali menarikku, kali ini dengan pelan. Ia membuka pintu kamarku dan menuntunku masuk.
__ADS_1
Jantungku sudah berdebar cepat dengan pikiran yang traveling kemana-mana, mengingat siapa yang sekarang membawaku masuk ke kamar. "Tunggu, ada yang berbeda dari kamarku!" pikirku yang tiba-tiba bengong. Tidak seperti saat aku tinggalkan beberapa jam sebelumnya, kini kamarku dipenuhi dengan balon-balon berwarna merah muda yang menempel di langit-langit kamarku, tepat di atas tempat tidurku. Pita-pita panjang yang berliuk menjuntai di setiap balonnya dan di ujungnya terikat berbagai macam coklat yang selalu menjadi cemilan favoritku dan Daehyun tahu betul itu. Di atas sandaran tempat tidurku, menempel tulisan selamat ulang tahun beserta lampu-lampu yang dihias sedemikian rupa untuk mempercantik kejutan yang Daehyun berikan ini.
Belum lagi, beberapa kotak kado dan bingkisan yang tersusun di atas kasurku, beserta rangkaian bunga mawar merah muda yang berbentuk sebuah teddy bear, serta kue ulang tahun dengan lilinnya yang sudah siap untuk dinyalakan. Aku berbalik ke belakang untuk mengatakan terima kasih atas kejutan manis ini pada Daehyun, tapi ia tidak ada di belakangku. Ternyata, ia beralih untuk memainkan sebuah musik romantis di ponselnya yang ia letakan di meja. "Maukah tuan putri berdansa denganku?" tanyanya seraya mengulurkan tangannya padaku. "Yah, hitung-hitung latihan untuk pesta nanti!" lanjutnya beralasan.
"Benarkah itu alasannya? Bukankah oppa sudah berjanji tidak akan bohong lagi?" kataku. "Maaf, oppa berbohong. Oppa hanya ingin menari denganmu, tuan putriku," jawab Daehyun. Aku meletakan tanganku di atas telapak tangannya yang langsung menggenggamnya dengan lembut. Kami berdua pun hanyut di atas lantai marmer dan menarikan dansa dengan alur yang sama. Karena ada acara dansa bersama saat pesta pertunangan kami nanti, kami berdua pun sudah melakukan latihan beberapa kali untuk menyelaraskan gerakan kami berdua.
Di tengah dansa, Daehyun tidak henti-hentinya menatapku lembut. "Berhentilah menatapku!" kataku tersipu. "Memangnya kenapa?" protesnya. "Oppa bisa melihat masa depan saat melihat mata sayang!" lanjutnya. "Bohong lagi!" kataku menatapnya tajam. "Tidak, oppa jujur!" sahutnya. "Dari mata sayang, oppa bisa melihat, saat kita berusia 92 tahun nanti, kita akan sama seperti sekarang dan oppa berharap, selamanya sayang tetap di samping oppa seperti ini. Selamat ulang tahun, tunanganku!" ucapnya seraya mengecup keningku mesra.
"Sayang, kemarilah!" pintanya seraya kembali menuntunku. Kali ini, ia menuntunku untuk duduk di atas kasurku. Deg! Jantungku lagi-lagi berdetak tidak karuan, mengingat siapa yang sedang membawaku ke atas tempat tidur sekarang. Beberapa adegan-adegan vulgar yang tidak sengaja aku lihat di club tadi, lalu cumbuan Daehyun yang tadi sempat dilakukannya di sana dengan sengaja, ditambah bayangan-bayangan asing lainnya pun, tiba-tiba terlintas di kepalaku.
"Sayang? Sayang kenapa?" tanya Daehyun seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. "Sayang!" panggilnya lagi sambil menjentikan jari indahnya di depan mataku dan seketika membuat lamunan atau bahkan mungkin fantasi liarku buyar. "Hah! Ya?" ucapku tersentak. "Sayang kenapa?" tanyanya. "Tidak, tidak kenapa-kenapa!" jawabku dengan wajah yang tiba-tiba memanas karena malu. "Apa yang sudah kupikirkan! Dasar otak kotor! Pikiran beracun!" umpatku dalam hati. "Yakin?" tanyanya lagi. "Iya, yakin. Sangat yakin. Aku baik-baik saja, oppa," jawabku tanpa berani melihat kearahnya. "Ya, sudah kalau begitu," sahutnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah kakiku dan aku pun mengikuti arah pandangannya itu.
Kali ini, aku yang bertanya dengan bingung, "Kenapa?" dan Daehyun hanya menengadahkan wajah tampannya, tanpa menjawabnya. Lalu, ia mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, lalu memasangkannya di kaki kananku. Ia memasangkan sebuah gelang kaki dengan rantai kecil yang terbuat dari emas putih dengan sebuah gantungan berlian berbentuk hati yang di kiri kanannya juga tergantung inisial huruf T dan H. "Daehyung dan Hana?" tanyaku seraya menyentuh gelang kaki itu dengan tersenyum bahagia, tapi senyumku berubah cemberut saat Daehyun menjawab dengan narsis yang kelewat tinggi, "Bukan! Dae-Hyun!"
Aku menatap Daehyun tidak percaya dengan mulut yang sedikit ternganga. "Iya, Daehyun dan Hana!" katanya lagi seraya menjangkau pucuk kepalaku dan mengacak rambutku dengan gemas. "Suka?" tanyanya dengan tersenyum tampan di bawah sana. Aku mengangguk dan kembali memandang hadiah ulang tahunku itu. "Cantik!" ucapku suka seraya tersenyum bahagia. "Iya, cantik!" sahutnya. Masih dengan berlutut di lantai, ia menarik tengkukku dan mengecup bibirku mesra. Wajahku pun kembali memerah. "Wajah yang cantik! Hadiah yang cantik dan kaki yang cantik!" ucapnya seraya mengecup kakiku. Aku pun membeku, terlebih saat melihat seringai nakalnya yang menakutkan, tapi juga memabukan itu. "Aku bisa gila kalau begini terus! Sebenarnya, otakku yang sudah kotor atau dia yang benar-benar beracun!" pekik suara batinku dengan nafas yang tertahan.
__ADS_1