
Beberapa minggu kemudian, tepatnya di penghubung tahun, aku kedatangan tamu di rumahku, Daehyun dan ibunya. Padahal baru hari natal beberapa hari yang lalu, Daehyun dan kedua orang tuanya bertamu di rumahku. "Begini, tadi pagi appa Daehyun pergi ke Singapura untuk urusan bisnis dan aku berencana menyusulnya, sekaligus merayakan tahun baru di sana," kata eomma Daehyun membuka pembicaraan. "Daehyun juga ikut dan karena tanggal 30 ini, Daehyun berulang tahun, dia merengek padaku untuk mengajak Hana juga. Katanya, dia ingin merayakannya bersama Hana," lanjut Nyonya Kim.
"Siapa yang eomma sebut merengek?!" protes Daehyun yang duduk di samping eomma-nya. "Baiklah, tidak merengek, tapi memaksa!" sahut sang eomma. "Jadi, bagaimana? Apa kalian mengizinkan, kami mengajak Hana?" tanya Nyonya Kim pada kedua orangtuaku. "Kami sih, terserah Hana saja," sahut eomma-ku seraya menatapku. "Hana mau ikut, bukan?" tanya Nyonya Kim padaku. Aku menatap kedua orang tuaku dengan ragu. "Kalau kau mau, pergilah! Ada bibi dan paman Kim yang menjagamu. Eomma tidak khawatir," kata eomma-ku.
"Appa dan eomma tidak tahu saja calon menantu kalian itu seperti apa sebenarnya! Aku yakin, otak modus calon menantu kalian itu sudah merencanakan sesuatu!" kataku dalam hati seraya beralih menatap Daehyun yang tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah, aku ikut. Kapan kita berangkat?" kataku. "Besok pagi. Kita di sana selama seminggu," jawab Nyonya Kim. Aku tertegun memikirkan kalau aku belum bersiap-siap dan seperti tahu apa yang aku pikirkan, Nyonya Kim berkata, "Tidak usah bingung packing! Hana siapkan paspor saja. Biar kita belanja di sana saja."
"Tidak, aku sudah menyiapkan baju untuk kami berdua!" sahut Daehyun. "Baju apa? Tidak bisakah kau tidak mengganggu rencana eomma shopping bersama menantu eomma?" sela Nyonya Kim. "Bukan begitu, eomma. Aku sudah menyiapkan baju couple untukku dan Hana jauh-jauh hari. Bukan hanya baju, sepatu juga. Jadi, sayang, kalau masih ada yang kurang, kau bisa berbelanja dengan eomma di sana nanti," kata Daehyun yang membuatku dan kedua orang tuaku terperangah.
"Wah, Daehyun sampai seperti ini. Perhatian sekali dengan Hana," kata eomma senang. "Bukan apa-apa, Bi. Semua memang untuk putri Bibi yang cantik ini!" jawab Daehyun tanpa malu di depan orang tuaku. "Lalu apa yang harus aku bawa selain paspor?" tanyaku pada Daehyun. "Cukup bawa tubuh sayang saja!" bisiknya di telingaku, lalu setelahnya mengedipkan matanya padaku. "Sudah aku duga, ini memang modusnya!" kataku dalam hati.
Semenjak aku bertunangan dengannya, penampilanku banyak berubah, dari gadis tomboi menjadi girly dan semua karena Daehyun yang tidak suka melihat gaya tomboiku, selalu menjadi penata gayaku setiap hari. Bahkan hampir seisi lemariku yang dominan berwarna monokrom diganti Daehyun dengan barang-barang pilihannya. Aku sendiri tidak mempermasalahkannya karena hampir setiap hari pula, Daehyun membelikanku barang baru untuk menunjang penampilanku. Daehyun sungguh memanjakan aku dengan materi dan perhatiannya.
Melihat kedua eomma kami yang sibuk berbincang sambil melihat album-album lama, sedangkan appa pergi ke ruang kerjanya setelah menerima telefon dari sekretarisnya, Daehyun terus menggodaku dengan memainkan jarinya di pinggangku. Bahkan dengan nakalnya mulai menyusupkan tangannya ke balik baju kaosku. Karena jengah dan takut ketahuan, aku pun beralih tempat duduk, ke sofa di sebarangnya. Daehyun tertawa kecil melihat usahaku kabur darinya dan kembali menggodaku dengan flying kiss-nya. Dari seberang, aku pun mempelototinya dengan kesal. Daehyun malah semakin nakal, sekarang ia sengaja memainkan bibir dan lidahnya di depanku dengan sesekali melirik ke arah kedua sahabat yang sibuk dengan album di sampingnya itu. Aku yang salah tingkah melihat aksinya itu, memilih meminum minumanku dan mengabaikannya.
"Apa ini foto Hana waktu kecil? Ah, lucunya! Lihatlah, dia sudah cantik saat masih bayi. Aku jadi sudah tidak sabar ingin memiliki cucu kita!" kata eomma Daehyun, sontak membuat Daehyun menoleh kaget. Sedangkan aku sampai terbatuk-batuk mendengarnya. Daehyun beralih melihatku dengan senyum evil sambil memainkan alisnya, seolah-olah berkata, "bagaimana ini? Eomma sudah meminta cucu dari kita!" Aku menatapnya tajam, dengan bibirku yang berkata "No!" tanpa suara. Kemudian, Daehyun menggerakkan tangannya di depan perutnya, membentuk setengah gelembung di perutnya seperti perut orang hamil, lalu mengayunkan kedua tangannya seolah sedang menimang bayi dan di akhirinya dengan satu alisnya yang terangkat. Aku pun semakin mempelototinya dan membuat Daehyun tertawa tanpa bisa ia tahan lagi.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa Hana jadi duduk di situ?" kata eomma yang baru menyadarinya. Belum sempat aku menjawab pertanyaan eomma, appa kembali datang dan duduk di sampingku. "Daehyun, apa kau tidak berencana untuk kuliah?" tanya appa mengingat Daehyun yang selalu ada waktu luang untukku sepanjang hari. "Sebenarnya, Daehyun sudah menentukan kuliah di Harvard sebelum lulus sekolah, tapi ia menundanya sampai tahun depan," jawab eomma Daehyun. "Harvard? Pilihan yang bagus! tapi kenapa harus ditunda sampai tahun depan?" tanya appa. "Karena aku menunggu putri paman lulus sekolah. Aku ingin menikahi putri paman dulu biar aku bisa memboyong istriku tinggal di sana bersamaku!" jawab Daehyun dalam hati seraya tersenyum manis menatapku.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, setelah menempuh waktu 6 jam di dalam pesawat, sampailah kami di Singapura. Dari bandara, kami langsung menuju Marina Bay Sands, bangunan dengan visual sangat unik dan tiada duanya di dunia dengan 3 gedung utama yang dihubungkan dengan bangunan berbentuk kapal di atasnya, yang akan menjadi tempat kami menginap. Karena selain ribuan kamar hotelnya, tempat ini juga memliki kasino, teater, ruang kesenian, restoran, klub malam, taman, hingga mall mewah yang semuanya dalam satu lokasi.
Setelah membawa masuk koper masing-masing, eomma Daehyun langsung mengajakku berkeliling di dalam tempat terkenal ini, sekaligus shopping, tentunya. Daehyun yang tidak diizinkan eomma-nya mengikuti kami, menghabiskan waktu siangnya di kamar hotel. Lalu saat hari sudah mulai sore, ia memilih naik ke rooftop karena pada area berbentuk perahu yang ada di atas gedung ini, terdapat kolam renang infinity, sambil melihat pemandangan Singapura, Indonesia dan Malaysia yang dapat terlihat dari ketinggian.
Daehyun tengah menikmati waktu berendamnya di dalam kolam, tapi saat samar-samar telinganya menangkap suaraku dan eomma-nya, ia langsung mengedarkan pandangan mencari keberadaan kami di tengah banyaknya pengunjung yang lain. Tidak jauh dari tempatnya, Daehyun melihat eomma-nya yang menarik tanganku agar masuk ke dalam kolam. Daehyun langsung menghampiriku, bukan karena tahu aku tidak bisa berenang, tapi karena melihat pakaian renang yang aku kenakan.
Tanpa berkata apa-apa, Daehyun langsung menarik tanganku yang satunya, sampai aku masuk ke dalam kolam karena kedua tanganku ditarik bersamaan. Aku yang sempat takut tenggelam, baru sadar kalau kolam ini hanya sebatas leherku setelah Daehyun membuatku berdiri di dalam air dengan memelukku. "Kenapa mengenakan bikini ke sini? Apa sayang membelinya tadi dengan eomma? Padahal oppa sengaja tidak memasukan bikini ke dalam koper sayang!" protes Daehyun padaku. "Hei, jangan memarahi Hana, eomma yang membelikannya saat Hana bilang tidak ada bikini di kopernya," sahut eomma Daehyun.
Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan diriku di atas tempat tidur. "Apa sayang lelah?" tanya Daehyun padaku. "Sedikit. Kenapa?" tanyaku balik. "Kalau begitu, istirahatlah dulu. Nanti malam, oppa mau mengajak sayang jalan-jalan," jawabnya. "Oh, aku kira ingin meminta jatah!" sahutku bercanda. Daehyun terkejut mendengarnya, lalu langsung mendekatiku. "Katanya, lelah? Kalau tidak, ayo!" katanya seraya menyentuh tali bathrobe-nya. Aku tertawa, "bercanda! Aku lelah dan ingin tidur," kataku. Daehyun berdiri di sisi tempat tidur sambil menatapku lembut, "ingin langsung tidur? Tidak ingin ganti baju dulu?" tanyanya, padahal ia sendiri juga masih pakai bathrobe. "Malas!" sahutku seraya memejamkan mataku.
Perlahan, Daehyun turut merebahkan dirinya di sampingku. Hening dan tak ada pergerakan dari Daehyun. Tidak seperti biasanya, jika ia melihat sedikit saja ada kesempatan untuk menyentuhku. Aku membuka mataku untuk memeriksa apakah Daehyun tertidur di sampingku. Ternyata, Daehyun tengah menatap lurus ke langit-langit kamar. "Apa?" tanyanya seraya melirikkan mata elang miliknya ke arahku. Aku menggeleng. "Tidurlah. Oppa tidak akan mengganggu tidur sayang. Oppa juga ingin tidur," katanya lembut dan kembali menatap langit-langit.
"Oppa, seberapa besar oppa mencintaiku?" tanyaku tiba-tiba saat kami berdua sama-sama menatap ke arah langit-langit kamar hotel ini. "Hmm... oppa rasa, tidak akan cukup oppa merentangkan kedua tangan oppa dan kaki oppa seperti ini," jawab Daehyun seraya memperagakannya. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu. Bahkan dengan sengaja ia meletakan tangannya di atas leherku dan kakinya di atas kakiku. Aku pun menyingkirkan tangan dan kakinya, lalu masuk ke dalam pelukannya. Daehyun memelukku dan mengecup keningku lembut.
"Oppa sangat mencintaimu, Hana," katanya tulus. "Kenapa?" tanyaku iseng seraya bermanja di dalam pelukannya. "Entahlah, oppa juga tidak tahu!" jawabnya sengaja, ingin melihat reaksiku. Aku mendongakkan kepalaku menatap Daehyun dengan kening berkerut. Daehyun menyentil keningku dengan pelan, lalu kembali mengeratkan pelukannya. "Sayang itu benar-benar seperti pasir isap yang mengisap oppa dan sepertinya, oppa tidak bisa lagi keluar lagi dari sayang," katanya. "Tidak cukup sayang membuat oppa selalu memikirkan sayang, tapi juga membuat oppa selalu merindukan sayang. Bahkan sampai ke dalam mimpi!" lanjutnya.
__ADS_1
"Gombal!" sahutku seraya mencubit hidung mancung Daehyun dengan gemas. "Sungguh, sayang adalah satu-satunya wanita yang ingin oppa pilih untuk menghabiskan masa depan oppa dan jika kita punya anak nanti, oppa akan mengajarinya menyebut eomma pertama kali daripada menyebut appa," jawabnya yakin. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. "Kalau aku..." kataku tertahan karena Daehyun langsung memotong perkataanku dengan perkataannya, "Tidak perlu mengatakannya, oppa tahu sayang mencintai oppa!" Aku mencibir, "Tahu dari mana?" tanyaku seraya mengejeknya. "Dari cara sayang menatap oppa dan oppa yakin, oppa yang sangat luar biasa tampan ini adalah satu-satunya yang ada di mata sayang karena lebih dari siapapun yang sayang sukai, itu adalah oppa!" jawab Daehyun super narsis. Aku tertawa terbahak mendengarnya, "Tolong, tunanganku narsis sekali!" kataku di sela-sela tawaku.
Daehyun tersenyum menikmati tawaku. Perlahan, tangannya meraih wajahku dan menghentikan tawaku dengan kecupannya di bibirku. Aku tersenyum. "Aku tidak bisa menggombal seperti oppa. Hanya cinta yang bisa aku berikan pada oppa. Cinta yang lebih dari sekedar permainan dua tubuh. Aku yakin, kita berdua yang sedang jatuh cinta bisa mewujudkannya sampai pernikahan kita nanti," kataku lembut seraya menatap wajah tampan itu. "Jadi, terimalah hatiku, tapi jangan pernah patahkan! Berjanjilah, cinta ini hanya diciptakan untukku dan untuk oppa, hanya kita berdua," lanjutku seraya kembali memeluknya. "Iya, oppa berjanji. Because you make me wanna be a better man," sahutnya seraya mengecup pucuk kepalaku.
***
Setelah tidur sore bersama, malamnya Daehyun mengajakku jalan-jalan ke Gardens by The Bay, taman unik yang berada di sekitar Marina Bay untuk menikmati keindahan lampu yang menghiasi beberapa pohon buatan raksasa di taman ini. Kami pergi dengan memakai red couple hoodie dan white couple sneakers. Jika Daehyun memadukannya dengan black jogger pants, aku memadukannya dengan black hotpants yang sama panjangnya dengan hoodie yang aku pakai, ditambah kaos kaki panjang di bawah lutut.
Daehyun juga membawa drone travelling kesayangannya untuk merekam waktu kebersamaan kami berdua. Bahkan sejak di kamar hotel tadi, drone ini sering terbang mengitariku, menangkap hampir semua pergerakanku. "Cantik!" kata yang sering keluar dari mulut Daehyun saat ia mengamati tampilan di layar remote yang mengontrol drone miliknya itu. Belum puas merekam, Daehyun juga sering mengajakku berfoto bersama dengan latar-latar yang indah yang ada di sini. "Oppa akui, oppa sudah menjadi penggemar sayang!" kata Daehyun seraya menyimpan kembali drone dan ponselnya. "Bukan hanya penggemar, tapi sasaeng!" sahutku sambil menjulurkan lidahnya dan Daehyun pun tertawa mendengarnya.
Setelah puas jalan-jalan di Gardens by The Bay, tujuan kami selanjutnya adalah Merlion park, patung berbentuk kepala singa dengan badan ikan di atas puncak ombak, yang menjadi lambang Singapura. Di sana, aku dan Daehyun pun menikmati pemandangan lansdscape kota Singapura yang spektakuler, seperti Esplanade, gedung tempat pertunjukan dengan atapnya yang berduri menyerupai kulit durian, juga Singapore Flyer, dan masih banyak lagi, termasuk Marina Bay Sands, tempat kami menginap.
Setelah mengambil beberapa foto bersama, aku kembali memandangi pemandangan indah yang disuguhkan dari gemerlap lampu-lampu kota Singapura sambil menopang tubuhku di pagar pembatas. Daehyun menghampiriku dan memelukku dari belakang, lalu menunjuk ke arah Singapore Flyer, "Bagaimana kalau besok malam kita pergi ke sana?" tawarnya. "Berdua atau dengan orang tua oppa?" tanyaku. "Kita berdua saja," jawabnya. "Tapi sepertinya besar!" kataku seraya fokus mengamati bianglala raksasa di seberang sana. "Apa maksud sayang, kapsulnya?" tanyanya dan aku mengangguk.
"Oppa berencana mem-booking-nya untuk kita berdua dinner di sana," kata Daehyun. "Cieee, ada yang mau merayakan ulang tahunnya di atas bianglala!" kataku meledek. "Harus aku berikan kado apa, ya?" lanjutku pura-pura bingung sambil memukul-mukul pelan bibirku dengan jari telunjukku. Daehyun menggigit kecil bahuku karena gemas melihat tingkahku itu. "Tidak usah, oppa tidak perlu kado!" sahutnya. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu, uangku aman!" sahutku sambil tertawa.
Daehyun menyeringai, "Tapi tengah malamnya, mungkin oppa akan menagih hadiahnya di kamar!" bisiknya di telingaku. "Kalau begitu, aku tidur di kamar Bibi saja! Biar paman yang tidur di kamarku," sahutku. "Memangnya, appa mau menuruti sayang?" kata Daehyun. "Itu mudah, katakan saja kalau anaknya berencana menyelinap masuk ke kamarku dan mau menerkam aku tengah malam!" kataku santai. "Kalau berani, katakan saja!" tantang Daehyun. "Paling-paling besoknya langsung dinikahkan!" lanjutnya seraya memutar tubuhku agar aku menghadapnya. Lalu dengan smirk-nya, Daehyun kembali berkata "Kalau sudah menikah, bukankah bisa oppa terkam tiap malam?"
__ADS_1