The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Sepertinya, Aku Memang Butuh Kehangatan


__ADS_3

Sementara kemarin yang terjadi tanpa sepengetahuan Yongju, Daehyun mengajakku pergi. "Sayang?" tulis Daehyun di chat yang ia kirimkan padaku kemarin malam. "Ada apa?" balasku singkat. Lama aku diam memperhatikan layar ponselku, tapi tidak ada satupun balasan darinya. "Kenapa tidak dibaca? Apa oppa tertidur?" tulisku lagi di layar ponsel dan langsung kukirim ke nomor Daehyun. Tetap tidak ada balasan, hingga aku memutuskan untuk tidur saja. Namun, saat aku mulai memejamkan mataku, benda pipih persegi yang berlipat itu berbunyi, membuatku langsung meraihnya dan membukannya.


"Sayang belum tidur, bukan? Maaf, oppa terlambat membalasnya. Oppa ingin mengajak sayang jalan-jalan besok. Jadi, tadi meminta izin dulu dengan appa eomma sayang. Sayang, oppa kangen," kata Daenyun yang langsung menghubungiku. Bukannya menjawab, aku malah menutup mulutku sendiri. Sungguh, saat ini ingin sekali rasanya aku berteriak kegirangan karena mendengar suara husky-nya yang bicara lembut seperti ini. "Ehm, iya, aku belum tidur," jawabku setelah mengatur suaraku agar terdengar biasa. Namun, tak ada suara. Aku pun bingung sambil berpikir, "Apa ponselku rusak?" seraya menatap layar ponselku. Ternyata, Daehyun memintaku mengubah panggilan itu menjadi panggilan video.


"Kenapa belum tidur? Apakah menunggu balasan oppa? Sayang kangen oppa juga, ya?" goda Daehyun saat wajah tampannya sudah memenuhi layar ponselku. "Entahlah!" sahutku pura-pura. "Ciee... Ada yang malu-malu, tidak mau mengaku!" godanya lagi sambil memainkan alisnya. "Ah, oppa! Berhenti Menggodaku atau aku matikan teleponnya!" ancamku dan membuatnya tertawa. "Apa besok sayang ada waktu?" tanyanya setelah ia menghentikan tawanya. "Pulang sekolah, setelah ujian selesai," jawabku. "Kalau begitu, oppa akan menjemputmu pulang sekolah. Sekarang tidurlah! Mimpi yang indah. Oppa menyayangimu," katanya.


"Tapi memangnya, kita mau kemana?" tanyaku lagi dan membuat Daehyun mengurungkan niatnya untuk mengakhiri panggilannya. "Rahasia! Besok juga tahu!" jawabnya. "Ya, sudah. Aku tidak jadi ikut!" ancamku seraya tersenyum. "Baiklah, pergi ke resort appa yang baru. Ada pemandian air panas private-nya. Mau?" ajaknya. "Pemandian air panas?" kataku dengan wajah polos, tapi tiba-tiba memerah saat Daehyun menjawab dengan jujur, "iya, aku ingin berendam dengan sayang."


Blush! Tiba-tiba saja otakku traveling lagi dibuatnya, padahal Daehyun mengatakannya tanpa niat menggodaku dan entah kenapa aku semakin menyukainya karena itu buruk. Daehyun yang melihat ekspresi blank-ku seolah bisa mengetahuinya jauh di dalam hati dan otakku yang sudah membayangkan kejadian besok. "Hei, apa yang sedang sayang pikirkan?" tanyanya curiga. "Jangan terlalu membayangkan oppa! Kalau mau langsung temui orangnya saja!" godanya lagi. "Tapi kalau sudah mulai, kita jangan berhenti! Bukankah sayang sudah tahu, oppa tidak akan bisa berhenti. Jadilah lebih jujur lagi, apa sayang ingin oppa kesana sekarang juga?" lanjutnya, sengaja.


"Stop, siapa yang membayangkan oppa!" bantahku dengan wajah memanas. "A-aku hanya tiba-tiba teringat kalau ada yang harus aku pelajari untuk ujian besok!" kataku beralasan seraya berpindah tempat dari tempat tidurku ke meja belajarku. Aku meletakan ponselku di atas meja dan membiarkan panggilan tetap berlangsung. Aku melirik Daehyun yang hanya diam memperhatikan aku yang pura-pura belajar. Wajah Daehyun tampak kesal. "Apa?" tanyaku bingung melihat ekspresinya itu seraya menatapnya. "Berhentilah menatap oppa dan pelajari saja bintang itu untuk ujian besok!" sahutnya kesal.


"Kenapa marah?" tanyaku yang tidak mengerti maksud sindiran Daehyun itu. "Sudah tahu orang tua sayang tidak menyukainya dan aku membencinya, masih saja suka menonton video klip-nya, mengoleksi fotonya, mengikuti tweet-nya, nungguin V live-nya!" gerutu Daehyun. Aku pun seketika menoleh ke layar laptopku yang masih menyala setelah aku menonton ulangan V live Yongju beberapa hari yang lalu dan Daehyun jelas melihatnya karena aku meletakan ponselku berhadapan dengan laptop yang ada di sampingku.


"Oppa tahu, sekarang sayang selalu mengatakan, hanya menyukainya sebatas idola dan sepupu sayang, tapi apa yang sayang lakukan sudah berlebihan. Oppa cemburu!" lanjut Daehyun merajuk dan langsung mengakhiri panggilannya. "Dia marah?" kataku tidak percaya. "Sepertinya, aku memang harus berhenti, menganalisa album baru Yongju oppa," lanjutku. Sejak memutuskan menerima Daehyun, aku sudah menyimpan banyak foto Yongju yang awalnya memenuhi kamarku, ke dalam lemariku. Bukan satu jam, namun satu atau hampir dua tahun berlalu dengan cepat sejak aku mengenal Daehyun. Daehyun memiliki sifat pencemburu, bahkan terkadang terkesan posesif padaku. Padahal aku menunggu album baru Yongju karena Yongju berkata, "Lagu ini adalah hadiahku untukmu."

__ADS_1


***


Pagi harinya, aku turun ke ruang makan untuk sarapan. "Pagi appa, pagi eomma," sapaku pada kedua orang tuaku yang sudah ada di meja makan. "Pagi, Hana," jawab mereka bersamaan. "Tadi malam, Daehyun menghubungi appa dan meminta izin untuk mengajakmu pergi ke resort appa-nya yang baru saja dibuka. Apa kalian jadi pergi?" tanya appa seraya melipat koran pagi yang appa baca. Aku sempat ragu menjawabnya mengingat Daehyun yang tadi malam marah padaku. "Lihat saja nanti," jawabku. Tiba-tiba atensiku tertuju pada eomma-ku yang tampak berbeda pagi ini. "Kenapa eomma sangat cantik pagi ini?" tanyaku.


Eomma yang setiap pergi ke kantor dengan penampilan formal, pagi ini tampak mengenakan pakaian yang lebih santai. "Ya Tuhan, apa kau baru tahu kalau eomma-mu ini cantik, hah!" sahut eomma seraya tersenyum cantik. "Astaga, eomma lupa memberitahumu kalau pagi ini eomma akan ikut appa-mu ke Jepang pagi ini. Mungkin lusa baru pulang," kata eomma lagi. "Jepang?" ucapku seraya menatap appa-ku, meminta penjelasan darinya. "Hanya 3 hari. Tidak apa-apa, bukan, kalau appa pinjam eomma-mu dulu. Kalau kau bosan, minta saja Daehyun menemanimu. Kalian bisa jalan-jalan," jawab appa. "Terserah kalian saja. Toh, kalian juga jarang ada di rumah," sahutku dalam hati.


***


Hari ini, setelah jam sekolah berakhir cepat karena hanya ada ujian tengah semester, aku berjalan menuju pintu gerbang sekolah dan mendapati Daehyun yang sudah menungguku di dalam mobilnya. "Aku pikir dia tidak menjemputku karena marah," gumamku seorang diri. Namun, sepanjang perjalanan, Daehyun tidak bicara sedikitpun. "Dia benar-benar marah, rupanya!" pikirku seraya sesekali meliriknya yang fokus menyetir. Bahkan aku tidak memperhatikan jalan yang kami lalui.


Aku pun diam dengan wajah cemberut karena merasa diabaikan olehnya dan tanpa sadar aku tertidur karena merasa mengantuk setelah belajar sampai tengah malam, tanpa tahu sudah berapa lama perjalanan kami dan ke mana Daehyun membawaku. Daehyun menghentikan mobilnya di sebuah resort mewah. "Kenapa kita ke sini?" tanyaku saat sadar kalau ini bukan rumahku. "Bukankah tadi malam kita sudah membuat janji pergi ke sini?" katanya. "Kenapa oppa tidak mengatakannya? Aku kira tidak jadi karena oppa marah. Bagaimana ini, aku tidak membawa baju ganti? Aku tidak membawa apa-apa," kataku bingung dan sedikit kesal. "Lalu bagaimana? Tidak mungkin kita harus pulang dulu ke rumah karena sudah tiba di sini. Masuk saja dulu! Oppa akan meminta karyawan di sini mencarikan pakaian untuk sayang," kata Daehyun seraya membukakan pintu mobilnya untukku.


Kami pun masuk ke dalam dan Daehyun langsung mendatangi meja resepsionis untuk memberitahukan kedatangan kami. "Apa kolamnya sudah siap?" tanyanya. "Maaf, apa anda sudah melakukan reservasi?" tanya resepsionis itu dengan ramah. Daehyun menatap resepsionis itu, lalu memerintahkannya, "Panggilkan manajer di sini!" Resepsionis itu tampak bingung mendapat perintah anak muda seperti Daehyun yang tidak dikenalnya. "Maaf, tapi ada apa anda memanggil manajer saya?" tanya resepsionis itu. "Panggilkan saja, katakan padanya Kim Daehyun mencarinya!" jawab Daehyun kesal. "Apa? Kim Daehyun? Jadi, anda tuan muda Kim? Maafkan saya yang tidak mengenali anda. Kolam untuk anda sudah siap, tuan. Saya akan mengantarkan anda langsung ke sana, mari!" kata resepsionis itu panik.


Resepsionis itupun mengantarkan kami ke sebuah kolam air panas indoor yang lumayan luas untuk kami berdua. Kolam private yang langsung menyatu dengan kamar inapnya dan melihatnya membuatku ragu untuk memasukinya. "Ada apa?" tanya Daehyun yang sadar aku berhenti di depan pintu kamar. "Apa kita akan menginap?" tanyaku ragu-ragu. "Tidak. Kenapa?" tanyanya, tapi saat ia mengikuti arah pandanganku yang melirik tempat tidur di dalam kamar itu, ia terkekeh. "Kemarilah! Oppa hanya ingin berendam. Oppa meminta kamar ini karena kolamnya private. Jadi, tidak akan ada orang lain yang melihat sayang berendam," katanya seraya menarik tanganku agar masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Aku memberanikan diri untuk masuk. Aku mulai mengamati pemandangan yang ada. Kamar dengan interior modern, tapi nuansa alamnya tetap sangat kental dengan aksen bebatuan dan kayu yang memenuhi kamar dan kolamnya plus pemandangan asri yang disuguhkan di balik jendela besarnya. "Bagaimana? Suka?" tanya Daehyun setelah memberikan tip pada resepsionis tadi dan menyuruhnya pergi. Aku mengangguk seraya tersenyum puas, "Damai seperti di surga," ucapku seraya memejamkan kedua mataku dan menghirup dalam-dalam wangi aromaterapi yang memenuhi kamar.


"Kalau untuk oppa, sayanglah surga oppa!" kata Daehyun seraya memelukku dari belakang. Aku sontak membuka mata dan memutar badan menghadapnya. Daehyun tersenyum di depan dan membuatku tidak bisa menutup mata karena ketampanannya. Awalnya, aku mungkin kesulitan saat memandang wajah tampannya itu sedekat ini, tapi sekarang itu bukan lagi masalah. Aku sudah mulai terbiasa dengan serangan ketampanannya yang menyilaukan ini.


Daehyun mendekatkan wajah tampannya itu dan berniat mencium bibirku, tapi aku menghindar. "Kenapa?" tanyanya dengan satu alisnya yang terangkat. Aku yang tadi sempat tenang, kembali gugup jadinya. "Jangan menolak! Tutup saja mata sayang dan dengarkan baik-baik, oppa tidak akan memakan sayang hari ini!" bisiknya dengan suaranya yang selalu terdengar seperti suara suling yang menggoda jiwa. Ia mulai menyentuh bibirku lagi dengan bibirnya. Aku pun diam saja memejamkan mata seperti bisikannya tadi dan mulai mengikutinya. Tapi baru sebentar, Daehyun melepaskan tautan bibirnya.


"Kenapa?" tanyaku bingung. "Kenapa? Sayang mau lagi?" tanya Daehyun yang juga bingung dengan pertanyaanku karena biasanya, aku selalu pasif di depannya. Aku menjinjitkan kakiku dan mencium bibirnya sebagai jawaban. Ciuman yang mungkin sedikit berbahaya, tapi aku sangat menyukainya, manis! Ciuman yang sama manisnya dengan ciuman Yongju dulu. Dua ciuman dari dua orang yang berbeda, tapi sama-sama aku sayangi, yang entah siapa di antara keduanya yang akan menyelamatkanku atau malah sebaliknya, menghancurkanku. "Oppa, sudah, hentikan!" pintaku setelah merasakan kebas pada bibirku. "Kenapa lagi? Bukankah tadi sayang yang lebih dulu mencium oppa? Lihat betapa manisnya bibir sayang dan oppa suka!" kata Daehyun seraya kembali mengecup bibirku sekilas dengan gemas.


Aku tahu bahwa gejolak ini sudah dimulai saat aku mendengar suara husky-nya itu di telingaku. "Dia berbahaya, tapi mungkin aku juga sedikit berbahaya! Suaranya itu seperti suling yang menuntunku untuk berbuat mesum padanya!" pikirku dengan wajahnya memanas. "Kau yang berbahaya! Kau mengujiku, Hana! Aku secara sadar tertarik padamu seperti buah pada pohon pengetahuan yang membangunkan semuanya. Bersiaplah, aku akan membuatmu gelisah mulai sekarang!" balas Daehyun dalam pikirannya, seraya menatapku lekat.


"Lihatlah reaksimu ini! Wajahmu selalu memerah setiap kali aku menggodamu. Jantungmu juga pasti berdebar kencang sepertiku karena kita sama-sama tertarik ke dalamnya. Sekarang, aku akan menggodamu sampai akhir," putusnya dalam hatinya. "Meskipun aku yakin kau akan marah atau bahkan mungkin membenciku dan aku akan merasa bersalah setelahnya, tapi aku akan membuat rasa bersalah yang menyenangkan untukmu. Aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa keluar dari pesonaku. Tidak akan!" lanjutnya lagi dalam hatinya.


"Gila, ada apa denganku! Aku sedikit berbahaya hari ini! Aku pun tidak bisa mengatasi diriku sendiri!" pikirku lagi seraya merutuki diriku sendiri karena tiba-tiba saja aku tidak ingin menjauh darinya, terlebih saat Daehyun menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Hangat!" ucapku membalasnya dengan senyuman seraya meletakan kedua tanganku di atas kedua tangannya. "Jangan khawatir, tangan oppa yang hangat ini hanya untuk sayang," kata Daehyun berlagak narsis di depanku.


Aku melepaskan tangannya dan beralih memeluk tubuh tingginya dengan manja. "Astaga Hana, kau semakin mengujiku kesabaranku!" ucapnya dalam hati seraya menahan tangannya untuk tidak mendorongku ke tempat tidur. "Jika aku merusakmu, akankah kau memaafkanku? Karena sepertinya, aku sudah tak bisa hidup tanpamu. Aku semakin menginginkanmu karena aku tahu, aku sudah menguasai hatimu dan memilikimu sebagai calon istriku. Bolehkah aku menyentuhmu sekarang?" katanya yang memulai dilema dalam hatinya.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok... Suara ketukan membuyarkan lamunan Daehyun. Aku pun melepaskan pelukanku dan membiarkan Daehyun membukakan pintu. Resepsionis tadi mengantarkan baju renang yang diminta Daehyun untukku. Setelah menerimanya dari resepsionis itu, Daehyun menyerahkan paper bag itu padaku. "Gantilah!" kata Daehyun. Aku pun langsung menyambutnya dan pergi ke dalam kamar mandi yang juga tersedia di kamar itu, sementara Daehyun memilih lebih dulu menceburkan dirinya ke kolam. "Ya Tuhan, sepertinya aku memang butuh kehangatan!" gumam Daehyun seraya mulai menikmati hangatnya air panas di dalam kolam itu. Ia memejamkan keduanya, merelaksasi tubuh dan pikirannya, sampai suara pintu yang terbuka membuatnya membuka matanya kembali.


__ADS_2