
"Noona, ada yang ingin aku katakan," kata Junghwa dengan ekspresinya yang jelas-jelas terlihat gugup. "Apa lagi? Sudah beberapa hari ini, kau mengatakan kalimat yang sama padaku, tapi kau selalu tidak jadi mengatakannya! Apa kau sengaja mempermainkan aku!" sahutku kesal. "Bukan begitu! Kali ini, aku serius. Jadi, dengarkan baik-baik! Tapi berjanji lah dulu, noona tidak akan marah padaku atau bahkan membenciku. Noona juga tidak boleh menangis!" sahut Junghwa dengan terbata.
Aku semakin memicingkan mataku melihat kegugupan Junghwa ini. "Sebenarnya, ada apa denganmu, hah?! Kalau ada yang ingin dikatakan, katakan saja! Kenapa terlalu bertele-tele seperti ini!" sahutku. Junghwa menelan air liurnya dengan susah payah, "Baiklah. Sebenarnya, aku melihat Daehyun..." katanya terpotong oleh ponselnya yang berdering. Nama Seojun, hyung tertuanya itu, tertera di layar ponselnya. "Ada apa dengan Daehyun?" tanyaku bingung. "Tunggu sebentar. Aku akan menerima telepon dari Seojun hyung dulu," kata Junghwa.
"Hah? Sekarang? Hyung di Korea? Tidak bisa, hyung. Minta jemput Yongju hyung saja," kata Junghwa. "Aku sudah menghubunginya. Katanya, dia sedang di agensi. Sedangkan katanya juga, kau sudah kembali sejak tadi siang. Apa kau sibuk?" kata Seojun. "Tidak, aku tidak sibuk, tapi ada sesuatu yang harus aku selesaikan dulu, hyung," jawab Junghwa ragu. Sesekali, ia melirik ke arahku yang masih menunggunya melanjutkan perkataannya. "Baiklah, biar aku minta jemput yang lain saja," kata Seojun. "Maaf, hyung..." kata Junghwa tidak enak hati, sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
"Apa Seojun oppa yang menelepon?" tanyaku saat Junghwa memasukan ponselnya ke saku celananya dan ia mengangguk, mengiyakan. "Seojun hyung baru tiba di bandara dan memintaku menjemputnya," kata Junghwa. "Kalau begitu, ayo! Aku juga ikut," kataku seraya bergegas mengambil hoodie-ku. Junghwa melongo melihatku yang langsung bersiap-siap pergi. "Tapi aku belum selesai bicara, noona!" selanya. "Ya sudah, katakan saja di jalan!" sahutku cuek. "Tapi..." selanya lagi. "Ayo! Kasihan nanti Seojun oppa terlalu lama menunggu di sana!" kataku seraya menarik tangan Junghwa yang pasrah mengikutiku.
Kami pun pergi ke bandara menjemput Seojun, tapi bahkan sampai tiba di bandara pun, Junghwa tetap tidak bisa menyelesaikan perkataannya tadi karena aku yang tertidur sepanjang jalan. Karena tidak ingin mengusik tidur lelapku, Junghwa membiarkanku tetap di dalam mobil tanpa mematikan mesin agar aku tidak kepanasan dan tidak pula mengunci mobilnya karena takut aku terbangun dan ingin keluar. Junghwa bergegas mencari Seojun agar tidak terlalu lama meninggalkan aku di dalam mobilnya dan saat melihat sosok putra tertua Jeon itu, Junghwa langsung berlari menuju Seojun.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok Daehyun di samping Seojun. "Junghwa? Bukankah tadi kau berkata tidak bisa menjemputku? Makanya, aku meminta Daehyun untuk menjemputku," kata Seojun. Namgil yang datang hampir bersamaan dengan Junghwa pun terdiam saat melihat ketiga pria di depannya, "Hyung, bukannya kau memintaku menjemputmu? Maaf, aku terlambat karena tadi aku sedang pergi keluar dengan temanku," tanya Namgil pada Seojun. "Astaga, kau juga datang, Namgil? Maafkan aku, tadi aku memang minta jemput. Tapi karena kau tidak membalas pesanku, aku menghubungi Daehyun. Maafkan aku, jadi membuat kalian semua ke sini menjemputku," kata Seojun dengan tawa khasnya.
__ADS_1
"Hyung, kenapa hyung sering kembali ke Korea? Apa kuliah hyung tidak sibuk?" tanya Daehyun. "Jadwal kuliah hanya sedang kosong. Jadi, daripada aku liburan di sana, lebih baik aku kembali ke sini," jawab Seojun. "Ck, jujur saja, hyung mempunyai pacar di sini!" celetuk Daehyun. "Ah, kau ini!" sahut Seojun malu-malu. Namgil hanya diam mendengarkan kedua sepupunya itu. Sedangkan Junghwa geram sendiri melihat wajah tak bersalah Daehyun itu. Tanpa ada yang menyadarinya, dengan langkah besar, Junghwa menghampiri Daehyun dan bugh! Tanpa aba-aba, Junghwa melayangkan tinjunya ke wajah tampan Daehyun untuk kedua kalinya.
Daehyun sedikit terhuyung ke belakang akibat bogem mentah dadakan yang ia terima itu, tapi Junghwa menahan Daehyun dengan mencengkeram kuat leher baju Daehyun. "Aku katakan padamu, aku sudah menyembunyikan ini selama berhari-hari, hanya untuk menunggumu mengakuinya sendiri pada noona. Tapi aku tidak tahan lagi melihat wajah tidak bersalahmu ini!" kata Junghwa geram. "Aku tidak tahu, kenapa sampai sekarang aku tidak bisa mengatakan semuanya pada noona, padahal aku sudah memiliki buktinya! Asal kau tahu, ini terasa menyakitkan sampai aku sungguh tidak bisa menahannya lagi!" lanjutnya yang semakin marah.
"Bicara apa kau, hah!" kata Daehyun tidak mengerti. "Junghwa, ada apa ini? Kenapa kau seperti ini? Lepaskan dulu! Kita bicara baik-baik," lerai Seojun. Sedangkan Namgil tampak mencerna semua perkataan Junghwa tadi yang juga ia dengar. "Junghwa, apa yang sudah kau lakukan? Hentikan!" kata Seojun lagi seraya berusaha melepaskan tangan Junghwa dari baju Daehyun. "Tunggu, hyung!" sela Namgil. "Sepertinya, bukan itu pertanyaannya! Daehyun, apa yang sudah kau lakukan?" lanjut Namgil seraya beralih menatap curiga Daehyun.
"Lagipula aku tidak suka kau bersama noona. Jadi, biar aku saja yang menjawabnya!" sahut Junghwa. Atensi Seojun dan Namgil pun tertuju pada Junghwa, begitu pula Daehyun yang masih tidak mengerti apa maksud semua ini. "Namgil hyung, apa kau mengenal Shin Sooyun?" tanya Junghwa seraya memberikan seringai kecil untuk Daehyun. Deg! Seketika Daehyun membeku saat mendengar nama itu disebutkan. "Ya, aku mengenalnya. Sooyun adik kelasku, juga mantan pacar Jiwon, sahabatku. Ada apa dengan Sooyun?" sahut Namgil dengan wajah bingung. "Dia sedang hamil satu bulan dan coba tebak siapa yang menghamilinya?" kata Junghwa datar.
Deg! Baru Daehyun ingin melakukan pembelaan atas tuduhan Junghwa, tubuhnya kembali membeku saat melihat sosokku yang berdiri di belakang tubuh tinggi besar Namgil yang membelakangiku. Aku awalnya, terbangun saat Junghwa menutup pintu mobilnya dan menyusulnya dengan langkah riang dan tersenyum ceria. Namun sekarang, aku menangis tanpa suara setelah mendengar semua percakapan mereka yang tidak menyadari kedatanganku. Junghwa yang juga melihat air mata membasahi pipiku, hanya bisa merasa bersalah padaku. Rasanya, ia juga ingin menangis melihatku menangis saat ini. "Maafkan aku, noona. Aku tidak bisa menjaga air matamu untuk tidak terjatuh," katanya dalam hatinya.
Sedangkan Daehyun langsung bergegas menghampiriku dan langsung memelukku. "Sayang, dengarkan oppa dulu! Oppa bisa jelaskan semuanya!" katanya yang jelas terdengar panik. Aku tertegun sejenak mencerna perkataannya itu, "Perkataan yang tidak membenarkan, tapi tidak juga menyangkalnya..." ucapku pelan. Daehyun melonggarkan pelukannya dan menatapku dalam. Aku tersenyum getir, lalu menggigit pelan bibirku. "Padahal dari awal, aku tahu stigma jelek tentang oppa! Tapi bodohnya aku yang selalu percaya, oppa akan berubah demi aku," kataku lirih dengan air mata yang semakin runtuh setelah memandang Daehyun yang hanya bisa memejamkan matanya pasrah.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan oppa. Ini tidak seperti yang sayang pikirkan. Percayalah pada oppa!" kata Daehyun berusaha menenangkan dan meyakinkanku. "Iya, aku percaya karena aku mengalaminya sendiri! Bukankah oppa juga melakukannya padaku?!" jawabku. "Bukankah, awalnya oppa juga menyakitiku? Tapi aku menutupi lukaku dengan mencoba mempercayai oppa dan mencintai oppa," kataku dengan dada yang terasa sesak mengingat semua yang sudah aku lakukan untuk Daehyun. "Kini lebih dalam dan lebih dalam, luka ini menjadi semakin dalam, oppa. Apa oppa tahu seperti apa hatiku sekarang? Seperti kepingan-kepingan gelas yang hancur dan tak bisa kembali utuh! Setiap hari hanya hatiku yang terluka semakin dalam dan oppa malah mengkhianati aku seperti ini!" kataku tidak percaya.
Daehyun kembali memeluk tubuhku yang saat ini tampak sangat rapuh. Benar saja, tidak lama setelah itu, tubuhku yang sudah gemetar, merosot lemah. Daehyun pun mengeratkan pelukannya untuk menopang tubuhku agar tidak terjatuh ke lantai. "Hana!" sebut Seojun dan Namgil, bersamaan seraya menghampiriku. Lain halnya dengan Junghwa yang menarik kasar tangan Daehyun dan merebut tubuhku dari pelukan Daehyun, lalu menggantikan Daehyun memelukku.
Aku menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Junghwa, yang mengingatkan aku pada pelukan hangat Yongju. Melihatnya, Daehyun semakin merasa bersalah dan semakin tidak tahu harus melakukan apa. "Sayang, hukum saja oppa atau pukul saa oppa, jika itu bisa menenangkanmu. Tapi berhentilah menangis dan katakan sesuatu pada oppa! Oppa bersalah, oppa akui semua salah oppa," kata Daehyun dengan sungguh-sungguh. "Kenapa oppa seperti itu padaku?” kataku lirih dengan tanganku yang menggenggam kuat baju Junghwa. “Maafkan oppa. Oppa diam karena ingin menyelesaikan masalah ini tanpa menganggu hubungan kita,” kata Daehyun yang akhirnya mengakui.
"Kim Daehyun!" bentak Seojun keras. "Aku tahu, aku tidak sedang ada di posisi untuk mengatakan apa pun. Tapi bagaimana bisa kau menghamili gadis lain, sedangkan kalian hampir menikah! Haruskah aku katakan padamu, apa yang harus kau lakukan untuk tidak menyakiti Hana?" lanjut Namgil penuh amarah. "Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku, hyung. Tak peduli seberapa banyak aku menyembunyikan serta menutupinya, Sooyun tak mau enyah dan terus menggangguku. Bahkan memaksaku untuk bertanggung jawab atas anak yang ia kandung dengan menikahinya!" kata Daehyun frustasi.
"Keparat, kau Kim Daehyun! Apa maksudmu, kau ingin lari dari tanggung jawabmu?" kata Junghwa yang semakin marah. "Apa kau memanggilku keparat?" kata Daehyun seraya menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya, apa lagi yang bisa aku katakan untukmu!" jawab Junghwa. Sedangkan aku semakin menangis. "Noona, sudahlah! Jangan menangis! Kumohon keringkan air mata noona. Jangan membuangnya untuk keparat sepertinya!" kata Junghwa seraya menatap tajam Daehyun.
"Lepaskan, Hana!" kata Daehyun dingin seraya menarik paksa lenganku. Aku menghempas tangan Daehyun dan juga pelukan Junghwa. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, aku pergi meninggalkan mereka. Daehyun berniat mengejarku, tapi Junghwa menahannya. "Jangan ganggu noona-ku lagi!" kata Junghwa penuh penekanan. "Daehyun, biarkan Hana menenangkan diri dulu! Junghwa, kau antar Hana pulang. Namgil, kau pulanglah. Biar aku yang menemani Daehyun," kata Seojun.
__ADS_1
Daehyun menatap punggungku yang semakin menghilang di tengah kerumunan dengan pasrah. "Hana, kau seperti cahaya yang menyinari dosa-dosaku. Tapi aku juga tahu, meski aku meneteskan darah untuk mengubah stigma diriku di matamu, semua tidak akan kembali lagi," katanya dalam hatinya. "Aku mohon, jangan pergi karena duniaku akan menggelap tanpamu. Setiap hari, aku bahkan lebih ingin mati daripada harus kehilanganmu. Hukum saja aku semaumu, tapi tidak untuk pergi meninggalkan aku," lanjutnya, keras kepala mengejarku.