The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Hukuman Karena Sudah Membuatku Cemburu


__ADS_3

Yongju menatap layar ponselnya dengan bingung karena tiba-tiba saja panggilan terputus. Dengan lunglai, ia meletakan ponselnya di atas meja nakasnya. "Kau bahkan tidak ingin bicara denganku lagi," gumamnya yang memilih memejamkan matanya lagi dengan air mata yang belum mengering sepenuhnya.


***


"Awalnya, aku hanya ingin memilikimu hanya karena tidak suka merasa terkalahkan oleh Namgil dan pria-pria lain yang selalu ada mengelilingimu, termasuk Jiwon yang akrab denganmu, padahal kau tunanganku," kata Daehyun dalam hatinya seraya menatapku dari belakang. "Selama ini, aku selalu bisa mendapatkan apapun yang aku mau dengan mudah. Entah itu dengan pesonaku ataupun dengan kekuasaan keluargaku. Anehnya, perlahan aku benar-benar terpesona dengan segala hal tentangmu," lanjutnya seraya menelan salivanya.


"Aku mulai sungguh-sungguh menyukaimu. Aku memutuskan untuk pelan-pelan mendekatimu yang terlanjur ragu padaku, tapi rasanya semakin hari, aku semakin menggila karena harus menunggu untuk memilikimu," lanjutnya seraya mulai berjalan ke arahku. "Yang aku pikirkan untuk bisa menyentuhmu yang terlalu mahal, hanyalah dengan ini!" lanjutnya seraya meraih gelas minuman milikku. "Tentu saja di dalam jus ini ada obat yang sangat kuat!" lanjutnya dengan senyuman evil-nya seraya menumpahkan semua isi botol kecil yang ia sembunyikan tadi.


Daehyun berjalan ke arahku yang masih sibuk memunguti ponselku yang hancur berserakan di lantai. "Biarkan saja. Nanti oppa belikan yang baru. Maaf, tadi oppa emosi dan kehilangan kontrol," katanya di belakangku dan aku pun menoleh ke arahnya. Karena tidak ingin membuatnya marah lagi, aku pun terpaksa berdiri dengan wajah kesal karena ponselku hancur. "Sudah siang. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" tanyanya dan aku pun hanya diam mengangguk. "Ini, minumlah dulu! Setelah itu ganti baju sayang," katanya seraya menyerahkan gelas itu padaku. "Tapi aku tidak mau memakai baju yang ada diberikan resepsionis tadi!" kataku seraya menerima gelas itu dan langsung meminumnya sampai habis.

__ADS_1


Satu alis Daehyun terangkat melihatnya dan dengan smirk-nya, ia berkata, "terserah sayang saja, mau pakai yang mana. Atau sayang mau pakai baju oppa saja? Ambil saja dalam tas oppa," tawarnya. Aku menatapnya dengan ragu karena perubahan sikapnya yang drastis. Tapi tanpa curiga lebih lanjut, aku pun masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajuku dengan bajunya. Tapi ternyata hanya ada selembar baju kaos miliknya di dalam tasnya. Aku pun mencoba memakainya. Karena badanku yang lebih kecil darinya, kaos miliknya menjadi oversize saat aku kenakan di badanku. "Baiklah, ini lebih baik dari mini dress itu!" gumamku saat melihat panjang kaos itu yang melebihi lututku.


"Sudah selesai?" tanyanya saat aku keluar dari kamar mandi, sedangkan ia masih mengenakan celana pendeknya tanpa baju, masih seperti tadi. "Kenapa oppa belum siap-siap?" tanyaku. Daehyun tersenyum. "Nanti saja setelah kita makan siang. Tidak mungkin bukan, kita pulang dalam keadaan lapar. Nanti sayang bisa sakit," katanya seraya menyentuh lembut pipiku setelah menghampiriku. "Iya, aku lapar! Sangat lapar! Bahkan sudah setahun lebih, aku puasa! Dan kau adalah santapan utamaku hari ini!" katanya dalam hatinya seraya menatapku dalam dengan tatapan yang sulit kuartikan.


Aku mematung dengan detak jantung yang berpacu begitu cepatnya, saat ia mulai mendekatkan wajahnya. Saat sudah semakin dekat, ia berhenti karena mendengar bunyi ketukan di pintu. Seorang pelayan masuk membawakan makanan yang sudah Daehyun pesan sebelumnya. Kami berdua pun menikmati makan siang kami bersama di dalam kamar. Sudah hampir setengah jam sejak aku menghabiskan minumanku dan tubuhku semakin terasa aneh. "Ada apa?" tanyanya yang sejak tadi terus memperhatikan aku dan menyadari gelagat anehku selama makan.


Walaupun sudah mulai di bawah pengaruh obat yang Daehyun berikan, aku masih sempat mendorong tubuhnya saat aku merasa nafasku sudah tersengal dibuatnya. Akhirnya, Daehyun pun melepaskan tautannya. Namun, sepersekian detik kemudian, ia mengangkat tubuhku dan menghempaskan aku ke atas tempat tidur. "Oppa, apa yang oppa lakukan!?" kataku yang mulai ketakutan dengan sikap dan tatapan anehnya. Terlebih saat Daehyun tak henti-hentinya menatap lekat paha putihku yang terekspos dari balik baju kaos yang tersingkap saat ia menghempaskanku tadi. Sekali lagi, ia menelan salivanya.


"Kenapa oppa melihatku seperti itu?" tanyaku yang tiba-tiba bergidik ngeri seraya menarik turun baju yang aku kenakan untuk menutupi pahaku. Bahkan tubuhku saja sudah mulai gemetaran. Daehyun tersenyum sinis. "Sayang, tubuhmu terlalu indah untuk ditutupi!" katanya seraya menggigit bibir bawahnya. Mendengarnya, aku buru-buru menarik selimut ke atas tubuhku. Bukan selimut yang Daehyun tarik, tapi celananya yang ia tarik turun. Sontak, aku langsung memejamkan kedua mataku ketakutan, tak ingin melihatnya. "Oppa, jangan!" pintaku dengan sangat.

__ADS_1


Melihat reaksiku, Daehyun bertanya dengan lembut, "apa ini yang pertama untukmu sayang, hmm?" Hening, aku masih tidak berani membuka mata dan mulutku. Daehyun pun kembali tersenyum evil. Aku mulai terisak, terlebih saat aku merasakan tubuhnya yang mulai menaiki tubuhku. "Oppa, jangan! Aku mohon!" pintaku sekali lagi memohon padanya dengan isak tangisku. Namun, Daehyun sungguh tidak memperdulikannya. Ia langsung mencium bibirku dengan penuh nafsu. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba berontak dan mendorongnya. Namun apalah dayaku, tenagaku tak sebanding dengan tenaganya. Bahkan lama kelamaan seolah tenagaku habis terkuras dengan cepat. Sungguh, Daehyun mengungkungku di bawah kendalinya.


"Sayang, kau seperti obat yang meredakan mabukku!" bisiknya seduktif. Ia memberikan tanda kepemilikannya agar kemana pun aku pergi, aku akan memilikinya di bawah telingaku. Di tengah serangannya, Daehyun sempat-sempatnya melirik ke arah jam dinding yang ada di kamar ini, "Waktu yang dibutuhkan untuk menjatuhkannya tinggal 3 detik!" pikirnya seraya tersenyum. Benar saja, dalam hitungan detik, kepalaku tiba-tiba terasa pusing, tapi aku merasa seperti aku sangat menginginkannya, seolah-olah Daehyun adalah penawarku. Hanya wajah tampannya yang memenuhi kedua mataku.


"Apa yang terjadi? Aku ingin menghindari oppa, tapi aku tidak bisa. Sebenarnya, aku tidak benar-benar ingin menghindari oppa. Ah, ini aneh!" racauku di bawah tubuhnya. Faktanya, entah kenapa diriku jadi tidak rasionalis. Daehyun tersenyum mendengarnya karena rencananya berhasil. "Singkirkan pemikiran sayang itu jauh-jauh dan cepat berikan oppa sebuah pelukan. Ayo, peluk oppa! Singkirkan saja title sayang sebagai cewek ‘sulit didapatkan’ untuk hari ini! Berikan semua pada oppa!" katanya.


"Sekarang lepaskan baju sayang! Ayolah, apa perlu oppa yang melepaskannya? Oppa ahlinya!" bisiknya dan anehnya, aku hanya diam di depannya. Bahkan malah menunggu apa yang akan Daehyun lakukan padaku. Srekk! Daehyun merobek paksa bajunya yang aku kenakan. "Sekarang ini!" tunjuknya ke arah bra yang aku pakai dan hanya dengan sekali tarik, ia melepaskan kaitannya, lalu ia lanjutkan dengan membantuku menurunkan celana dalamku.


"Matikan lampunya," ucapku pelan karena malu. Bahkan aku memalingkan wajahku yang memerah. Walaupun dengan sadar, aku menginginkannya juga, tapi aku hanya bisa menangis, pasrah menerima perlakukannya ini. Daehyun tersenyum. "Hari ini, oppa akan membuat sayang menjadi wanita, bukan gadis lagi. Oppa akan menghukum sayang karena sudah membuat oppa cemburu! Nikmati saja hukuman yang tidak pernah sayang rasakan sebelumnya!" bisiknya seraya mematikan lampu kamar ini.

__ADS_1


__ADS_2