The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Aku Tidak Peduli Apapun Lagi


__ADS_3

"Ada apa ini? Sungjin! Taeyang! Yongju! dan Daehyun! Apa-apaan ini semua!?" tanya appa-ku yang baru tiba di rumah setelah pelayan kami memberitahukan kekacauan yang terjadi di sini. Betapa terkejutnya, appa-ku melihat kondisi rumah yang berantakan dan pemandangan di depannya ini. Sahabatnya sekaligus atasannya tengah menodongkan pistol pada calon besannya. Sedangkan calon besannya itu tengah menginjak kaki keponakannya yang sedang berebut pedang dengan calon menantunya.


"Sungjin, turunkan pistolmu itu dan jelaskan apa yang terjadi di rumahku ini!" kata appa-ku dengan pelan, setelah mengatur nafasnya, berusaha untuk tenang. Orang yang diminta pun, menurunkan pistolnya, tapi sepersekian detik kemudian, pistol itu malah ia arahkan pada Daehyun. "Seojun, ambil pedang itu!" kata Tuan Jeon pada sang putra sulung yang berdiri di ujung anak tangga teratas. Seojun pun langsung menuruti appa-nya itu dan bergegas menuruni tangga dan merebut pedang yang masing-masing ujungnya disentuh Yongju dan Daehyun.


"Sekarang, jelaskan apa yang terjadi tadi!" lanjut Tuan Jeon, tapi sebelum Seojun membuka mulutnya, Junghwa lebih dulu menyela dari lantai dua. "Appa, biar aku saja yang menjelaskan!" katanya seraya langsung turun ke lantai satu. Aku yang sempat terduduk lemas saat melihat Yongju melompat dari lantai dua sambil membawa pedang di tangannya, berusaha bangun setelah mendengar suara appa-ku itu. Hyunwo yang berdiri tak jauh dariku, membantuku berdiri.


"Kalian pasti tidak bisa menduga apa yang sudah dilakukan menantu pilihan kalian ini! Aku sendiri bahkan terkejut saat mengetahuinya," kata Junghwa tidak sabar membeberkan perbuatan Daehyun, bahkan sebelum kakinya selesai menuruni anak tangga. Grab! Daehyun mencekal tangan Junghwa saat anak itu melewatinya di ujung anak tangga. "Tutup mulutmu! Jangan berani macam-macam denganku!" ancam Daehyun dengan suara pelan seraya menatap tajam Junghwa. "Sudahlah, Junghwa! Tidak perlu banyak bicara!" sela Yongju yang sudah berdiri seraya membalas tatapan Daehyun.


"Batalkan saja pertunangan mereka!" lanjut Yongju langsung mengalihkan pandangannya pada appa-ku yang tampak semakin bingung. "Memangnya, siapa kau di keluarga ini, sampai berani bicara seperti ini!" sahut eomma Daehyun yang baru tiba bersama eomma-ku, tidak terima. "Yongju! Apa lagi yang kali ini kau lakukan, hah!" kata eomma-ku dengan geram. Melihat kekacauan ini, eomma-ku langsung menarik kesimpulan bahwa keponakannya itulah yang kembali berulah, seperti biasanya, walaupun memang benar keponakannya itu yang memulainya.


"Menghajarnya! Apa lagi?" sahut Yongju swag sambil menggerakan kepalanya ke arah Daehyun dengan malas. "Yongju!" bentak eomma-ku. "Bibi Lee, dengarkan aku dulu! Bukan Yongju hyung yang salah! Ini semua karena dia!" sela Junghwa seraya menunjuk wajah Daehyun. "Lepaskan tanganku!" lanjutnya seraya menghentakan tangannya yang dicekal oleh Daehyun. "Junghwa, diamlah! Biarkan bajingan itu sendiri yang memberitahu orang tuanya, apa yang sudah dia lakukan!" sela Yongju dingin.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa yang kalian bicarakan ini! Daehyun, katakan sekarang, apa maksud mereka!" kata Tuan Kim yang sudah penasaran. Namun sang putra hanya diam, tak berani membuka mulutnya. Dia memang merahasiakan kehamilan Sooyun karena ingin membuat Sooyun keguguran dan menyelamatkan rencana pernikahannya denganku, tapi kekacauan ini terjadi sebelum rencananya berhasil.


"Aku ingin membatalkan pertunangan ini!" kataku mantap seraya berjalan melewati Daehyun yang terperangah mendengarnya langsung dari mulutku. Daehyun langsung bergegas menyusulku, "Aku tidak setuju!" katanya dengan keras seraya menangkap tanganku. "Lepaskan! Jangan sentuh aku, bahkan jangan letakkan tanganmu lagi padaku!" kataku dengan sangat dingin seraya menghentakkan tanganku kasar. "Setuju atau tidak, aku tetap tidak ingin menikah denganmu!" lanjutku seraya berjalan ke arah Yongju. Sejak tadi, aku mengkhawatirkan darah yang membasahi wajah Yongju. Sesampainya aku di hadapan oppa-ku itu, aku pun menyeka wajahnya dengan tisu yang sempat aku bawa dari lantai dua, tanpa mengatakan apa-apa. Wajah yang semula berekspresi garang itu, mendadak berubah lembut di hadapanku.


"Hana, berikan appa alasannya!" kata appa-ku dengan tegas, tapi masih berusaha lembut padaku. Tanganku yang menyeka wajah Yongju, mendadak gemetar. Rasanya, aku tidak sanggup menjawabnya karena itulah yang menjadi alasan air mataku kembali jatuh saat ini. Menyadari reaksiku itu, Yongju menggenggam tanganku yang menyeka wajahnya. "Karena Hana tidak ingin menikah dengan pria yang sudah menghamili gadis lain!" kata Yongju dengan jelas, mewakili aku untuk menjawabnya. Semua mata pun beralih menatap Daehyun dengan tatapan terkejut. "Min Yongju!" teriak Daehyun keras dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. "Apa, hah!" sahut Yongju juga dengan keras. "Kenapa? Kau ingin menyangkalnya? Hei, Kim Daehyun, kau mungkin akan berakhir di peti mati, jika kau terus bermain dengan bodoh seperti itu! Aku jadi penasaran, berapa banyak anak gadis orang yang sudah kau hamili!" lanjut Yongju sarkas.


"Yongju! Apa yang katakan, hah? Berhentilah membuat masalah! Apa kau ingin mencemarkan nama baikmu di depan publik dengan memfitnah Daehyun, hah?" kata eomma-ku, masih tidak mempercayai Yongju. Eomma berjalan marah ke arahku dan Yongju. "Apa? Aku? Bajingan ini yang membuat masalah, bukan aku!" protes Yongju dengan keras. Tangan eomma bergerak ke arah wajah Yongju, berniat menampar wajahnya. Tapi aku yang melihatnya, langsung mencekal tangan eomma-ku. "Hana, kau!" kata eomma menatapku tidak percaya. "Jangan menyakiti oppa lagi! Apa eomma tidak melihat oppa sudah terluka? Kalau eomma tidak mempercayai oppa, setidaknya, percayalah padaku! Oppa tidak memfitnah, itulah kebenarannya," kataku terisak.


"Kim Daehyun!" sebut Tuan Kim geram dari tempatnya berdiri. "Daehyun, katakan kalau itu bohong! Kau tidak menghamili gadis lain, bukan?" kata Nyonya Kim yang langsung menghampiri Daehyun dan menggenggam tangan sang putra. Lagi-lagi, Daehyun hanya bisa menutup mulutnya dengan tertunduk. Plakk! Satu tamparan dilayangkan Tuan Kim yang sudah murka. "Siapa? Katakan siapa perempuan itu!" bentak Tuan Kim. "So-Sooyun, putri keluarga Shin," jawab Daehyun pelan.


"Eomma lihat? Aku mati-matian mencintai Hana. Bahkan sampai berniat menentang seluruh dunia untuk menikahinya jika eomma merestui kami, tapi eomma malah mati-matian memintaku meninggalkannya," kata Yongju pelan tepat di depan eomma-ku. "Diam kau, Yongju! Pertunangan ini tidak akan dibatalkan sebelum semuanya benar-benar jelas! Dan kau Hana, menjauhlah dari Yongju!" kata eomma keras kepala.

__ADS_1


Yongju melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, sama halnya denganku. "Eomma!" kataku. "Eomma waras? Berapa banyak wanita di luar sana yang mengejarku, bahkan berebut naik ke tempat tidurku, tapi eomma selalu menyuruh Hana pergi meninggalkanku dan tetap memilih pria brengsek ini sebagai menantumu? Ibu macam apa kau!" bentak Yongju sangat keras tepat di depan wajah eomma-ku. Eomma-ku saja sampai shock mendengarnya, apalagi Tuan dan Nyonya Kim, serta Namgil yang baru tahu kalau Yongju juga menyukaiku, adik sepupunya sendiri.


"Jadi, kau menyukai Hana?" ucap Nyonya Kim seraya menatap Yongju tidak percaya. "Tunggu dulu! Setiap orang memang berhak memiliki perasaannya sendiri, tapi bisa saja kau melakukan semua ini untuk merebut Hana dari Daehyun!" lanjut Nyonya Kim menduga-duga. Yongju terperangah, lalu terkekeh mendengar tuduhan terhadapnya itu. Prok! Prok! Prok! "Ini waktunya, satu untuk uang dan dua untuk pertunjukkan!" kata Tuan Jeon tiba-tiba seraya bertepuk tangan, membuat semua perhatian tertuju ke arahnya. Di sana, tengah duduk Junghwa dengan appa-nya dan appa-ku yang sejak tadi tampak berbincang serius.


"Bicara apa kau, Sungjin? Tidak usah ikut campur, ini tidak hubungannya denganmu!" kata Tuan Kim tak suka. Tuan Jeon terkekeh, sama persis seperti sang putra. "Bagaimana bisa kau mengatakan ini tidak ada hubungannya denganku? Lihat dua putraku yang sudah dipukul putramu itu!" sahut Tuan Jeon. "Sebaiknya, kau didik lagi putramu itu!" lanjut Tuan Jeon, angkuh. "Memangnya, apa yang kau tahu tentang putraku? Urus saja dua putramu itu! Atau perlu aku carikan pengasuh anak!" kata Tuan Kim membalas sama angkuhnya. "Tenang saja, ketiga putraku punya kecerdasannya masing-masing! Sepertinya, kau yang tidak akan bisa mengontrol putramu!" sahut Tuan Jeon, "Junghwa, berikan ponselmu pada Tuan Kim. Biar dia sendiri yang menilai putranya!" lanjutnya, yang langsung dituruti si bungsu.


Tuan Kim mematung dengan ponsel Junghwa di tangannya. Junghwa memperlihatkan semua bukti-bukti yang sudah ia kumpulkan terlebih dahulu, sebelum menuduh Daehyun. Bahkan Junghwa sampai meminta Sooyun sendiri untuk membuktikan kebenarannya. "Jika paman masih tidak percaya dan ingin pergi membuktikannya, tanyakan langsung pada keluarga Shin. Untuk bukti-bukti ini, ambil saja. Aku akan mengembalikannya karena aku tidak memerlukannya lagi. Jadi, apa pun yang kami katakan sebelumnya, kami tidak memfitnah putra paman!" kata Junghwa. "Kim Daehyun! Jelaskan pada appa, bagaimana bisa kau menyembunyikan semua ini dari appa? Apa kau berniat menghilangkan semua bukti-bukti ini dan menyelesaikan sendirian? Apa kau ingin menghancurkan keluarga kita, hah!" bentak Tuan Kim lagi dengan rahangnya yang mengeras.


Tuk! Aku sempat terhuyung ke samping, menubruk tubuh Yongju yang berdiri di sampingku. "Hei, kau kenapa? Kau baik-baik saja?" tanya Yongju yang langsung menyangga tubuhku. Pada akhirnya, aku yang kurang tidur sejak kemarin dan aktif menangis karena masalah ini, masih merasa pusing. Perlahan, kesadaranku kembali menurun, hingga aku jatuh pingsan lagi di pelukan Yongju.


"Hana!" panggil suara-suara yang mengkhawatirkanku, yang masih bisa aku dengar. Yongju mengangkat tubuhku dan berniat membawaku ke kamarku, tapi Daehyun berusaha merebutku dari tangannya. "Minggir!" kata Yongju geram pada Daehyun. "Berikan Hana padaku atau aku akan membunuhmu!" kata Daehyun menghalangi Yongju. "Kau masih memintanya, setelah semua dosa rahasiamu itu ketahuan? Ck, omong kosong! Bahkan jika aku mati, kau yang seharusnya mengembalikan Hana padaku!" kata Yongju melewati Daehyun.

__ADS_1


"Yongju, hentikan semua ini! Berikan Hana pada appa! Biar appa yang membawanya ke kamar," pinta eomma-ku yang tidak ingin perasaan antara aku dan Yongju kembali berkembang, tapi Yongju seolah tidak mendengarkannya dan tetap melewati eomma-ku. "Yongju! Ingat darah yang mengalir di tubuh kalian dan pikirkan karirmu, jangan melewati batas lagi!" pinta eomma-ku lagi, dengan setengah memohon. "Karir? Aku tak peduli apa pun lagi! Aku tak bisa hidup seperti tikus atau anjing ketika aku terlahir menjadi harimau," sahut Yongju yang terus berjalan.


"Kau bisa berkata seperti itu? Bagaimana kalau aku benar-benar menyuruh eomma-ku menghancurkannya!" sahut Daehyun, sengit. "Aku tidak pernah memintanya pada eomma-mu! Apa pun yang kau genggam di kedua tanganmu, aku tidak tertarik! Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan!" sahut Yongju seraya pergi ke kamarku. "Setelah sukses, kau berkata begitu? Apa kau pikir, kesuksesanmu sekarang hanya buah hasilmu setelah komat-kamit sendiri? Aku tidak peduli, jika kau menggali kuburanmu sendiri atau menyia-nyiakan bakatmu, tapi ingat, kau masih di bawah agensiku!" kata Nyonya Kim berteriak.


__ADS_2