
Crack! Sebuah suara dari sesuatu yang retak membangunkan Yongju dari tidurnya. Junghwa terkejut saat gelas yang baru saja ia letakan di meja nakas di samping Yongju tertidur, tiba-tiba retak dengan sendirinya. "Aku membuatkan hyung teh camomile panas untuk meredakan hangover hyung. Aku tidak tahu kenapa gelasnya tiba-tiba retak seperti ini," kata Junghwa menatap gelas itu dengan bingung. "Retakannya besar juga! Maaf hyung, biar aku ganti dulu dengan gelas yang baru. Mungkin airnya terlalu panas," kata Junghwa seraya kembali ke dapur dengan membawa serta gelas itu.
Sementara itu, beberapa kali Yongju mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Suara retakan dari gelas tadi membuatnya melamun, "Sebuah suara yang penuh dengan ketidaklaziman," pikirnya. Kepalanya yang masih terasa berat, membuat Yongju mencoba menutup kembali mata dan telinganya untuk sejenak, tapi ia tidak bisa tidur lagi. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia merasa khawatir tentangku. Lalu, ia pun meriah ponselnya dan kembali mencoba menghubungiku, tapi tidak tersambung. Yongju pun bangun dan bergegas membersihkan dirinya.
Tidak lama, Junghwa kembali dengan teh yang sama, tapi dengan gelas yang berbeda. Junghwa menyerahkan teh itu pada Yongju yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mandi dengan terburu-buru. Yongju pun menyambut teh itu, tapi tiba-tiba gelas itupun retak juga. Walaupun kali ini retakannya sangat kecil, Yongju tetap membeku melihatnya dan hatinya semakin gelisah. "Ada apa ini?" gumamnya. "Apa yang salah dengan teh ini?" kata Junghwa semakin bingung menatap teh buatannya. "Sini, hyung, biar aku buatkan yang baru saja!" katanya kesal. "Tidak usah. Buang saja!" sahut Yongju seraya menyerahkan gelasnya pada Junghwa.
Setelah itu, Yongju bergegas menghubungiku lagi, tapi karena ponselku rusak, panggilan itu masih tidak tersambung. Lantas, ia beralih menghubungi eomma untuk menanyakan keadaanku, tapi saat eomma mengatakan ketidaktahuannya karena sedang berada di Jepang dan bertanya balik padanya, Yongju memilih diam tak menjawabnya. Ia memilih diam untukku karena bingung antara takut kekhawatirannya yang tak beralasan ini menjadi kenyataan atau malah sebaliknya, semua kekhawatirannya ini hanyalah delusinya semata yang malah akan memperburuk hubungan kami.
***
Matahari beranjak turun dengan indahnya, menyinarkan kehangatannya sebelum tergantikan oleh sang rembulan malam. Aku terbangun setelah merasakan pegal di sekujur tubuhku dan nyeri di beberapa titik tubuhku. Aku pun mengerjapkan mataku saat mendapati Daehyun yang berbaring di sampingku dengan hanya ditutupi selimut dari pinggangnya ke bawah. Kemudian, aku memberanikan diri untuk menyentuhnya, berharap kalau ini hanyalah mimpi. Perlahan namun pasti, tanganku menyentuh bahunya dan mataku terpejam saat kurasakan sentuhanku itu begitu nyata. "Ini bukan mimpi!" pikirku sambil mulai merutuki diriku sendiri. Aku mulai menangisi kebodohanku dan menyesali kesalahan yang sudah aku perbuat.
Deg! Tiba-tiba Daehyun menangkap tanganku di bahunya saat ia terbangun dengan sepasang mata elangnya yang terbuka menatap tajam ke arahku. "Sayang bangun?" tanyanya, tanpa berniat melepaskan tanganku. Tanganku mulai gemetar saat ia menariknya dan mengecupnya sambil bertanya, "Sayang mau lagi?" Aku yang mendengarnya, tiba-tiba merinding dan langsung menggeleng, "sakit..." lirihku nyaris tidak terdengar. Suaraku seakan hilang karena tak berhenti menangis dan berteriak karena ulahnya beberapa jam yang lalu. Bahkan aku rasa, rasa sakit di tenggorokanku semakin bertambah buruk setelah aku bangun.
Aku menarik selimut sampai ke leherku, mencoba untuk menutupi tubuh polosku di baliknya, tapi Daehyun tidak peduli dan dengan seringainya, ia kembali menindihku. Seketika nafasku tertahan dan air mataku pun kembali tumpah. "Asal sayang tahu, selama ini oppa tidak pernah mau tidur dengan gadis yang sama untuk kedua kalinya," katanya santai seraya menatap lekat wajah bantalku yang aku yakin sekarang pasti terlihat berantakan. "Tapi sepertinya, sayang sudah membuat oppa merubah prinsip oppa itu. Kalau dengan sayang, mau berapa kali pun, it's ok!" lanjutnya puas seraya tersenyum, lalu menarik daguku.
__ADS_1
"Sayang adalah gadis perawan pertama oppa, tunangan oppa, calon istri oppa dan wanita milik oppa," katanya dengan manly seraya menggigit bibir bawahnya dengan seksi. "Rasamu sungguh luar biasa, sayang! Terima kasih!" bisiknya di telingaku. "Jahat! Oppa jahat!" kataku seraya memukuli dadanya dengan kedua tanganku, sedangkan Daehyun sendiri hanya diam menerima semua pukulanku itu. Plakk! Satu tamparan yang aku layangkan tepat mengenai wajah tampannya dan sontak membuatnya menatapku nyalang, membuat nyaliku seketika menciut karena takut. Daehyun tidak pernah menatapku setajam ini. Ia menangkap kedua tanganku dan menahannya. Tanpa basa-basi, ia langsung menciumku dengan kasar. Ia pun melakukannya lagi, bahkan lebih brutal dari sebelumnya.
Setelah menjadi pelampiasan amarah dan nafsunya, perlahan aku beranjak bangun dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi. Sungguh, tubuhku terasa remuk redam dibuatnya. "Apa sayang mau ke kamar kecil?" tanyanya yang dari tadi diam memperhatikanku. Aku tidak menjawab dan mengabaikannya, tapi saat aku mulai melangkah, aku merasakan perih di satu titik bagian tubuhku yang memaksaku menghentikan langkahku sejenak dengan wajah meringis. "Sini, biar oppa bantu!" katanya yang langsung bangun dan menghampiriku. Masih tanpa berkata apapun, aku menghindarinya. Dengan pelan dan sedikit tertatih, aku berlalu di hadapannya.
Srett! Tanpa aku duga, Daehyun tiba-tiba menggendongku dan membawaku ke kamar mandi. "Apa perlu oppa bantu mandinya?" tanyanya dengan suara lembutnya yang sontak membuat wajahku memanas. Aku langsung mendorongnya sampai keluar pintu kamar mandi dan langsung menutup pintunya. Daehyun yang mengerti sekarang aku sedang tidak ingin diusik pun memberikanku ruang untuk sendiri. "Baiklah, oppa tunggu di kamar. Kalau butuh sesuatu, panggil saja oppa. Setelah ini, kita pulang," katanya di depan pintu kamar mandi.
Sementara aku di dalam kamar mandi, tidak mendengarnya karena sedang terdiam mematung di depan cermin. Mataku membulat sempurna saat melihat pantulan tubuhku di cermin. Pandanganku semakin nanar saat aku menelusuri inci demi inci kulit putihku. "Bagaimana bisa oppa membuat tanda kemerahan hampir di sekujur tubuhku?" gumamku. Aku semakin tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Bahkan kedua pergelangan tanganku sedikit membiru akibat cengkramannya tadi.
Aku menangis lagi seorang diri. "Ini kotor!" kataku seorang diri. Aku menggosok-gosokan sabun dengan tanganku ke kulitku, berharap semua tanda merah itu menghilang. Bahkan berulang kali aku mengulangi mandiku, tapi tak satupun yang terhapus. Aku berteriak histeris. Lantas, tubuhku perlahan merosot ke lantai. Aku menangis sejadi-jadinya. Sungguh, sekarang aku merasa tubuhku sangat kotor.
Daehyun yang mendengar suaraku, langsung berlari masuk ke kamar mandi. Ia langsung mematikan guyuran air yang membasahiku. "Hei, kenapa sayang menangis?" tanyanya lembut yang langsung memelukku, tanpa peduli baju yang ia kenakan ikut basah terkena tubuh polosku yang diam di bawah shower. "Lepaskan!" bentakku seraya mendorongnya dengan keras hingga terjungkal. Setelah meraih handuk, aku langsung berjalan keluar dari kamar mandi sambil menutupi tubuhku dengan handuk tadi.
Daehyun melempar pisau di tangannya dan langsung memelukku. "Maafkan oppa. Oppa tidak tahu kalau sayang akan seperti ini," katanya merasa bersalah seraya mempererat pelukannya. "Sayang marah pada oppa? Ingin memukul oppa? Pukullah! Pukul oppa di mana pun sayang mau, tapi jangan seperti ini. Jangan membenci oppa, ya!" lanjutnya seraya memukulkan tanganku ke pipinya. Daehyun tampak khawatir melihatku. "Oppa jahat!" ucapku di sela-sela tangisanku dengan suara parau seraya memukul dadanya dengan pelan karena rasanya tenagaku sudah habis.
"Baiklah, oppa salah, oppa jahat, oppa brengsek, tapi oppa benar-benar mencintai sayang," lanjutnya seraya kembali memelukku dengan erat. "Jangan menangis lagi, ya? Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Berhentilah menangis! Percayalah, apapun yang terjadi, oppa akan bertanggung jawab. Sayang percaya pada oppa, bukan? Kita sudah bertunangan, suatu hari nanti kita juga pasti akan menikah," bujuknya dengan begitu lembut. Ia mengecup keningku dengan lembut setelah menyeka air mataku, lalu menatapku lembut dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Oppa mohon, jangan berpikiran macam-macam seperti tadi. Oppa mencintaimu."
__ADS_1
Melihat kesungguhan Daehyun, aku memeluknya, membuang diriku ke dalam pelukannya yang yang seperti danau yang sudah menenggelamkanku dan memendam suara tangisanku. Dalam diam, Daehyun terus memelukku hingga aku tenang. Tanpa ia sadari, aku pingsan di dalam pelukannya. Tubuhku dingin sedingin es karena terlalu lama mandi. Daehyun yang akhirnya menyadari aku diam tak bergerak pun langsung berusaha membangunkanku dengan berulang kali memanggilku.
Di bawah alam sadarku, aku bermimpi kejadian beberapa jam yang lalu saat Daehyun memaksaku, meskipun aku sendiri kehilangan kontrol karena berada di bawah obat yang ia berikan. Mimpinya yang dengan singkat aku datangi, karena aku kembali terbangun setelah mendengar suara Daehyun yang memanggilku dengan panik. "Air..." ucapku pelan, maksudku aku ingin membersihkan tubuhku lagi. Daehyun yang mengira aku membutuhkan air minum, bergegas mengambilkan aku air mineral yang tersedia di kamar ini. Selama ia melakukannya, aku bangun menuju kamar mandi. Seketika aku merasakan lagi nyeri di tubuhku. Nyeri yang seperti sudah menjadi momok rasa sakitku yang terasa seperti azab bagiku.
"Sayang?" panggil Daehyun bingung menatapku. Aku terus melangkah menuju kamar mandi. "Sayang!" panggilnya lagi dari tempatnya dengan lembut. Kali ini, aku menoleh ke arahnya. Daehyun memberikan senyumannya. "Kemarilah! Jangan memikirkan apapun! Jangan berniat melakukan apapun! Ada oppa di sini. Oppa tidak akan ke mana-mana. Kita akan selalu bersama-sama menghadapinya," katanya seraya merentangkan kedua tangannya. Daehyun tahu, ada yang aneh denganku sejak tadi, tapi ia tidak tahu apa. Yang ia tahu hanyalah semua ini karena dirinya dan hanya ini yang ia bisa lakukan untuk membujuk dan menenangkanku.
Melihat senyumannya yang begitu tulus, "Apakah aku kehilangan diriku? Atau apakah aku yang sudah meraih oppa?" racauku tanpa sadar tiba-tiba berlari ke arahnya, bahkan aku tidak peduli dengan nyeri yang aku rasa. Aku ingin memeluknya lagi, tapi ia malah menangkup wajahku dan memeriksa mataku. "Tatapannya kosong, tapi syukurlah masih ada wajahku di dalamnya," katanya dalam hatinya. Daehyun mengecup bibirku sebentar. "Setelah ini, apapun yang terjadi, oppa tidak akan meninggalkanku sendirian, bukan?" ucapku seraya memeluknya. "Seberapa takutnya sayang, oppa tinggalkan? Iya, oppa tidak akan pernah meninggalkan sayang," jawabnya.
"Tolong, jangan katakan apa pun. Apapun yang sayang takutkan, raihlah tangan oppa. Jangan berpikir, sayang sendirian menghadapinya," katanya seraya kembali menutup bibirku dengan bibirnya. "Pokoknya, oppa harus tanggung jawab karena sudah membuatku seperti ini!" rengekku. "Iya, oppa pasti tanggung jawab. Ke depannya, apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama dan oppa bersumpah, akan menikahi sayang," sahutnya. "Tenanglah! Bukankah pada akhirnya, kita akan menikah juga. Yakinlah, musim semi itu akan datang suatu hari nanti. Biarkan semuanya meleleh dan mengalir seadanya," lanjutnya seraya mengelus rambutku.
***
Sementara itu, Yongju semakin tidak tenang menunggu kabarku. "Beritahu aku bahwa suara hatiku ini tidaklah nyata," gumamnya. "Ada apa, hyung?" tanya Junghwa yang dari tadi melihat kegelisahan kakaknya itu. "Jam berapa sekarang?" tanya Yongju. Tapi belum sempat Junghwa menjawabnya, Yongju lebih dulu melihat jamnya sendiri. "Masih ada waktu sebelum pesawatku berangkat," katanya seraya bergegas mengambil kunci dan menarik kopernya. "Junghwa, bantu aku membawa koperku yang satunya. Lalu, antarkan aku!" katanya lagi. "Memangnya, hyung mau ke mana?" tanya Junghwa. "Kita harus mencari Hana," jawab Yongju sambil terus berjalan.
Junghwa pun bergegas menyusulnya setelah mengambil topi dan maskernya. "Memangnya, noona kenapa?" tanya Junghwa. "Entahlah, perasaanku tidak enak. Aku hanya ingin memastikannya sendiri kalau Hana baik-baik saja," jawab Yongju yang mulai mengemudikan mobilnya. Junghwa semakin bingung. "Kenapa harus kita? Bukankah noona sudah mempunyai tunangannya itu? Suruh saja Daehyun yang mencarinya, bukan kita. Lagipula, hyung sebentar lagi akan berangkat," gerutu Junghwa.
__ADS_1
"Jika aku tidak semestinya pergi, aku harus apa? Menunggu kabarnya dengan gelisah? Bagaimana kalau aku malah mengacaukan konserku sendiri karena tidak bisa konsentrasi gara-gara memikirkannya?" sahut Yongju. "Tapi kita mau mencari noona ke mana? Memangnya, hyung tahu di mana noona?" tanya Junghwa. Yongju diam karena memang tidak tahu harus mencariku ke mana. Junghwa memicingkan matanya melihat reaksi Yongju yang hanya diam. "Astaga, jangan bilang hyung sendiri tidak tahu di mana noona!" kata Junghwa. "Diamlah! Jangan menggangguku menyetir!" sahut Yongju. "Kalau begitu, cari saja noona di rumahnya!" kata Junghwa. "Hana tidak ada di rumah," sahut Yongju. "Hubungi bibi Lee!" kata Junghwa lagi. "Paman dan bibi sedang di Jepang dan tidak tahu Hana kemana," sahut Yongju lagi.
Tiba-tiba ada panggilan masuk di ponsel Yongju dari eomma. Yongju menerima panggilan itu, "Halo? Ada apa eomma?" ucap Yongju dengan loudspeaker. "Yongju, maaf, eomma baru ingat kalau hari ini Daehyun mengajak Hana ke resort appa-nya yang baru dibuka. Tadi eomma menghubungi Daehyun dan katanya, mereka masih di sana," kata eomma. Nyut! Tiba-tiba ada rasa sakit di hati Yongju saat mendengarnya, seiring kakinya yang menginjak rem mobilnya. Tapi bukannya tenang setelah mengetahui keberadaanku, Yongju semakin gelisah. "Ya Tuhan, beritahu aku jika rasa sakit ini bahkan tidak nyata. Sejak kapan mereka sedekat ini? Aku benar-benar ingin memisahkan mereka. Hal yang andai kata kulakukan sejak dulu," ucapnya dalam hatinya.