The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Merubah Good Girl Menjadi Bad Girl


__ADS_3

Aku membalas pelukan Daehyun, "I love you, too!" kataku. "Kalau boleh jujur, setelah mengenal sayang, oppa semakin merasa kalau selama ini, oppa adalah seorang pendosa," kata Daehyun pelan seiring pelukannya yang ia lepaskan. Daehyun beralih menggenggam kedua tanganku. "Oppa tidak pernah menganggap kalau oppa orang yang suci, tapi semenjak mengenal sayang, oppa merasa disucikan," katanya tertawa kecil dengan wajah tertunduk. Kemudian, ia menatapku lembut. "Oppa hanya ingin menjadi lebih baik lagi," katanya tersenyum lembut. "Karena setiap oppa melihat sayang, menyentuh sayang, memeluk sayang, oppa merasa jalan langit terbuka untuk kita," lanjutnya masih dengan senyum tampannya.


Aku tersenyum dan memeluknya. "Ya, itu juga yang aku rasakan dan itu juga yang membuatku ingin mengatakan, aku harap inilah takdir dan oppa-lah jodohku," kataku seraya menyandarkan kepalaku di dada Daehyun yang juga membalas pelukanku. "Hmm... Oppa suka cara sayang memeluk oppa. Sayang, peluk oppa terus dan jangan pernah lepaskan karena oppa tahu, pelukan ini terasa begitu suci dan tulus," katanya dengan suara rendahnya yang lembut. "Sampai-sampai membuatku ingin berlari ke altar seperti pembalap karena tidak sabar menunggu sedetik pun untuk menjadikanmu milikku di depan Tuhan," katanya dalam hatinya.


"Awalnya, aku belajar untuk menerima oppa, sampai aku benar-benar menyukai oppa. Lalu perlahan mulai mencintai oppa dengan tulus. Oppa, aku tidak terlalu bagus berakting dan aku juga tidak tahan dengan kepalsuan. Jadi, tolong jangan berubah," pintaku. "Tidak, tidak akan ada yang berubah. Kita akan seperti ini selamanya, sampai kita menikah, mempunyai anak, bahkan sampai menua bersama. Ayo, kita pergi sekarang?" katanya seraya berdiri. "Sebentar, aku ambil tasku dulu," kataku seraya mengambil baby blue sling bag milikku dan menyampirkan tali panjangnya ke bahuku. Sedangkan dari belakangku, Daehyun terus menatapku dengan tatapan hangatnya.


"Aku tidak percaya surga, tapi setiap waktu yang aku habiskan bersamamu terasa seperti surga dan cara kita mencintai di malam hari, memberikanku kehidupan surgawi yang tidak bisa aku jelaskan keindahannya," katanya dalam hati. "Kata mereka, kita terlalu muda untuk bertunangan, apalagi berencana menikah tahun depan. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan padamu untuk jangan terpesona padaku. Tidak, mereka salah karena kaulah yang sudah membuatku terpesona," lanjutnya seraya tersenyum kecil.


"Masa bodoh dengan orang-orang yang sok bijak yang mengatakan bodoh, jika aku terburu-buru menikahimu tahun depan. Tapi aku tidak tahu, aku hanya ingin memastikan kalau kau benar-benar milikku seumur hidupmu," katanya yang sudah menyusun semuanya dari awal. "Untungnya, aku sudah melewati langkah pertama untuk mengambil dan meyakinkan hati appa-mu. Mungkin itu hal yang paling sulit untuk aku lakukan, tapi semua jalan kita memang seperti diberi kemudahan," pikirnya seraya mengingat bagaimana ia bersusah payah meyakinkan appa-ku. "Sekarang aku percaya, hati kerasku sudah kau buat melunak dengan cintamu. Jadi, tunggu aku mengukuhkan ikatan kita malam ini! Akan aku berikan kau kepastian bahwa aku tidak akan pernah berubah" lanjutnya seraya menggandeng tanganku.


***


Sementara itu, di Korea, "Hana sedang pergi berlibur ke Singapura bersama Daehyun dan orang tuanya. Daehyun sudah meminta izin pada appa untuk melamarnya malam ini dan jika Hana menerimanya, mereka akan menikah segera setelah Hana lulus," kata appa pada Yongju yang datang berkunjung ke rumahku. Bagai dihujam ratusan pisau di hatinya saat Yongju mendengar perkataan appa itu. "Menikah?" katanya lirih dan terdengar pasrah.


Mengingat temperamen Yongju yang sering meledak, appa berusaha menenangkannya dengan berkata, "Yongju, hidup ini singkat. Nikmatilah hidupmu dan cari kebahagiaanmu juga. Bagaimana pun kau tidak bisa menembus tembok darah antara kau dan Hana! Hana juga sudah memilih Daehyun di sisinya. Sekarang, giliranmu untuk move on! Appa menyayangi kalian berdua dan appa ingin kalian berdua bahagia," lanjut appa. "Adikmu yang tomboi itu saja banyak disukai laki-laki, apalagi kau yang terkenal ini, pasti banyak gadis yang ingin mendekatimu. Bukalah hatimu untuk mereka. Kalau kau takut eomma marah, katakan saja appa yang menyuruh," kata appa.


Yongju hanya diam tanpa menyahut maupun membantah satu pun perkataan appa sampai ia pamit pulang dengan alasan pekerjaan, seperti biasa. Padahal hari ini, ia sedang off. Sepanjang jalan, ia tampak melamun. "Iya, banyak laki-laki yang menyukai Hana yang selalu datang menghampirinya seperti kumbang dan memujanya. Apa karena namanya Hana, menarik seperti bunga dan mudah diingat seperti sekuntum bunga yang mempesona? Ah, aku jadi merindukannya!" pikirnya. "Tapi mereka tidak melihat Hana seperti aku melihatnya. Aku ingin menjaga bunga itu, bukan memetiknya seperti mereka," gumamnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Yongju menekan klakson mobilnya dengan nyaring dan dilanjutkannya dengan memutar arah mobilnya setelah membanting setirnya saat sebuah mobil melintas di depannya dengan kecepatan tinggi. "Sialan!" umpat Yongju seraya keluar dari mobilnya dengan membanting keras pintu mobilnya. Ia memeriksa bagian depan mobilnya yang menabrak tiang listrik. Sedangkan mobil yang menjadi lawannya itu sudah melaju dan menghilang di ujung jalan. Untung Yongju sendiri tidak sedang dalam melajukan mobilnya saat kecelakaan tadi terjadi.


"Sial, kenapa semua jadi berantakan seperti ini!" umpat Yongju lagi seraya menendang ban mobilnya dengan kesal. Ia pun berniat menelpon manajernya untuk mengurus mobilnya yang rusak, tapi mengingat eomma yang pasti marah-marah padanya setelah mengetahui kecelakaan ini, ia pun mengurungkan niatnya. Ia beralih menghubungi appa dan menggunakan hak istimewanya sebagai tuan muda kedua keluarga Jeon, untuk meminta orang suruhan appa-nya saja yang membereskan masalah ini untuknya.


***


Kembali ke Singapura, aku dan Daehyun tengah menikmati keindahan kota Singapura dari atasĀ bumboat. Banyak landmark yang kami lewati, seperti Merlion Park, Cavenagh Bridge, Marina Bay Sands, dan masih banyak lagi. Kemudian, jalan-jalan berlanjut di theme park terbesar di Singapura, Universal Studio Sentosa Singapura. Di sini, kami bermain wahana, lalu menonton streets entertainment dan meet & great. "Ah, lelahnya jalan-jalan terus!" keluhku kelelahan setelah menjelajahi hampir semua wahana. Daehyun melepas topi yang aku kenakan dan menyeka keringatku dengan tisu yang ia ambil dari dalam tasku. Aku tersenyum manis dengan perlakuan manisnya itu.


"Ah, seandainya bisa naik itu juga!" tunjukku saat melihat anak kecil melintas di depanku dengan menggunakan motor mini berbentuk vespa. Daehyun menjitak kepalaku pelan, "mana muat!" Aku cemberut. "Nanti tidak mau lagi liburan ke taman bermain seperti ini, melelahkan! Lain kali main ke pantai saja!" kataku seperti anak kecil. "Memangnya, bisa berenang?" ledeknya. "Pergi ke pantai, tidak harus berenang, bukan? Main jetski, juga bisa!" sahutku. "Ya, sudah. Kalau mau, nanti oppa belikan vespa sungguhan. Kalau perlu, jetski juga untuk liburan kita nanti," katanya seraya mengelus kepalaku. "Kalau begitu, kita pulang saja. Istirahat di hotel dulu, baru lanjut lagi nanti malam," katanya seraya kembali menggandeng tanganku.


Ponsel Daehyun berdering, setelah melihat siapa yang menghubunginya, ia tampak ragu mengangkatnya. "Ada apa? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku bingung. Daehyun tersenyum hambar, lalu menerima panggilan itu di sampingku. "Hei bro, kemana saja kau? Jiwon juga. Kalian berdua menghilang seperti di telan bumi! Ayo, kumpul-kumpul lagi! Aku tahu tempat yang memiliki ganja terbaik. Bagaimana kalau kita pergi minggu depan?" kata orang yang menghubungi Daehyun. Sesaat Daehyun melirik ke arahku. Melihat reaksiku yang santai, ia yakin, aku tidak mendengar perkataan lawan bicaranya itu. "Maaf, tapi aku tidak memakainya lagi. Hubungi saja yang lain. Lagipula, aku sedang liburan di luar negeri. Soal Jiwon, aku juga tidak tahu dia sekarang di mana," kata Daehyun.


Sesampainya di kamar hotel, Daehyun langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur karena kelelahan juga. "Oppa, nanti malam pakai baju yang mana?" tanyaku seraya langsung membuka koperku. "Dress hitam," sahutnya dengan mata terpejam. "Dress? Yang ini, ya? Lalu pasangannya apa? Sepatu atau heels ini, ya?" tanyaku tanpa henti. "Sayang, itu nanti saja. Istirahatlah!" sahutnya. "Tidak. Aku hanya ingin menyiapkannya lebih dulu, baru tidur siang," sahutku, tapi tidak ada sahutan dari Daehyun. "Oppa sudah tidur?" tanyaku lagi dan Daehyun benar-benar tidak menjawabnya lagi.


Merasa diabaikan, aku iseng duduk di atas tubuh Daehyun. Sontak, Daehyun membuka matanya. "Apa sayang memancing oppa?" tanyanya seraya berusaha bangun dengan bertumpu pada kedua sikunya. "Tidak, hanya membangunkan oppa! Kalau mau tidur, kembalilah ke kamar oppa!" jawabku seraya beringsut turun dari tubuhnya dan beralih duduk membelakanginya dengan wajah cemberut. Daehyun pun bangun dan turun dari tempat tidur, lalu berdiri di belakangku. Aku pikir, Daehyun langsung ke kamarnya, tapi tiba-tiba saja, ia menarik leherku dari belakang, hingga kepalaku mendongak ke arahnya. Cup! Daehyun mencium bibirku dari posisi itu. Bahkan menahan leherku agar terus mendongak dan tidak bisa menghindarinya. "Hukuman karena sudah nakal membangunkan oppa! Sekarang istirahatlah! Nanti oppa jemput," katanya.


Setelahnya, Daehyun pergi begitu saja, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bukan ke kamarnya, tapi ke kamar orang tuanya. "Bagaimana, jadi melakukannya malam ini?" tanya Nyonya Kim pada putra semata wayangnya itu. "Lihat saja dulu!" jawab Daehyun seraya kembali merebahkan dirinya. Kali ini, di tempat tidur orang tuanya. "Kenapa lagi? Apa ada masalah? Bagaimana persiapannya?" tanya Nyonya Kim lagi. "Semua sudah beres," jawab Daehyun singkat. "Lantas?" tanya Nyonya Kim tidak mengerti. "Tidak ada masalah, eomma. Aku hanya tiba-tiba merasa gugup saja," jawab Daehyun. "Apa kau takut Hana menolaknya?" tanya Nyonya Kim.

__ADS_1


Daehyun hanya diam. "Kenapa harus takut? Eomma yakin, Hana pasti menerimanya. Jadi, semangatlah!" kata Nyonya Kim memberi semangat. "Bukan itu, eomma! Kataku, aku hanya gugup!" sahut Daehyun. "Tenanglah! Kau itu akan menjadi mempelai laki-laki, kau harus melakukannya dengan yakin saat meminta tangan mempelai wanitamu!" sela Tuan Kim seraya meletakan berkas-berkas perusahan yang sedang ia pelajari. "Hei, Kim Daehyun! Kau itu putra appa satu-satunya. Saat kau berkata ingin serius menikahi Hana, appa bangga padamu. Hana sudah banyak mengubahmu menjadi lebih baik dan appa yakin, Hana akan melihat hal yang istimewa itu, yaitu kesungguhanmu!" kata Tuan Kim.


***


Di Korea, tepatnya di apartemen Yongju, Junghwa meminta Yongju mencicipi camilan yang baru saja berhasil ia buat dengan bangga seperti ia baru saja mendapatkan piala Oscar. Yongju menatap Junghwa dengan tatapan yang sulit diartikan, tanpa mau menyambut piring yang Junghwa sodorkan padanya. "Sejak kapan kau bisa masak? Kau yakin, ini aman?" tanya Yongju ragu untuk mencicipinya. Junghwa tampak kesal dengan keningnya yang berkedut. "Kalau hyung tidak mau, ya sudah! Tadi aku sudah mencicipinya dan rasanya enak!" katanya seraya kembali menarik piring yang ia berikan.


Yongju pun dengan cepat merebut piring itu dari tangan Junghwa dan mencicipinya, "hmm, lumayan!" katanya dengan ekspresinya yang tetap datar. Junghwa memanyunkan bibir karena merasa hasil usahanya masih tidak dihargai. "Kalau tidak enak, katakan saja! Tidak usah memakannya dengan ekspresi menderita seperti itu!" kata Junghwa merajuk dan kembali merebut piringnya, tapi tangannya terhenti saat mendengar Yongju bergumam, "iya, hari ini aku menderita..."


"Ada apa lagi? Apa masalah mobil hyung tadi siang? Bukankah kata appa akan menggantinya dengan yang baru?" kata Junghwa. Yongju menghela nafasnya berat, lalu berkata dengan lirih, "Daehyun akan menikahi Hana setelah Hana lulus." Sekarang, giliran Junghwa yang menghela nafasnya berat, lalu berkata, "Mau sampai kapan hyung seperti ini? Yang seharusnya terjadi, biarlah terjadi. Hyung harus membersihkan perasaan hyung itu! Mungkin meresmikan hubungan mereka adalah jalan terbaik untuk kalian. Bukankah dengan begitu berarti Daehyun bisa dipercaya? Berarti dia tidak main-main dengan noona."


"Iya, aku tahu dan aku berharap Hana bahagia dengannya. Tapi kau juga tahu bukan, aku tetap tidak bisa meninggalkan Hana," sahut Yongju pasrah. Junghwa menghela nafas lagi, "dan seperti yang kita tahu, Tuhan juga tidak akan meninggal kita. Jika hyung percaya pada Tuhan, Tuhan juga akan percaya pada hyung. Jadi, biarkan Tuhan yang menuntun kebahagian untuk kita semua," sahut Junghwa.


***


Malam harinya, Daehyun menjemput di kamarku. Tunangan tampanku ini semakin berkilau dengan kemeja hitam dan celana hitam, plus sepatu hitamnya. Sedangkan aku memakai dress hitam yang serasi dengannya, sesuai dress code yang diharuskan, smart casual. Sesuai rencana, Daehyun membawaku naik bianglala raksasa yang menjadi salah satu tempat wisata terkenal di Singapura ini, Singapore Flyer Sky Dining. Daehyun memesan satu kapsul untuk kami berdua bersantap malam di atas roda ikonik ini, sepanjang dua rotasi selama satu jam.


Menikmati makan malam romantis dengan menu pilihan sambil menikmati pemandangan kota yang menawan, tapi ada yang aneh dari Daehyun malam ini. Sejak naik tadi, ia tampak lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya yang selalu menggodaku, tidak tahu waktu dan tidak tahu tempat. "Ada apa?" tanyaku seraya meletakan tanganku di atas tangannya yang ia letakan di atas meja. "Ah, tidak ada apa-apa. Kenapa?" tanyanya balik setelah terkejut mendengar pertanyaanku tadi. "Kenapa oppa dari tadi diam? Jangan katakan, kalau oppa takut ketinggian!" kataku menebak. "Tidak! Oppa tidak takut," sahutnya yang terdengar malas. "Tapi aku perhatikan sejak tadi, oppa sepertinya gugup!" kataku menatapnya curiga. Daehyun diam tidak menjawab. Tanpa aku tahu, satu tangannya yang berada di bawah meja, sedang menggenggam sebuah kotak kecil.

__ADS_1


Setelah menarik nafas panjang, Daehyun memberanikan dirinya untuk mengangkat tangannya itu. Namun, sebelum tangannya itu keluar dari balik meja, aku lebih dulu berdiri menghampirinya dan Daehyun pun kembali menyembunyikan kotak kecil itu ke dalam saku celananya. Daehyun yang sempat tegang, terdiam saat aku mengecup pipinya dan bibirnya, lalu dengan gemas menggosokkan hidungku ke hidungnya. "Selamat ulang tahun, oppa!" kataku seraya tersenyum cantik. Daehyun tersenyum, "belum jam 12!" katanya. Aku cemberut, "Itu karena oppa diam saja! Tidak asyik!" Lagi-lagi, Daehyun tersenyum, "kalau begitu, mana kadonya?" katanya seraya menengadahkan telapak tangannya ke arahku.


"Ck, katanya, tidak perlu kado!" sahutku manja. "Ah, tidak asyik!" balas Daehyun pura-pura cemberut. "Kata siapa, ya, mau menagih kadonya sendiri tengah malam nanti?" kataku seraya pura-pura tidak sengaja menyindirnya. Daehyun menatapku dengan alisnya yang nakal itu. "Wah, apa oppa sudah merubah gadis polos ini jadi nakal! Astaga, goodgirl oppa sekarang sudah jadi badgirl, rupanya! Tidak apa-apa, sih. Oppa suka! Asal jangan menjadi playgirl, apalagi fuckgirl! Cukup di depan oppa saja!" katanya seraya mencubit kedua pipiku dengan gemas.


__ADS_2