
"Yo, Yongju-ya!" panggil pelatih dance di agensi mereka seraya melambaikan tangannya, saat melihat sang rapper itu baru tiba di agensi mereka. "Yongju, kemarilah!" panggil pelatih itu sekali lagi karena merasa Yongju mengacuhkan panggilan pertamanya. "Mmm... Aku mentraktir semuanya makan. Kami sedang merayakan hari debut kami. Mmm... Bergabunglah bersama kami... hyung," kata Junghwa ragu-ragu, tanpa berani menatap mata Yongju yang sejak datang menatapnya dengan tajam.
"Hei, kenapa kau diam saja? Ayo, bergabung! Semua ini dari junior-mu. Kau harus menghargainya sebagai senior mereka," ajak sang pelatih seraya menarik Yongju agar bergabung duduk bersama mereka. "Nah, anak-anak, senior kalian ada di sini. Bukankah sebagai adik yang baik, kalian harus memperkenalkan diri?" kata sang pelatih dengan tersenyum pada semua member grup idol baru itu, termasuk Junghwa yang semakin serba salah di depan Yongju. Masing-masing member pun mulai memperkenalkan diri mereka secara resmi, dari nama, usia, kampung halaman sampai posisi masing-masing di dalam grup. Hingga sampai yang terakhir, giliran Junghwa yang memperkenalkan diri.
"Ayo, mulai!" adalah dua kata pertama yang keluar dari mulut Yongju yang sejak tadi hanya diam menyimak perkenalan para juniornya dengan setengah hati, bahkan ia mengatakannya dengan wajah yang sangat mengintimidasi. Dua kata itu, Yongju tujukan untuk Junghwa, setelah salah satu member berkata, "selain sebagai main vocalist, Junghwa juga sangat pandai melakukan rap. Sunbaenim, harus mendengarkan rap-nya karena anak ini sangat mengidolakan sunbaenim." Junghwa hanyar tersenyum kikuk. "Kenapa kau diam? Aku menyuruh kau untuk melakukan rap! Sekarang!" lanjut Yongju dengan atensinya yang tidak beralih sedikit pun dari wajah gugup Junghwa, bahkan Yongju bisa melihat dengan jelas keringat yang mulai membasahi wajah imut itu.
Setelah mendapat tatapan tajam yang sangat mengintimidasi dari Yongju yang seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup, ditambah serangan mendadak seperti ini, Junghwa hanya bisa beberapa kali mengerjapkan matanya dengan pikiran yang tiba-tiba kosong. "Ya Tuhan, apa ini? Kenapa kau melakukan rap seperti itu? Apa kau melakukan rap dengan bahasa batin, hah?" sarkas Yongju dengan tajam. Junghwa yang memiliki sifat kompetitif pun tidak mau kalah di depan sang kakak dan mulai melakukan rap yang memukau di depan mereka semua.
"Itu enak dan terdengar bagus. Cocok untuk para heaters. Benar bukan, Yongju?" kata manajer Yongju yang bertepuk tangan seraya menyikut pelan lengan Yongju. "Hei, berilah sedikit pujian! Jangan membuat mental juniormu drop!" bisik sang manajer. Namun, Yongju tidak melakukan yang seperti sang manajer itu suruh dan malah memilih berdiri dari duduknya. Dengan wajah datarnya, ia mulai melangkah mendekati Junghwa yang berdiri di depannya. "Apa? Apa yang dia katakan?" bisik beberapa member saat melihat kedua mata Junghwa yang membulat saat Yongju membisikan sesuatu di telinganya. Junghwa langsung menatap Yongju dengan wajah penuh tanda tanya, tapi Yongju langsung pergi begitu saja. "Sudah, sudah. Biarkan saja dia. Yongju memang seperti itu. Dia tidak main-main kalau membicarakan rap dan kalian tahu sendiri, dia yang terbaik. Kita lanjutkan saja makan-makannya. Junghwa, kemarilah! Jangan hanya berdiri di situ," kata seorang staff yang ada di sana.
***
Junghwa baru saja pulang dari agensi setelah latihan bersama member yang lain. "Aku tunggu kau di apartemenku! Kita harus bicara!" bisik Yongju siang tadi yang masih terngiang-ngiang di kepala Junghwa. Di waktu yang bersamaan ketika Junghwa datang ke apartemen Yongju, sesuai yang disuruh salah satu penerus keluarga Jeon itu, aku juga datang membawakan makanan atas perintah eomma. "Mau apa bocah itu datang ke sini juga?" gumam Daehyun saat melihat sosok Junghwa yang berpapasan dengan kami di area parkir. Aku memang tidak menceritakan pada Daehyun kalau Yongju dan Junghwa bersaudara. Aku hanya memberitahu Daehyun kalau mereka satu agensi.
"Mungkin, dia juga ingin menemui oppa. Tunggu aku di sini. Biar aku saja yang naik," kataku pada Daehyun yang disuruh eomma mengantarkan aku. Sedangkan Daehyun hanya menatapku tidak senang dan tidak mau melepaskan tanganku yang ditahannya. "Ayolah! Setelah mengantarkan ini pada oppa, aku akan langsung turun," bujukku dengan setengah merengek karena polah posesif Daehyun yang ia tunjukan lagi. "Dengan satu syarat!" sahutnya dengan gaya menyebalkannya. Aku menghela nafas jengah. "Apa?" tanyaku malas. "Panggil aku oppa juga!" jawabnya. Seketika saja bibirku mencibirnya dan membuat Daehyun menjadi kesal. "Bagaimanapun aku lebih tua darimu! Kalau kau tidak mau, titipkan saja pada bocah itu!" lanjutnya seraya menunjuk Junghwa yang menyapaku.
__ADS_1
Melihatnya, aku balas tersenyum. "Apa kau ingin menemui Yungju oppa?" tanyaku ramah pada Junghwa. "Ah, iya. Apa noona juga mau ke sana?" tanya Junghwa balik, "noona, mau pergi sama-sama?" ajak pemuda yang 2 tahun lebih muda dariku ini. Berawal dari cerita pertemuanku dengan Junghwa yang tidak terduga waktu itu, orang tuaku sudah menceritakan kalau Daehyun sebenarnya adalah tunanganku dan kejadian malam itu hanya kesalahpahaman saja.
"Kalau begitu, berikan ini pada Yongju!" kata Daehyun seraya meletakan kotak makanan itu di tangan Junghwa. "Oppa!" rengekku kesal dengan sikap bossy Daehyun itu. Sedangkan orang yang aku panggil langsung berbalik ke arahku dengan signature box smile miliknya karena sudah mengabulkan permintaan. Melihat wajahku yang cemberut, Daehyun bergegas mengambil kembali kotak makanan itu dari tangan Junghwa dan menyerahkannya padaku lagi sambil berkata, "oke, oppa tunggu di sini, tapi hanya 30 menit, tidak lebih! Jangan lama!"
Lagi-lagi, aku hanya menghela nafas menghadapi sifat Daehyun yang menurutku terkadang absurb, seraya mulai melangkahkan kakiku bersama Junghwa menuju tempat yang kami tuju. Sesampainya di depan pintu apartemen Yongju, aku langsung menekan password dan membuka pintu itu sambil berkata, "oppa, aku datang!", sedangkan Yongju yang tengah duduk di sofa hanya bisa terkejut melihat kedatanganku sambil berkata, "Hana?" dan langsung menghampiriku, "kenapa kau ke sini? Bukankah kemarin kau yang meminta kita untuk jaga jarak?" tanyanya.
"Tunggu dulu!" kataku seraya berbalik memperhatikan dua pemuda yang berdiri berdampingan di depanku. "Astaga, kalau diperhatikan sedekat ini, ternyata kalian memang mirip. Andai media tahu, berita ini pasti menjadi viral, apalagi kau benar-benar "hot stuff". Selamat, ya untuk debutnya! Kalian keren!" kataku seraya meninju pelan dada Junghwa yang langsung tersenyum manis. Sedangkan Yongju dengan kesal mengejek, "Hot stuff? Pakai bahasa Korea saja! Aku tidak mengerti bahasa Inggris!" dan membuat senyum manis Junghwa berubah jadi senyum kikuk.
"Aku malah takut, kalau aku tidak memakai bahasa Inggris, dia tidak akan mengerti. Hey, kau lama tinggal di luar negeri, bukan? Appa bilang, kalau kalian sekeluarga tinggal di Beverly Hills," tanyaku pada Junghwa. Yongju yang baru tahu pun menatap adiknya itu. "Iya, tapi aku lahir di Seoul. Aku juga punya pemikiran ala Seoul dan aku belajar bahasa Korea dengan baik. Jadi, noona bisa bicara dengan bahasa Korea saja. Tapi, aku juga bisa berbahasa Jepang karena kakekku juga dari Jepang," jawab Junghwa sopan dengan sedikit malu-malu. "Wah, lihatlah sikap sopan tuan muda keluarga Jeon yang sangat dihormati ini!" sahutku sambil menyiapkan makanan di atas meja. Aku sengaja menyindir Yongju yang memiliki kelakuan kebalikan dari adiknya itu dan membuat Yongju sampai ternganga mendengar sindiran yang ditujukan untuknya itu.
"Junghwa, apa kau sudah makan? Eomma memintaku mengantarkan bimbimbap buatannya ke sini. Ini bimbimbap yang terbaik. Kau harus mencobanya!" ucapku seraya menyuruh Junghwa duduk bersama Yongju di meja makan. Kemudian, saat Yongju ingin memasukan suapan keduanya ke mulutnya, aku berkata, "kalian makan lah. Aku akan langsung pulang. Oppa, jangan galak-galak dan kau Junghwa, makan lah yang banyak," ucapku seraya tersenyum cantik sambil mengelus lembut kepala Junghwa. Aku memperlakukannya seperti seorang adik kesayangan yang tidak pernah aku miliki, sedangkan Junghwa membeku dengan jantung yang memacu saat menerima perlakuanku. "Cantiknya!" pikirnya saat itu.
"Apa kau datang dengan bocah sialan itu?" tanya Yongju tiba-tiba. Aku tercengang sambil bergumam, "astaga, dasar cenayang! Aku bahkan belum mengatakan apa-apa!" sambil memandang Yongju dengan tatapan tidak percaya. "Jadi, benar kau pergi dengan tunanganmu itu?" tanyanya yang tampak kesal. "Eomma yang menyuruhnya mengantarku," jawabku. "Lalu, kenapa dia tidak naik? Di mana dia sekarang?" tanya Yongju lagi. "Suruh saja dia pulang! Biar oppa yang akan mengantarmu pulang," lanjutnya sebelum aku menjawab pertanyaannya tadi.
"Kenapa kalian terus bertengkar? Lama-lama, kalian berdua sama-sama menyebalkan!" gerutuku seraya pergi begitu saja. "Hei, Lee Hana!" panggil Yongju. Yongju bergegas bangun untuk mengejarku, tapi aku sudah menghilang di balik pintu apartemennya, sedangkan Junghwa hanya diam sebagai penonton. "Sial!" umpat Yongju. "Kalau hyung ingin mengejar noona, pergi saja. Aku tidak apa-apa. Tidak perlu memikirkan aku. Aku akan menunggu hyung di sini," kata Junghwa yang merasa tidak enak. "Tidak. Kalau aku mengejarnya, dia pasti tambah marah," sahut Yongju seraya kembali duduk dan melanjutkan makannya. "Makanlah!" lanjut Yongju saat ia melirik Junghwa yang hanya diam menatap makanan di depannya.
__ADS_1
Sejenak keheningan terasa menyelimuti apartemen ini, hanya ada denting sendok dan mangkuk yang saling beradu yang terdengar, sampai Yongju mulai bertanya, "Apa kau menganggapku, hyung-mu?" Junghwa menghentikan aktivitas makannya. Sepasang mata bulatnya, menatap lekat Yongju. "Tentu saja karena hyung memang hyung-ku," jawabnya dengan seutas senyum di wajah imutnya. Deg! Ada perasaan hangat yang menjalar di hati Yongju saat melihat senyum tulus di wajah Junghwa. "Bagaimana kalau aku bukan hyung-mu?" tanya Yongju pelan seraya memainkan sendok makannya.
"Tidak. Aku sangat yakin, hyung adalah hyung-ku. Kalaupun bukan, hyung akan tetap menjadi hyung-ku karena aku mengidolakan hyung," jawab Junghwa polos dengan sebuah senyum dan dua gigi kelinci khas miliknya. Dengan pelan, kedua ujung bibir Yongju tertarik saat perasaan hangat itu kembali menyentuh hatinya, tapi ujung bibir itu kembali turun saat Junghwa berkata, "Jadi... apa hyung sudah memaafkan appa?" dengan ragu. "Apa yang kau katakan? Memangnya dia salah apa, jadi aku harus memaafkannya?" sahut Yongju. Sejenak Junghwa diam, lalu kembali bertanya dengan ragu, "apa hyung tidak mau pulang?" Yongju sempat terdiam, "Pulang? Kemana? Ini rumahku dan bukankah sekarang aku sudah pulang ke rumahku?" jawabnya seraya tersenyum getir. "Maksudku, ikut denganku pulang menemui appa. Di sana juga ada eomma-ku dan nenek kita," sahut Junghwa.
Melihat Yongju yang terdiam sekali lagi, Junghwa kembali berkata, "Keluarga Jeon kita adalah tempat berbagi. Seojun hyung selama ini juga tinggal bersama eomma-nya di Korea, hanya sesekali hyung berlibur di Washington dan selalu diterima dengan baik di keluarga Jeon kapan pun ia datang. Bukankah appa sudah mengatakannya, walaupun kita bertiga lahir dari ibu yang berbeda, tapi sejak kecil eomma-ku sudah menganggap Seojun hyung seperti anak kandungnya sendiri? Begitu pula, Seojun hyung yang dekat dengan eomma-ku seperti eomma-nya sendiri?" lanjutnya. "Benarkah?" ucap Yongju seraya tersenyum kecil menanggapi cerita adiknya itu. "Kalau hyung tidak percaya, kenapa hyung tidak datang dan melihatnya sendiri? Eomma dan nenek pasti senang bertemu dengan hyung," ucap Junghwa lagi. "Lupakan saja! Aku orang yang terbiasa hidup sendiri dan di sini lah rumahku," kata Yongju seraya merentangkan kedua tangannya.
Sesaat Junghwa hanya diam memperhatikan hyung-nya, kemudian bertanya, "lalu apa hyung sudah menerimaku sebagai adik hyung?" Yongju menarik kembali tangannya dan melipatnya di depan dadanya. "Kalau tidak, apa bocah sepertimu akan menangis?" tanyanya seraya meledek Junghwa yang sontak memanyunkan bibirnya cemberut. Yongju terkekeh kecil melihat tingkah Junghwa yang masih kekanak-kanakan itu. "Iya. Iya, kau adikku. Jangan menangis di apartemenku! Tapi untuk yang lainnya, aku masih perlu waktu untuk menjernihkan pikiranku," kata Yongju.
Entah bagaimana terjadinya, hingga dua kakak beradik itu terlibat percakapan yang panjang. Sampai Junghwa berniat kembali pulang ke dorm, tapi sebelumnya Junghwa bertanya, "hyung, boleh kita berfoto bersama? Aku mau mengirimkannya pada eomma dan nenek." Dengan terpaksa Yongju pun mengiyakan permintaan adiknya itu, tapi saat Junghwa mengeluarkan ponselnya, baterainya ternyata habis. Mereka pun mengambil foto menggunakan ponsel milik Yongju.
Setelah mengambil beberapa foto, Junghwa melihat wallpaper di ponsel Yongju. "Apa ini foto hyung dan noona saat kecil?" tanya Junghwa seraya tersenyum melihat foto itu. "Iya. Kenapa?" sahut Yongju. "Ternyata, noona memang sudah cantik sejak kecil..." gumam Junghwa sambil senyum-senyum. "Sayang, noona sudah punya tunangan," lanjut Junghwa seraya menyerahkan kembali ponsel itu Yongju. "Memangnya, kenapa kalau Hana belum tunangan?" tanya Yongju yang tiba-tiba merasa curiga pada Junghwa. "Mungkin aku akan mendekatinya," jawab Junghwa polos dan membuat Yongku seketika terdiam mendengarnya.
"Baiklah, aku akan jujur sejujur-jujurnya. Sejak melihat noona, entah kenapa aku sudah merasa sangat familiar. Aku juga tidak tahu, kenapa setiap bicara dengan noona, aku merasa senang. Itu yang sejujurnya," lanjut Junghwa seraya tersenyum malu-malu. "Tidak boleh!" bentak Yongju tiba-tiba. "Kenapa? Apa karena noona adik hyung? Bukankah aku juga adik hyung?" sahut Junghwa dengan wajah cemberutnya. Lagi-lagi, Yongju terdiam karena tidak mungkin baginya untuk jujur mengatakan alasannya melarang Junghwa mendekatiku.
"Jangan bilang, hyung takut kalau noona jatuh cinta pada adikmu ini?" kata Junghwa seraya tertawa. Sebuah senyuman remeh terukir di wajah Yongju, "Kalau kau bisa membuatnya jatuh cinta, aku akan memberikannya padamu!" tantangnya meremehkan perkataannya sendiri. "Serius?" tanya Junghwa seraya memicingkan kedua matanya. "Aku tidak akan mengatakan sesuatu untuk kedua kalinya!" sahut Yongju tidak mau kalah dengan adik yang empat tahun lebih muda darinya itu. "Kalau begitu, suatu hari nanti aku akan membuat noona jatuh cinta padaku!" sahut Junghwa yang juga tidak mau kalah. "Ya, iya. Kalau begitu, aku akan mengatakan, tolong jaga adikku untukku!" sahut Yongju ketus, tapi selanjutnya mereka berdua tertawa bersama.
__ADS_1
"Apakah dia benar-benar adikku? Apa kau tahu perasaan hyung-mu ini? Bukankah ini buruk, kami sama-sama menyukai Hana? Bagaimana bisa kita baru bersama dan sudah akan memperebutkan wanita yang sama? Gadis bodoh itu saja sudah punya tunangan!" pikir Yongju saat Junghwa akhirnya, pamit pulang. "Jadi, apa aku baik-baik saja dengan ini. Aku sudah menyukaimu sejak umur antara delapan atau sembilan tahun. Aku hanya perlu sekali lagi untuk memastikan perasaanmu padaku. Aku benar-benar menyukaimu," gumam Yongju seraya menatap layar ponselnya. "Ini mungkin membuatku sedikit bergidik, tapi harus aku akui, aku adalah idola yang akan membuat para gadis di luar sana menangis, tapi aku malah sudah menangis hanya karena satu gadis, karena pertunanganmu! Ini luar biasa! Lee Hana, kita memang harus membicarakan ini sekali lagi," lanjutnya.