The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Persahabatan Tenggelam Karena Terjebak Kata Cinta


__ADS_3

Sementara di rumah Daehyun, Namgil tengah duduk santai di ruang keluarga sambil menonton TV, membiarkan Jiwon membereskan barang-barangnya seorang diri di kamarnya karena Namgil tahu, sahabatnya itu perlu waktu untuk berpikir. Kebetulan sekali paman, bibi dan adik sepupunya itu sedang tidak ada di rumah. Jadi, ia bisa leluasa seperti biasanya di kediaman pamannya itu, tanpa ada yang tahu perkelahian mereka bertiga dan tanpa ia harus menjelaskan alasan Jiwon pergi dari rumah itu.


Di kamarnya, Jiwon sudah hampir selesai memilih beberapa barang yang dirasanya perlu dibawa serta pergi bersamanya, dari tempat yang sudah sepuluh tahun ini ia sebut rumah, meskipun hanya berupa sebuah kamar berukuran kecil di deretan kamar para pelayan. memasukan semua barang yang ia perlukan ke dalam tas ransel besar miliknya. Lantas, saat tangannya memasukan buku tabungan miliknya, ia kembali mengeluarkannya dari tas, lalu membuka buku itu. "Semoga ini cukup," ucapnya penuh harap.


Selama ini, Daehyun memang selalu memenuhi kebutuhan Jiwon sehari-hari. Bahkan Daehyun memberikannya dengan berlebih, meskipun selalu memberikannya dengan sikapnya yang terkadang merendahkan Jiwon. Selain tempat tinggal dan uang bulanan, Jiwon juga sering mendapat barang baru atau barang bekas Daehyun yang selalu ia terima dengan tersenyum, tanpa pernah berani menolak pemberian tuan mudanya itu. Dan sisa uang jajannya, selalu ia sisihkan untuk ditabung.


Jiwon memang berencana untuk tidak selamanya bergantung dengan keluarga Kim itu. Ia sadar, sudah banyak yang ia terima dari keluarga itu. Disekolahkan hingga lulus saja, ia sudah sangat bersyukur. Makanya, ia tidak pernah berharap untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Jiwon malah bermimpi bisa memiliki usaha sendiri setelah ia lulus sekolah, yang bisa menjadi jaminan untuknya memulai hidup mandiri, lepas dari bayang-bayang nama keluarga Kim.


Untuk itu, Jiwon memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal, terutama surat kepemilikan sebuah rumah di kampung halamannya beserta kuncinya yang terlihat sedikit berkarat, yang selama ini ia simpan dengan baik. Rumah peninggalan almarhum kedua orangtuanya. "Sudah 10 tahun, aku tidak pernah ke sana. Apa masih bisa ditinggali? Jangan-jangan sudah rusak," gumamnya seraya tersenyum dengan air mata yang menetes karena tiba-tiba, ia teringat kedua orangtunya.


Hanya sebentar, Jiwon langsung menyapu air matanya. "Ini bukan saatnya aku menangis!" pikirnya dan kembali melanjutkan kegiatannya. Satu persatu pakaian, ia masukan ke dalam tasnya, tapi bukan yang terbaik dari isi lemarinya itu. Ia malah hanya mengambil yang paling murah dan biasa dari isi lemarinya itu, yaitu pakaian yang ia beli sendiri dengan uang jajannya, bukan pakaian pemberian Daehyun yang selalu bermerk dan mahal tentunya. Tak lupa, Jiwon memeriksa isi lacinya untuk memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal karena tidak mungkin ia punya muka jika harus kembali ke rumah ini untuk mengambilnya.


Entah kenapa, Jiwon tiba-tiba saja teringat perkataanku. "Apa orang-orang sampai melihat label yang ada pada baju kita untuk memastikan berapa harga baju yang kita pakai? Tidak, bukan? Murah atau mahal, asli atau palsu, apa mereka bisa memastikannya dengan sekali lihat? Belum tentu!" Ia tersenyum mengingatku yang saat itu menghiburnya, sebelum tangannya melanjutkan lagi pergerakannya. Kemudian, ia terpaku saat tangannya menemukan sebuah kotak di sudut salah satu lacinya.


Sebuah kotak dengan gelang emas sederhana, tapi elegan di dalamnya yang Jiwon belikan untuk Sooyun saat ia menemani Daehyun mencari hadiah ulang tahun untukku beberapa hari yang lalu. Bukan gelang yang mahal seperti yang Daehyun belikan untukku, tapi baginya sendiri, itu pun sudah di batas kemampuannya. "Bahkan aku hampir menghabiskan seluruh uang tabunganku untukmu!" gumamnya seraya menggenggam gelang itu.

__ADS_1


Jiwon mengeluarkan ponselnya, menekan setiap angka yang merujuk ke Sooyun, sang gadis pujaan. Panggilan demi panggilan yang ia lakukan, tapi tak kunjung dijawab oleh Sooyun, sampai akhirnya ia menyerah dan melempar ponselnya dengan kesal hingga layarnya mati. Begitu pula, gelang di tangannya yang ia lempar ke sembarang arah. "Kenapa kau sejahat ini padaku? Kemana saat-saat manis kita selama ini hilang? Sayang, katakan semua ini salah!" katanya yang terduduk di lantai. Ia menyandarkan punggungnya di dinding kamarnya yang terasa dingin, sambil menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit kamar yang seolah menertawakannya malam ini. "Di mana rencana-rencana kita berdua dulu? Kenapa kau selalu membohongiku? Tidak bisakah sekali saja kau melihatku, bukan Daehyun?" ucapnya frustasi seorang diri menerima kenyataan bahwa Sooyun tak lagi di sampingnya.


Beberapa saat kemudian, Jiwon keluar dengan tas di bahunya. "Sudah selesai?" tanya Namgil seraya bangun dari duduknya. Jiwon mengangguk tanpa semangat dengan kedua mata yang tampak sembab. "Kalau begitu, aku kita pergi!" ajak Namgil. "Perlu aku bantu?" tawarnya seraya mengulurkan tangannya saat melihat satu tas lainnya yang tengah Jiwon tenteng, selain tas yang sahabatnya itu sampirkan di bahunya. "Tidak perlu. Ini tidak berat. Aku masih bisa membawanya sendiri," tolak Jiwon. "Oke!" sahut Namgil yang lebih dulu melangkah.


"Tunggu sebentar, hyung!" ucap Jiwon yang memutar arah, lalu memanggil seorang pelayan di rumah itu. "Bi, kalau tuan dan nyonya sudah kembali, tolong berikan surat ini pada mereka," kata Jiwon seraya menyerahkan sebuah surat yang baru saja ia tulis pada pelayan itu. "Ada apa? Kau mau ke mana malam-malam begini dengan tas sebesar itu?" tanya sang pelayan. "Jiwon akan pergi berlibur denganku, Bi. Jadi, sampaikan saja seperti itu pada paman dan bibi nanti," sahut Namgil menolong Jiwon berbohong. Karena yang bicara adalah tuan muda Kim yang lain, pelayan itu pun percaya. Jiwon dan Namgil pun berjalan keluar rumah itu. "Kau yakin?" tanya Namgil saat melihat Jiwon yang tampak melangkah dengan berat. Jiwon mengangguk, membalik badannya untuk melihat rumah mewah penuh kenangan itu sekali lagi, lalu berkata, "Ayo, kita pergi dari sini!" seraya menepuk bahu Namgil dan melangkah lebih dulu menuju mobil Namgil.


Namun, saat sampai di depan mobil Namgil, "Hmm... hyung, ponselku terjatuh saat aku beres-beres tadi," kata Jiwon seraya menunjukan ponselnya yang rusak. Namgil yang melihatnya, mengernyitkan keningnya. "Ck, terjatuh atau kau lemparkan?" katanya. "Hehehe... Bisakah aku meminjam ponsel hyung sebentar? Nanti aku bayar!" tanya Jiwon lagi-lagi berusaha mencairkan suasana dengan candaannya yang terdengar garing. "Memangnya, kau pikir ponselku telepon umum, ini!" sahut Namgil yang langsung menyerahkan ponselnya pada Jiwon yang tampak cengengesan.


Setelah menyambut ponsel itu, Jiwon menekan ikon kontak, lalu mulai memasukan deretan nomor di layarnya. Sekali lagi, Jiwon mencoba menghubungi Sooyun dengan nomor yang bukan miliknya. Ia sengaja melakukannya karena ingin tahu, apakah Sooyun akan menerima atau tidak panggilan yang bukan dari nomornya. Kali ini, ia berharap Sooyun pun tidak menerimanya. Tut... tut... tut... Sampai nada sambung berhenti berbunyi, panggilannya tak kunjung diangkat sang penerima panggilan. Tidak hanya sekali, ia masih mencoba untuk menghubungi nomor yang sama dan hampir diakhir nada sambung, Sooyun mengangkatnya.


"Halo? Ada apa Namgil oppa?" sahut Sooyun di seberang sana dengan nada manjanya, seolah tidak terjadi apa-apa. Tut... tut... tut... Jiwon langsung mematikan panggilannya dan mengembalikan ponsel itu pada Namgil. Namgil melihat riwayat panggilan tanpa nama yang Jiwon lakukan barusan dan yakin kalau nomor itu milik Sooyun. "Untuk apa lagi kau menghubunginya? Mulai hari ini, lupakan mereka bertiga karena kita berdua sudah dibuang!" katanya sadis.


"Atau mungkin kau bisa membuat Sooyun kembali padamu, kalau kau masih mau! Mungkin saja kisah cintamu akan happy ending seperti cerita dongeng! Siapa yang tahu!" lanjut Namgil ragu seraya mengangkat kedua bahunya. Jiwon tersenyum hambar menanggapinya. "Hyung, seandainya akhir cerita ala dongeng memang ada, sekarang Sooyun pasti masih dalam pelukanku setelah dicampakan Daehyun, tapi semua dongeng itu hanya omong kosong!" katanya. "Lagipula, setelah yang Sooyun lakukan dengan Daehyun, kalau aku dengar kata cinta lagi dari bibirnya itu, aku pasti akan muntah!" lanjut Jiwon seraya menunjukan senyuman perihnya dengan mata yang terluka. "Hahaha... Kau benar. Kita muntahkan saja gadis-gadis seperti mereka!" sahut Namgil yang sama terlukanya.


"Ah, iya! Ponselmu rusak, bukan? Tunggu sebentar!" lanjut Namgil seraya mengambil sesuatu dari dalam mobilnya. "Ini, ponsel lamaku. Kebetulan, tadi siang aku membeli ponsel baru. Kau saja yang pakai," katanya seraya menyerahkan ponsel lamanya itu pada Jiwon. "Serius? Ini mahal, loh!" kata Jiwon enggan. "Jangan menolak! Ambil saja!" kata Namgil. "Baiklah, terima kasih, tapi aku berencana ingin mengganti nomorku. Jadi, Sooyun dan Daehyun tidak akan pernah bisa menghubungiku," kata Jiwon. "Benarkah kau mau seperti itu?" tanya Namgil.

__ADS_1


"Tunggu! Aku rasa, tadi aku mendapatkan bonus nomor baru saat membeli ponsel baruku. Coba kau periksa di dalam paper bag itu," kata Namgil lagi seraya menunjuk paper bag berisi ponsel itu. "Ah, iya, ada. Boleh aku yang pakai?" kata Jiwon. "Pakailah. Lagipula, aku tidak membutuhkannya," jawab Namgil. "Sini, masukkan dulu nomor itu ke ponselku," lanjutnya. "Selesai. Ini," katanya lagi seraya menyerahkan kembali ponsel itu pada Jiwon. Jiwon pun memasukannya kembali ke paper bag, tapi atensinya terfokus pada benda berwarna coklat muda yang sedikit terselip keluar dari kotak ponsel lama Namgil itu.


Perlahan, Jiwon menarik benda berbentuk lembaran itu. "Uang?" tanyanya seraya menatap Namgil. Ternyata, selama Jiwon di kamarnya, Namgil sudah berencana memberikan ponsel lamanya itu pada Jiwon. Ia juga sengaja menyembunyikan beberapa lembar uang dengan nominal 50.000 won di dalamnya, mengingat keinginan sahabatnya itu yang Jiwon utarakan saat di perjalanan. "Mumpung seperti ini dan sudah tidak sekolah, besok aku ingin pergi ke kampung halaman orang tuaku," kata Jiwon saat itu dan Namgil hanya menyahut dalam hatinya, "Alasan! Aku tahu, kau pasti ingin pergi dari kota ini."


"Terima saja! Kau pasti butuh itu untuk perjalananmu besok, tapi hanya itu yang aku punya di dalam dompet. Lagipula, kalau aku berikan salah satu kartuku, kau pasti menolaknya juga seperti tadi," kata Namgil. "Tapi sekali lagi, aku ingin kau meyakinkan hatimu. Apa kau sudah yakin ingin pergi? Tapi kalau memang itu yang kau mau, pergilah! Aku tidak akan mencegahmu, tapi ingat masih ada aku di sini! Kau bisa menghubungiku kapan saja," lanjut Namgil seraya tersenyum hangat pada Jiwon.


"Iya, aku sudah yakin. Aku rasa, sudah waktunya aku belajar mandiri," jawab Jiwon yakin. "Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Aku juga yakin, kau pasti bisa mengatasi masalah ini," ucap Namgil seraya menepuk bahu Jiwon. "Baiklah, terima kasih untuk bekalnya. Akan aku habiskan semua uang ini sambil mengingat hyung, " kata Jiwon seraya memasukan kembali yang uang yang Namgil berikan. Jiwon menghela nafas panjang, "Saat kalian duduk di bangku kuliah, aku akan memulai hidupku dari nol. Berusaha dari bawah, tempat di mana aku seharusnya berada dan aku akan kembali saat aku sudah berhasil membuat kalian kagum," tekadnya dalam hati.


Deh! Mobil Daehyun sampai di rumahnya saat Namgil dan Jiwon berniat pergi dari rumah itu. Dari dalam mobilnya, Daehyun melihat Jiwon yang memasukan tas besarnya di bagasi mobil Namgil. Ia pun bergegas turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Jiwon dan Namgil. "Mau kemana kau?" tanyanya tanpa basa basi pada Jiwon. "Kenapa diam? Jawab! Mau pergi kemana kau dengan tas itu?" bentaknya. Jiwon tidak menggubris pertanyaannya sama sekali, bahkan langsung membuka pintu mobil Namgil, sedangkan Namgil memilih lebih dulu masuk ke dalam mobilnya daripada harus ribut lagi dengan adik sepupunya itu.


"Kau serius ingin pergi?" tanya Daehyun yang menurunkan suaranya, tapi saat pertanyaannya lagi-lagi tidak dijawab Jiwon, ia kembali menaikan suaranya, "Kalau kau pergi, jangan kembali besok karena kau lupa sudah membuatku marah hari ini! Lalu, kenapa tidak memakai mobilku saja! Kenapa harus dengan Namgil? Tadi juga aku memberimu kartu, tapi kau buang begitu saja. Memangnya, kau punya peluang apa hidup sendirian? Jangan kau harap kau akan baik-baik saja di luar sana!" bentaknya yang marah-marah.


Rahang Jiwon mengeras mendengar Daehyun yang datang-datang langsung mengomelinya. "Peluang atau apapun yang kau sebut, itu tidak ada hubungan denganmu! Aku tak berharap kau peduli!" katanya seraya menatap tajam Daehyun. "Aku katakan lagi, dengan semua yang sudah kau dan Sooyun lakukan di belakangku, persahabatan kita sudah berakhir! Dan aku tidak membutuhkan namamu dalam hidupku!" lanjut Jiwon dengan dinginnya.


"Bicara apa kau?" kata Daehyun yang tidak mau mendengar perkataan orang lain yang tidak ingin dia terima. "Kau hanya sedang kacau sekarang! Jadi, kembalilah ke kamarmu sekarang! Aku lelah. Aku mau tidur," katanya menghindar. "Kau boleh menyebut aku sedang kacau karena betapa memalukannya terpilih menjadi sahabat di antara hubunganmu dan Sooyun! Kim Daehyun, kau bermain sungguh bagus sebagai sahabat yang berkhianat, tapi nanti kau pasti kalah di saat-saat terakhir!" sahut Jiwon dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


Daehyun menatap tajam Jiwon. Ingin sekali rasanya, ia meninju wajah sahabatnya itu, tapi ia tidak ingin memperkeruh suasana. Jadi, ia hanya diam menahannya. Sedangkan Namgil hanya mengamati dari balik kaca mobilnya. "Jadi, sekarang kau bicara tentang siapa yang selalu ada sebagai sahabatmu? Memangnya, apa yang mungkin bisa kau lihat selama ini, sahabat? Tapi menyedihkan karena semua sudah berakhir seperti yang kau katakan tadi!" kata Daehyun yang juga berubah dingin.


Dari tempatnya berdiri, Daehyun menyuruh sekuritinya membuka pintu pagar rumahnya. "Pergilah! Dapatkan apa yang kau cari di luar sana. Mungkin seorang sahabat! Lalu, tanyakan pada dirimu sendiri, siapa yang kau inginkan sampai kau bisa pergi dan membawa omong kosongmu itu dari sini!" usir Daehyun yang langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Jiwon dan Namgil yang juga pergi dari rumah mewah itu. Kini Daehyun sendiri, menyia-nyiakan hari-harinya bersama Jiwon selama ini. Ia sendiri yang memadamkan kehangatan di antara ketiganya. Kini, persahabatan ketiganya sudah lumpuh. Terjebak saat ketiganya menyebut kata cinta, yang tanpa mereka duga menenggelamkan persahabatan mereka.


__ADS_2