The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Benar-benar Mencurigakan


__ADS_3

‌Yongju sempat berhenti nafas karena pendarahan parah yang ia alami. Oleh karena itu, Junghwa menghubungiku saat itu, langsung dari dalam taksi. Padahal mereka sudah sampai di depan rumah sakit terdekat. Junghwa memang memberitahuku bahwa Yongju telah tiada. Namun beberapa saat setelah mengakhiri sambungan telepon itu, Yongju tiba-tiba bernafas kembali setelah terbatuk dan memuntahkan darah yang tampak mulai menggumpal. Junghwa yang sempat terdiam dengan ketidakpercayaannya pun bergegas berlari membawa kakaknya itu ke ruang emergency. Yongju pun langsung ditangani oleh dokter dan perawat di sana.


‌Junghwa yang juga tampak sedikit bernyawa, langsung menghubungi ayahnya dan memberitahukan keberadaannya. Ia juga menghubungi Hyunwo untuk mencari aku di tempat kejadian dan menyusulnya ke rumah sakit. Tak berselang lama, Tuan Jeon datang. "Dokter, bagaimana kondisi Yongju sekarang? Apa dia terluka parah?" tanya Tuan Jeon pada dokter yang sedang berbicara dengan Junghwa. "Saya ayahnya," lanjutnya saat melihat dokter itu tampak ragu menjawabnya. "Korban masih bisa diselamatkan. Meskipun masih kritis tanpa harapan yang banyak, kami akan berusaha yang terbaik," kata dokter itu.


Dokter itu mengatakan pula kepada Tuan Jeon dan Junghwa bahwa mereka harus melakukan operasi karena paru-paru Yongju terluka. Operasi itu harus dilakukan dengan melukai leher Yongju dan itu berarti akhir dari karir bernyanyinya. Dan tidak bisa untuk dilakukan dengan cara lain. Mendengarnya, Junghwa terdiam. Ia yakin bahwa kakaknya itu pasti lebih baik memilih mati dari pada tidak bisa bernyanyi lagi. Tapi bagi Jeon Sungjin, yang baru saja mendapatkan kembali putranya itu, ia memilih menandatangani persetujuan operasi itu tanpa berpikir lama. Junghwa pun tidak bisa menolak keputusan ayahnya itu, meskipun ada kekesalan dalam hatinya karena tak ada cara lain.


‌Kemudian, Hyunwo yang menggendong aku yang ia temukan dalam keadaan pingsan di tempat kejadian, datang menyusul ke rumah sakit. Begitu pula, korban lain yang tampak mulai berdatangan di rumah sakit itu dengan ambulance, termasuk Daehyun yang turut terluka dan tidak sadarkan diri. ‌Melihat Hyunwo datang, Junghwa langsung berlari menghampiri kami, tanpa peduli ia sedang berpapasan dengan Daehyun yang didorong di atas brankar. "Ada apa dengan noona?" tanyanya pada Hyunwo. "Sepertinya, Hana hanya pingsan. Dia tidak terluka," jawab Hyunwo seraya merebahkan aku di brankar yang lain. Junghwa pun langsung mendorong brankar itu sambil memanggil dokter dan perawat di sana untuk segera menangani kondisiku.


Junghwa yang sakit hati karena Yongju akan kehilangan karirnya meski selamat, memutuskan menemaniku saja. Ia yang khawatir padaku, tak sedikitpun beranjak dari sisiku. Hanya Hyunwo yang ia minta untuk ikut menunggu di depan ruang operasi Yongju. ‌Namun, baru sebentar Junghwa ingin mengistirahatkan dirinya bersamaku, ia mendapatkan kabar dari ayahnya bahwa Yongju tetap tidak bisa diselamatkan dan meninggal di ruang operasi. Junghwa pun langsung meninggalkan aku dan berlari ke ruang operasi. Namun sesampainya ia di sana, Yongju sudah dibawa ke ruang mayat. Anehnya, tak ada satu pun yang diperbolehkan memasuki kamar mayat yang tiba-tiba dijaga ketat oleh beberapa orang pengawal dari keluarga Jeon, termasuk Junghwa sendiri. Bahkan Junghwa yang berontak memaksa untuk masuk, harus dilumpuhkan setelah seseorang memukul tengkuknya dari belakang, hingga jatuh pingsan.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, "Apa kau sudah puas membuat masalah, hah? Tidak bisakah kau tenang saja di rumah? Tidak bisakah kau sekali saja menuruti appa dan eomma? Lihatlah apa yang sudah kau perbuat? Menjadi tersangka pelaku tabrakan beruntun? Dan yang parahnya lagi sampai mengakibatkan nyawa melayang? Min Yongju, Daehyun! Apa kau sengaja menabraknya, hah?" kata Tuan Kim murka di depan sang putra. Bahkan ia tidak peduli sedang marah-marah di perawat dan dokter yang sedang membalut luka di wajah Daehyun, akibat terkena serpihan kaca mobil yang pecah.


"Sudah aku katakan, aku tidak sengaja! Bukan aku yang pertama menabraknya. Mobil di depanku yang lebih dulu menabrak Yongju. Karena aku terkejut melihatnya, mobilku jadi tidak bisa dikendalikan. Aku menabrak mobil itu, bukan Yongju!" sahut Daehyun. Ia tetap mengulangi pernyataan yang sama untuk ke sekian kalinya, meskipun rasa pusing di kepalanya masih terasa sangat mengganggu. Dirinya saja baru sadarkan diri beberapa menit yang lalu, setelah terbangun di ruangan rumah sakit yang asing. Yang terlintas di ingatan terakhirnya adalah bagaimana ia dengan susah payah memutar setirnya untuk menghindari mobil di depannya itu. Bahkan ia baru saja tahu jika semua itu mengakibatkan Yongju meninggal.


"Tapi tetap saja, kau ditemukan dalam keadaan mabuk dan pengemudi mobil itu tidak akan bisa dimintai keterangan karena pengemudi itu juga meninggal!" kata Tuan Kim lagi, yang sejak tadi sangat sibuk mengurus kecelakaan ini. "Lalu, bagaimana dengan Hana?" tanya Daehyun dengan ragu. Tuan Kim yang semula ingin bicara dengan anak buahnya, langsung memalingkan wajahnya pada Daehyun. "Kau masih menanyakannya di saat seperti ini?" tanyanya, tak percaya.


"Pikirkan saja bagaimana nasibmu ke depannya! Jika ada yang menuntutmu dan kau terbukti bersalah, kau akan ditahan pihak berwajib, Daehyun!" bentaknya. "Ya Tuhan, Kim Daehyun! Apa kau tidak mau bertanya bagaimana keadaan appa sekarang? Urusan dengan pihak berwajib, kau yang terancam menjadi tersangka karena sedang mabuk, urusan dengan para korban lainnya, berita kecelakaan ini yang sudah terlanjur menyebar, dan Yongju yang meninggal! Bagaimana appa harus mengurus semuanya ini, terlebih pada Jeon Sungjin itu, hah! Sial, kenapa harus anak sialan itu!" lanjut Tuan Kim seraya pergi meninggalkan kamar pasien itu.


***


Di mana-mana berita tentang kematian Yongju tersebar luar sejak kejadian naas itu. Tapi pemakamannya sendiri diadakan langsung keesokan harinya dengan sangat tertutup atas permintaan Tuan Jeon selaku ayah kandungnya. Bahkan tanpa disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka dan sampai setelah abu jenazah Yongju di pindahkan dari krematorium ke rumah abu, barulah keluarga terdekat diizinkan memberikan penghormatan terakhir. Semua keluarga pun merasa ganjil dengan keputusan Tuan Jeon, tapi tak ada satu pun yang berani mempertanyakannya, kecuali Junghwa.

__ADS_1


Junghwa menghadang sang ayah, "Bukankah biasanya, persemayaman jenazah dan upacara pemakaman berlangsung setidaknya sampai tiga hari? Padahal upacara pemakaman menjadi salah satu hal yang penting di Korea, apalagi seorang idol dengan banyak penggemar seperti Yongju hyung. Dan juga sebagai putra keluarga Jeon, bukankah seharusnya upacara pemakaman Yongju hyung harus digelar besar-besaran dengan ratusan penggemarnya yang hadir?" tanyanya dengan ekspresi marah. "Pemakaman tertutup yang terkesan sangat tergesa-gesa dan sembarangan. Tanpa awak media dan para kenalan, juga para penggemar. Dan keluarga yang baru diizinkan memberi penghormatan setelah semuanya selesai! Apa-apaan alasan appa tadi? Tidak diizinkan melihat jenazah Yongju hyung karena tubuhnya terluka parah dan rusak? Appa, aku ingat betul, lukanya tak separah yang appa gambarkan!" lanjut Junghwa, tak habis pikir dengan ayahnya. Namun, Tuan Jeon hanya diam mendengarkan.


"Aku tidak percaya hal ini bisa terjadi. Aku tidak percaya ini terjadi. Sebenarnya, kenapa seperti ini? Kenapa semua terjadi?" lanjut Junghwa seraya menatap bingung ayahnya itu. Tuan Jeon menghela nafasnya, lelah. "Junghwa, appa tidak tahu apa yang harus appa katakan. Appa juga sudah sangat syok sejak mendengar kabar kecelakaan ini. Appa hanya ingin semua ini cepat berakhir," jawabnya. Junghwa mengerutkan keningnya dengan kecewa atas jawaban yang ia terima, "Entah kenapa aku merasa semua ini mencurigakan," ucapnya. "Aku mulai khawatir karena ini tidak seperti kecelakaan biasa karena Daehyun juga terlibat. Baiklah, jika appa tidak mau memberikan aku penjelasan yang memuaskan, kita harus menunggu hasil investigasi pihak berwajib. Dan jika itu juga masih kurang bagiku, aku bisa melakukannya sendiri!" lanjut Junghwa.


"Tidak perlu. Appa tidak berniat membuat tuntutan apapun pada siapapun," kata Tuan Jeon, tampak tenang. "Apa? Kenapa?" tanya Junghwa, semakin bingung. "Pasca kejadian, baik semua yang terlibat maupun Daehyun sendiri langsung diperiksa pihak berwajib. Walaupun dari hasil pemeriksaan, kadar alkohol dalam darah Daehyun saat kejadian diketahui berada di atas batas normal, tapi dari rekaman CCTV di sekitar tempat kejadian, keterangan yang diberikannya sesuai. Pihak berwajib pun menyatakan hal sama dengan keterangan yang diberikan Daehyun, mobil yang dikendarai Daehyun selip di jalanan yang licin karena salju dan akibatnya tidak bisa mengendalikan mobilnya," kata Tuan Jeon.


"Lalu bagaimana dengan Daehyun?" tanya Junghwa. "Daehyun tidak ditahan karena menurut rekaman CCTV, pelaku tabrakan adalah mobil yang menabrak Yongju. Sedangkan pengemudi tersebut juga tercatat sebagai korban meninggal. Karena mengendara dalam keadaan mabuk, SIM Daehyun dibekukan dan ia tidak boleh menyetir mobil lagi. Dan karena tersangka juga dinyatakan sebagai korban meninggal, kasus pun ditutup," jawab Tuan Jeon. "Tidak, tidak bisa seperti ini! Semua ini benar-benar mengecewakan!" ucap Junghwa makin tidak percaya.


"Junghwa, sudahlah. Tenangkan dirimu dan anggap ini hanya kecelakaan biasa," pinta Tuan Jeon. Junghwa makin terperangah mendengarnya, "Bagaimana bisa appa berkata seperti itu? Bagaimana bisa appa seperti ini? Setenang ini saat salah satu putra ayah meninggal?" kata Junghwa. Junghwa mengangguk-angguk kecil dengan mulut terbuka kecil, "apa karena Yongju hyung bukan anak yang appa besarkan? Jadi hanya sebatas ini kasih sayang appa untuk Yongju hyung?" lanjutnya. Tuan Jeon menatap tajam sang putra, lalu kembali menghela nafasnya panjang. "Baiklah, terserah kau saja mau menganggapnya seperti apapun. Tapi tolong, jangan menambah masalah lagi. Appa lelah, Junghwa," lalu berlalu pergi.


"Baiklah, jika appa lelah, istirahat lah. Biar aku yang mencari tahu sendiri," sahut Junghwa seraya berlalu mendahului sang ayah. "Jeon Junghwa, kali ini saja, appa minta menurutlah!" bentak Tuan Jeon tiba-tiba dan membuat Junghwa menghentikan langkahnya. "Tolong hormati hyung-mu yang sudah meninggal, para penggemarnya yang bersedih, seluruh keluarga yang kehilangan, tidak terkecuali appa yang sedih, juga Hana yang kembali hancur. Daripada kau membuat masalah lagi, lebih baik kau tenangkan dirimu bersama Hana. Daripada kau membuat keributan di sini, pergilah! Sekarang, Hana pasti lebih membutuhkanmu," usir Tuan Jeon. Junghwa pun pergi dengan kesal. Apalagi, beberapa kali ia gagal lagi menghubungi Hyunwoo yang tiba-tiba menghilang sejak malam tadi. "Sialan, ini benar-benar mencurigakan!" umpatnya.

__ADS_1


__ADS_2