The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Jangan Salahkan Aku Karena Sudah Tak Tahan


__ADS_3

"Letakan saja di sini!" perintah Daehyun pada resepsionis tadi yang kembali mengantarkan minuman yang dipesan Daehyun untuk kami berdua. "Terima kasih!" sahut Daehyun dengan malas. "Baik, tuan muda. Hubungi saja kami, jika ada yang tuan muda butuhkan atau mungkin tuan ingin memesan makanan?" tawarnya. "Pergilah!" usir Daehyun dingin dan setelah resepsionis itu pergi, ia beranjak dari dalam kolam. Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah botol kecil yang ia mainkan di tangannya dengan ragu seraya kakinya yang melangkah kembali kearah kolam dan berdiri di dekat meja tempat minuman tadi diletakan.


"Ah, aku pikir aku sudah gila!" gumamnya seraya menyembunyikan botol kecil itu di balik batu yang ada di samping kolam. Daehyun kembali masuk ke dalam kolam untuk menungguku sambil meraih minumannya. "Kenapa dia lama sekali berganti baju?" gerutunya, sampai-sampai tak sengaja menjatuhkan sendok di gelasnya saat sedang mengaduk minumannya dan percikan air kolam saat sendok itu terjatuh, mengenai salah satu matanya. Air termal yang asin membuat matanya menjadi perih. "Sial!" rutuknya seraya mengucek matanya yang perih dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya melanjutkan menyeruput minumannya.


Uhuk... Uhuk... Uhuk... Daehyun sontak terbatuk-batuk saat berbalik untuk meletakan lagi gelas di tangannya dan melihat aku yang sudah berdiri tepat di belakangnya dengan hanya memakai bikini super seksi. "Damn! Kenapa seseksi ini? Sepertinya, aku harus berterimakasih dengan resepsionis tadi karena sudah memilihkan bikini ini untuk Hana!" katanya dalam hati seraya memandangku tanpa berkedip sedikit pun. Penampilan seksiku yang tidak direncanakan ini, sukses membuat penglihatan Daehyun jadi lebih baik, seperti lasik alami yang tak perlu membayar. Sedangkan aku sendiri semakin gugup memperlihatkannya padanya.


Aku yang awalnya berdiri di depannya dengan kikuk dan serba salah, langsung menceburkan diriku ke dalam kolam agar Daehyun berhenti memandangi tubuhku. Bukannya bisa bernafas lega setelah menyembunyikan tubuhku di dalam air, aku malah semakin panik, saat Daehyun dengan perlahan mendekatiku. Aku pun menghindar dengan membelakanginya, tapi Daehyun dengan cepat langsung melingkarkan tangannya di perutku dan menarik pinggangku sampai aku terduduk di pangkuannya.


"Mau lari kemana?" tanyanya dengan suara rendahnya. Cup! Ia mengecup salah satu bahuku. "Ah, kenapa tunangan oppa hari ini sungguh mempesona? Oppa akan jadi penggemarnya selamanya," gombalnya manja seraya mengeratkan pelukannya. "Dan hari ini, aku akan menjadi priamu, sayang!" lanjutnya dalam hati dengan sebuah smirk di wajahnya. Srukk! Aku langsung berdiri tanpa sadar setelah merinding merasakan deru nafasnya yang mengenai tengkukku. "Kenapa?" tanyanya bingung melihat aku yang tiba-tiba berdiri. "Tidak, tidak ada apa-apa. A-aku haus!" jawabku seraya memutar badanku ke hadapannya. Aku beralasan saat melihat ada dua minuman di belakangnya.

__ADS_1


Bodohnya aku, karena saking gugupnya, aku sampai langsung berdiri meraih gelas di belakangnya dan membuat perut telanjangku sontak berada tepat di depan wajahnya. Matanya terasa terus berputar ke arah perutku. "Astaga, apa dia sengaja melakukannya! Apa sekarang dia sama seperti gadis lainnya, berusaha ingin menggodaku? Apa dia tidak takut hasilnya?" pikirnya dalam diamnya. Aku kembali menegakan tubuhku setelah berhasil meraih gelas di tanganku, lalu kembali menenggelamkan tubuhku sebatas bahu, tapi sedikit menjauh darinya. Aku meminum minuman dingin itu, tapi aku langsung berkeringat, bukan sepenuhnya karena air di kolam ini, tapi karena bagaimana pun aku tidak bisa di satu tempat yang sama dengan tunanganku ini, terlebih dengan kondisi plus suasana seperti ini, bahaya!


"Kenapa isi paper bag-nya seperti itu?" gumamku pelan. "Hah?" ucapnya tidak mengerti. "Isinya hanya ada bikini ini, pakaian dalam, mini dress yang sangat pendek dan high heel," keluhku dengan wajah kecewa. "Ah! Oppa tidak tahu. Itu pilihan resepsionis tadi. Oppa hanya memintanya untuk mencarikannya," jawabnya. "Pilihan yang tepat!" lanjutnya dalam hatinya seraya tersenyum kecil. "Pakailah itu lebih sering," gumamnya tanpa sadar. "Apa?" tanyaku terkejut mendengarnya, seperti Daehyun yang juga terkejut dan langsung menyahut, "high heel! Maksud oppa, high heel-nya. Sayang, akan tambah cantik kalau belajar pakai high heel."


"Aku 18 tahun, aku tahu apa yang perlu aku ketahui bahwa menjadi wanita adalah hal terbaik di dunia, tapi tidak juga harus feminim, bukan? Apa salahnya kalau aku lebih suka jadi tomboi? Apa dengan begitu, aku menjadi badgirl?" gerutuku dengan wajah cemberut. Daehyun yang menyadari perubahan ekspresiku, lantas merayuku dari tempatnya. "Iya, baiklah, terserah sayang. Oppa tidak masalah, selama sayang nyaman dengan itu. Oppa juga badboy, bukan? Jadi, oppa suka badgirl. Kemarilah sayang, kita akan cocok."


Aku yang merajuk, tidak menurutinya dan malah membelakanginya dengan meletakan dan menyilangkan kedua tanganku di tepian kolam. Daehyun diam memperhatikan punggung mulusku. "Seandainya kita tidak bertunangan sekalipun, meskipun kau bukan milikku, tapi aku akan tetap mengejarmu karena kau tetap yang terbaik. Lihat saja, tubuhku bahkan tak tahu bagaimana harus bertingkah di depanmu! Aku ingin menghampirimu, tapi aku takut kau pergi," pikirnya. "Sayang, kenapa kau terlalu cantik? Gadis terbaik yang pernah aku temui. Kau hadiah dari Tuhan untukku dan keinginanku adalah hanya kau. Jika aku harus menikah muda dan itu adalah kau, aku OK!" pikirnya lagi seraya memandangi tubuhku.


"Selama ini, aku belajar menahan diri darimu. Tanpa kau sadar, tubuhmu itu seperti teori arsitektur yang membangun hormon testosteronku naik menjadi tinggi setiap hari. Setiap hari juga, aku harus menenangkan hormonku dan setelah memenangkan hormonku, aku meneliti, keberadaanmu adalah kecurangan!" pikirnya lagi, semakin frustasi seraya menghela nafasnya berat. "Jika standar kecantikan dilambangkan dengan samudra, kaulah lautan dalam itu sendiri, yang menghanyutkanku sampai ke dasarnya! Seperti harta karun kecantikan yang harus dilindungi oleh pemerintah!" pikirnya dengan konyolnya, seraya tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Rambutnya, tubuhnya, pinggangnya, kakinya, bahkan bagian yang tak bisa kukatakan, semua bukanlah ketertarikan semata seperti pada gadis biasa lainnya. Aku kehilangan akalku sebagai pria. Aku hilang kendali bahkan hanya dengan gerakan kecilnya," lanjutnya seraya kembali memandang sosokku dengan tatapan putus asa. "Hei gadis, karena godaanmu, tiap malam aku tetap berada di depan komputerku! Iya, akan aku tahan sampai kau sendiri yang mau! Untukmu, lady first!" Daehyun lagi-lagi menghela nafasnya panjang mengingat janjinya padaku.


"Kenapa aku bisa mempunyai tunangan yang seperti bongkahan es yang dingin! Ya Tuhan, biarkan es itu pergi dan meleleh! Dia membuatku gila, terus menekanku! Aku harus bertarung dengan hormonku sampai-sampai jerawatku mulai bermunculan!" keluhnya dalam hatinya. Lamunan dan pikiran Daehyun itu buyar saat ponselku berdering. Aku pun menoleh ke belakang, tapi Daehyun lebih dulu bangun dan berjalan untuk mengambilnya. Aku pun diam menunggunya mengambilkan ponselku.


Kening Daehyun berkerut, saat nama Yongju tertulis di layar ponselku. Masih berdiri di samping tempat tidur, tempat aku meletakan tasku, ia menerima panggilan dari itu dan sengaja menekan tombol loudspeaker. "Sedang apa? Apa oppa menganggu? Malam ini, oppa akan pergi untuk tur. Hana? Halo!" suara Yongju terdengar dari sana. Daehyun diam tanpa menjawabnya. Aku pun bergegas keluar dari kolam dan berniat menghampirinya, tapi langkahku terhenti saat mendengar suara Yongju. "Apa kau benar-benar melupakan oppa? Kalau oppa akan selalu mengingatmu. Walaupun oppa pergi menjauh, tapi entah kenapa air mata oppa selalu mengalir saat mengingatmu. Salahkah jika oppa juga terlalu merindukanmu?" kata Yongju.


Daehyun menggenggam kuat ponselku seiring tatapannya yang berubah tajam menatapku. Melihatnya, aku kembali bergegas merebut ponselku dari tangannya, tapi Daehyun mengangkat tangannya setinggi yang ia bisa agar aku tidak bisa menjangkaunya. "Tentu saja, oppa bisa menghapus semua fotomu di ponsel oppa, pesanmu dan nomormu, bahkan pergi menjauh darimu seperti ini dan bersumpah untuk tidak menghubungimu lagi, tapi bagaimana oppa bisa menghapusmu dari ingatan oppa? Dari hati oppa? Melupakan wajahmu, suaramu dan semua kenangan kita?" lanjut Yongju dengan lirih.


Samar-samar terdengar suara isak tangis di seberang sana. "Oppa menangis?" pikirku dengan air mataku yang juga tiba-tiba mengalir. Daehyun bisa melihat dengan jelas air mataku karena wajahku saat ini sedang mendongak ke arahnya. Dengan cepat, aku menyeka air mataku tanpa suara, tapi air mataku seolah tak mau berhenti. Daehyun yang melihatnya, menurunkan tangannya yang menggenggam ponselku. Rahangnya mengeras seiring genggamannya yang semakin kuat.

__ADS_1


Prang! Daehyun melempar ponselku ke dinding sampai hancur, lalu mencengkeram kedua lenganku sambil bertanya, "Kenapa kau masih menangisinya? Kau masih menyukainya? Kenapa kau masih menangisinya? Tidak bisakah itu aku? Kenapa tidak menangisi aku saja?" teriaknya. Aku yang ketakutan tidak bisa berkata apa-apa. "Beritahu apa yang kau inginkan sekarang! Kau ingin menemuinya? Kau ingin memeluknya? Sampai kapan kau tidak bisa melupakannya!" bentaknya lagi.


"Oppa, sakit! Kenapa oppa seperti ini?" ucapku dengan meringis. "Kau bertanya? Kau pikir, karena siapa aku seperti ini? Karena aku cemburu! Karena kau wanitaku! Karena aku hampir gila menahan hormonku di depanmu padahal aku sudah jadi priamu!" jawabnya. Daehyun melepaskanku dengan kasar. Lantas, berjalan menjauhiku menuju ke kolam. Aku pun bergegas memunguti ponselku yang sudah hancur berantakan di lantai, tanpa aku melihat apa yang Daehyun lakukan di belakangku. "Kalau akhirnya tetap seperti, jangan salahkan aku yang memberikannya padamu sekarang karena aku sudah tak tahan!" pikirnya yang menatapku dengan tatapan yang menakutkan.


__ADS_2