The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Selamat Siang, Bungaku


__ADS_3

Sudah sebulan sejak pesta pertunangan aku dan Daehyun, hubunganku dan Yongju kembali memburuk. Setiap kali Yongju menghubungiku, aku tidak pernah menerimanya. Bahkan setiap kali Yongju menemui aku, aku selalu menghindarinya. Setiap hari, Yongju melakukan rutinitas hariannya sebagai seorang penyanyi seperti mayat hidup tanpa jiwa. Seperti hari ini, setelah selesai dengan jadwal padatnya, Yongju segera pulang ke apartemennya, mengurung dirinya seorang diri di kamar, tanpa mengizinkan siapapun mengganggunya.


Tidak selang beberapa lama sejak Yongju memasuki kamarnya, Junghwa datang berkunjung ke apartemen kakaknya itu. "Hyung, kau di dalam? Ini aku, Junghwa," katanya seraya mengetuk pelan pintu kamar Yongju. "Yongju, keluarlah! Saatnya kau menghadapi semua ini sepenuhnya. Jangan terus melawan seperti ini! Ingat, besok kita harus berangkat untuk konsermu!" kata manajer Yongju yang datang bersama Junghwa. Junghwa dan manajer itu saling pandang karena tak ada sahutan sama sekali. Junghwa pun kembali mengetuk pintu kamar Yongju, "hyung, apa kau tidur?" tanya Junghwa lembut. Masih tak ada sahutan dari Yongju. Lantas, Junghwa mencoba memutar ganggang pintunya dan ternyata tidak terkunci seperti biasa. "Hyung, aku masuk," izinnya yang mulai memasuki kamar Yongju.


Ruangan yang sunyi dan gelap. Hanya cahaya lampu dari kamar mandi yang pintunya terbuka setelah Yongju mandi, yang memberi cahaya di kamar itu. Sedangkan sang pemilik kamar tampak duduk di lantai kamarnya. Yongju duduk bersandar di sisi tempat tidur dan merebahkan kepalanya ke kasur dengan mata terpejam. Bahkan ia masih hanya mengenakan baju mandinya, tanpa berniat mengeringkan rambutnya yang membasahi sprei.


"Hyung..." panggil Junghwa saat ia sudah berdiri di dekat Yongju. "Hyung?" panggilnya lagi seraya semakin mendekat. Perlahan, Yongju pun membuka matanya mendengar panggilan sangat adik. Ia mengangkat kepalanya, bukan untuk menegapkan duduknya di depan lawan bicaranya, tapi karena kepalanya itu kini terasa sangat berat dan alhasil kepalanya pun kembali tertunduk seperti bunga yang layu. Saat Yongju mengangkat kepalanya, Junghwa melihat, entah air yang menetes dari rambut basah Yongju atau air matanya lah yang jatuh ke lantai. "Sehancur inikah kau, hyung?" tanya Junghwa dalam hatinya.

__ADS_1


Seperti hari-hari yang lalu, di kamarnya ini, Yongju melakukan ritual detoksifikasi hatinya dengan alkohol. Tidak ada hari tanpa alkohol, sampai mabuk atau hanya sekedar meminumnya karena ini caranya untuk melupakan sakit hatinya. "Lihatlah dia! Padahal hyung-mu ini punya kadar toleransi alkohol yang tinggi, tapi sejak malam itu dia selalu minum sampai mabuk seperti ini!" ucap manajer yang ikut prihatin melihat kondisi Yongju sekarang. Sejak mengetahui kebenaran hubungan antara kami semua, dan Yongju yang tidak ambil pusing dengan perbuatan manajernya yang sempat jadi orang suruhan Daehyun, manajer itu semakin dekat dengan Junghwa.


"Yongju, berhentilah minum! Bagaimana kau tidak menjalani hari yang sulit, kalau kau selalu seperti ini hampir setiap hari?" kata manajer itu seraya mulai memunguti satu persatu kaleng bir serta botol soju dan wine yang berhamburan di kamar itu. "Cerewet!" kata Yongju yang tiba-tiba membuka mulutnya. "Iya, manajermu ini cerewet. Tidak bisakah kau melewatkan alkohol tiga atau empat kali seminggu saja? Apalagi besok kita sudah berangkat!" sahut manajernya, kesal. "Seharusnya kau makan dengan cukup dan tidur teratur untuk konsermu! Sekarang bangunlah dan makan. Aku membawakan makan malam untukmu, lalu setelah itu pergilah tidur. Aku akan menjemputmu besok malam. Mengerti?" lanjutnya.


"Apa hyung ingin aku tidur di sini malam ini untuk membangunkan hyung besok malam? Toh, aku juga tidak berniat tidur malam ini. Akun ingin begadang main game karena besok tidak ada jadwal," tawar Junghwa. "Tawaran yang bagus, tapi apa kau bisa dipercaya? Kalau kau tidur, kau lebih sulit dibangunkan dari hyung-mu!" sahut sang manajer. "Kataku, aku bergadang malam ini, besok pagi aku baru tidur. Malam besok, akan aku pastikan hyung sudah siap berangkat!" sahut Junghwa. "Tidak, tidak. Aku tidak percaya. Biar besok aku saja yang..." kata manajer terpotong dengan suara Yongju.


"Ini ponselmu," kata sang manajer seraya menyerahkannya. "Mau apa kau dengan ponselmu? Jangan bilang kau mau update keadaanmu sekarang! Yongju, hentikanlah semua ini dan pikirkanlah karirmu! Jangan sampai karirmu jatuh dan hancur!" lanjut manajer. "Aku tidak peduli! Siapa yang jatuh? Sekarang aku merasa seperti sedang terbang," jawab Yongju seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur setelah mengambil ponselnya dari tangan manajernya.

__ADS_1


"Hyung tidak makan?" tanya Junghwa. "Aku tidak akan makan makanan kecil," sahut Yongju. "Makanan kecil apa? Aku membawakanmu makanan kesukaanmu. Makanlah dulu!" sahut manajer seraya mencoba membangunkan Yongju. "Aish, sudah aku katakan, tidak!" kata Yongju seraya menepis tangan manajer yang menariknya. "Tunggu dulu! Bau apa ini?" tanya Yongju. "Bau?" tanya Junghwa. Manajer pun menghela nafasnya jengah, "Mari kita jujur ​​karena bau itu muncul tentang hidupmu!" jawabnya sarkas. "Oh, ya, ini bau kesukaanku!" balas Yongju, tertawa seraya menghirup bau alkohol yang memenuhi kamarnya.


Di akhir tawanya, Yongju kembali meracau, "Karir, kehormatan, uang, piala, stadion, konser, terkadang semua itu menakutkan dan aku hanya ingin melarikan diri. Junghwa, saat kau menjadi superstar, kau berpesta setiap hari, tapi juga berduka setiap hari atas kenyataan. Semuanya akan pergi meninggalkanmu sendiri, tapi lupakan saja mereka! Lagipula aku tidak peduli. Besok akan datang lagi. Kamu dan aku, kita akan melalui hari ini tanpa mereka." Junghwa dan sang manajer pun hanya menghela nafas panjang melihatnya. "Iya. Sudah, lebih baik hyung tidur saja. Malam ini, aku akan menginap di sini," kata Junghwa seraya menarik selimut untuk menyelimuti hyung-nya itu.


Yongju pun tertidur setelahnya, tapi beberapa jam kemudian, tepatnya saat sinar matahari siang masuk menembus lewat tirai jendelanya dan mengenai bareface-nya, ia terbangun sendirinya, sedangkan Junghwa malah tertidur di kursi game-nya. Yongju membuka ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang, tapi matanya terhenti saat layar ponselnya menyala dan menampilkan fotoku yang tersenyum cantik. "Selamat siang, bungaku," ucapnya dengan senyuman manisnya.


Cukup lama, Yongju menikmati pemandangan bangun tidurnya dari layar ponselnya itu. Aktivitas pertama yang selalu ia lakukan setiap bangun tidur, memandangi fotoku yang memenuhi memori ponselnya, tapi ada yang berbeda kali ini. Tangannya berhenti menggulir fotoku di galerinya dan malah menekan ikon kontaknya, lalu men-dial nomorku. Entah masih dibawah pengaruh alkohol atau dengan kesadaran penuh, putra kedua Jeon itu menghubungiku lagi.

__ADS_1


__ADS_2