The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Kau Tak Sendiri, Ada Aku Di Sini


__ADS_3

Saat Junghwa datang ke rumahku malam ini, aku baru saja diantar oleh ibuku ke kamarku, setelah bertemu dengan seorang psikiater. "Bagaimana keadaan Hana?" tanya Junghwa pada ibuku. "Kata dokter, secara fisik, Hana memang tersenyum, tapi secara batin dia terluka, emosinya kacau dan mentalnya tertekan. Hana mulai memasuki tahap awal depresi, Junghwa," jawab ibuku seraya kembali menangis, seperti yang beliau lakukan di depan rumah abu Yongju tadi siang. Junghwa memeluk ibuku, "Bersabarlah, Bi. Kita hanya bisa berharap yang terbaik dan semoga kita semua kuat menjalani ini semua," ucapnya. Setelah itu, orang tuaku pun meminta Junghwa menginap di rumahku untuk menemaniku, sekedar menghiburku.


Di dalam kamarku, aku duduk di tepi tempat tidurku. Seperti sudah menunggu kedatangannya di kamarku, aku langsung bicara saat Junghwa masuk. "Junghwa, mereka menyebutku gila. Tapi aku tidak peduli. Sekali pun kata mereka, Yongju oppa sudah tidak ada lagi, aku tetap tidak peduli. Mereka saja yang tidak tahu kalau oppa begitu hidup, meskipun hanya dalam imajinasiku, seperti yang mereka katakan. Bahkan sekarang saja, aku melihat oppa sedang tersenyum padaku. Seolah-olah, dia ada di sana," kataku seraya menunjuk ke arah Junghwa berdiri. "Tapi kenapa setiap kali aku mengulurkan tanganku, dia tiba-tiba menghilang?" lanjutku tertunduk seiring tanganku yang aku turunkan.


"Oh!" seruku tiba-tiba saat teringat sesuatu. Aku berdiri dan menghampiri Junghwa, lalu menariknya ke arah tempat tidur. Aku menunjukan album-album yang berhamburan di atas tempat tidurku. Kepada Junghwa, aku membuka tiap lembar album masa kecilku bersama Yongju itu. "Kau lihat sendiri, bukan? Oppa juga hidup di sini! Dari semua kenangan yang tersimpan dalam hatiku, aku mengumpulkan semuanya di sini, menghubungkan mereka bersama-sama. Melihat semua ini, aku mengingat kembali hari-hari saat sekolah dasar. Ketika tiba-tiba saja oppa tumbuh tinggi, menjadi lebih tinggi lagi dari badanku," seruku dengan ekspresi senang di wajahku. Sedangkan, Junghwa hanya memperhatikan aku dalam diam, tanpa menyimak apa yang aku tunjukan padanya.

__ADS_1


Tidak puas sampai di situ, aku bahkan juga memutar ulang kebersamaanku dengan Yongju yang aku proyeksikan lewat video. Video kenangan saat Yongju mendapatkan hadiah piano kecil dari orang tuaku. Di mana Yongju yang memang menyukai musik sejak kecil, memainkan pianonya untukku. Selama video diputar, aku kembali duduk manis di tepi tempat tidur, menatap lurus ke layar yang terpasang di dinding kamarku. "Aku ingat saat itu, piano itu lebih tinggi dari badanku, tapi aku memaksa oppa mengajariku. Aku tidak pernah bisa memainkannya lagi karena oppa membawanya pergi," kataku. Junghwa melihat ke arahku. "Aku merindukannya. Aku rindu ketika oppa menyentuhnya dengan jari kecilnya. Aku tahu, dulu oppa paling merasa sangat baik saat ia bermain piano itu dengan aku yang duduk di sampingnya," lanjutku yang semakin terdengar pelan di ujung kalimatku.


Junghwa menatap tanpa suara semua kegilaanku itu. Apalagi saat ia melihatku menontonnya dengan bibir tersenyum, tapi dengan mata yang menangis. Dan entah kenapa, ia juga merasakannya dengan setiap ledakan rasa sakit di hatinya. Junghwa menyeka air matanya yang turut terjatuh, dengan kasar. Kemudian, ia berjalan ke arah tirai kamarku yang tertutup rapat, lalu membukanya lebar. Kedua mataku pun refleks menutup karena silau. "Apa noona berniat membusuk di kamar ini tanpa cahaya dan tanpa makan sama sekali?" tanya Junghwa yang baru saja membuka mulutnya. "Kata eomma, noona hanya mengurung diri di kamar dan sudah seharian, tidak makan dan minum. Apa kepergian Yongju hyung sudah menyegel hati noona yang terluka lagi dan membuat raga noona bahkan juga enggan untuk bernyawa?" lanjutnya dengan mengomel di depanku.


Kemudian, Junghwa beralih seraya mengambil nampan berisikan makan malamku di atas meja. Junghwa duduk di sampingku. "Aku tahu, mungkin ini sumpah tak berakar. Tapi sebelum hyung meninggal, hyung sudah memintaku bersumpah untuk menjaga noona. Jadi, tolong makanlah walau sedikit saja," pintanya seraya meletakkan nampan itu di pangkuannya dan berniat menyuapiku, tapi aku menolaknya. "Bagaimana kalau minum susu sebelum tidur?" tawarnya sambil mengangkat segelas susu coklat kesukaanku. Lagi-lagi, aku menggeleng. Junghwa menghela nafas dan menyerah. Kemudian, ia beralih duduk di lantai, berlutut di hadapanku.

__ADS_1


Aku menyentuh wajahnya, Junghwa pun merebahkan wajahnya di telapak tanganku. "Kapan sejak terakhir aku menyentuhnya?" ucapku pelan dan membuat Junghwa menatapku dengan bingung. "Menyentuh wajah oppa yang mirip denganmu. Aku jadi ingat, semalam oppa yang terus memandangku dalam diam, tapi selalu tersenyum saat ketahuan. Tanpa terpikirkan olehku bahwa senyum ringan tak bersuara itu penuh makna kepergiannya," lanjutku yang kembali menangis. Junghwa memejamkan kedua matanya, merasa gagal menenangkan aku. "Maafkan aku. Junghwa, jika air mata bisa diukur, butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Tapi aku tidak berhasil menahannya di sisimu, jika saat ini, aku menemukanmu sangat mirip dengan hyung-mu itu!" lanjutku di tengah isak tangisku.


Aku semakin menangis dengan keras. "Sekarang, aku hanya bisa memandangnya dari jauh, tanpa bisa memeluknya lagi. Dan hanya bisa berkata dalam hati, aku menyesal, aku menyesal menolaknya. Aku mencintainya, Junghwa. Aku tidak mengerti arti dirinya saat itu. Waktu itu, aku pikir, aku puas dengan hanya melihatnya. Saat itu aku diabaikan olehnya dan dia membuatku mencari penggantinya. Tapi tetap saja dia yang aku rindukan. Tidak peduli di mana aku berada, dia selalu menjagaku. Tapi aku tidak tahu itu akan menjadi yang terakhir. Dia berkata tidak akan pergi, tapi dia benar-benar meninggalkan aku seperti ini. Aku tidak bisa sendiri tanpanya, Junghwa!" kataku seraya semakin histeris.


Junghwa memelukku, "Noona, tenanglah! Jangan khawatir bahkan jika hyung pergi karena kita akan melakukannya dengan sangat baik. Aku ingat, ketika aku untuk pertama kalinya bertemu dengan noona. Aku tahu, noona adalah perempuan yang kuat. Meskipun kita akhirnya tidak bisa berhubungan lagi dengan hyung, jangan pernah merasa kasihan padanya atau merasa bersalah karenanya. Percayalah, kita akan bertemu lagi dengan hyung. Jadi, tak peduli apa bentuk masa depan kita tanpa hyung, mari kita bertemu kembali dengan kebahagian. Sebelum waktunya tiba, mari kita bertahan bersama dengan bahagia, noona," pintanya seraya semakin erat memelukku.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, obat penenang yang eomma minumkan padaku sebelum Junghwa datang, pun bekerja. Aku tertidur di dalam pelukannya dengan tenang. Meski begitu, aku masih bisa mendengar suaranya yang seolah beresonansi, mengembara tanpa tujuan di sekitar ruang runguku. "Tidurlah... Kau tak sendiri. Ada aku di sini. Kau dan aku akan selalu bersama dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu... selamanya..." ucapnya lembut seraya mengeratkan pelukannya, membuatku merasakan kehangatan yang begitu nyaman dengan aroma tubuhnya yang sama saat ia memeluk aku di tengah hujan, di bawah payung hitamnya hari itu.


__ADS_2