The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Cinta Sejati Yang Tak Akan Pernah Berakhir


__ADS_3

"Kenapa tadi kau melarangku mengikuti kalian? Kedua hyung-mu panik mencari kalian," kata Hyunwo seraya mengikuti langkah Junghwa yang masuk ke kamarnya. "Hanya mengajak noona jalan-jalan," jawab Junghwa seadanya, seraya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya. Tapi kedua mata itu langsung terbuka saat Hyunwo yang berdiri sambil memperhatikannya sejak tadi bertanya, "apa kau juga menyukai Hana?" Sesaat, kedua pemuda itu saling tatap tanpa berkata apa-apa sampai Junghwa membantahnya dengan berkata, "Siapa yang hyung katakan menyukai gadis manja itu? Apa hyung gila!" Junghwa membalikan badannya dengan kesal. "Apa tertulis di wajahku kalau aku menyukainya?" pikirnya, mulai khawatir. Hyunwo duduk di sisi ranjang, "Tidak usah berbohong! Kau bisa jujur padaku. Perlihatkan padaku apa yang ada di dalam hatimu itu!" katanya seraya tersenyum hangat. "Hmm..." sahut Junghwa malas.


Di pikiran Junghwa saat ini, ia teringat saat di rumah sakit, setelah Daehyun pergi meninggalkan kamar inapku, aku menangis sesenggukan sambil memegangi jaketnya dengan wajahku yang terbenam di perutnya. Junghwa yang tidak tahu harus apa, hanya mendengarkan semua isak tangik dan luapan perasaanku. "Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau mengkhianatiku? Aku memilihmu. Aku mempercayaimu. Aku mencintaimu. Bagaimana bisa kau menghancurkan aku seperti ini? Kenapa? Aku membencimu, Daehyun... Aku benci..." ucapku pilu saat itu.


"Iya, saat itu... Mulai saat itulah, aku mungkin sadar kalau aku juga menyukainya karena melihatnya menangis seperti itu membuatku ingin bertanggung jawab atas semua luka dan air matanya!" pikir Junghwa dengan tatapan kosong. "Kenapa kau begitu mudah memikat hati orang? Bukan hanya Yongju hyung, Namgil hyung dan Daehyun, tapi sekarang aku juga? Apa karena namamu Hana? Bukankah Hana dalam bahasa Jepang berarti bunga, bunga mekar yang merekah, cantik sepertimu?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Apa karena nama itu, kau punya kekuatan alam yang membuat lawan jenismu terpikat, seperti keajaiban bunga yang dipenuhi dengan feromon? Apa kau bunga yang memiliki madu bunga yang begitu istimewa sampai-sampai semua kumbang ingin menghinggapimu?" lanjutnya dengan pikiran yang mulai melayang.


Perlahan Junghwa memejamkan matanya, meresapi rasa dalam hatinya. Dengan mata terpejam, ia membayangkan aku sebagai sekuntum bunga tulip angelique yang indah dengan kelopak gandanya yang penuh dan mewah, berwarna merah muda lembut yang terlihat seperti peony. Ia juga membayangkan dirinya sebagai seekor burung kolibri yang terbang mengitariku dan hinggap untuk menyesap ambrosia surgawi di setiap kurva keindahanku, menikmati madu bunga yang menetes melalui imajinasinya, membiarkan aroma khayal terus mengalir langsung menuju jiwa polosnya.


"Lalu, bagaimana?" tanya Hyunwo lagi yang seketika membuyarkan lamunan dan imajinasi aneh Junghwa itu. "Apanya yang bagaimana?" tanya Junghwa balik karena tidak mengerti dengan perkataan Hyunwo. Junghwa berbalik menatap Hyunwo dengan wajah kesalnya karena merasa terganggu. "Bukankah kau berkata, Yongju hyung menyukai Hana? Apa kau akan bersaing dengan hyung-mu sendiri karena Hana? Ya, meskipun hyung-mu itu tidak mungkin bersama dengannya," kata Hyunwo santai. "Sudah aku katakan, tidak! Aku tidak menyukainya!" jawab Junghwa, marah. "Baiklah, aku salah. Jangan-jangan marah seperti itu," sahut Hyunwo.


***


Keesokan harinya, orang tuaku datang menjemputku untuk kembali ke rumah, tapi tidak hanya aku sendiri. Appa dan eomma meminta Yongju, Junghwa dan Hyunwo ikut menginap di rumah kami dengan alasan menemaniku agar aku tidak kesepian. Begitu pula, Seojun dan Namgil yang hampir datang setiap hari, bermain bersama kami. Lama-lama, rumahku sudah seperti dorm untuk mereka. Beberapa hari berlalu dengan kebersamaan kami, aku semakin akrab dengan semuanya. Bahkan kecanggungan antara aku dan Namgil yang notabene mantan pacarku, pun hilang. Aku seperti mendapat 5 saudara laki-laki, 4 orang oppa baik hati dan 1 orang adik nakal.


Adik nakal yang tetap sering mengganggu dan membuatku kesal, tapi sekarang aku selalu membalasnya dengan memperlakukannya seperti seorang adik, menindasnya sepuas hatiku, tentunya. Karena aku mendapat kepuasan tersendiri saat berhasil mengalahkan kelakukan menyebalkan Junghwa dengan menggodanya sampai ia mengalah pergi meninggalkanku dengan menggerutu kesal. Seperti hari ini, si bungsu menggerutu tidak jelas sejak pagi hari.


"Ada apa dengannya?" tanya Yongju bingung melihat Junghwa yang tampak kesal sejak bangun tidur. Yongju berbisik padaku yang duduk di sampingnya saat makan siang. "Mana aku tahu! Aku hanya berkata, hari ini, oppa mengajakku pergi jalan-jalan," jawabku pelan. "Apa dia ingin ikut?" tanya Yongju. "Katanya, tidak. Tapi dia juga melarang kita pergi," jawabku lagi. "Kenapa?" tanya Yongju dengan kening berkerut. "Katanya, perasaannya tidak enak dan kita harus mendengarkannya! Dasar bayi aneh!" kataku seraya memutar mataku jengah dengan sikap Junghwa yang sering kekanak-kanakan.

__ADS_1


"Apa yang kalian bisikan? Kalian membicarakan aku?" tanya Junghwa seraya menatap kesal aku dan Yongju bergantian. Tapi Junghwa semakin kesal saat melihat aku dan Yongju yang sama-sama menggelengkan kepala, lalu menghela nafas panjang di depannya. Brakk! "Aku selesai!" ucap Junghwa seraya berdiri dan meninggalkan meja makan. Aku dan Yongju melongo melihat sikapnya itu. Sedangkan Hyunwo hanya menghela nafasnya berat karena ia berpikir, bocah itu cemburu karena merasa diabaikan.


"Hyung, menurut hyung, apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku katakan untuk menyakinkan noona untuk tetap tinggal? Aku tidak suka noona pergi dengan Yongju hyung! Rasanya, kalau mereka berdua pergi, mereka akan menghilang!" kata Junghwa pagi ini pada Hyunwo, setelah aku mengatakan kalau sore ini aku ada janji dengan Yongju. Hyunwo yang juga merasa perkataan Junghwa itu terlalu berlebihan, seperti anak kecil yang tengah merengek karena rasa cemburu, hanya mengerutkan keningnya. "Menghilang? Menghilang bagaimana? Apa kau tadi malam menonton film sihir?" sahut Hyunwo dengan wajah polosnya.


"Apa hyung pikir, aku masih anak-anak?" jawab Junghwa ketus. "Lalu itu apa? Kau sedang menonton kartun pagi!" sahut Hyunwo seraya menunjuk televisi yang ada di kamar itu. "Aku tidak menontonnya! Itu sudah ada saat aku menghidupkan TV!" bantah Junghwa kesal. Hyunwo tertawa dan memilih pergi meninggalkannya, sebelum bocah itu semakin kesal. "Padahal sebelum Hana datang, dia tertawa menontonnya! Katakan saja merajuk karena ditinggal, pakai alasan takut menghilang segala!" gumam Hyunwo sambil terkekeh.


***


Beberapa saat sebelum aku dan Yongju pergi, Junghwa masuk ke dalam kamar Yongju yang tengah bersiap-siap. "Ada apa?" tanya Yongju seraya melanjutkan memakai bajunya. "Hyung, aku tahu kau sangat dekat dengan noona," kata Junghwa ragu. "Noona pasti beruntung mempunyai oppa seperti hyung," lanjutnya dengan wajah cemberut. "Langsung saja, apa yang ingin kau katakan?" sela Yongju seraya berhenti mengaca dan beralih memperhatikan adiknya yang bersikap aneh seharian ini. "Apa kau tidak suka aku mengajak Hana pergi?" tanya Yongju langsung dengan nada bicara yang berubah dingin.


Junghwa mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap hyung-nya itu,"Pernahkah hyung memikirkannya, perasaan hyung tidak membawa kebahagian untuk noona, tapi malah menekannya?" ucapnya dan membuat Yongju tertegun mendengarnya. "Noona mungkin tidak bisa menolak ajakan hyung karena hubungan kalian. Mungkin saja, noona tidak ingin mengecewakan hyung karena tahu perasaan hyung," kata Junghwa. "Maksudmu, Hana terpaksa pergi denganku?" tanya Yongju seraya mengerutkan keningnya karena bingung. "Mana aku tahu, noona mau pergi atau tidak!" jawab Junghwa kesal seraya meninggikan suaranya dan membuat kening Yongju semakin berkerut. "Lalu maksudmu apa?" tanya Yongju lagi. Junghwa jadi gelagapan sendiri menjawabnya. "Sebenarnya, apa yang kau bicarakan ini?" lanjut Yongju. "A-aku hanya ingin mengatakan, berhentilah! Sekarang, bagi noona, hyung hanyalah oppa yang tumbuh bersamanya. Hyung itu hanya kakak sepupunya!" sahut Junghwa mulai salah tingkah.


Sepeninggal Junghwa, "Semalam, Seojun hyung, sekarang kau! Apa kalian benar-benar ingin aku menyerah?" pikir Yongju seraya menghela nafasnya berat, lalu kembali menghadap cermin di depannya. Tiba-tiba ia tertegun saat sebuah pikiran terlintas di kepalanya, lalu memalingkan wajahnya ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup.


***


Bulan hampir menampakan dirinya saat aku dan Yongju beristirahat di dalam mobilnya sambil menikmati pemandangan Sungai Han yang sangat cantik saat senja, setelah kelelahan menyusuri pasar murah di Namdaemun market, tempat yang sejak lama ingin Yongju datangi bersamaku. Aku yang hanya terbiasa dengan mall mewah dan barang branded pun menjadi kalap mata di pasar serba ada ini. Bukan hanya makanan, aku juga membeli berbagai pakaian, aksesoris, kerajinan tangan sampai perabotan yang menurutku lucu dan menarik.

__ADS_1


"Untung oppa sudah menyiapkan uang cash!" kata Yongju seraya melirik ke arah barang belanjaanku yang memenuhi bagasi mobilnya. "Tapi tidak apa-apa, asal bisa membuatmu senang seperti ini!" lanjutnya dalam hati seraya tersenyum melihatku yang tersenyum lebar membalas usahanya menghiburku. "Kau senang?" tanyanya dan aku pun mengangguk. "Terima kasih, oppa! Aku tidak tahu kalau di sana sangat menyenangkan. Lain kali, aku akan ke sana lagi," sahutku. "Dengan siapa? Oppa tidak bisa sering-sering ke sana. Tadi saja, sudah ada beberapa orang yang hampir mengenali oppa," katanya. "Sendiri juga bisa," sahutku seraya menyeruput minumanku. "Tidak boleh. Setidaknya, ajaklah seseorang atau bodyguard untuk menjagamu," katanya. "Hmm, baiklah boss!" sahutku malas. Yongju terkekeh mendengar jawabanku. "Baiklah, sebelum pulang, ayo pergi ke suatu tempat dulu!" ajaknya seraya mulai melajukan mobilnya.


Setelah menempuh beberapa puluh menit perjalanan, Yongju menepikan mobilnya di depan sebuah toko bunga. Aku yang tidak pernah pergi ke toko bunga, hanya mengekor di belakangnya sambil menikmati pemandangan indah dari berbagai jenis dan bentuk bunga yang indah menawan hati. Bahkan beberapa kali, aku sampai memekik kagum melihat kecantikan bunga-bunga itu. "Bunga apa yang oppa cari?" tanyaku antusias. "Apa ada yang kau suka?" tanyanya balik sambil terus berjalan di depanku.


Aku berhenti di depan keranjang bunga yang berisi tulip kuning, "Ah, ini yang sering ada di apartemen oppa, bukan?" tanyaku seraya menunjuk bunga itu. Yongju berbalik dan tersenyum kecil, lalu mengambil beberapa kuntum bunga itu dan menyerahkannya padaku, memintaku untuk memasukannya ke dalam keranjang yang aku bawa. Kami melanjutkan langkah kami sampai Yongju berhenti di keranjang yang berisikan bunga anyelir merah. "Hana!" panggilnya yang memunggungiku, dengan lembut. "Iya?" sahutku. Yongju berbalik dengan beberapa kuntum bunga anyelir di tangannya, "Jika Daehyun mencampakanmu, bagaimana dengan oppa?" tanyanya dengan tatapan yang sulit aku artikan.


Aku diam, tak menjawabnya. Aku sudah menduga, cepat atau lambat aku akan mendengar pertanyaan semacam ini dari Yongju. Suasana hatiku yang semula senang, kembali berubah kelam. "Yang ini juga cantik!" ucapku pura-pura tidak mendengar dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku menghindarinya dengan memilih bunga di depanku. Yongju menangkap tanganku dan berkata dengan pelan, "Jangan menipu dirimu sendiri lagi! Jujurlah dengan perasaanmu sendiri! Jangan malu pada dunia! Jangan munafik atau berpura-pura jahat pada perasaanmu lagi!"


"Apa yang oppa bicarakan? Berhentilah bercanda!" kataku dingin seraya berbalik dan menyerahkan beberapa kuntum bunga anyelir kuning ke tangannya, menyatukannya dengan bunga anyelir merah di tangan Yongju. Beberapa saat, ia tertegun memandangi bunga anyelir dengan dua warna di tangannya itu. "Apa jadinya, jika oppa tak bisa menyingkirkanmu dari pikiran oppa?" ucapnya pelan seraya masih menatap pilu bunga itu. "Apa jadinya, jika musim oppa tak pernah berubah?" katanya lagi seraya tersenyum hambar. "Apa jadinya, jika kau lupa untuk tidak melupakan oppa dan memilih Daehyun lagi?" lanjutnya seraya beralih menatapku dengan sepasang mata yang bergetar. "Oppa tidak menyangka, menyukaimu bisa melukai hati oppa sepedih ini. Kalau oppa tahu akan sesakit ini, mungkin dari awal, oppa tidak akan pernah berpikir menyukaimu lebih dari seorang sepupu. Sepertinya, akan perlu waktu lama untuk menyembuhkannya," ucapnya seraya tersenyum getir padaku. Senyum yang tak semanis biasanya.


Aku memalingkan wajahku, tak ingin melihatnya. "Jujur, meskipun waktu berlalu, tapi oppa tetap tidak kuasa menghapus rasa oppa padamu. Bagaimana bisa oppa menghapusmu, membencimu, sedangkan oppa begitu dalam menjatuhkan hati? Oppa benar-benar jatuh cinta, sungguh cinta, bahkan sedalam-dalamnya rasa. Tapi apa daya oppa yang tidak ditakdirkan untuk memilikimu?" kata Yongju seraya menitikan sebulir air matanya, tanpa sepengetahuanku. "Lebih baik tidak memulai lagi karena kita sudah tahu, akhirnya hanyalah perpisahan!" ucapku dingin dengan begitu kejam, masih memalingkan wajahku. Aku tahu, aku sudah keterlaluan, tapi aku tidak ingin memberinya harapan lagi.


Sekali lagi, Yongju tersenyum kecil sambil menyeka ujung matanya. "Kau benar, lebih baik kita tidak memulainya lagi, karena hanya akan saling melukai. Tapi, berjanjilah biarkan oppa tetap bersamamu sebagai oppa-mu seperti biasa karena tidak akan ada perpisahan yang pasti, yang bisa memisahkan kita berdua, selain kematian," balasnya yang membuatku langsung memalingkan wajahku menatapnya saat mendengar kata terakhirnya. "Kenapa oppa bicara melantur dari tadi? Aku tidak suka oppa bicara seperti itu!" ucapku kesal, lalu meninggalkannya, kembali ke mobil.


Di dalam mobil, aku menggerutu seorang diri. "Ada apa dengan mereka hari ini? Tadi pagi, bayi besar itu yang aneh! Sekarang, oppa juga ikut-ikutan aneh!" kataku. Aku mengingat lagi, aktivitasku hari ini bersama Yongju. Sepanjang kebersamaan kami, ia lebih banyak diam dan mengikuti semua kemauanku. Aku sering memergokinya sedang memandangiku dengan tatapan begitu lembut, lalu hanya tersenyum ringan ke arahku setelah tertangkap basah. "Ada apa dengannya?" pikirku.


Di dalam toko bunga, Yongju melanjutkan aktivitasnya memilih bunga dan membiarkan aku menunggunya di mobil. Selama menunggu sang florist merangkai bunga-bunga itu untuknya, ia duduk sambil menulis sesuatu di secarik kertas. Setelah selesai, ia memasukan kertas itu ke dalam saku jaketnya. Kemudian, saat mengisi waktu menunggu, ia kembali menjelajahi seisi toko bunga dengan matanya, lalu atensinya menemukan sebuah bunga yang menarik seutas senyum manis di wajah tampannya. Yongju pun beranjak untuk mengambil bunga itu. "Tolong, bungkuskan juga yang ini, tapi buatkan terpisah," katanya seraya menyerahkan bunga itu pada sang florist langganannya. "Apa hanya ini sendiri?" tanya sang florist. "Iya, itu saja!" jawabnya.

__ADS_1


"Apa yang ini memerlukan kartu ucapan?" tawar sang florist. Yongju tersenyum, lalu tanpa menjawabnya, ia meraih sebuah kertas ucapan yang tersedia di atas meja, lalu mulai menulis, "Oppa tahu, semua harus berakhir. Tapi oppa tetap ingin memberikan bunga ini untukmu. Ketahuilah, kau akan tetap menjadi bunga kecil oppa, cahaya oppa, kekasih casablanca-ku. Terima kasih sudah menjadi bagian terbaik dalam hidup oppa." Selesai menulis, ia menutup kartu ucapan itu dan memasukannya ke dalam amplop kecil berwarna putih, lalu menyerahkannya pada sang florist yang kemudian menyisipkannya di antara rangkaian bunga baby breath yang memiliki arti cinta sejati yang tak akan pernah berakhir.


__ADS_2