The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Aku Yang Menghamili Dan Aku Akan Bertanggung Jawab Menikahinya


__ADS_3

Di rumah sakit, Yongju tengah ditangani seorang dokter, serta beberapa perawat dan mendapatkan beberapa jahitan di kepalanya. "Hei, Yongju! Tidak bisakah kau berbaring saja? Dokter, kenapa tidak kau bius saja dia sampai tidak sadar?" tanya Seojun sambil sesekali meringis ngilu, melihat kepala adiknya itu dijahit. "Tidak apa-apa. Seperti ini, saya lebih mudah melakukannya. Lagipula, hanya luka kecil dan tidak dalam. Pasien juga masih kuat," kata sang dokter sambil tersenyum melihat Seojun yang sejak tadi sibuk memperhatikan kedua adiknya yang sedang ditangani di ruangan yang sama. "Dokter, kenapa tidak digundul saja semuanya?" celetuk Junghwa yang telapak tangannya sedang diperban seorang perawat, mengingat Dokter tersebut mencukur rambut Yongju di bagian yang terluka. Seojun, Hyunwo dan Namgil yang mendengarnya pun tertawa. Sedangkan Yongju hanya diam mengacuhkan mereka.


Di sisi lain ruangan itu, ada Daehyun yang hanya diam menatap interaksi mereka. Sama seperti Yongju, Daehyun tengah duduk di atas ranjang pasien saat lengan bagian atas tangan kanannya mendapatkan jahitan. Daehyun dan Yongju tidak peduli dengan semua orang di ruangan itu karena yang ada di kepala mereka saat ini hanya, "bagaimana dengan Hana?" pikir mereka. Sedangkan aku sendiri diperiksa di ruang terpisah atas permintaan appa-ku.


Tiba-tiba saja, "Jiwon?" ucap Namgil yang seketika menarik perhatian Daehyun. Arah pandangan Daehyun pun mengikuti langkah Namgil yang berjalan keluar ruangan dan benar saja, tidak lama setelah panggilan itu, Jiwon masuk ke ruangan yang sama dengan mereka. "Hyung? Kau di sini? Apa ada anggota keluarga hyung yang sakit?" tanya Jiwon yang juga langsung menghampiri Namgil, tanpa melihat keberadaan Daehyun di dalam ruangan itu. "Tidak. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di Seoul? Kau sakit?" tanya Namgil balik. "Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang menjenguk tetanggaku yang sedang dirawat di sini," jawab Jiwon seraya tidak sengaja melihat Junghwa di dalam dengan tangan di perban.


Jiwon pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Keningnya mulai berkerut saat melihat Yongju yang juga diperban di kepala. Lalu, "Daehyun?" ucapnya saat mendapati mantan sahabatnya itu juga menjadi salah satu pasien di ruangan yang sama. "Ada apa ini? Apa kalian baru saja mengalami kecelakaan?" tanyanya dengan wajah polos. "Ceritanya panjang," ucap Namgil seraya memaksakan senyum dan lesung pipitnya. "Awas saja kalau hyung ceritakan padanya!" sahut Daehyun antara marah dengan Namgil yang masih berhubungan baik dengan Jiwon, sedangkan dia tidak. Lalu malu dengan Jiwon, jika sahabatnya itu tahu kesalahannya, juga tidak enak dengan Jiwon karena sudah menghamili gadis yang disukai sahabatnya itu.


"Tenanglah, aku juga tidak tertarik untuk mendengarkan ceritamu!" kata Jiwon tersenyum miring dan hanya menggelengkan kepalanya, "dasar tukang ancam! Kapan dia berubah!" pikirnya, jengah. "Dia menghamili Sooyun!" celetuk Junghwa dengan wajah tak berdosanya. Bukan menceritakan kejadian secara keseluruhan ataupun merangkumnya, tapi si nakal itu dengan sengaja langsung mengatakan titik permasalahannya pada Jiwon. "Astaga, dia mulai lagi! Pasti dia sengaja melakukannya! Lihat wajah bayinya itu! Dasar iblis kecil berwajah malaikat!" kata yang lainnya mengumpat dalam hati secara bersamaan. Sedangkan Junghwa sendiri malah tersenyum evil ke arah Daehyun yang kembali meradang.


Lain halnya, dengan Jiwon yang langsung menoleh ke arah Junghwa saat mendengarnya. Saat Jiwon melihat senyum evil di wajah bayiku itu, ia menyalihkan pandangan ke arah yang sama dengan Junghwa. Jiwon menatap tajam Daehyun yang juga menatap tajam ke arah mereka. "Bocah sialan!" geram Daehyun seraya turun dari ranjangnya dan menghampiri Junghwa yang masih duduk dengan santainya. "Hentikan! Mau sampai kapan kalian berkelahi, hah? Apa luka kalian itu belum cukup!" bentak Seojun yang langsung menghalau Daehyun. Daehyun tidak memperdulikannya dan berusaha melewati Seojun. Melihatnya, Yongju dan Hyunwo sudah di posisi bersiap menyerang Daehyun.


Namun, langkah Daehyun terhenti saat kedua orang tuanya masuk bersama Tuan dan Nyonya Shin, serta Sooyun sendiri yang dijemput paksa anak buah Junghwa. Semua matapun tertuju ke arah sosok Sooyun yang di kawal dua bodyguard, seperti 7 serigala yang tengah menatap tajam seekor domba yang terjebak tak berkutik. Sooyun memang berniat menjebak Daehyun, tapi ia tidak pernah menyangka jika ia akan terjebak dalam dunia mafia seperti saat ini. Daehyun yang melihat Sooyun di depannya, langsung memutar langkahnya ke arah gadis cantik itu. Dengan kasar, Daehyun menarik lengan Sooyun sambil berkata, "Kau puas sudah merusak semuanya, hah!" bentaknya. Tanpa ada yang memperhatikan, Jiwon terus melangkah maju dan melepaskan tangan Daehyun yang mencengkeram kuat lengan Sooyun.


"Daehyun, jaga sikapmu!" bentak Tuan Kim. "Kau tidak apa-apa?" tanya Jiwon dengan begitu lembut pada Sooyun yang langsung menepis tangannya. Daehyun yang melihatnya malah semakin kesal dengan sikap Sooyun terhadap Jiwon. "Karena semua sudah di sini, mari kita mulai tesnya!" ucap Junghwa seraya turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah Sooyun. Sooyun tampak menundukan kepalanya ketakutan, karena tanpa seorang pun yang tahu, dia sudah melihat betapa psikopatnya pemuda yang aku anggap bayi manja ini.


Saat melewati troli peralatan medis, tangan Junghwa meraih sesuatu. "Dan siapa pun yang berani memanipulasi hasilnya, aku akan membuatnya masuk ke kamar mayat, hari ini juga!" ancamnya seraya mengoleskan pisau bedah ke pipi Sooyun dan terus turun ke lehernya. "Kau!" geram Jiwon dan Tuan Shin yang terkejut melihatnya. Sedangkan yang lain yang sudah tahu watak asli Junghwa, hanya menghela nafas panjang. "Jung, hentikan! Kau menakutinya!" tegur Yongju yang baru selesai diperban dan memilih membaringkan tubuhnya. Junghwa pun menurunkan pisaunya.


"Daehyun..." kata Sooyun berusaha mendekati Daehyun untuk meminta perlindungan, tapi Daehyun langsung memundurkan langkahnya dan menepis kasar tangan Sooyun yang berusaha menyentuhnya. "Akan aku perjelas di sini, jika terbukti anak yang kau kandung itu adalah anakku, aku akan menikahimu. Tapi aku tidak akan pernah menganggap pernikahan ini dan saat anak itu lahir, aku akan menceraikanmu! Jika kau menolak, gugurkan saja sekarang!" ucap Daehyun dingin. Sooyun pun langsung menangis mendengarnya. Sedangkan, Jiwon tidak bisa menutupi emosi di wajahnya mendengar pernyataan Daehyun itu. "Hmm, tiba-tiba aku mencium bau sesuatu yang terbakar!" celetuk Junghwa seraya melirik Jiwon yang menatap cemburu ke arah Daehyun dan Sooyun dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. "Wah, benar-benar ada api di matanya, panas!" celetuknya lagi dengan wajah meledeknya.


"Kalian berdua sungguh hebat!" ucap Jiwon dengan suaranya yang bergetar seraya menatap Daehyun dan Sooyun. Jiwon berjalan ke arah keduanya, "Aku tunggu undangannya, bajin***!" ucapnya tepat di depan telinga Daehyun. Daehyung pun terdiam, seolah kata terakhir yang Jiwon ucapkan tadi merusak gendang telinganya. "Bajin***, katamu?" tanya Daehyun tidak percaya dengan pendengarannya. "Apa ada kata lain yang lebih pantas untuk bajin*** yang merebut pacar sahabatnya sendiri? Kalian berdua sama saja, sama-sama bajin***!" kata Jiwon seiring tatapan jijiknya yang berakhir pada Sooyun.


"Dan untukmu, Sooyun, karena kita belum putus secara resmi, hari ini, aku Park Jiwon memutuskan hubunganku denganmu!" lanjutnya dengan lantang dan langsung meninggalkan ruangan dengan hati yang hancur. Diikuti Namgil yang memilih menyusul sahabatnya itu. Semua terperangah mendengarnya, terlebih bayi nakal itu yang membulatkan mata bulatnya dengan sempurna. Junghwa pun tertawa sambil bertepuk tangan, persis seperti bayi yang baru saja menyaksikan tontonan menarik. "Daebak! Jiwon hyung, aku menyukaimu!" teriaknya.


"Semua sudah selesai?" tanya Tuan Jeon yang baru datang bersama dokter yang akan melakukan tes DNA pada Daehyun dan Sooyun. "Iya, appa. Luka Daehyun sudah selesai dijahit," jawab Seojun. "Ini dokter yang akan membantu kalian melakukan tes DNA. Dok, silahkan," kata Tuan Jeon. "Sebelumnya, saya ingin memberitahu kalau tes DNA pada janin dilakukan dengan mengambil cairan ketuban atau sampel jaringan plasenta dan kedua jenis tes ini memiliki risiko ibu mengalami gangguan hingga keguguran. Jadi, apa kalian yakin akan meneruskan..." kata dokter tersebut. "Tidak perlu penjelasan panjang lebar! Aku tidak peduli! Lakukan saja sekarang, Dok!" sela Daehyun memotong perkataan sang dokter. Dokter itu menoleh ke arah Tuan Jeon yang menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, silahkan ikuti saya!" kata dokter itu. Daehyun dan Sooyun beserta kedua orang tua mereka pun mengikuti sang dokter.


"Junghwa, apa lagi yang kau lakukan dengan pisau itu!" tanya Tuan Jeon pada putra bungsunya itu dengan melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. Junghwa pun langsung mengembalikan pisau di tangannya itu ke tempatnya semula. Tuan Jeon menghela nafasnya panjang. Meski Junghwa tidak menjawabnya, Tuan Jeon sudah bisa menebak apa yang dilakukan anaknya itu dengan pisau itu. Sejak kecil, si bungsu itu memang suka bermain dengan senjata. Bahkan dengan jahilnya, sering menakuti para pelayan di rumah mereka dengan benda tajam. "Jangan membuat masalah di sini! Di sini bukan rumah, mengerti!" pesan Tuan Jeon. Dengan nakalnya, Junghwa malah memberi hormat pada appa-nya itu. "Seojun, tolong awasi dua adikmu itu! Appa harus pergi karena ada meeting dengan klien," lanjut Tuan Jeon sebelum pergi meninggalkan ketiga putranya itu.

__ADS_1


***


Kembali ke Daehyun. Sesekali, Sooyun melirik pemuda pujaan hatinya yang tengah berjalan di sampingnya itu. "Jika aku berhasil menjadi istrinya, aku akan memiliki semua yang aku inginkan!" katanya dalam hatinya seraya tersenyum bahagia. Daehyun meliriknya. "Ck, apa yang kau pikirkan! Ingat, aku tidak pernah menyukaimu! Jadi, tidak usah bermimpi menarik perhatianku! Jangan berharap, kau bisa menggantikan Hana!" katanya dingin, tanpa sudi melihat Sooyun. "Tapi bagaimana pun, aku yang akan menjadi istrimu. Ingat, kau harus menepati perkataanmu untuk menikahiku!" balas Sooyun santai. "Omong kosong! Kau pikir, aku peduli! Sudah aku katakan, aku akan menceraikanmu segera setelah anak itu lahir dan menikahi Hana!" sahut Daehyun.


"Jika kau baik padaku setelah kita menikah, aku akan lebih baik padamu. Jika kau adalah appa yang berhak atas anakmu ini, maka aku eomma-nya yang mengandung dan melahirkannya. Itu artinya kau tidak bisa memisahkan kami! Jika kau melakukannya, aku akan membalasnya pada Hana!" sahut Sooyun dengan rahangnya yang mengeras menahan emosi. Daehyun menghentikan langkahnya. "Memangnya, siapa kau berani menghakimi kesalahan kita pada Hana? Anakku? Anakku hanya akan lahir dari perut Hana! Kalau kau sangat mencintai anak dalam perutmu itu, bawa saja dia menjauh dariku, itu lebih baik! Jadi, anak ini tidak akan jadi pengganggu seperti ibunya!" kata Daehyun dengan begitu kejamnya, lalu melanjutkan langkahnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Sooyun.


Sooyun tertawa kecil, padahal hatinya menangis menerima setiap ucapan Daehyun itu. Terlebih saat Tuan dan Nyonya Kim yang berjalan acuh melewatinya. Hanya Nyonya Shin yang memberikan pelukannya, "Sabarlah! Anggap saja, ini proses yang harus kau lalui. Kau harus lebih bekerja keras untuk meluluhkan hatinya," ucap Nyonya Shin. "Kau bodoh! Appa masih tidak habis pikir, kenapa kau melakukan semua ini hanya untuk menikah dengan pemuda sepertinya! Kau lihat sendiri bagaimana sikap mereka tadi padamu! Menakjubkan! Appa tak ingin kau mendapatkan diskriminasi dari mereka semua, Sooyun! Lebih baik kau gugurkan saja anak itu!" kata Tuan Shin.


***


Beberapa saat kemudian, Daehyun mengunyah permen karet di mulutnya sambil berjalan ke arah ruanganku. Daehyun ingin mengetahui keadaanku, selagi ia menunggu hasil dari tes yang sudah ia lakukan. Dari ujung lorong, Daehyun melihat Junghwa yang tengah berbincang dengan beberapa anak buahnya, termasuk Hyunwo di depan ruangan mereka tadi. "Sial! Sepertinya, appa tidak berbohong kalau bocah sialan ini bagian dari mafia! Dia diperlakukan seperti raja oleh orang-orang dungu itu!" kata Daehyun dalam hati seraya mengunyah, lalu meludahkan permen karetnya dengan emosi, seolah-olah permen karet itu adalah Junghwa.


Daehyun menatap penuh kebencian pada Junghwa. Ia baru menyadari posisinya sekarang, seperti pepatah "Di atas orang yang berlari adalah orang yang terbang dan di atas orang yang terbang adalah seseorang yang mengendalikannya". Jika selama ini, Daehyun menganggap dirinya tinggi karena kekuasaan appa-nya, tapi sekarang dia harus berhadapan dengan mafia yang lebih jahat dari appa-nya. "Yang paling menyebalkan, kenapa harus bocah kurang ajar itu!" rutuknya.


Daehyun hampir sampai di depan ruanganku, saat keributan terdengar dari dalam ruangan tempat mereka diobati tadi, yang juga tidak jauh dari ruanganku. Daehyun pun berhenti sejenak untuk memeriksanya. Di dalam ruangan itu, Yongju yang semula diam berbaring di ranjang pasien, tiba-tiba bangun dan bergegas turun dari tempatnya. Karena merasa terganggu, Yongju bahkan mencabut selang infus di tangannya begitu saja sampai darahnya menetes dari bekas tusukan jarum infusnya. Seojun yang melihatnya pun langsung membuat keributan dengan mengomel seperti bom yang meledak, tapi sang adik tetap tidak menghiraukannya sama sekali. Yongju bergegas keluar dari ruangan itu setelah tadi sempat terlelap dan bermimpi buruk tentangku.


"Apa kau sangat ingin mendengar aku bicara untuk memastikan aku masih hidup atau tidak?" tanya Yongju seraya menurunkan pandangannya, "Apa pangeran katak sudah selesai membasahi celananya? Maaf, tapi di sini tidak ada kamar mandi yang kedap suara. Jadi, kuperintahkan kau untuk pulang saja dan melanjutkannya di rumah. Pergilah! Lakukan saja sendiri karena setelah ini, mungkin kau tidak akan punya mainan lagi untuk menemanimu bermain!" lanjutnya. "Eomma, lihatlah artis eomma yang arogan ini! Ketika dia keluar dari agensi kita, eomma harus memastikan dia tamat!" kata Daehyun mengadu seperti anak kecil pada Nyonya Kim yang juga tampak marah dengan perkataan Yongju itu.


"Anak manja! Dibandingkan denganmu yang tidur setiap malam dan gemar menghabiskan uang orang tuamu, aku adalah pekerja keras dan mencapai semuanya dengan usahaku sendiri. Sekedar mengingatkan, penggemarku banyak. Jika aku pergi, mereka akan tetap mengikutiku!" kata Yongju lagi, sebelum berlalu dengan menabrakan bahunya ke bahu Daehyun. "Kita lihat saja nanti! Aku akan menjatuhkanmu! Dan sekedar mengingatkan juga, suaraku bahkan dapat menyihir wanita mana pun, termasuk adik sepupumu!" balas Daehyun dan berhasil membuat rahang Yongju mengeras saat mendengar kalimat terakhirnya. Tapi karena teringat kembali denganku, Yongju tetap menjauh dari sana, menuju ruang inapku.


"Studio adalah tempat bermain hyung-ku, pasangannya adalah selembar kertas dan pena. Aku yakin, hyung-ku tidak punya waktu untuk membayar guru besar sepertimu untuk mengajarinya cara menyihir wanita!" sahut Junghwa. "Dasar bocah! Kau pikir dikawal seperti itu dapat membuatmu menjadi kuat? Aku harap kau melepaskan tangan babysitter-mu yg tersenyum secerah matahari itu! Belajarlah berjalan sendiri, bayi!" balas Daehyun yang sudah kesal setengah mati dengan kakak beradik itu. Mendengarnya, Hyunwo benar-benar tersenyum secerah matahari. "Jika aku matahari, kau adalah bulan. Karena jika aku naik, kau akan pergi turun!" katanya.


"Astaga, jantungku sampai berdebar mendengar kalian saling berpuisi!" sela Seojun, sarkas. "Kalian anak nakal, tidak bisakah berhenti menjadi beban orang tua dengan ribut seperti ini? Tidak bisakah kita menunggu dengan tenang? Kalau kalian hanya mau membuat keributan, pergi saja sana, bukan di sini! Ini rumah sakit, pasien di sini butuh ketenangan, mengerti!" katanya dengan berkacak pinggang. Padahal dia sendiri juga membuat keribuatan dengan omelannya yang nyaring itu.


Daehyun dan Junghwa memang berhenti bicara dan saling berdiri berhadapan di depan ruangan itu. Tapi tidak lama kemudian, keduanya mulai adu mulut lagi dengan suara pelan. "Tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kami bisa mencari agensi lain, bahkan membuat yang baru, jika aku mau!" kata Junghwa. "Benarkah? Kalau begitu, kita lihat saja sejauh mana kalian akan pergi! Lagipula, masih banyak bunga yang segar yang bisa menggantikan akar yang busuk!" kata Daehyun. "Ayo, taruhan! Tanpa kami, kebun bungamu itu akan layu!" sahut Junghwa. "Itu tidak akan terjadi!" kata Daehyun. "Kau pikir begitu? Pergilah ke agensi dan mulailah bekerja paruh waktu di sana. Lebih baik kau memastikan sendiri bagaimana kehancuranmu, bukan?" kata Junghwa.


"Lalu, apa yang mau kau lakukan?" tanya Daehyun. "Keluar dari agensimu. Bukankah itu yang kau mau? Apa kau pikir, aku akan bermain trik kotor sepertimu?" jawab Junghwa. "Tenanglah! Meski karirku hancur, aku masih bisa meneruskan hidupku! Rebahan saja, hidupku sudah terjamin!" lanjut Junghwa seraya dengan sombongnya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ck, sama-sama harta warisan saja sombong!" gerutu Daehyun. Junghwa tertawa, "Siapa? Kau?" tanya Junghwa. "Yang pasti bukan aku! Asal kau tahu, aku memang baru 16 tahun, tapi aku sudah punya beberapa bisnis yang aku bangun sendiri. Bukan warisan! Kalau kau?" kata Junghwa.

__ADS_1


Daehyung hanya mendecih tak percaya. Junghwa ikut mendecih melihatnya. "Aku harap, Tuan muda sepertimu tetap berjuang menjaga harta warisannya! Teruslah membusuk dengan surat warisan, jika itu keinginanmu. Hidupmu seperti ikan lumpur yang tidak bisa keluar dari bayang-bayang orang tua!" kata Junghwa. Seperti tertampar ucapan sang adik, Seojun yang semula ingin menegur keduanya, jadi tertegun mendengar perkataan adik bungsunya itu. Adik kecilnya itu memang nakal dan kurang ajar, tapi terkadang malah bisa bersikap lebih dewasa darinya.


Reka ulang ingatan Seojun terlintas di kepalanya. Selama ini, si sulung itu selalu menyimpan masalahnya sendiri dan membaginya hanya dengan kekasihnya yang masih ia sembunyikan dari semua orang, terlebih eomma-nya yang selalu mengaturnya harus berhubungan dengan siapa. "Kim Seojun, kau itu memalukan! Hidupmu juga seperti ikan lumpur yang tidak bisa keluar dari bayang-bayang eomma-mu!" pikir Seojun, mengingat eomma-nya yang selalu memaksanya untuk jadi pewaris perusahaan appa-nya. Padahal dia punya cita-cita sendiri. "Hanya dengan sedikit tindakan perlawananku, eomma akan jatuh sakit. Dibandingkan dengan adik yang jauh lebih muda dariku, aku sangatlah kecil. Aku iri dengan Junghwa yang bisa melakukan apapun yang ia mau dengan bebas," katanya dalam hati seraya memperhatikan adiknya itu.


***


Sementara di ruangan lain, di mana aku tengah menjalani pemeriksaan, pikiran dan tatapanku mendadak kosong setelah mendengar sebuah kalimat yang diucapkan seorang perawat yang sejak tadi menemaniku di ruangan ini. "Tunggu sebentar, dokter akan datang dan menjelaskan semua hasil pemeriksaan dengan lebih jelas. Kami juga sudah memanggil orang tua anda untuk ke sini," kata perawat itu ramah. Aku tidak mendengar lagi apapun yang diucapkan perawat itu. Dengan air mata yang tiba-tiba keluar deras, aku langsung berlari keluar dari ruangan itu, tak peduli dengan perawat tadi yang berusaha menahanku. Entah kenapa, aku ingin mencari sosok appa-ku.


Aku melihat kedua orang tuaku di ujung lorong, tengah berjalan ke arahku bersama seorang dokter. "Hana?" panggil eomma yang terkejut melihatku berlari. Appa yang melihatku menangis, bergegas berlari ke arahku. Aku berlari ingin memeluk appa, bahkan tanpa menghiraukan Yongju yang sudah ada di depan ruanganku, juga semua orang yang aku lewati. Grab! Daehyun memelukku lebih dulu. "Sayang, ada apa, hah? Kenapa sayang menangis seperti ini?" tanyanya khawatir, tapi aku hanya menangis dalam pelukannya, seolah suaraku lenyap tak bersisa.


Seperti yang orang tuaku rasakan saat melihatku menangis, ada tiga hati yang juga akan sakit setiap kali melihat Daehyun memperlakukanku dengan manis. Salah satunya, Sooyun yang berjalan ke arahku, berniat memisahkan aku dari Daehyun, tapi ia berhenti saat melihat reaksiku. Aku mendorong Daehyun dengan keras agar melepaskan pelukannya. Tapi semakin aku melakukannya, semakin Daehyun mengeratkan pelukannya. "Lepaskan! Aku sangat membencimu!" ucapku berulang kali. Aku bahkan mulai memukuli dadanya yang masih tidak berniat melepaskanku. "Tenanglah dulu, baru aku lepaskan!" katanya. Kali ini, aku menamparnya. "Sayang ingin memukuliku? Baiklah, lakukan saja sampai sayang puas!" katanya seraya mengarahkan pipinya.


Bukannya puas setelah memukulinya, tangisku semakin kencang. Daehyun yang sudah ahli dalam menenangkanku, langsung membungkam mulutku dengan mulutnya. Bahkan ia mencoba memasukan lidahnya untuk bermain. Yongju, Junghwa dan Sooyun menggeram melihatnya. "Kau dalam bahaya, Daehyun!" pikir Seojun saat menyadari ekspresi kedua adiknya itu. Namun, bukan hanya Daehyun yang ahli menenangkan aku, tapi aku juga sudah ahli melepaskan diri dari pemuda pemaksa ini.


Aku mencubit keras pinggang Daehyun sampai ia terpaksa membuka bibirnya karena meringis kesakitan. Aku meludah di depannya dan menyapu kasar bibirku yang basah dengan air liurnya. "Kim Daehyun, apa yang kau lakukan, hah!" bentak appa-ku seraya menarikku menjauh dari Daehyun. "Seperti yang aku katakan, kau tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan putriku!" lanjut appa. Appa melepaskan cincin pertunangan di jariku, lalu membuangnya. Cincin yang sempat membuatku terbang melambung ke langit, tapi kemudian juga membuatku terjatuh sedalam ini.


"Persetan! Aku sudah berusaha melupakanmu, tapi kau masih berani menyentuh Hana, hah!" kata Yongju seraya mengcengkeram leher Daehyun, tanpa sadar semua yang terjadi di lorong ini menjadi bahan tontonan penghuni rumah sakit yang lain. Bahkan sebagian merekam dan membagikannya ke dunia maya, mengingat Yongju yang seorang idola. Daehyun menepis tangan Yongju dan kembali mendekatiku. Bahkan tidak menghiraukan appa-ku sama sekali. "Kemana janjimu yang akan menikah denganku? Aku adalah pemilikmu, aku yang akan menjadi suamimu!" paksanya seraya menangkap tanganku.


"Kim Daehyun, lepaskan tanganmu itu!" bentak appa-ku dengan keras. "Sampai mati aku tidak akan pernah memberikan putriku padamu! Lebih baik kau urus saja pernikahanmu dengan keluarga Shin secepatnya karena dokter baru saja mengatakan padaku, hasil tesnya positif anakmu!" lanjut appa dengan sangat jelas. Daehyun memejamkan kedua matanya dengan tangan mengepal. Sedangkan Sooyun tersenyum dengan puas. Yongju dan Junghwa pun menertawakannya dalam hati.


"Daehyun, hentikan! Ayo, kita pulang!" ajak Nyonya Kim. "Untuk apa lagi kita di sini? Lebih baik kita pulang sekarang dan mulai membicarakan soal pernikahan kalian! Kalian harus menikah secepatnya sebelum perut Sooyun membesar!" kata Tuan Shin, tanpa peduli situasi. "Diam kau ulat tua!" bentak Daehyun dengan keras. "Kalau kau ingin secepatnya menikahkan putrimu yang murahan itu, tarik saja sembarang pria di jalanan sana untuk jadi appa dari anaknya itu!" kata Daehyun geram. "Kurang ajar, kau! Bukankah kau sudah berjanji menikahi Sooyun tadi! Pegang kata-katamu sendiri! Atau haruskah aku menuntutmu secara hukum?" sahut Tuan Shin yang sudah berani karena merasa memiliki bukti kuat berupa hasil tes DNA itu.


"Tunggu! Jangan lakukan itu! Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik. Daehyun, cepat minta maaf!" kata Tuan Kim marah karena merasa diancam, tapi terpaksa menyembunyikannya karena merasa terbelunggu dengan bukti yang ada. "Daehyun! Kenapa kau berkata jahat seperti itu! Mulai hari ini, kau harus menjaga sikap dan perilakumu di depan mereka! Bagaimana pun mereka akan menjadi mertuamu! Sebentar lagi juga kau akan menjadi seorang appa dari anakmu," kata Nyonya Kim. "Ck, belum lahir saja, anak ini sudah membawa hal sangat buruk padaku! Lebih baik dia tidak usah dilahirkan saja!" kata Daehyun lantang. "Daehyun!" bentak semua orang, kecuali aku yang sejak tadi hanya diam dengan linangan air mata.


Daehyun mendengus kesal, saat eomma-nya menarik tangannya untuk pulang. Tapi atensinya menangkap tatapan kosongku yang menatapnya pilu, seiring tubuhku yang lemas terduduk di lantai. "Sayang! Hana!" panggil mereka bersamaan. Appa memelukku. Yongju dan Junghwa sigap menghalangi Daehyun yang berusaha mendekatiku lagi. Sedangkan Seojun membujuk Daehyun untuk pulang saja bersama orang tuanya.


"Tolong, bantu bawa pasien kembali ke kamarnya. Pasien masih dalam keadaan sangat lemah. Jangan membuat pasien terguncang seperti ini. Keadaan janinnya masih belum stabil karena masih terlalu muda," kata perawat tadi yang menyusulku. "Apa kau katamu?" tanya eomma terkejut. "Apa maksudmu?" tanya appa. "Pasien mana yang kau maksud, hah?" tanya Yongju. "Hei, bicara apa kau barusan!" kata Junghwa juga. "Maaf, apa yang anda maksud, Hana?" tanya Seojun sopan. Sedangkan Daehyun bertanya, "Hana hamil?"

__ADS_1


Mendengar kata-kata Daehyun itu, sontak semua mata tertuju padanya. Lalu sepersekian detik kemudian, beralih pada perawat tadi yang tampak bingung harus menjawab apa. Eomma menarikku dan mulai menanyakan langsung padaku, "Hana, kau hamil?" Aku tak berani menjawabnya dan hanya menundukan wajahku sambil kembali menangis. Appa langsung terhuyung mundur. Junghwa terdiam di tempat. Seojun menghela nafasnya panjang sambil menarik rambutnya ke belakang. Begitu pula Daehyun dan yang lainnya, yang terkejut mengetahuinya. "Katakan, siapa! Siapa, Hana?" bentak eomma. "Katakan, siapa yang melakukannya!" bentak eomma yang mulai menangis. "Aku! Aku yang menghamili Hana," kata Daehyun mengakuinya dengan berani. "Dan aku akan bertanggung jawab dengan menikahinya!" lanjutnya yakin.


__ADS_2