
"Pegang ini! Kata hyung, bawa pulang untuk teman miaw di rumah dan aku sudah memberinya nama Jeonju," kata Junghwa seraya menyerahkan kucing berbulu hitam itu padaku. "Jeonju?" ucapku bingung seraya menggendong kucing itu. "Noona lihat bulu hitamnya yang halus, mirip rambut hyung, bukan?" bisik Junghwa padaku, lalu tertawa setelahnya. Aku jadi memperhatikan bulu hitam Jeonju dan perlahan tanganku pun mengelus lembut bulunya. "Junghwa benar! Bulunya selembut rambut Yongju oppa," ucapku dalam hati seraya tersenyum kecil.
"Oppa!" panggilku pelan, tapi aku yakin, suara kecilku sampai di telinga Yongju yang sudah hampir tiba di ambang pintu keluar karena langkah kakinya melambat saat aku mengatakannya. Yongju yang awalnya tampak ragu untuk melanjutkan langkahnya, kembali melangkahkan satu kakinya keluar dari pintu itu, terlebih saat ia mendengar Daehyun menyahut panggilanku tadi. "Yongju oppa!" panggilku lagi, membuat Yongju akhirnya menghentikan langkahnya seketika, meski hanya diam di tempatnya berdiri, tanpa membalikan badannya ke arahku.
Ini pertama kali aku memanggil Yongju setelah perpisahan kami beberapa bulan yang lalu. "Meski saat itu, aku yang ingin melupakan perasaanku, tapi bukan berarti aku ingin melupakan hubungan kita," ucapku. "Karena sampai kapan pun hubungan di antara kita tidak akan pernah bisa putus. Jadi, berhentilah saling mengabaikan seperti ini," kataku lagi seraya menatap punggungnya Yongju penuh harap. "Aku harap, oppa mau memaafkan aku, eomma dan appa juga. Jangan membenci kami. Bagaimana pun kami masih keluarga oppa," lanjutku. Aku menggigit bibir bawahku karena takut Yongju kembali mengabaikan aku.
"Kita di saat itu, sangat sulit..." kata Yongju pelan, masih membelakangiku. "Aku merasa kita seperti dua orang yang sama-sama menatap bintang di langit yang jauh dan bintang itu adalah perasaan kita saat itu," lanjutnya. "Meski kau tak percaya adanya galaksi, tapi aku terlanjur melihatnya, galaksi perak itu, bintang itu. Apa itu salahku? Aku bahkan tidak pernah memintanya untuk muncul dalam hatiku," katanya sedikit terdengar emosi. "Meskipun ini akan terasa menyakitkan dan sulit, kau tak perlu mengingatkannya lagi. Tetaplah di jalan yang kau pilih dan biarkan aku di jalanku sendiri, berlari mengejar cahaya yang tak berujung itu!" ucap Yongju seraya sekilas menatapku, lalu pergi.
__ADS_1
Aku mematung mendengarnya. Samar-samar hawa udara yang seharusnya terasa panas di musim panas seperti ini, malah terasa begitu dingin seiring langkah Yongju yang menghilang di jalanan sunyi di luar sana. "Jung, apa aku salah? Apa oppa benar-benar membenciku? Apa aku sudah sangat melukainya? Kau tahu, bukan ini yang aku harapkan," ucapku dengan suara bergetar dengan wajah tertunduk. Junghwa menghela nafasnya panjang. Tuk! Ia mengetuk dahiku pelan sambil berkata, "tenanglah, pelan-pelan semua akan berubah." Aku menatapnya dengan cemberut seraya mengelus dahiku yang baru saja ia ketuk dengan telunjuknya.
"Kenapa cemberut? Jangan terlalu sering cemberut! Sekarang noona harus banyak tertawa, kalau tidak, wajah noona yang jelek itu semakin jelek dengan keriput!" ledek Junghwa sengaja membuatku kesal. Bukannya kesal, aku malah tersenyum dengan ledekannya. "Tidak apa-apa, karena mulai hari ini, aku akan baik-baik saja. Aku bukan Hana yang kemarin, jadi aku akan mencari kebahagianku juga," ucapku seraya kembali tersenyum. "Hyung, sekarang aku melihatnya lagi. Kau benar, hyung. Banyak duri yang mulai tumbuh di bunga mawarmu yang cantik ini, tapi tetap saja aku ingin memeluknya!" ucap Junghwa dalam hati seraya ikut tersenyum.
"Mau sampai kapan kalian mengabaikan aku?!" kata Daehyun yang terlihat kesal menatap aku dan Junghwa bergantian. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikan oppa," jawabku yang merasa rasa bersalah karena melupakan keberadaan Daehyung. "Ya, ya, anggap saja oppa angin lalu! Jadi, daripada oppa jadi pengganggu, lebih baik oppa pergi saja!" sahutnya merajuk dan berniat pergi meninggalkanku. Greb! Aku menangkap tangannya yang sudah berjalan satu langkah menjauh dariku. "Oppa, maaf," kataku. Daehyun melepaskan tanganku dengan pelan, lalu berkata "selesaikan dulu urusanmu dengannya. Oppa tunggu di mobil."
"Sudahlah, kita pulang saja!" ajak Daehyun. Tapi saat ia membukakan pintu mobilnya untukku, ia menatapku yang tidak beranjak masuk ke dalam mobilnya. "Ada apa?" tanyanya bingung. "Oppa, malam ini, jika aku mengulurkan tanganku pada oppa, bisakah oppa menggenggamnya?" tanyaku dengan kepala yang awalnya tertunduk, lalu perlahan terangkat memandang Daehyun. Lalu, aku ulurkan tanganku padanya sambil berkata, "karena nanti aku akan menjadi milik oppa, maukah oppa memulainya dengan menjadi pacarku?"
__ADS_1
Aku mengatakannya dengan lancar, tapi beberapa detik kemudian, aku merasa kedua pipiku memanas, apalagi saat melihat reaksi Daehyun yang tercengang dengan ajakanku barusan. Aku bergegas menyembunyikan wajahku dengan menunduk. "Kau tadi bilang apa?" tanyanya yang langsung mendekatiku. "Hana, oppa tidak salah dengar, bukan? Kau mengajak oppa pacaran?" tanyanya lagi. Masih dengan kepala tertunduk, aku mengangguk pelan. "Kau serius?" tanyanya yang masih tidak percaya dan aku pun kembali mengangguk pelan. "Aku hanya ingin belajar menerima oppa," kataku.
Senyuman kotak itu mengembang di wajah Daehyun, tapi saat ia teringat dengan perkataan Yongju tadi, senyum kotak itu menghilang, berubah menjadi segurat garis lurus di bibir tipis Daehyun. "Kalau begitu, mulai hari ini, kau hanya perlu melihat galaksi milik oppa! Oppa yang akan menjadi bintangmu, mengerti?" katanya seperti anak kecil yang sedang cemburu dan merajuk. Aku terdiam melihat polah manjanya yang terlihat imut itu, lalu tersenyum manis di depannya. Greb! Daehyun mengangkat aku dengan tiba-tiba sambil berkata, "karena aku akan memberikan seluruh galaksiku padamu!"
"Oppa, turunkan aku!" kataku seraya mengedarkan pandanganku ke seluruh area parkir dan benar saja, ada beberapa orang yang melihat kami berdua di sana. "Katakan dulu kalau kau menyukai oppa!" pinta Daehyun. Aku mengulum bibirku karena malu mengatakannya, sedangkan Daehyun menatapku dengan kedua mata berbinarnya yang menunggu penuh harap. Sesaat, aku terpaku saat menatap kedua bola mata hitam Daehyun. Mata indahnya berbinar karena cahaya yang menyinari kedua matanya itu dan aku melihat ada pantulan diriku di sana.
"Ya, kita akan berubah! Aku akan merubah hatiku untuk diriku sendiri, untuk Yongju, untuk eomma dan appa, serta untukmu yang akan menjadi pemilikku," pikirku sekali lagi memantapkan hati. Cup! Aku mengecup kening Daehyun setelah mengatakan, "aku menyukaimu, oppa! Tolong, bantu aku mencintaimu. Because now i am you're girl and you're my boy!" Daehyun menurunkan aku dengan senyuman tampannya yang mengiringi dan melakukan hal yang sama padaku, mengecup keningku dengan begitu lembut, dan berkata tak kalah lembutnya, "terima kasih sudah menerima oppa. Oppa juga menyukaimu."
__ADS_1