The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Kalian Tidak Bisa Bersama Lagi


__ADS_3

"Persetan dengan semuanya! Idol di bawah agensimu? Ck, buang saja omong kosong sialanmu itu! Abaikan saja aku! Mulai detik ini, aku keluar dari agensi!" kata Yongju saat menuruni tangga setelah meninggalkan aku di kamarku. "Yongju!" bentak eomma tidak percaya Yongju melepas semua karirnya. "Idol sialan! Baiklah, mulai hari ini, kita putus hubungan kerja! Aku pastikan, karirmu akan hancur mulai besok!" sahut Nyonya Kim geram. "Eunha! Apa yang kau maksud?" tanya eomma. "Apa lagi? Aku ingin mem-block namanya. Kalau perlu, namanya harus di blacklist di setiap stasiun TV!" jawab Nyonya Kim. "Kau tidak bisa melakukan itu! Bagaimana pun dia keponakanku!" kata eomma tidak terima. "Peduli apa aku! Keponakanmu sudah sangat kurang ajar. Dia juga sudah menganiaya Daehyun," sahut Nyonya Kim angkuh.


"Lalu, bagaimana dengan anakmu sendiri, hah? Daehyun juga sudah menganiaya keponakanku, mempermainkan putriku dan menghamili anak perempuan keluarga lain!" sahut eomma mulai geram. "Kau merendahkan keponakanku! Apa kau pikir, putramu sendiri tidak lebih kurang ajar? Apa karena kami bekerja padamu, kau bisa menganggap kami seperti anjing yang hanya bisa diam saat dipukul majikannya? Kau ingin menertawakan keluargaku!?" bentak eomma lantang. "Selama ini, kau hanya duduk tenang di rumah, hanya tahu mengikuti arus dan memandang rendah orang lain yang bekerja untukmu! Kau kira, setelah semua yang Daehyun lakukan pada putriku, aku hanya akan mengabaikannya, hah? Kalau Yongju keluar, aku juga keluar!" lanjut eomma.


Nyonya Kim shock, melihat sahabatnya yang marah untuk pertama kali padanya. "Aku ingin lihat, bagaimana kalian membunuh karir keponakanku? Atau sebaliknya, kalian yang mati tanpa kami!" tantang eomma dengan swag-nya. Yang lain, sampai terperangah melihat eomma. "Sepertinya, aku sudah tahu dari mana kau mendapat tingkah swag-mu itu!" kata Seojun pada Yongju yang berdiri di sampingnya. "Ya, monster swag-ku sudah kembali!" sahut Yongju dengan tersenyum miring.


"Sayang!" panggil appa-ku. Eomma menoleh pada appa. "Apa?" tanya eomma sinis. "Apa yang menurutmu baik belum tentu baik. Jadi,..." kata appa terpotong. "Jangan cegah aku..." sahut eomma yang juga terpotong. "Tidak, aku hanya ingin mengatakan, pilihan yang bagus! Kau tidak perlu lagi bekerja untuk mereka," sela appa seraya mengacungkan dua jempolnya. "Aku juga! Aku juga keluar dari agensi!" sahut Junghwa seraya mengangkat tangannya. "Kenapa kau ikut-ikutan?" kata Yongju tidak setuju. "Untuk apa aku bertahan di sana? Hyung dan bibi saja keluar!" sahut Junghwa. "Tapi, kau Idol baru. Pikirkan grup-mu jika kau tinggalkan?" kata Yongju lagi. "Kenapa harus aku yang memikirkannya? Biarkan saja pemimpin agensi yang memikirkannya!" jawab Junghwa.


"Kalau aku sih, tidak jadi artis juga tidak apa-apa! Kalau pun mau pindah agensi, itu semudah membalikan telapak tangan! Aku tinggal pilih agensi lain karena semua berebut menggaetku!" kata Junghwa santai. "Atau bagaimana kalau kita membuat agensi kita sendiri!" kata Junghwa yang tiba-tiba mendapat ide, sambil memberi kode pada appa-nya dengan kedua alisnya. Tapi sang appa hanya menarik nafas panjang mendengar ide gila dari putra bungsunya itu dan membuat sang putra mem-pout-kan bibirnya. "Tidak usah! Aku akan membuatnya sendiri!" kata Junghwa kesal pada appa-nya.


Nyonya Kim tertawa merendahkan ucapan Junghwa yang seperti anak kecil yang tengah kesal dan merajuk. "Kenapa anda tertawa? Ada yang lucu?" tanya Junghwa sinis. "Iya. Karena ada anak kecil yang melantur!" jawab Nyonya Kim. Sekarang, giliran Tuan Jeon yang tertawa. "Maksudmu, seorang Jeon Junghwa melantur?" tanya Tuan Jeon, lalu kembali tertawa. Semua yang tidak mengerti tawa Tuan Jeon pun hanya mengerutkan kening mereka, kecuali appa-ku, Seojun dan Hyunwo yang tampak biasa saja.


"Aku beritahu kau, putra bungsuku ini yang paling nakal di antara 3 anakku. Dia akan melakukan apa pun yang dia mau, meski aku melarangnya atau tidak membantunya sama sekali. Jadi, kalau nanti dia membenarkan ucapannya tadi, siap-siap saja kau!" kata Tuan Jeon. Dagu Junghwa sudah terangkat karena pembelaan sang appa, tapi ia kembali memicingkan matanya pada appa-nya itu saat Tuan Jeon berkata, "tapi karena dia masih anak kecil, jadi keinginannya bisa berubah-ubah!"

__ADS_1


Nyonya Kim hendak membuka mulutnya lagi, tapi Tuan Kim menarik tangan istrinya dan berbisik, "Apa yang kau lakukan? Kalau kau ingin melawan Yongju karena sudah melawan Daehyun, aku tidak mencegahmu, tapi jangan membawa-bawa si bungsu itu!" Nyonya Kim menatap tajam suaminya itu, "Kenapa? Apa karena dia putra kesayangan Sungjin? Tapi kau lihat sendiri bukan, dua-duanya sama kurang ajarnya! Apa kau takut pada mantan adik iparmu itu?" balasnya berbisik. "Astaga, apa kau tidak tahu siapa mertua Sungjin sekarang, kakek si bungsu itu?" bisik Tuan Kim.


"Junghwa itu cucu ketua mafia yang paling ditakuti di Jepang! Cucu satu-satunya dari anak satu-satunya dan itu artinya dia akan menjadi pemimpin generasi ke-3. Apa kau tidak menyadarinya, Sungjin saja tidak berani memaksa anak bungsunya itu?" lanjut Tuan Kim. "Aku yakin, dia juga yang sudah menyelidiki Daehyun. Sepertinya, Daehyun sudah memukulnya juga dan sekarang kau juga mau cari masalah dengannya? Jika sampai dia mengadu pada kakeknya, kita semua bisa dalam bahaya!" lanjut Tuan Kim seraya sesekali melirik ke arah orang-orang yang diam memperhatikan mereka berdua berbisik. "Sepertinya, mereka sudah tahu identitas tuan kecil! Si kecil licik dengan posisi tertinggi dari yang tertinggi karena menjadi kesayangan Tuan besar. Mari kita lihat, apa Tuan kecilku ini ingin bermain dengan kalian!" kata seseorang dalam hatinya.


"Kenapa semua jadi diam? Ayolah, lanjutkan saja perkelahian tadi! Jangan hentikan, terus saja tekan aku seperti kalian menekan hyung-ku! Sudah lama aku tidak latihan!" kata Junghwa dengan konyolnya. "Kau gila? Kau tadi menendangku di kepala, kau lupa?" sahut Daehyun kesal. "Bukankah tadi baru pemanasan?" sahut Junghwa acuh. "Tadi aku bermurah hati karena lawanmu itu Yongju hyung, bukan aku! Tapi sekarang aku ingin membunuhmu, melukaimu dengan halus, lalu aku akan menikam hatimu. Kemudian, memotongnya satu per satu," kata Junghwa dengan ekspresi mengerikan. Dengan nakalnya, sengaja menakut-nakuti Nyonya Kim yang terlihat bergidik ngeri mendengarnya. "Kau berani?" tantang Daehyun dengan smirk meremehkannya atas celotehan Junghwa itu. "Menurutmu?" sahut bocah nakal keluarga Jeon itu membalasnya dengan smirk juga. "Tanyakan saja pada appa-mu, siapa 5 teratas yang tidak boleh kau lawan! Itu pasti, eomma-mu, appa-mu, paman Lee, appa-ku dan aku," lanjut Junghwa, super angkuh. "Daehyun, sudah, hentikan!" sela Tuan Kim yang membuat Junghwa tersenyum menang, sedangkan Daehyun tampak bingung tidak mengerti.


Tampak Hyunwo berlari kecil ke arah Junghwa, setelah menerima sebuah panggilan di ponselnya. Hyunwo tampak membisikan sesuatu pada Junghwa. "Kalian saling kenal?" tanya Namgil, bingung. "Hyunwo? Paman baru sadar kalau juga ada di sini!" sela Tuan Jeon juga terkejut. "Ah, saya tadi ada di lantai dua," kata Hyunwo setelah menyapa Tuan Jeon. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Seojun. "Dia pengawalku, hyung," jawab Junghwa. "Pengawal? Ah, aku lupa! Eomma pasti mengirim pengawal setiap kali kau kabur dari rumah! Jadi, dia pengawal barumu? Muda sekali! Biasanya paman-paman!" kata Seojun seraya memperhatikan Hyunwo. "Aku Kim Seojun, hyung-nya. Ke depannya, aku mohon bantuan untuk menjaga adikku yang nakal ini!" kata Seojun seraya mengulurkan tangannya pada Hyunwo. "Jung Hyunwo. Itu sudah tugasku," balasnya. "Jadi, namamu benar-benar Hyunwo? Kenapa kau menyamar jadi kurir restoran?" tanya Seojun penasaran. "Hyung, berhentilah bertanya! Sekarang, bukan waktunya untuk itu! Hyunwo hyung, lakukanlah!" sela Junghwa.


"Semuanya, tolong ikuti saya ke rumah sakit. Untuk memperjelas masalah ini, saya harap Tuan Kim Daehyun bersedia melakukan tes DNA janin yang tengah dikandung Shin Sooyun. Walaupun hal itu berpotensi keguguran pada janin, tapi ini satu-satunya harapan untuk membuktikan Tuan Muda Kim bersalah atau tidak," ajak Hyunwo. "Aku rasa Hyunwo benar. Lebih baik kalian cepat menyelesaikan masalah ini dengan keluarga Shin. Jika terlambat, takutnya semua orang tahu kesalahan putra kalian!" sahut eomma dengan tatapan tajam pada Daehyun seperti pedang yang baru saja diasah.


"Tunggu apa lagi?" kata Junghwa seraya berdiri dari duduknya. "Aku memang masih di bawah umur jika dibandingkan dengan kalian semua, tapi apa kalian tidak berpikir untuk menyelesaikan semua ini secepatnya?" lanjutnya. "Aku sudah memilih rumah sakit milik appa-ku. Aku bisa jamin, kerahasiaannya! Aku akan pergi membawa hyung-ku, juga noona-ku karena sepertinya, noona terlalu shock akibat masalah ini sampai jatuh sakit. Terserah kalian mau ikut atau tidak!" lanjutnya.


Junghwa meminta Seojun membantu Yongju berjalan karena wajahnya sudah semakin pucat. "Bagaimana menurut paman? Menurutku, ke rumah sakit manapun kita pergi, itu akan menjadi masalah, jika sampai ketahuan media!" kata Namgil pada Tuan Kim "Kalau Junghwa sudah menjamin seperti itu, berarti di sana yang paling aman. Junghwa tidak mungkin membiarkan media tahu karena ini juga berhubungan dengan Yongju dan Hana," lanjutnya. "Baiklah, kita ikuti mereka. Namgil, kau juga ikut! Tolong, jaga Daehyun, jangan sampai nanti dia membuat masalah lagi di rumah sakit!" pinta Tuan Kim dan Namgil pun tidak mungkin menolaknya dengan memberitahu kalau hubungan mereka sudah renggang, juga karena aku.

__ADS_1


Semuanya pun berangkat ke rumah sakit, termasuk aku yang dibangunkan oleh eomma. "Hana, kau baik saja-saja, sayang?" tanya eomma dengan wajah khawatirnya. Tapi aku yang masih pusing hanya diam sambil menyandarkan kepalaku di kursi mobil. "Jika kau sakit, kita opname saja di rumah sakit. Lagi pula kau libur sekolah selama 2 minggu, bukan?" lanjut eomma. "Jangan terlalu dipikirkan, appa akan menyelesaikan masalah kau dan Daehyun," tambah appa seraya membelai lembut kepalaku. Seketika, air mataku kembali luruh. Aku tidak tahu lagi harus apa. Rasanya, aku kalah dan semua duniaku hancur. Aku malas melakukan apapun, mengatakan apapun, melihat apapun dan mendengarkan apapun. Eomma yang melihat punggungku bergetar, meraihku ke dalam pelukannya tanpa mengatakan apa-apa.


***


Di mobil yang ditumpangi Junghwa, Seojun, Yongju dan Hyunwo, Yongju diam-diam memperhatikan pengawal yang sedang menyetir di depannya itu. "Berapa umurmu? Apa kau tidak terlalu muda untuk jadi seorang pengawal? Badanmu juga kurus, tidak seperti bodyguard!" katanya yang membuat Junghwa tertawa. "Hyunwo hyung setahun lebih muda darimu, hyung," jawabnya. "Dia baru saja lulus sekolah, seperti Namgil hyung. Tapi jangan salah, walaupun dia bahkan belum pergi militer, tapi hobinya menembak! Lihatlah, bahkan sekarang dia pakai baju anti peluru!" kata Junghwa seraya menyingkap baju yang Hyunwo kenakan. "Selain itu, dia jago berkelahi. Kurus-kurus seperti ini, pukulannya sakit! Dia juga jago beraksi dengan pisau. Makanya, dia yang dipilih kakek untuk mengawalku!" lanjut Junghwa.


"Sebenarnya, kenapa kau harus dikawal seperti ini? Apa bodyguard yang disediakan agensi kurang?" tanya Yongju yang masih belum tahu apa-apa. "Astaga, kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa!" sela Seojun seraya menghela nafasnya. "Junghwa, apa kau belum mengatakannya pada Yongju? Apa appa juga tidak pernah memberitahunya? Lihatlah, wajah bodohnya itu!" kata Seojun, bercanda. "Aku memang bodoh! Sejak lahir, tidak ada appa yang mengajariku. Kau lihat sendiri bukan, sikap adalah guruku!" balas Yongju ketus. Seojun sampai terperangah dengan sikap adiknya itu. "Astaga! Apa kau dengar itu, Junghwa? Ada yang tersinggung dengan ucapanku!" kata Seojun seraya menggelengkan kepalanya.


Junghwa yang duduk di kursi depan hanya terkekeh mendengar dua hyung-nya yang jarang akur itu. "Ingin sekali rasanya, dari tadi aku memukul kepalamu ini! Apa-apaan tadi? Kau ingin menjadi superhero, hah! Pakai pedang segala! Kau pikir itu mainan? Lihat saja kepalamu sampai bocor seperti ini!" kata Seojun mengomeli Yongju. "Apa kau bangga berkelahi seperti tadi? Sekarang, bagaimana rasanya, kau merasa lemah dan tidak berdaya? Dan kau baru saja cemburu padaku dan Junghwa? Jahit dulu luka di kepalamu itu, baru kau boleh berkelahi denganku!" lanjut Seojun. "Apa hyung seorang rapper?" tanya Yongju dengan keningnya yang berkerut. Seketika, Seojun berhenti mengomel, "bukan, aku seorang mahasiswa. Kenapa?" katanya. "Mengomel seperti sedang melakukan rap!" jawab Yongju seraya memalingkan wajahnya menghadap jendela mobil.


***


"Sudah, aku bisa melihat alamat IP-nya dan ini benar milik Sooyun," kata Namgil setelah mengotak-ngatik laptopnya selama perjalanan, setelah Tuan Kim meminta keponakannya itu melacak rekaman CCTV hotel, yang hampir saja Sooyun share ke dunia maya, jika saja Junghwa tidak lebih dulu mendapatkannya. Telinga Daehyun memanas mendengarnya. Daehyun pikir, Sooyun hanya sekedar mengancamnya dengan kebohongan, tapi ternyata Sooyun memang memiliki rekaman CCTV hotel saat Daehyun yang mabuk membawa Sooyun masuk ke salah satu kamarnya. Seperti spoiler, semua bukti-bukti yang diberikan Junghwa tadi memperjelas semua kesalahan Daehyun. Bahkan jika rekaman CCTV itu tidak terlalu jelas, beberapa foto dan video yang sengaja Sooyun ambil di dalam kamar hotel, tidak terbantahkan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melihatnya!" kata Nyonya Kim berkali-kali, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri semua yang dilakukan sang putra kesayangan. "Kau benar-benar seorang perusak! Eomma malu mempunyai anak sepertimu!" kata Nyonya Kim seraya memukul-mukul lengan Daehyun yang duduk di sampingnya. Daehyun diam seperti pecundang, menerima semua pukulan eomma-nya tanpa daya. Yang ada di kepalanya saat ini adalah, "Pasti terlalu sulit untukku bertahan menemui Hana lagi!" Tuan Kim dan Namgil yang duduk di depan, sesekali melihat Daehyun dari kaca spion tengah. "Jika kau malu, memang sebaiknya kalian berpisah. Jika kau merasa bersalah, cobalah lebih keras lagi membujuk Hana untuk memaafkanmu, tapi hanya sebatas itu langkahmu! Kalian tidak mungkin bisa bersama lagi!" kata Tuan Kim yang seperti mengiris hati Daehyun.


__ADS_2