
"Apa oppa sebentar lagi akan mati?" tanyaku pada Yongju, dengan ekspresi datar setelah mendengar kata-katanya itu. "Kenapa bicara seperti itu?" lanjutku dengan nada marah, "bicara seperti orang tua yang sudah hampir mati saja!" gerutuku. Yongju yang semula terkejut mendengar pertanyaan pertamaku, berakhir dengan tertawa saat melihat wajah kesalku. "Kenapa tertawa, hah?! Apa ada yang lucu?!" kataku semakin marah-marah. "Kenapa jadi marah-marah begitu? Oppa hanya bercanda. Nanti kalau oppa benar-benar mati, kau tidak bisa lagi bercanda dengan oppa!" sahut Yongju. Kedua mataku melotot mendengarnya. "Benarkah? Tenang saja, Hanamu ini bisa mekar sendiri, tidak memerlukan oppa untuk membuat lelucon agar aku tertawa. Lagi pula, aku sedang tidak berminat untuk bercanda karena hidupku sekarang saja sudah seperti sebuah lelucon!" balasku, acuh.
Yongju terdiam menatapku yang kembali memasang wajah murung. Ia menghela nafas panjang, "Hana, dengarkan oppa!" ucapnya. "Kata orang, hidup itu penuh dengan paradoks. Tidak jarang, hidup itu bertentangan dengan pendapat orang banyak atau berbeda dengan yang kita harapkan. Tapi tetap saja, yang harus kita lakukan adalah beradaptasi dengan jalan hidup itu sendiri. Menurutmu, apakah dunia hanya keras padamu? Tidak, dunia keras pada semua orang, Hana. Oppa tidak akan menghakimimu atas semua yang sudah kau lakukan. Oppa hanya ingin kau mengambil hikmah dari yang sudah terjadi dan cukup jadikan itu sebagai masa lalu. Belajarlah untuk memperbaiki semuanya agar tidak terulang lagi di masa depan," kata Yongju.
Melihat aku yang hanya diam, "Maaf, oppa tidak mengatakan itu kepadamu sebagai orang dewasa atau berniat mengguruimu. Oppa hanya..." ucapnya terpotong olehku. "Aku tahu, melupakan adalah tindakan yang harus dilakukan demi diri kita sendiri, meski itu sebuah keterpaksaan," sahutku. "Dan jika kau menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu yang sudah menjadi masa lalu, maka kau tidak akan menemukan masa depan," lanjutnya. Aku menundukkan wajahku, "tapi melangkah ke jalan baru itu sulit..." ucapku pelan. "Tapi tidak lebih sulit dari bertahan dalam situasi yang jelas menyakitkan untuk dikenang," sambungnya. Aku diam, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Ck, kau memang adikku yang bodoh!" lanjutnya dengan ekspresi kesalnya saat menyadari tatapan patah hatiku. Aku menoleh padanya dengan ekspresi datar, "iya, aku bodoh..." sahutku pelan. "Apa hanya gara-gara satu laki-laki itu saja kau layu seperti ini? Seperti ini saja, kau patah?" tanyanya dengan nada sarkas. "Apa perlu oppa kirimkan bunga setiap hari agar bungaku yang bodoh ini kembali mekar, hah? Atau sekalian saja oppa buatkan taman bunga untukmu dengan deretan bunga daffodil putih, kuning dan merah muda yang segar? Kalau tidak suka yang seperti rumput, bagaimana kalau pohon bunga camelia di setiap pojok taman? Atau haruskah oppa tanamkan pohon bunga plum blassom dengan cabang rantingnya yang cantik?" katanya seraya membayangkan taman bunga buatannya itu.
"Plum?" ucapku pelan, mulai tertarik. "Kenapa?" tanyaku lagi. Yongju terdiam seperti sedang mencari jawabannya di kepalanya. "Lupakan saja!" ucapku acuh. "Karena saat suhu semakin dingin dan angin bertiup kencang, pohon plum blossom tetap bertahan dan seiring berjalannya waktu, kuncup-kuncup bunga mulai bermunculan dan mekar satu persatu di musim seminya. Seperti plum blossom yang tetap tegar, saat hidup dan tekanan semakin berat, tetaplah percaya bahwa masih ada harapan-harapan baru, bahwa akan selalu ada hikmah di balik cobaan dan masalah yang ada," jawabnya seraya tersenyum manis padaku.
Aku tercengang mendengar jawabannya yang begitu mengena padaku, terlebih senyuman manisnya yang terlihat begitu bersinar saat ini. Aku memalingkan wajahku. "Ah, kau tak suka? Atau yang kecil, bunga sepatu salju?" lanjut Yongju yang salah paham, mengira aku tak menyukai usulnya. "Apa lagi itu?" tanyaku, seraya mendengus kesal. "Kaktus," jawabnya. Aku mengernyitkan keningku, seolah-olah bertanya lagi, "kenapa harus kaktus?" Yongju menahan senyumnya, "mirip denganmu, mungil... pendek, keras... kepala, berduri... galak!" lanjutnya, lalu tertawa puas setelah mengejekku.
Aku memutar mataku jengah, "Iya, iya, oppa bisa menyebutku apa saja," kataku, malas. "Oppa hanya bercanda, maaf. Lalu, sebenarnya apa bunga kesukaanmu?" tanyanya, seraya menghentikan tawanya. "Mawar merah, mungkin," jawabku singkat. "Benarkah? Oppa pikir, kau tidak menyukainya karena berduri. Kau bisa berdarah jika terkena durinya," sahutnya. "Tidak apa-apa. Bukankah keduanya sama-sama berwarna merah? Aku suka warna merah darah," sahutku, cuek. "Baiklah, nanti akan oppa carikan bunga mawar merah darah yang banyak," janjinya, seraya tersenyum lebar. "Memangnya, ada?" gumamku pelan sebelum terhenti oleh dering ponselku.
Aku menerima panggilan dari Junghwa yang menanyakan posisiku dan Yongju sekarang. Aku pun memberitahunya dan Junghwa meminta kami menunggu karena ia berkata akan langsung menyusul kami. Selama aku berbincang dengan Junghwa di telepon, Yongju memperhatikan aku diam-diam. "Entah kenapa, aku semakin mencium aroma cemburu dari bocah itu. Namun, kau yang belum menyadarinya, masih memancarkan aroma birumu padanya. Kalau aku mengatakannya padamu, apa kau masih bisa setenang ini menghadapi bayi itu? Ah, Hanaku... bungaku... haruskah aku memberitahumu bahwa ada langit lain yang memujamu?" pikirnya. Namun, pikirannya itu langsung buyar setelah mendengar kata-kataku. "Ya Tuhan, kenapa aku harus dilahirkan dan bertemu dengan dua kakak beradik yang menyebalkan ini! Aku sudah ingin pulang, tapi dia memaksa kita menunggunya di sini!"
***
__ADS_1
Di akhir musim ini, angin musim dingin yang kering berhembus. Begitu pula hembusan nafas yang dingin dari empat anak manusia yang sama-sama tengah bimbang, memikirkan untuk memekarkan perasaannya atau menyerah saja. Aku dan Yongju yang sedang bersama menunggu, meski dalam diamnya lisan. Junghwa yang tengah berdiri di depan motor kesayangannya sebelum memutuskan menyusulku dan Daehyun yang sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah berhasil melarikan diri dari rumahnya.
Seperti takdir yang saling terpaut, secara kebetulan, kami berempat dipertemukan lagi dalam atensi yang saling menangkap. Daehyun yang melaju tanpa arah, melihat sosokku dan Yongju yang tengah berdiri di depan toko bunga. Sedangkan aku yang tengah menatap kosong ke arah jalanan yang dipenuhi pengendara yang lalu lalang, mengenali mobil Daehyun yang melintas cepat di depanku. Tentu saja, dengan wajah yang nyatanya masih aku rindukan hingga sekarang, tengah berada di dalamnya. Serta Junghwa yang sudah aku beritahu posisi kami, tampak mengendara di ujung jalan, mengenali sosokku dan Yongju dari kejauhan.
Sontak pertanyaan terlintas di pikiranku, "Daehyun? Benarkah itu kau? Kenapa? Kenapa aku bertemu denganmu lagi? Di sini? Sekarang? Setelah semua mimpi buruk ini? Tidak, apa aku sedang bermimpi?" dengan air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa Yongju melihatnya. Sedangkan di sisi lain jalanan itu, Daehyun yang juga ingin mengetahui sebab pertemuan tak terduga ini, menginjak rem mobilnya dengan kuat. Lalu, langsung memutar arah mobilnya, kembali padaku. "Setiap malam, aku selalu bermimpi buruk, kau meninggalkanku karena aku yang sudah menyakitimu. Hubungan kita terbengkalai karena luka yang aku sebabkan. Tapi apa yang aku lihat sekarang? Kau mengabaikanku dan pergi bersamanya? Jadi, ini bukan mimpi?" gumam Daehyun yang sedang di bawah pengaruh alkohol.
Tuk! Rangkaian bunga putih di tanganku, terlepas dari genggamanku. Aku yang semula melamun karena atensiku itu, tersentak melihat bunga baby breath pemberian Yongju itu, kini tergeletak di samping kakiku. "Ah, maaf. Aku tidak sadar," ucapku, seraya berniat memungutnya kembali. "Biar oppa saja," sahut Yongju yang langsung membungkukan badannya untuk meraih bunga itu. Sementara itu, di ujung jalan yang lain, tampak pula Junghwa yang juga tengah melaju ke arah aku dan Yongju. Namun, belum sampai motor sport yang ia kendarai itu tiba di titik posisiku, tiba-tiba saja muncul dari arah belakang, sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil itu menyalip Junghwa dan semakin melaju ke arah aku dan Yongju berdiri.
Kejadian yang begitu cepat. Bahkan tak sempat terekam jelas oleh kedua mataku. Hanya hasil akhirnya yang bisa aku lihat. Tabrakan beruntun telah terjadi di depan mataku karena mobil Daehyun yang tiba-tiba memutar arah dan tidak bisa dikendalikan setelah terkejut dengan tabrakan yang Yongju alami. Daehyun tak sadarkan diri di dalam mobilnya. Yang paling parah, posisi Yongju yang sekarang terjepit di antara mobilnya dan mobil yang menabraknya tadi, yang kembali menyambar tubuhnya untuk kedua kalinya, setelah ditabrak oleh mobil Daehyun.
Bunga baby breath yang mungil turut berhamburan setelah dihantam oleh mobil itu. Sebagian bunga putihnya tetap tergeletak di jalan yang kini bersimbah darah, seperti bermekaran di bawah jejak kakiku yang langsung berlari menghampiri Yongju yang bersimbah darah. Begitu pula Junghwa yang langsung menepikan motornya dan berlari ke arah kami. Dengan panik, aku langsung menghubungi ambulance. Sedangkan, Junghwa sekuat tenaga langsung menarik mobil penabrak itu, dibantu oleh beberapa orang yang ada di sana. Berkatnya, tubuh Yongju bisa terbebas dari jepitan. Aku langsung memeluk tubuh Yongju, tapi ia tiba-tiba meringis kesakitan. Aku pun langsung melepaskan pelukanku dan menyadari ada luka lebar di bagian perutnya.
__ADS_1
Aku terduduk dengan tubuh gemetar melihat luka menganga itu. Sedangkan, air mataku sudah mengalir deras, tak terbendung. Junghwa datang dan langsung menutup luka itu dengan kedua tangannya. "Hyung!" panggilnya, dengan tangisannya juga, "bertahanlah! Sebentar lagi ambulance akan datang," lanjutnya. "Hana?" panggil Yongju pelan, seraya menatapku dengan wajahnya yang sudah berubah pucat pasi. "Aku di sini, oppa. Aku di sini. Aku akan tetap di sini sampai oppa selamat. Oppa harus kuat!" ucapku seraya kembali mendekatinya. "Peluk oppa lagi! Ini dingin..." pintanya padaku. Aku pun memeluknya lagi. Kali ini, dengan hati-hati.
"Ini hangat..." lanjutnya, seraya memaksakan untuk tersenyum kecil, meski diakhirinya dengan ringisan. "Kenapa mereka lama sekali?" kata Junghwa yang semakin terlihat panik, dengan sesekali melirik ke arah kedua tangannya yang sudah basah dengan darah kakaknya itu. Mata Yongju yang semula akan tertutup kembali ia buka saat mendengar cemas adiknya itu. "Junghwa..." panggilnya seraya, menyentuh tangan Junghwa yang ada di perutnya. Junghwa yang dipanggil namanya pun, mengangkat wajahnya yang tertunduk. Sesaat, kakak beradik itu saling pandang. Lalu, Yongju tersenyum sambil berkata, "Junghwa, aku melihatnya..." Junghwa mengerjapkan sepasang mata bulatnya, tak mengerti. "Cahaya putih... berbinar di belakangmu... " ucap Yongju.
Aku dan Junghwa pun menatap ke arah belakang Junghwa, tapi tak ada cahaya seperti yang Yongju katakan itu. Kemudian, aku dan Junghwa saling pandang, kebingungan. "Seperti matahari yang beku..." ucap Yongju lagi seraya menutup matanya dengan tersenyum kecil. Padahal jelas sekali, sekarang sedang malam hari meskipun bulan tampak bersembunyi. Mendengarnya, aku semakin menangis. Ada rasa takut yang tiba-tiba menjalar di hatiku. "Omong kosong, ini malam bukan siang! Tidak ada matahari sekarang!" sahut Junghwa keras. Tapi aku yakin, ia juga merasakan hal yang sama denganku.
Masih dengan sepasang matanya yang terpejam. "Apakah... ini akhirku?" ucap Yongju, lalu terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. "Oppa!" sebutku seraya menyekanya darah di dagunya. Mendengar suaraku, Yongju kembali memaksa matanya untuk melihatku. "Hana... Sepertinya, aku... benar-benar akan mati..." ucap Yongju, dengan linangan air matanya. "Tidak, oppa tidak akan meninggalkanku!" sahutku semakin menangis. "Jangan berkata seperti itu! Jangan bercanda lagi! Aku tidak mau mendengarnya! Aku akan berada di sisi oppa. Aku bersama oppa. Aku harap, oppa selamat. Oppa pasti baik-baik saja," kataku di sela-sela tangisku. Aku melepaskan pelukanku untuk menyeka kedua mataku.
"Sial!" umpat Junghwa, lalu langsung menggendong tubuh lemah Yongju, berniat mencari taksi. Junghwa berlari, meninggalkan aku. Sedangkan di dalam gendongannya, Yongju kembali berkata, "Kau harus mengalahkan karirku, Jung..." dengan pelan. "Tutup mulutmu, hyung, diamlah! Pegang saja tanganku dengan benar! Bertahanlah, kita ke rumah sakit sekarang!" sahut Junghwa, seraya memasukan tubuh kakaknya itu ke dalam taksi yang berhasil ia panggil. Kemudian bergegas meminta sang supir untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Bahkan, Junghwa meninggalkan aku yang terlambat berlari mengejar mereka.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Junghwa merebahkan tubuh lemah Yongju di pangkuannya, tanpa melepaskan genggamannya pada tangan sang hyung. "Junghwa..." panggil Yongju lagi, dengan suaranya yang semakin terdengar melemah. "Tugasku menjaga Hana sudah berakhir..." kata Yongju, seraya menarik nafasnya yang semakin terasa berat. "Apa lagi yang mau Hyung katakan? Sudah aku katakan, diamlah!" kata Junghwa, seraya terisak. "Tolong... jaga Hana untukku, Junghwa..." pinta Yongju seraya menatap penuh harap pada adiknya itu. Junghwa yang tak kuat menerima tatapan menyedihkan itu, memalingkan wajahnya. "Kenapa aku? Hyung jaga saja sendiri!" sahutnya, seraya menyeka air matanya dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang satunya semakin menggenggam erat tangan Yongju yang ia genggam sejak tadi, karena ketakutan yang ia rasakan kini semakin menjadi-jadi.
Yongju meringis kesakitan setelah kembali batuk darah, sontak Junghwa kembali melihat kondisi kakaknya itu. "Hyung..." panggilnya dengan sangat sedih. "Bodoh... aku tahu... kau juga... menyukainya..." kata Yongju yang kembali memaksa membuka mulutnya, meskipun sudah terputus-putus. "Tidak, aku tidak mencintainya! Aku tidak akan merebutnya dari hyung!" kata Junghwa yang terus meladeni perkataan Yongju karena menurutnya, mengajaknya bicara adalah satu-satunya cara untuk tetap membuat kakaknya itu tidak kehilangan kesadaran. Namun, usahanya itu sia-sia saja karena setelah ini, Yongju kembali bicara dengan nafasnya yang semakin tidak teratur.
"Jung... Aku... tidak percaya... jika bukan... kau... Aku... mohon... kabulkan... permintaan... terakhirku..." ucap Yongju, seiring kedua matanya yang perlahan menutup dengan linangan air mata dan diakhirinya dengan hembusan nafas terakhirnya. ******* terakhir nafasnya itu seolah membuat air mata Junghwa membeku. "Hyung? Hyung! Bicaralah, Hyung! Hyung! Aku mohon, Hyung! Jangan seperti ini, Hyung! Bangun, Hyung! Hyung!" panggil Junghwa berulang kali. Bahkan pemuda itu terus menerus menyebut nama sang kakak sekeras mungkin, "Min Yongju! Jeon Yongju! Bangun, Yongju!"
Beralih padaku yang kesulitan mencari taksi di sekitar tempat kejadian. Aku yang mondar-mandir dengan gelisah, langsung mematung setelah menerima panggilan dari Junghwa yang memberitahuku sambil menangis tersedu-sedu, "Noona... Yongju hyung meninggal..." Ponsel di tanganku terjatuh ke jalanan. Aku menangis tanpa suara melihat ke arah pemandangan yang berdarah di jalan itu, yang bertaburan bunga putih dan salju yang turun. Aku terduduk lemas saat menyadari darah yang Yongju tumpahkan persis seperti bentuk bunga mawar merah yang mekar di atas putihnya salju. Menjadi bunga musim dingin yang paling aku benci karena mulai sekarang, ingatan musim dingin yang abadi ini tidak akan pernah berakhir bagiku, "karena musim semi akan semakin jauh tanpamu, oppa!" pikirku.
__ADS_1