
.
.
.
Pagi hari....
Saat ini mereka sedang berkumpul di restoran hotel tersebut. Mereka sedang bersarapan bersama.
"Bagaimana rencana kita?" tanya Carel.
"Kita harus menggunakan orang dalam, dalam urusan ini," jawab Lina.
"Tidak perlu!" sanggah Aldebaran.
Mereka semua saling pandang, seolah meminta penjelasan dari bocah itu.
"Kami sudah punya rencana," kata Danendra.
"Biar kami para bocah yang maju duluan," Rayyan menimpali.
"Setelah itu baru orang dewasa," usul Aleta.
"Nih, bocah berani banget," batin Zaidan.
"Oke. Ayah percaya dengan kemampuan kalian. Anak-anak Ayah," kata Ram.
"Kalian ada rencana lain?" tanya Ray.
"Kita ikuti rencana mereka dulu," jawab Lina.
"Seperti melihat kalian waktu kecil," ucap Darmendra pada putra-putranya.
"Mereka duplikat sikembar," Diva menimpali.
"Tapi sebaiknya kita beritahu rakyat," kata Lica.
"Tidak perlu, kalau kita memberitahu rakyat. Itu sama saja dengan kita membocorkan rencana kita," kata Aldebaran.
"Tapi ...." perkataan Lina terjeda.
"Yang itu tidak apa-apa, sudah terlanjur juga," ucap Aleta seolah tau apa yang ingin disampaikan oleh Lina.
Mereka semua manggut-manggut. Mereka pun setuju dengan usulan para bocah. Mereka memang anak kecil, tapi tidak sesederhana itu. Mereka lebih jenius dari kebanyakan bocah.
Oya. Mereka sudah masuk SMP. Mereka ingin bersekolah secara normal seperti siswa siswi yang lain.
Setelah selesai sarapan, mereka kembali kekamar masing-masing. Namun tidak dengan para bocah. Mereka memesan taksi untuk pergi ke istana. Mereka ingin memantau situasi di luar dan dalam istana.
Kini mereka sudah berada didepan istana. Mereka melihat pintu gerbang yang tinggi. Mereka bersembunyi dibalik pepohonan disamping tembok gerbang istana tersebut.
Rayyan mengeluarkan alat ciptaannya dari dalam tas ransel miliknya.
"Apa itu?" tanya Abqari.
"Ini kamera pengintai. Bentuknya seperti kumbang," jawab Rayyan.
"Coba gunakan," kata Kenzo.
Rayyan mengaktifkan beberapa ekor kumbang ciptaannya. Dan kumbang itu terbang tanpa harus dikendalikan dengan tangan. Hanya menggunakan suara pemiliknya.
Kumbang itu hinggap dibeberapa tempat. Sudah pasti tidak akan dicurigai.
"Kamu punya apa?" tanya Kenzo pada Davion.
"Alat yang kami ciptakan hanya bisa digunakan untuk mengelabui musuh saat berperang," jawab Davion.
__ADS_1
"Sekarang kita kembali ke hotel!" perintah Aldebaran.
"Oke!" jawab mereka serentak.
Mereka pun memesan taksi untuk kembali ke hotel.
"Darimana saja kalian?" tanya Nadine. Setelah kelimpungan mencari anaknya.
"Kami jalan-jalan Ma," jawab Rayna.
"Ya, sudah. Sekarang kalian masuk kekamar dan mandi," kata Nadine.
...****************...
Hari pelantikan raja baru pun tiba. Para rakyat semuanya hadir. Hanya untuk melihat siapa yang akan menolong mereka nanti. Karena Sira (anak kakek Zerro). Sudah memberitahu beberapa rakyat bahwa keturunan raja terdahulu sudah datang.
Meskipun mereka tidak merasakan zaman pemerintahan raja Atalarik Attar. Tapi mereka semua kagum saat mendengar orang tua mereka bercerita. Tidak seperti raja yang sekarang, yang seperti lintah. Hanya menghisap darah rakyat.
Banyak rakyat yang menderita akibat ulah Raja yang sekarang.
Keluarga Henderson dan yang lain juga sudah hadir disana. Tapi mereka memakai masker jadi tidak ada yang mengenalnya.
Aldebaran dan Aleta menyelinap kebagian belakang. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa.
Keduanya melewati hutan kecil dipinggir istana. Tujuan keduanya adalah gudang senjata.
Dengan menggunakan kamera pengintai, jadi seluk beluk istana sangat mudah mereka ketahui.
Davion, Danendra dan Davina melancarkan aksinya. Dengan bantuan yang lain mereka meletakkan alat ciptaan mereka dibeberapa tempat.
"Bersiap!" perintah Kenzo yang berada tidak jauh dari singgasana raja.
Mereka berbicara lewat earphone milik mereka, yang biasa mereka gunakan untuk berkomunikasi.
"Perhatian para rakyat rakyatku yang ku cintai, hari ini adalah hari pelantikan raja baru kita, yaitu ...." Perkataan raja terjeda. Karena terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat.
Para pengawal panik, mereka menuju kearah suara ledakan.
"Gudang senjata meledak...!" teriak salah satu pengawal.
"Bagaimana bisa...?!" tanya raja Gabriel Attar.
"Disini ada penyusup," ucap pengawal.
Davion mengaktifkan alat ciptaan mereka. Keluarlah bermacam-macam binatang buas. Bagi yang melihat binatang-binatang itu seperti nyata, padahal hanya halusinasi.
Para pengawal dan rakyat berlari menyelamatkan diri masing-masing. Ada yang masih berada ditempat, karena ingin membalas dendam kepada raja.
"Sekarang," kata Lina pada semua orang.
Kesempatan itu mereka gunakan untuk masuk kedalam istana.
Mereka melawan para pengawal yang menghadang mereka. Sementara Abbas sedang mencari Bardergara Attar (nama adik tiri Atalarik Attar).
Sedangkan raja Gabriel Attar sudah di amuk oleh rakyatnya sendiri. Gardareksa Attar melarikan diri saat melihat kedua orang tuanya sedang dihajar oleh rakyat.
Lina melihat Gardareksa melarikan diri, ia mengajak Randy untuk mengejarnya.
"Sayang, Gardareksa melarikan diri," kata Lina pada Randy.
"Jangan sampai dia lolos," balas Randy.
Keduanya bergegas mengejar Gardareksa.
17 bocah kembar juga melawan para pengawal istana tersebut. Dalam sekejap semua sudah berhasil dijatuhkan.
"Lihat. Karma itu nyata," ucap Abbas pada Paman tirinya itu.
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Bardergara.
"Kau tidak mengenalku, Paman? Setelah kau membuatku menjadi yatim piatu," tanya Abbas.
Deg.
"Kau ...."
"Ya. Aku Abbas Atalarik Attar, anak dari Atalarik Attar dan Alona Attar," jawab Abbas.
"Bukankah kau sudah mati?" tanya Bardergara.
"Tuhan maha baik, aku selamat untuk membalas kematian kedua orang tuaku," ucap Abbas.
Abbas mendorong kursi roda pamannya. Bardergara menangis melihat anak dan cucunya sudah terkapar dilantai. Kejadian itu mengingatkan dirinya saat membunuh Abang tirinya.
"Kemana cicitku?" batin Bardergara.
Bardergara menoleh kesegala arah, tapi tidak menemukan cicitnya. Pelayan datang menghampiri Bardergara dan langsung menghajar pria tua itu.
"Aku tidak perlu turun tangan untuk membuatmu seperti ini, Paman," kata Abbas. Ia hanya menjadi penonton saja.
Pelayan wanita itu sudah lama dendam dengan pria tua itu. Tapi mereka tidak berani. Sekarang saatnya mereka membalas dendam mereka, karena sudah mendapatkan dukungan dari keturunan raja terdahulu.
"Aku baru puas sekarang," ucap seorang wanita yang dulu selalu menjadi korban pem**s n**su pria itu.
"Aku juga puas," ucap wanita yang lain.
Ada beberapa pelayan yang membalaskan dendam mereka.
Disisi lain....
Gardareksa yang berlari tidak tentu arah pun merasa kelelahan. Nafasnya tersengal-sengal.
"Mau kabur kemana kamu?" tanya Lina.
"Wah, wah, wah. Ternyata yang mengejarku seorang gadis cantik. Kalau tau begini sudah kuajak kekamar," ucap Gardareksa.
Lina tersenyum sinis, "Apa kamu mampu memu*skan ku?" tanya Lina.
"Tentu saja, kalau soal itu saya jagonya," ucap Gardareksa tersenyum.
Ia mengira Lina adalah gadis lemah seperti yang lain. Yang mudah ia dapatkan hanya dengan iming-iming harta kekayaan.
"Benarkah?" tanya Lina.
"Mau bukti?" tanya Gardareksa.
Bruuk....
"Aakh ... Kau...!"
"Katanya jago," ejek Lina.
"Hajar saja, sayang," kata Randy.
"Aku ingin main-main dulu, sayang," kata Lina.
.
Maaf ya, kurang seru. Gak tau mengekpresikan cara berperang nya.
.
.
.
__ADS_1