
.
.
.
Braak... meja mereka digebrak oleh seorang pria berbadan besar. Dan dibelakang pria itu ada 5 orang yang juga berbadan besar.
"Bayar keamanan," perintah pria itu.
Carel dan Lita pun saling pandang, mereka tidak menggubris gertak kan tersebut. malah mereka masih tetap santai duduk.
"Mari kita pergi," ajak Carel.
"Hei kalian tuli ya?" tanya pria itu yang biasa dipanggil Teguh.
"Maaf, kami tidak ada urusan dengan anda," ucap Carel.
Teguh tersenyum mengejek, matanya menelisik penampilan Lita dari atas sampai bawah, Carel yang melihat itu menjadi geram.
Carel dan Lita pun berjalan melewati Teguh, tapi baru dua langkah Lita melewatinya, Teguh memegang bahu Lita dari belakang. Lita berbalik dan meninju wajah Teguh, tapi Teguh bisa menangkap tangan Lita.
Lita mengangkat kakinya dan lututnya tepat mengenai aset Teguh. Sehingga Teguh berjongkok menahan sakit.
"Hajar mereka...!" perintah Teguh.
Carel dan Lita saling membelakangi karena mereka dikepung oleh 5 orang bawahan Teguh.
"Hati hati...!" pesan Lita pada Carel.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Carel.
"Sudahlah, bukan saatnya untuk bercanda," jawab Lita.
"Mengaku saja kalau kamu mengkhawatirkan aku," ucap Carel. Lita tidak menjawab.
Pria 1 menyerang Lita, tapi Lita dengan gesit menghindar. Kemudian pria 2 menyusul menyerang Lita. Lagi lagi Lita menghindar dan memutar tubuhnya kebelakang lalu menyikut pria 2 dengan kuat. Pria 2 itu terdorong kedepan karena Lita menyikut nya dengan sikunya.
"S*al, kuat sekali tenaganya," batin pria 2.
Carel juga tidak tinggal diam, Carel melawan tiga sekaligus, menjadi 3 lawan 1. Carel menendang salah satu dari mereka dan orang itu mundur beberapa langkah kebelakang sambil memegang dadanya. Karena Carel menendang dada pria itu.
"Kalian pembuat onar tidak akan aku ampuni," ucap Lita disela sela pertarungannya.
Bosnya sudah mulai pulih dan tidak merasakan sakit lagi dan bangkit menyerang Lita. Beruntung Lita sangat peka jadi Lita bisa menghindar kala pria itu meninju Lita.
Kemudian Lita membalas serangan tersebut dengan cara menendang perut pria itu. Pria itu tidak sempat menghindar dan terlempar beberapa meter hingga mengenai meja di restoran itu.
__ADS_1
Orang orang yang ada disitu menjerit dan berlari sedikit menjauh dari perkelahian tersebut.
Manager hotel yang menyaksikan perkelahian tersebut hanya bisa menjadi penonton karena ia tidak punya kemampuan seni beladiri untuk bisa membantu.
Bos penjahat itu kembali bangkit sambil memegang perutnya dan ingin menyerang sekali lagi. Bos penjahat itu menendang Lita dari belakang sehingga Lita maju tapi tidak sampai jatuh.
Sedangkan Carel yang melihat Lita kena tendang jadi kurang fokus membuat iapun terkena pukulan diwajahnya.
Carel yang emosi pun tidak tinggal diam dan langsung menghajar pria yang meninjunya itu hingga tidak sadarkan diri.
"Ternyata mereka cukup tangguh, pantas saja mereka berani membuat onar ditempat seperti ini," gumam Lita.
Bos penjahat itu kembali menyerang Lita, kali ini Lita tidak lagi lengah sehingga setiap serangan bos penjahat itu bisa ia patahkan.
Carel sudah melumpuhkan dua penjahat sedangkan Lita sudah melumpuhkan satu dan membuatnya pingsan.
Carel mendekati Lita yang menjeda pertarungannya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Carel.
"Tidak, anggap saja ini latihan. Tapi wajah kamu lebam sayang," jawab Lita.
Seer..... terasa ada yang mendesir dalam hati Carel saat Lita menyebut sayang, entah sadar atau tidak Lita menyebutkan itu, tapi Carel sudah teramat bahagia mendengarnya.
Carel semakin bersemangat untuk menghajar salah satu dari mereka, Carel meninju wajah pria itu beberapa kali sehingga pria itu pingsan.
Akhirnya semua penjahat sudah berhasil dikalahkan, Carel menghampiri manager hotel tersebut dan menyuruhnya menelpon polisi.
Carel membayar makanan mereka tetapi manager hotel melarang dan memberikan makanan gratis untuk mereka karena sudah mengalahkan penjahat yang selama ini selalu memeras pengunjung dan manager hotel serta orang yang bekerja disini.
"Terimakasih banyak, kalian berdua sudah berhasil mengalahkan penjahat yang selama ini selalu meminta uang keamanan kepada kami," ucap manager tersebut.
"Tidak perlu berterimakasih tuan, kami juga tidak suka kalau ada orang yang suka menindas," jawab Carel.
Para pengunjung sangat kagum kepada Lita yang jago beladiri. Padahal Lita seorang perempuan tapi kekuatannya melebihi orang yang berbadan lebih besar darinya.
"Sayang, wajah kamu obati dulu," ucap Lita.
Carel mematung ditempatnya mendengar kata sayang karena ini yang kedua kalinya Lita memanggilnya sayang. Seperti mimpi saat Carel mendengar kata kata itu.
"Di mobil ada obat untuk luka dan juga memar," kata Carel.
Lalu keduanya pun pergi ke mobil dengan berjalan kaki, Lita dan Carel masuk kedalam mobil dan dengan telaten Lita mengobati memar tersebut.
"Terimakasih sayang," ucap Carel tanpa mengalihkan tatapannya pada Lita. Lita cuma tersenyum.
"Sudah, nanti juga akan sembuh," ucap Lita.
__ADS_1
Carel meraih dagu Lita dan mengecup bibirnya, Lita terdiam mematung mendapatkan kecupan dari Carel.
"Kita pulang," kata Lita, Carel pun mengangguk.
"Tapi Kamu benar benar tidak apa-apa? Tadi aku melihat pria itu menendangmu," tanya Carel. Lita pun menggeleng.
"Aku tidak apa-apa, hal seperti ini sudah biasa bagiku." jawab Lita.
"Biar aku yang nyetir mobil," kata Carel.
"Baiklah," jawab Lita. Kemudian mereka pun bertukar tempat duduk.
Carel menghidupkan mesin mobil dan pergi dari tempat itu, awalnya Lita ingin menenangkan diri ditepi pantai, tapi ada saja pengganggu sehingga membuatnya merasa tidak aman.
Carel mengendarai mobil sport miliknya dengan kecepatan sedang, sesekali ia menoleh kearah Lita.
"Fokus kedepan, aku gak akan kemana mana kok," ucap Lita saat menyadari bahwa Carel terus menatapnya.
Carel mengalihkan pandangan kearah depan tapi matanya melirik kearah Lita.
"Setiap saat pun aku tidak akan pernah bosan memandang wajah cantikmu," batin Carel.
Carel kembali menoleh kearah Lita saat kepala Lita bersandar di bahunya. Carel tersenyum senang.
"Mari kita menikah," ajak Carel.
Lita mendongak sedikit menatap wajah tampan Carel.
"Aku ingin disaat ingin tidur dan setelah bangun tidur yang aku lihat adalah dirimu," ucap Carel lagi.
"Tapi aku belum genap 20 tahun, aku masih terlalu muda untuk menjalani sebuah pernikahan. Bagaimana kalau nanti aku bukan istri yang baik?" tanya Lita.
"Aku yakin kau adalah istri yang baik, melihat cara Mommy melayani Daddy sudah membuktikan bahwa anaknya juga akan seperti itu," jawab Carel.
"Ya tapi setiap orang pasti beda beda," ucap Lita.
"Pasti kamu tidak akan beda jauh dengan Mommy, dari sikap dan sifat kalian." kata Carel.
"Ya, Mommy memang mendidik anak-anak nya penuh dengan kasih sayang, termasuk Abang Abangku, mereka menjadi pribadi yang baik meskipun ada sisi kejamnya terhadap musuh," ucap Lita.
"Ya kejam terhadap musuh itu harus, kalau tidak maka kita yang akan ditindas," kata Carel. Lita pun mengangguk setuju dengan pendapat Carel.
"Kita berhenti di supermarket," kata Lita tiba tiba.
.
.
__ADS_1
.