THREE ANGEL

THREE ANGEL
Peringatan terakhir.


__ADS_3

.


.


.


Lina terus mendekatkan pisau kecil yang ada ditangannya. Lina menempelkan pisau itu dirahang Cassandra.


"Aaaaaakkh, jangan tolong jangan," jerit Cassandra karena takut akan digores kulit wajahnya. Padahal pisau itu baru menempel belum melukai dirinya.


"Masih berani macam macam?" tanya Lina.


"Ran, tolong aku Ran, dia wanita g*la," pinta Cassandra dengan tubuh gemetar.


Randy seakan tidak punya telinga saat ini, dia hanya duduk di sofa sambil tersenyum melihat Lina yang seperti psikopat sungguhan.


"Ran, tolong aku Ran," pinta Cassandra dengan memelas.


"B*nuh saja sayang, biar besok besok tidak ada yang menggangu kita lagi," ucap Randy enteng seolah membunuh orang tidak berdosa.


Cassandra semakin pucat mendengar perintah Randy untuk memb*n*hnya. Randy yang ia kenal baik walau dingin tidak disangka akan sekejam itu.


"Ini peringatan terakhir dariku, bila kamu masih mengganggu kami maka bersiaplah untuk jadi gelandangan, kau tau video itu aku yang mendapatkannya," ucap Lina lembut tapi penuh nada ancaman.


Randy mendekat kearah Lina dan memeluknya dari belakang, dan menyandarkan dagunya dibahu Lina.


"Jangan lepasin dulu sayang, aku masih ingin mendengar ia menjerit. Ucap Randy sambil menempelkan pipinya ke pipi Lina.


"Biarkan dia tersiksa dulu dirumah ini, baru kita buang dia ke laut lepas," kata Randy lagi.


"Mengapa kamu bisa seperti ini Ran? Apakah karena wanita j*l*ng ini?" tanya Cassandra berteriak.


"Aku memang seperti ini, bahkan aku pernah memb*nuh orang yang yang pantas untuk dib*nuh." jawab Randy.


"Dan karena kami adalah pasangan psikopat yang bersembunyi," ucap Randy lagi.


Randy mengambil alih pisau tersebut dan menempelkan ujung pisau ke pipi Cassandra. Randy menekannya sedikit sehingga darah pun keluar meskipun tidak banyak tetapi rasanya sangat perih.


"Aaakh, sakit... tolong jangan, tolong jangan lakukan," pinta Cassandra memohon.


"Aku tidak melepaskanmu jika kamu bisa memenuhi syarat dariku," ucap Randy. Cassandra mengangguk.


"Pertama, pergi malam ini juga dari rumah ini, kedua, jangan pernah menampakkan diri kepada kami dan juga keluargaku, ketiga, kembali ke negara kelahiranmu dan jangan kembali lagi kesini." ucap Randy sambil menancapkan ujung pisau itu lagi.


"Aaakh... iya, iya baik aku akan pergi dari sini," jawab Cassandra gugup.


"Tunggu...! Aku belum memberi tanda tanda padamu," ucap Lina.


Plaak... plaak. Dua tamparan mendarat sempurna di pipi mulus Cassandra, sehingga tercetak jari di pipi mulus itu. Cassandra seketika memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan Lina tidak main-main, dan sudut bibir Cassandra pun berdarah.

__ADS_1


"Sekarang pergilah, kami akan mengantarkan mu sampai pintu," ucap Lina.


Cassandra tanpa berkata apa-apa segera keluar dari kamar Randy dan bergegas kekamar tamu untuk mengambil barang-barang miliknya. Lina dan Randy mengikuti dari belakang.


Randy menelpon taksi untuk mengantarkan Cassandra ke bandara. Setelah berganti pakaian dan mengambil barang bawaannya Cassandra pun bergegas keluar dari rumah itu. Lina dan Randy mengantar sampai pintu depan.


Tidak berapa lama taksi pun datang, Cassandra segera masuk seperti orang yang sedang ketakutan.


"Hati hati ya," ucap Lina lembut seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Dan seperti mengantar teman lama yang hendak bepergian jauh.


Setelah taksi itu tidak terlihat lagi, keduanya pun masuk kedalam rumah. Randy memeluk Lina dengan mesra.


"Tidak akan ada yang memisahkan cinta kita, kecuali takdir," ucap Randy.


"Aku akan selalu mencintaimu hingga akhir hayatku," ucap Randy lagi.


"Sejak kapan kamu jadi bermulut manis?" tanya Lina.


"Sejak aku mencintaimu sewaktu kita dibangku sekolah dulu," jawab Randy.


"Perasaan kamu tidak seperti ini deh?" tanya Lina lagi.


"Karena waktu itu aku belum sempat ngomong sudah kamu tolak duluan," jawab Randy.


"Waktu itu kita masih sangat kecil, dan aku belum kepikiran untuk menjalani hubungan percintaan. Aku sudah bertekad tidak akan pacaran sebelum lulus kuliah," ucap Lina.


"Lalu aku?" tanya Lina balik.


"Kita tidur sama sama," jawab Randy enteng.


Buugh... Lina memukul dada bidang Randy, tapi Randy malah tertawa terbahak bahak.


"Belum apa-apa sudah ngajak tidur bersama," gerutu Lina lalu meninggalkan Randy yang masih tertawa.


"Ehh, ya aku ditinggal deh," ucap Randy.


Randy menyusul Lina, tapi Lina sudah terlebih dahulu masuk kedalam kamar. Tangan Randy menggantung diudara didepan pintu saat ada suara menegurnya.


"Sedang apa kamu?" tanya Denia yang kebetulan hendak kedapur ingin mengambil air minum.


"Eh Mama, gak ada apa-apa ma, cuma ingin ngomong sama Lina," jawab Randy sambil garuk-garuk kepala tidak gatal.


"Ini sudah jam 10 malam, biarkan Lina tidur dan jangan diganggu," ucap Denia.


"Ada apa ma?" tanya Delon.


"Itu anakmu persis sekali sepertimu," jawab Denia.


"Aku juga yang kena," batin Delon.

__ADS_1


"Ya sudah kita kedapur yuk, katanya mau ambil air minum?" tanya Delon.


Denia pun mengikuti suaminya karena suaminya menggandeng tangannya.


Sedangkan Randy masih berdiri mematung didepan pintu dan hanya memperhatikan pasangan tersebut.


"Awas saja kalau sudah menikah, tidak akan aku lepaskan," gumam Randy lalu pergi dan masuk kedalam kamarnya sendiri. Tadinya ia ingin tidur dengan kakeknya tapi karena ular import sudah pergi jadi Randy pun tidur dikamarnya sendiri.


"Semua sudah selesai, tapi aku tidak tahu kedepannya seperti apa?" batin Randy sambil berbaring telentang diatas ranjang.


Pagi hari...


Lina sudah berkutat atik didapur untuk membuat sarapan, bahkan pelayan pun belum ada yang keluar dari kamar mereka karena masih terlalu pagi.


Lina ingin secepatnya pergi bekerja agar tidak terlambat. Pelayan terkejut melihat nona mudanya sudah berada di dapur.


"Maaf non kesiangan bangunnya," ucap Shila. Eni juga sudah berada disitu.


"Gak apa-apa bik," jawab Lina sambil tersenyum.


Itulah yang disukai pelayan dirumah ini. Selain rajin juga tidak sombong dengan pelayan dan tidak membeda-bedakan meskipun hanya pelayan.


"Ada yang bisa dibantu non?" tanya Eni.


"Tolong tata dimeja makan yang sudah matang, aku ingin membuat minuman," perintah Lina.


Tentu mereka dengan senang hati melakukannya. Shila dan Eni pun menghidangkan masakan diatas meja makan.


"Aku mandi dulu ya bik," ucap Lina.


"Silahkan nona." jawab pelayan serentak.


"Masak apa bik?" tanya Denia.


"Ehh nyonya, ini bukan kami yang masak, nyonya, tapi nona Lina.


Denia tersenyum, calon menantunya begitu rajin dalam segala hal. Denia masih belum tau kalau Cassandra sudah pergi dari rumah mereka.


Mereka sudah berkumpul dimeja makan, Lina melayani Abbas dan Randy, sementara Denia melayani Delon sang suami.


"Bagaimana keadaan kakek?" tanya Lina. Karena dari kemarin ia selalu lupa untuk bertanya keadaan Abbas, tapi pikiran Lina lebih fokus untuk mengusir ular import yang menggangu.


"Cassandra mana?" tanya Denia tiba tiba.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2