
.
.
.
Pesta sudah selesai. Banyak para tamu yang merasa berpuas hati dengan pesta ini. Semua tamu undangan sudah pulang dan harus menyisakan keluarga Henderson dan para teman temannya saja.
"Kalian nginap disini saja ya," kata Lina.
"Besok perusahaan akan diliburkan, dan kalian semua bisa cuti," kata Lina lagi.
"Benarkah? Kita menginap di hotel mewah ini?" tanya Delima.
"Pergilah ke kamar kalian masing-masing," ucap Diva.
Mereka pun diantar oleh pelayan. Johan dan teman temannya juga menginap. Karena sudah terlalu malam takut terjadi apa-apa diperjalanan.
Setelah teman teman Lina masuk kedalam kamar dengan diantar pelayan. Keluarga Henderson berkumpul untuk berbincang merencanakan keberangkatan mereka ke negara xxxx.
"Kami boleh ikut, Bunda?" tanya Aleta menyela.
Cahaya meminta pendapat dari suami dan saudaranya. Dan mereka menyetujui nya.
"Ya. Kalian boleh ikut," jawab Cahaya.
"Yeee...!" Mereka semua bersorak. Seolah keberangkatan mereka ke negara xxxx pergi berlibur.
"Besok kita berangkat, karena 3 hari lagi akan diadakan pesta pengangkatan raja baru. Disaat itulah kita bersama rakyat disana melakukan penyerangan," kata Lina.
Mereka semua setuju. Jangan lupakan Zaidan yang tidak kalah antusias untuk ikut berperang.
"Cih, sudah kaya anak kecil," gumam Randy. Tapi masih didengar oleh mereka.
"Melebihi bocah kembar," ujar Abigail. Mereka semua pun tertawa.
"Sekarang kita istirahat, karena besok pagi kita akan berangkat," ucap Darmendra.
Kemudian mereka pun masuk kedalam kamar masing-masing. 17 bocah kembar sangat senang karena di ikut sertakan dalam pertempuran ini. Tapi mereka masih bisa menyembunyikan perasaan mereka.
"Ayah yakin dengan kemampuan kalian," kata Ram kepada kedua anaknya.
"Kami juga seperti ayah, jenius," ujar Aldebaran.
"Hmmm. Ayah tahu, sekarang kalian tidur," kata Ram.
"Baik ayah," jawab mereka serentak.
Kemudian Aldebaran dan Aleta mencium tangan kedua orang tuanya, lalu mereka mencium pipi kedua orang tuanya.
Ram tersenyum bahwa putranya mau menciumnya. Biasanya sangat sulit.
Keduanya kemudian masuk kedalam kamar mereka, mereka satu kamar tapi beda ranjang. Karena dikamar hotel ini disediakan dua ranjang.
__ADS_1
Sementara Ram dan Cahaya juga masuk kedalam kamar mereka. Mereka akan beristirahat karena besok akan bepergian.
Pagi hari...
Seperti yang telah disepakati, mereka akan berangkat pagi ini. Semua orang sudah berkumpul untuk sarapan di restoran hotel tersebut.
Adela, Rukiza, Lolita, Jasmine dan Delima sangat senang. Karena mereka juga kecipratan menikmati hidangan orang kaya.
"Dengar semuanya, perusahaan akan saya liburkan selama satu Minggu kedepan. Dan Minggu depan, persiapkan diri kalian untuk menyambut CEO baru kalian semua," ucap Darmendra dengan lantang. Para karyawan yang berada ditempat ini semua bertepuk tangan.
"Kabarkan berita ini kepada karyawan lain, dan masalah gaji kalian, kalian jangan takut. Gaji kalian tidak akan dipotong," ucap Darmendra lagi.
Setelah selesai sarapan mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Mereka akan bersiap-siap untuk pergi ke negara xxxx. Bagi yang tidak ikut, mereka akan menikmati masa libur mereka.
Mereka pun segera pulang, karena 3 jam lagi mereka akan berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Henderson.
.
.
Kini mereka sudah berkumpul di bandara. 17 bocah kembar dengan tas ransel dan koper kecil milik mereka. Tas ransel berisi alat-alat yang mereka ciptakan. Semua tidak akan terdeteksi oleh alarm di bandara dan pesawat.
"Apa yang kalian bawa?" tanya Lica.
"Senjata baru kami, dan senjata lain ciptaan kami," jawab Aleta.
"Dih gaya kalian persis seperti Abang," kata Lina.
"Pastilah. Kami anaknya," sahut Davina.
Kenapa Abbas ikut? Pastinya ia ingin menyaksikan langsung kehancuran paman tirinya itu. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Paman tirinya itu masih hidup. Meskipun sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Selain hanya duduk dikursi roda karena sudah tidak bisa berjalan lagi. Karena sudah terlalu tua.
"Semua sudah hadir?" tanya Darmendra. Mereka semua tidak menjawab.
"Kalau begitu sekarang kita berangkat," kata Ray.
Mereka pun masuk kedalam pesawat pribadi milik keluarga Henderson. Zaidan terkagum-kagum melihat pesawat pribadi itu.
"Kamu mau?" tanya Roy.
"Ehh. Tidak!" jawab Zaidan.
"Setelah misi kita selesai, aku akan hadiahkan kamu satu pesawat pribadi," kata Roy.
Tidak main-main, seolah-olah hadiah pesawat itu hanya sebuah mainan anak-anak.
"Apakah aku bermimpi?" tanya Zaidan.
Plaak ... Satu tamparan mendarat dilengan Zaidan.
"Aduh...." Zaidan menjerit seketika.
"Sakit b*go," ucap Zaidan lagi. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Randy.
__ADS_1
"Tadi kamu bertanya, apakah ini mimpi? jadi tamparan itu sakit apa enggak?" tanya Randy.
"Ya sakit lah," jawab Zaidan.
"Berarti kamu tidak bermimpi," kata Randy. Yang lain pun tertawa mendengarnya.
"Ya, habisnya aku mau dikasih pesawat pribadi sebagai hadiah, jadi aku pikir itu cuma mimpi," ucap Zaidan.
Dengan kehadiran Zaidan menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Sementara para bocah sedang tertidur ditempat duduk mereka masing-masing.
Abbas sedang beristirahat di kamar pesawat, karena beliau harus tetap fit bila sampai kesana nantinya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Mereka pun tiba di negara tujuan. Semuanya turun dari pesawat dan melihat takjub negara ini.
Abbas bersujud ditanah. Setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di negara kelahirannya.
"Padahal negara ini bagus dan indah. Mengapa rakyatnya menderita?" tanya Randy.
"Karena Rajanya tidak mementingkan rakyat," jawab Lina. Randy pun manggut-manggut.
"Kita langsung ke hotel," kata Darmendra.
Merekapun menaiki taksi untuk sampai ke hotel. Hotel yang berada tidak jauh dari istana, itulah tujuan mereka.
Supir taksi menanyakan tujuan mereka, mereka pun menjawab hotel xxx. Supir taksi itupun mengangguk.
Tidak ada yang curiga tujuan mereka, karena di negara ini juga banyak pendatang asing untuk sekedar liburan. Jadi supir taksi pun menganggap mereka seperti itu.
Tidak butuh waktu lama mereka pun sudah tiba di hotel tersebut.
Kebetulan kamar hotel tempat mereka menginap banyak kamar kosong. Jadi mereka bisa menginap di hotel ini.
Mereka akan beristirahat sambil mencari informasi tentang raja dan calon raja.
Abbas tidak mengenali lagi tempat ini, karena begitu banyak perubahan yang terjadi.
"Dulu disini bukan hotel, tetapi rumah sahabatku," ucap Abbas.
Hotel ini adalah milik raja. Saat ingin membangun hotel ini, tanah ini dirampas oleh raja terdahulu dengan paksa. Raja membeli tanah ini dengan harga murah. Kalau tidak mau menjualnya, maka nyawa mereka taruhannya.
"Kalau begitu kita akan mencari sahabat kakek," kata Lina.
"Bagaimana caranya?" tanya Abbas.
"Sebutkan namanya dan keluarganya," jawab Lina.
Abbas pun menyebutkan nama sahabat kecilnya itu. Dengan keahlian yang dimiliki oleh Lina, tidak sulit baginya mencari orang tersebut.
Lina mendapatkan alamat tempat tinggal sahabat kecil Abbas.
"Malam ini kita akan menemuinya, kek," kata Lina.
.
__ADS_1
.
.