THREE ANGEL

THREE ANGEL
Frustasi.


__ADS_3

.


.


.


Carel kini berada didalam kamar dengan wajah frustasi. Tidak pernah ia seperti ini sebelumnya. Marissa yang melihat perubahan Carel pun semakin cemas lalu ia mendatangi kamar Carel dan mengetuknya.


"Sayang... buka pintunya," pinta Marissa.


Marissa memutar handle pintu ternyata tidak terkunci. Marissa mengedarkan pandangannya kesegala arah ternyata Carel sedang menangis disudut kamar.


"Sayang...?!" Marissa langsung menghampiri Carel yang sedang meringkuk. Marissa yang melihat pemandangan didepannya pun merasa tersayat hatinya.


"Sayang...!" panggil Marissa lagi. Tapi Carel masih menangis.


Sudah lama sekali Marissa tidak melihat Carel seperti ini, terakhir Carel seperti ini saat kematian sang kakek 10 tahun yang lalu.


Waktu itu Carel benar benar terpuruk karena merasa bersalah kepada sang kakek. Padahal bukan salah dirinya sang kakek meninggal. Semua itu sudah takdirnya. Tapi Carel tetap menyalahkan dirinya sendiri karena tidak sempat menemui kakeknya saat saat terakhirnya.


"Sayang, kenapa kamu seperti ini?" tanya Marissa memeluk tubuh Carel yang sedang bergetar karena menangis.


"Mama, tinggalkan aku sendiri," ucap Carel kemudian.


"Cerita pada mama, apa yang terjadi?" tanya Marissa. Carel menggeleng dan kembali menangis.


"Kamu sudah lama tidak seperti ini Nak? Katakan pada Mama apa yang terjadi?" tanya Marissa.


"Lita ma," jawab Carel.


Marissa terdiam mencerna jawaban Carel, ia menduga bahwa Lita memutuskan hubungannya dengan putranya.


"Apa Lita memutuskan mu?" tanya Marissa. Carel menggeleng.


"Lalu..?" tanya Marissa lagi.


"Wanita yang Mama kenalkan untuk kencan buta datang mengganggu hubunganku dengan Lita, Lita sekarang marah. Bagaimana kalau Lita tidak mau lagi denganku ma? Bagaimana?" tanya Carel.

__ADS_1


"Aku belum pernah mencintai seseorang sedalam ini, sakit ma, sakit," ucap Carel menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.


Marissa juga ikut menangis melihat anaknya seperti itu. Carel memang patuh terhadap Mama nya, tapi kalau soal perjodohan ia memang menentang keras karena ia ingin menikah dengan orang yang benar benar ia cintai, seorang gadis yang mampu menggetarkan hatinya.


"Maafkan Mama sayang, semua itu karena salah Mama yang tidak memikirkan perasaanmu," ucap Marissa.


"Semua salahku ma, andai saja aku menerima semua wanita yang Mama kenalkan, mungkin aku tidak seperti ini," jawab Carel.


Semua? Yang benar saja? 99 orang wanita yang Marissa perkenalkan tapi tidak ada satupun yang Carel terima. Semua tidak termasuk kriteria nya.


Carel hanya memilih gadis yang mampu menggetarkan hatinya, itu saja. Tidak peduli gadis atau janda sekalipun. Ternyata gadis yang menggetarkan hatinya adalah seorang gadis sejuta pesona yang punya multitalenta.


"Mama panggil semua wanita yang sudah Mama perkenalkan dulu padaku, aku ingin menikahi 99 wanita itu," ucap Carel frustasi.


Marissa menggeleng kuat, dulu dia yang berambisi untuk menjodohkan anaknya dengan salah satu gadis pilihannya, hanya karena takut anaknya tidak normal. Karena hingga usia Carel mencapai 26 tahun tapi belum juga memiliki kekasih. Marissa takut anaknya tidak ingin menikah. Tapi sekarang Marissa malah jatuh hati pada gadis yang menolongnya di mall dulu.


"Tidak Nak, Mama tidak ingin kamu menikahi wanita wanita itu, mama hanya mau Lita." ucap Marissa.


"Bukankah itu keinginan Mama memaksa aku untuk ikut kencan buta? Bukan hanya satu dua orang, bahkan hingga 99 orang ma. Dan sekarang mereka datang satu persatu mengganggu hubunganku dengan Lita. Semua itu menjadi bumerang yang berbalik pada diriku sendiri," tanya Carel.


"Aku akan menikahi wanita yang Mama perkenalkan dulu padaku, semuanya ma agar Mama bahagia diatas penderitaanku," ucap Carel.


Marissa semakin menangis dan juga merasa bersalah karena pernah memaksakan kehendaknya sendiri. Sang suami pernah menasehatinya untuk tidak ikut campur urusan anaknya tapi Marissa tetap dengan pendirian nya.


"Maafkan Mama sayang, maafkan Mama," ucap Marissa.


'Mama tidak salah, aku yang salah ma karena menolak semua wanita yang sesuai keinginan Mama," kata Carel.


"Sekarang Mama keluar, aku ingin sendiri," perintah Carel.


Marissa dengan berat hati pun keluar dari kamar Carel. Satu persatu ia menuruni anak tangga dan bertemu dengan suaminya.


"Kenapa ma?" tanya Vasco yang merasa heran melihat istrinya sedang menangis.


"Carel pa, Carel," jawab Marissa.


"Papa kan sudah bilang jangan mencampuri urusan pribadi anak kita, kita boleh mendidiknya membimbingnya dan mendukungnya, tapi bukan berarti dia harus mengikuti kehendak kita. Baik untuk bagi kita belum tentu baik untuk dia," ucap Vasco dengan bijak.

__ADS_1


Marissa hanya terdiam, karena apa yang dikatakan suaminya benar adanya.


"Biar Papa temui dia," ucap Vasco. Marissa ingin ikut tapi dilarang oleh Vasco. Alhasil Marissa hanya diam diruang tamu.


Vasco berjalan menaiki tangga dan tiba didepan kamar Carel, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena ia tau putranya tidak akan membukanya.


Vasco membuka pintu dan masuk, dilihatnya Carel masih terduduk disudut ruangan persis seperti beberapa tahun silam. Vasco mendekat dan menyentuh pundak Carel.


"Seorang pria sejati harus berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya," ucap Vasco pada Carel. Carel seketika mendongak menatap wajah tampan sang Papa.


"Papa..." Carel langsung memeluk Papanya.


"Kalau kamu benar benar mencintai seorang gadis, kejar dia perjuangkan dia sebelum ada pria lain yang menikungmu," ucap Vasco sambil mengelus rambut Carel.


"Menangis, terpuruk, frustasi bukanlah solusi untuk pria sejati, Papa tahu anak Papa ini bukan pria lemah yang hanya bisa mengandalkan airmata untuk menyelesaikan masalah," ucap Vasco.


"Iya Pa, aku akan memperjuangkan cintaku padanya, apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan dia jatuh ke tangan pria lain," ucap Carel. Sekarang hatinya sudah merasa sedikit lega.


Vasco tersenyum, ia selalu bisa membujuk putranya untuk bangkit agar tidak terlalu terpuruk.


"Papa keluar dulu, sekarang kamu istirahat karena besok perjuanganmu harus segera dimulai. Papa hanya bisa mendukungmu," ucap Vasco. Carel pun mengangguk.


Vasco keluar dari kamar Carel, Carel bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin mandi dan setelah itu baru beristirahat.


"Aku tidak rela kau dimiliki pria lain, aku akan memperjuangkan cintaku padamu Lita." batin Carel saat berdiri dibawah shower dengan guyuran air dingin.


Setelah selesai mandi, Carel masuk kedalam ruang ganti dan berpakaian lengkap. Setelah itu Carel pun membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


"Bagaimana Pa?" tanya Marissa saat Vasco sudah berada dibawah.


"Sudah Mama tenang saja, Carel baik baik saja. Hanya biarkan dulu dia sendiri, kita beri waktu untuk dia merenung. Papa yakin setiap ada masalah pasti ada jalan penyelesaiannya," jawab Vasco bijak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2