
.
.
.
Hari ini semua karyawan pulang lebih awal dari biasanya, biasa pulang jam 5 sore hari ini menjadi jam 3 sore.
Itu semua atas saran dari Lina kepada Darmendra, lalu Darmendra menelpon Ardi dan memberitahu semua karyawan untuk pulang lebih awal.
Ardi sangat senang, ia akan banyak waktu untuk bersama dengan Amanda. Meskipun mereka satu kantor, tapi mereka juga harus menjaga privasi. Tidak ada yang tau kalau mereka adalah sepasang kekasih kecuali triple A saja yang mengetahui itu.
"Tumben tuan Darmendra menyuruh pulang lebih awal?" tanya Rukiza saat mereka sedang berkumpul diparkiran.
"Memangnya tidak pernah seperti ini?" tanya Lina berpura-pura tidak tahu.
"Baru kali ini," jawab Lolita.
"Bagus dong, berarti ada perubahan," kata Lica.
Gimana? jadi gak nih pergi makan?" tanya Rukiza.
"Jadi dong, aku tau tempat makan enak tapi murah," kata Lina.
"Dimana?" tanya Rukiza.
"Rumah makan dijalan xxx, kalian sudah pernah kesana?" tanya Lica.
"Aku pernah satu kali," jawab Adela.
"Kok aku gak tau kamu pernah makan disitu?" tanya Delima.
"Waktu itu aku lagi mengantarkan Mama kerumah saudaranya. pulang dari sana aku singgah di situ karena lapar," jawab Adela.
"Hari ini kita akan makan disana," kata Lina.
"Yuk pergi, tunggu apalagi?" tanya Lolita.
"Nunggu pacar kita jemput," jawab Lita.
"Sepertinya aku gak usah ikut deh," kata Jasmine.
"Kenapa? Nanti juga akan ada pasangan mu," tanya Lica.
Jasmine tersenyum kikuk, ia tidak mau kalau harus menjadi obat nyamuk diantara mereka.
Saat mereka sedang asik ngobrol, Diva dan Darmendra melewati mereka diparkiran.
"Kalian belum pulang?" tanya Darmendra. Sedangkan Diva hanya tersenyum.
Delima, Adela, Lolita dan Rukiza juga belum pernah melihat Diva, jadi mereka tidak mengenal Diva. Meskipun mereka sudah lama bekerja di perusahaan ini tapi mereka belum pernah bertemu Diva di perusahaan.
"Belum tuan, lagi menunggu jemputan," jawab Lina sambil tersenyum.
"Ya sudah, kami pulang duluan ya," kata Diva. Mereka seolah tidak saling kenal.
Setelah Darmendra dan Diva berlalu, mereka baru menyadari kalau wajah istri CEO mereka lebih mirip Lina, Lita dan Lica.
"Guys, kalian sadar tidak? Wajah istri tuan Darmendra lebih mirip Lina, Lita dan Lica," tanya Lolita.
__ADS_1
"Ah iya, kamu benar banget," jawab Delima.
Triple A hanya bersikap biasa biasa saja, seolah tidak peduli dengan semua itu.
"Mungkin secara kebetulan saja," jawab Lica.
"Kata orang ada tujuh wajah di dunia ini yang lebih mirip kita selain orang kembar," kata Lita.
"Tapi aku dengar tuan Darmendra memiliki 7 putra kembar dan tiga putri kembar," kata Rukiza. Mereka semua menatap curiga pada triple A.
"Apa jangan jangan...!" ucap mereka serentak sambil menatap triple A.
"Lin, jujur saja kalian anak CEO perusahaan ini kan?" tanya Adela.
"Hmmmm...aku harus jawab apa?" tanya Lina balik.
Belum sempat mereka mendengar jawaban triple A, beberapa buah mobil datang menjemput mereka. Triple A segera menghindar dan berlari kecil menghampiri mobil kekasihnya.
"Ayo cepat jalan," ajak Lina pada Randy.
Begitu juga Lita dan Lica mereka ingin secepatnya pergi dari situ. Tidak berapa lama datang Arga menjemput Jasmine.
Kini tinggal mereka berempat yang juga sedang menunggu pacar mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Randy pada Lina.
"Mereka sudah curiga dengan ku dan saudara kembarku," jawab Lina.
"Kenapa gak jujur saja?" tanya Randy.
"Belum saatnya, tunggu sampai aku benar benar menggantikan posisi Daddy di perusahaan," jawab Lina.
Sementara Delima, Adela, Rukiza dan Lolita masih penasaran dengan triple A. Mereka mulai curiga dengan ketiga gadis kembar itu.
Selang beberapa menit akhirnya jemputan mereka juga sudah tiba, keempat gadis itu masuk kedalam mobil pacar mereka masing-masing.
"Tumben kalian mau ngajak makan?" tanya Johan.
"Sekali sekali gak apa-apa, lagian kami baru habis gajian dan mendapatkan bonus dari perusahaan," jawab Delima.
Butuh waktu 40 menit mereka pun tiba dirumah makan tersebut, mereka yang datang lebih dulu sudah duduk anteng dibangku panjang.
Mereka pun memesan makanan yang mereka inginkan, seperti ikan bakar. Tempat ini sudah menjadi tempat favorit keluarga Henderson. Dan berkat keluarga Henderson sering makan disini tempat ini semakin banyak dikunjungi.
"Semua yang ada disini, hari ini aku akan mengungkapkan cintaku pada seorang gadis yang sudah lama mengisi relung hatiku," kata Abigail.
"Lica, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Abigail to the point.
Lica tertunduk, sebenarnya ia malu pada semua orang yang ada disini.
"Terima...!" teriak salah satu pengunjung.
"Ya terima saja," ucap pengunjung yang lain.
"Terima... terima... terima..." semua orang bertepuk tangan sambil berkata terima berulang ulang secara serentak. Termasuk teman teman Lica.
"Ya, aku mau," jawab Lica pelan.
"Gak kedengaran," ucap pengunjung pria. Lica hanya tertunduk sambil mengangguk.
__ADS_1
"Ya aku mau," ulang Lica dengan suara sedikit meninggi dari tadi.
"Kalian sudah dengar? maka dari itu semua yang ada disini pesan makanan sepuasnya aku yang traktir," ucap Abigail dengan suara lantang.
"Aku juga menyukaimu, Jas," ucap Arga pelan. Jasmine menatap intens kearah Arga. Karena ia tidak menduga Arga akan berbicara begitu.
"Gak kedengaran," kata Lina.
"Aku sudah lama menunggu saat ini untuk mengungkapkan perasaan cintaku," ucap Arga.
"Jasmine, maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Arga. Jasmine mengangguk saja.
"Jawab dong, orang tidak akan tau kalau mengangguk saja," kata Rukiza.
"Ya aku mau," jawab Jasmine.
"CINTA"
'Curahan hati yang terpendam'
'Ingin diungkapkan'
'Namun hati'
'Tidak tentu'
'Arah'
Arga mengatakan dengan begitu lantang dihadapan semua orang, Abigail tercengang mendengarnya, karena selama ini ia tidak tahu kalau asisten pribadinya itu ternyata seorang puitis.
Semua orang bersorak gembira mendapat makanan gratis dan menjadi saksi dua pasangan yang baru mengungkapkan perasaannya.
"Kalau begini terus bisa lebih hemat untuk saku," kata pengunjung A.
"Rejeki tidak akan kemana," ucap pengunjung B.
Ikan bakar yang mereka pesan akhirnya sudah matang, pelayan di rumah makan itu bertambah karena pengunjungnya yang juga semakin bertambah setiap harinya.
Tapi pemilik rumah makan tersebut tidak mau merenovasi apalagi merubah tempat tersebut, karena menurutnya biar lebih terlihat asri.
"Beruntung aku sudah mempersiapkan uang tunai yang banyak," gumam Abigail. Ia tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi. Tidak membawa uang tunai, sedangkan makan ditempat ini tidak menerima kartu.
Mereka pun makan dengan lahap, meskipun belum waktunya makan malam tapi mereka sudah lebih dulu makan.
"Kalian sering kemari?" tanya Rukiza pada Lina.
"Ada beberapa kali kami kesini," jawab Lina. Rukiza pun mengangguk.
"Kapan kapan kita kesini lagi ya, makanannya sangat enak," kata Delima.
"Nanti aku akan bawa kamu kesini, khusus kita berdua saja," ucap Johan.
"Rame rame dong," kata Lolita dan diangguki oleh yang lain.
.
.
.
__ADS_1