
.
.
.
Semua berkumpul diruang tamu, beruntung ruang tamu dirumah ini besar. Jadi bisa menampung banyak orang meskipun ada yang duduk di karpet.
"Apa yang ingin kalian diskusikan?" tanya Abbas.
"Begini kek, aku sudah mencari informasi tentang kerajaan tersebut. Ternyata selama kerajaan itu dipimpin oleh raja yang baru rakyat hidup menderita dibawah kekuasaan raja tersebut." jawab Lina.
Sikembar semua bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju mobil mereka masing-masing. Ternyata mereka mengambil laptop mereka masing-masing yang selalu mereka bawa kemanapun mereka pergi. Tidak berapa lama mereka datang dengan membawa laptop mereka.
Mereka mencari informasi terkait rakyat di negara itu. Tidak berapa lama berita tentang raja yang menindas rakyat pun mereka dapatkan.
Carel juga ahli dalam bidang IT, tapi melihat kelincahan dan kelihaian sikembar dalam mengetik keyboard laptop membuat Carel begitu takjub.
"Luar biasa, apakah mereka hacker misterius itu?" batin Carel.
"Pantas saja sewaktu aku mencari data diri Lita tidak kutemukan, tidak heran mereka bisa menyembunyikan identitas mereka dan hanya keluarga ini yang tidak bisa aku tembus data diri mereka, malah komputer ku yang terbakar," batin Carel. ia masih belum percaya dapat melihat langsung hacker misterius yang sangat diidolakan nya itu.
"Ternyata apa yang dikatakan Lina benar kek," kata Ram.
"Kami sedia membantu kalau kakek ingin merebut kembali tahta kerajaan itu, meskipun kakek tidak ingin menjadi raja, setidaknya kita bisa menyelamatkan rakyatnya. Mereka sudah cukup menderita," kata Lina.
Abbas terdiam berpikir, ia memikirkan apa yang mereka katakan ada benarnya.
"Sebenarnya saudara yang membunuh orang tuaku mereka bukan saudara kandung, tapi saudara tiri. Aku pernah mendengar pembicaraan ayah dan ibuku tentang adik tirinya itu yang ingin kekuasaan, sebenarnya ayah ingin turun tahta dan disetujui oleh ibuku, tapi ternyata mereka terlebih dahulu dibunuh dengan kejam," ucap Abbas.
Lina mendekat dan memeluk kakek Abbas agar sedikit lebih tenang.
"Kita harus melaksanakan rencana kita saat pesta pengangkatan raja baru yaitu anak dari raja tersebut." kata Ram.
"Ide bagus, kita bisa bergaul dengan rakyat dan menyusup secara diam diam," kata Ren.
"Benar, dan pesta itu akan berlangsung 3 bulan lagi, itu adalah saat yang tepat menurutku," Kata Rakha.
Kakek Abbas sudah sedikit tenang, dan ia juga setuju dengan rencana tersebut. Ia bertekad menghancurkan kerajaan tersebut daripada menyengsarakan rakyat.
"Aku juga akan ikut kesana untuk melihat kehancuran kerajaan itu dan menyelamatkan rakyat.
Sedangkan ditaman belakang, para bocah sedang mendengarkan melalui earphone milik mereka, mereka juga punya rencana untuk menciptakan senjata baru. Dan waktunya masih 3 bulan akan banyak waktu untuk mereka menciptakan alat itu.
"Bagaimana? Sekarang sudah tahukan?" tanya Aldebaran, dan diangguki oleh yang lain.
__ADS_1
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Rayyan.
"Apa lagi? Kita juga ikut membantu kakek buyut Abbas," jawab Aleta.
"Tapi kalau kita ingin ikut kita harus menciptakan senjata baru yang lebih canggih lagi," kata Danendra.
"Yang terpenting adalah, kita harus minta izin kepada kedua orang tua kita," kata Davion.
"Betul itu," jawab Davina menimpali.
Mereka berdiskusi sesama mereka, karena mereka anak jenius dan pemberani jadi mereka juga ingin membantu untuk menyelesaikan masalah ini. Kini para bocah pun bergabung dengan orang dewasa.
Setelah berdiskusi dan dengan kesepakatan bersama untuk membebaskan rakyat di negara itu, mereka para wanita pun pergi kedapur untuk memasak, karena sudah menjelang siang.
Aldebaran dengan cepat mengambil penyadap suara dibawah meja dan menyimpannya disaku celananya. Kemudian ia kembali bergabung dengan saudara saudaranya yang lain.
"Gimana?" tanya Abqari.
"Beres, gak ada yang tau kok," jawab Aldebaran.
"Apa yang tidak tau?" tanya Ram.
"Ehh ayah, gak ada apa-apa kok yah," jawab Aldebaran kikuk, karena ia paling takut dengan ayahnya. Meskipun Ram tidak pernah marah tapi Aldebaran maupun Aleta paling takut dengan ayahnya. Tapi dengan Bundanya sampai berbuih mulut Cahaya mengomeli mereka tidak membuat mereka takut. Tapi bukan berarti mereka melawan Bundanya. Mereka adalah anak yang patuh meskipun ada sisi bandelnya juga.
"Ayah merasa ada yang kalian sembunyikan," ucap Ram.
"Abqari...?!" panggil Ram.
"Eee, itu anu..." ucap Abqari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aldebaran menatap tajam Abqari, diantara mereka Aldebaran yang mereka segani.
"Katakan...!" ucap Ram menekankan kalimatnya.
"Kami juga ingin membantu kakek buyut Abbas, yah," kata Abqari.
"Kalian menguping pembicaraan orang dewasa?" tanya Ram, keduanya mengangguk.
"Haah," Ram menghela nafas.
"Apa persiapan kalian untuk membantu?" tanya Ram.
"Kita akan menciptakan senjata baru, Yah," jawab Aldebaran sambil menunduk.
"Baiklah ayah setuju, tapi kalau bunda mengizinkan," kata Ram.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ren.
"Mereka ingin ikut membantu," jawab Ram.
"Biarkan saja lah, mereka juga anak anak pemberani," jawab Ren santai.
"Papa tidak marah?" tanya Aldebaran dan Abqari bersamaan.
"Untuk apa Papa marah pada anak anak papa yang hebat ini," jawab Ren.
"Terimakasih pa," ucap Abqari dan Aldebaran serentak.
Sedangkan para wanita berkumpul didapur, ada yang sedang memasak ada pula yang memperhatikan saja. Karena sudah terlalu ramai.
"Kalau sering sering begini pasti senang," kata Denia.
"Jarang jarang ada waktu luang seperti ini," ucap Diva.
Sedangkan triple A hanya duduk santai dikursi meja makan, mereka sedang bercerita ngalur ngidul. Aisyah sedang membuat adonan kue dan dibantu oleh Cahaya dan Keyla.
Yang lain membantu Diva dan Denia memasak. Seperti menyiapkan bumbu dan membersihkan ikan dan ayam serta daging.
Diruang tamu...
Abbas sedang mengobrol dengan Jordan, Abbas bertanya banyak hal salah satunya tentang cucu dan cicitnya.
"Tenanglah bas, mereka bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah. dari sejak kecil sikembar sudah biasa melawan musuhnya, bahkan mereka juga menghancurkan markas mafia terbesar dikota London," kata Jordan.
Abbas tentu saja terkejut mendengarnya. Kini Abbas benar benar sudah yakin untuk menghancurkan kerajaan itu.
"Aku tidak menyangka kalau kamu mempunyai cucu yang hebat, bahkan cucu perempuanmu juga hebat bisa menyembuhkan penyakitku yang sudah bertahun tahun aku derita," ucap Abbas.
"Makanya kamu harus selalu sehat agar bisa menimang cicit nantinya, aku lihat cucu kita sepertinya sangat cocok," kata Jordan.
"Iya, aku sangat setuju bila mereka menikah," ucap Abbas menimpali.
Tidak berapa lama makan siang sudah siap, semua orang dipanggil untuk makan. Sikembar beserta anak anaknya sedang berada diluar rumah menikmati keindahan taman yang dipenuhi oleh bunga tersebut. Karena halaman rumah ini begitu luas, jadi dibuat taman depan belakang oleh Delon atas rekomendasi dari istrinya.
Pelayan datang memanggil mereka untuk makan siang, mereka bergegas masuk dan langsung menuju dapur. Di meja makan banyak hidangan sudah tersedia, bahkan Delon pun mengeluarkan meja makan panjang yang jarang dipakai.
Karena sekarang ramai orang, Delon menyuruh pelayan untuk mengeluarkan meja dan kursi tersebut.
.
.
__ADS_1
.