
.
.
.
Di perusahaan J H company....
Ponsel Lica berdering pertanda panggilan masuk, Lica yang baru mulai bekerja setelah istirahat makan siang pun segera mengangkat panggilan tersebut.
Teman satu ruangan menoleh kearah Lita dan mereka sudah menduga kalau yang menelpon adalah Carel.
"Halo...?!" Lita menjawab panggilan tersebut dan menyapa orang yang diseberang telepon.
"Nanti malam bersiap siap ya, jam 7 malam aku jemput," ucap Carel.
"Gak janji," jawab Lita.
"Emang mau kemana sih?" tanya Lita lagi.
"Ngajak dinner," jawab Carel singkat.
"Ya sudah, aku mau kerja dulu nih nanti bos marah," kata Lita.
"Hahaha... siapa yang berani memarahi anak pemilik perusahaan?" tanya Carel.
"Diamlah, nanti mereka mendengar," ucap Lita berbisik.
"Oke... oke. Pokoknya nanti malam aku jemput, gak ada penolakan," kata Carel menekan kata katanya.
"Dasar pemaksaan," jawab Lita, tapi Carel malah tertawa senang.
Lita memutuskan panggilannya dan meletakkan ponselnya didalam tas miliknya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Carel sudah tersenyum senyum sendiri dan masih memegang ponselnya yang sudah gelap.
"Aku benar benar sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Dulu aku tidak percaya dengan adanya cinta pandangan pertama, tapi sekarang aku mengalaminya," gumam Carel.
Saat ia sedang asik melamun tiba tiba pintu ruangannya terbuka dan masuklah seorang wanita S*ksi dan cantik. Carel melirik sekilas kearah wanita itu.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Carel ketus.
"saya ingin mengajakmu dinner nanti malam," jawab wanita itu yang bernama Bella. Seorang wanita teman kencan buta Carel yang entah ke berapa yang terkena siraman air oleh Carel.
"Aku tidak punya waktu untukmu," kata Carel ketus.
"Ayolah sayang, jangan seperti itu," bujuk Bella.
"Apa Daddy sugar mu sudah miskin sehingga kamu mencari mangsa yang baru?" tanya Carel begitu menohok. Tapi Bella tidak tersinggung sama sekali. Bella malah semakin mendekat ke Carel.
"Maju selangkah lagi maka kopi panas ini akan mendarat di wajahmu," ancam Carel, memang benar ada kopi yang masih mengepul asapnya dimeja kerja Carel.
__ADS_1
Bella mundur beberapa langkah menjaga jarak dari Carel. Ia tau ancaman Carel tidak main-main.
"Pergi sekarang atau wajahmu rusak karena kopi ini," ancam Carel lagi.
"Car...!" belum sempat Bella berkata kopi panas sudah mendarat sempurna diwajah Bella.
"Ahhh," teriak Bella menahan rasa panas di sekujur wajahnya.
"Kamu memang kejam..!" teriak Bella.
Carel mana peduli dengan semua itu, ia semakin merasa bangga kalau dibilang kejam oleh orang yang memang tidak disukainya.
"Aku sudah peringatkan, Kamu saja yang mencari penyakit," kata Carel tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Kemudian Carel menelpon securiti untuk datang, Carel juga memanggil OB untuk mengganti kopinya yang sudah habis.
"Kalau kamu datang lagi kepadaku, maka seluruh keluargamu akan menjadi jaminannya," ancam Carel lagi. Sekuriti datang dan masuk kedalam ruangan Carel.
"Tuan...!" panggil salah satu dari dua sekuriti.
"Seret dia keluar dari sini dan jangan biarkan dia masuk lagi keperusahaan ini," perintah Carel.
"Baik tuan," jawab dua sekuriti itu serentak.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri," ucap Bella sambil memegangi wajahnya yang memerah.
Tidak berapa lama setelah Bella dan sekuriti keluar, OB pun datang dengan membawa kopi panas untuk Carel.
Bagaimana kalau Lita tidak menerimanya karena wanita wanita itu? Berbagai pertanyaan terlintas dalam benaknya. Carel mengambil ponselnya diatas meja dan menelpon seseorang.
"Halo sayang, tumben menelpon jam segini? Apa tidak sibuk?" tanya Marissa.
"Ma, bagaimana kalau Lita tidak menerima aku?" tanya Carel.
"Maksudmu apa Nak?" tanya Marissa.
"Ma, wanita yang mama rekomendasikan untuk kencan buta denganku, satu persatu datang Ma, bagaimana kalau Lita tahu dan menolak cintaku dan pergi meninggalkanku?" tanya Carel beruntun. Marissa terdiam, ia tidak pernah berpikir akan sejauh ini. Yang ia pikirkan hanyalah anaknya memiliki kekasih.
"Ma...?!" panggil Carel.
"Ah iya sayang, maafkan Mama. Mama tidak menduga akan seperti ini, maafkan Mama sayang," ucap Marissa.
"Sudahlah ma, kalau sampai Lita tidak menerimaku, mungkin aku akan menjomblo seumur hidupku," kata Carel mendramatisir.
"Jangan sayang, kamu harus berjuang mendapatkan gadis itu. Mama yakin dia gadis yang baik," ucap Marissa.
"Ya sudah ma, aku tutup dulu teleponnya," kata Carel. Kemudian Carel memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Carel masuk kekamar pribadinya. Ia melepas jas dan mengendorkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
Carel berbaring terlentang dengan tangan diatas keningnya, seperti orang yang sedang mempunyai beban pikiran yang sangat berat.
__ADS_1
"Apa aku bisa terlepas dari wanita wanita itu? Dan aku harus bersikap tegas untuk menolak mereka semua seandainya mereka datang kepadaku," batin Carel.
Tanpa Carel ketahui, Lita sudah menyelidikinya terlebih dahulu. Lita tahu kalau Carel menghadiri banyak kencan buta demi sang mama, Lita juga tahu kalau Carel menolak semua wanita yang dikenal kan Mama nya kepadanya.
Carel memejamkan matanya dan perlahan lahan ia tertidur. Mungkin ia terlalu lelah dengan semua ini jadi ia ingin istirahat sejenak.
Carel terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Carel bergegas bangun dan masuk kedalam kamar mandinya.
Ia harus secepatnya bersiap siap untuk menjemput sang pujaan hati. Carel keluar dari kamar mandi dan memilih pakaian yang menurutnya bagus untuk dinner malam ini.
Restoran sudah di reservasi terlebih dahulu karena ia tidak ingin mengecewakan Lita. Padahal Lita bukan gadis yang haus kemewahan dan tempat seperti restoran mahal, baginya semua itu hanya akan membuang buang uang.
Setelah merasa sudah cocok dengan pakaian untuk malam ini, Carel berdiri didepan cermin yang ada diruangan itu.
"Ternyata aku benar benar tampan," gumam Carel.
Kemudian ia keluar dari ruang pribadinya dan melihat secangkir kopi diatas meja yang belum sempat ia minum. Carel keluar dan menuju lift, ternyata para karyawannya sudah pulang semua, wajarlah sekarang sudah jam 6 sore.
Carel tiba diparkiran dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah ia keluar dari gedung tersebut.
Perjalanan satu jam hanya ia tempuh 35 menit.
Carel tiba di mansion keluarga Henderson, penjaga gerbang pun membuka pintu gerbang karena mereka sudah mengenal Carel.
Carel masuk, sampai di depan mansion Carel membunyikan bel pintu. Pelayan datang membuka pintu dengan tergopoh-gopoh.
"Lita nya ada bik?" tanya Carel.
"Ada tuan muda, nona Lita ada dikamarnya," jawab bik Aida.
Carel pun dipersilahkan untuk masuk, ternyata Lita sudah keluar dari kamarnya dan sedang turun kebawah melalui tangga.
Carel sempat terpaku melihat penampilan Lita yang jarang sekali ia lihat. Lita menggunakan gaun malam yang begitu indah, membuat kecantikan Lita berkali kali lipat ditambah polesan make-up diwajahnya yang natural membuat Lita semakin cantik.
"Lita memang cantik kan?" tanya suara dari belakang Carel.
"Iya sangat cantik dan aku sangat mencintainya," jawab Carel.
"Ehhem," Darmendra berdehem membuat Carel tersadar bahwa tadi yang berbicara dibelakangnya adalah Darmendra.
"Ehh Daddy," ucap Carel kikuk.
"Mau kemana?" tanya Darmendra
"Dinner Dad," jawab Carel.
.
.
.
__ADS_1