
.
.
.
Disisi lain...
Seorang wanita s*ksi sekitar umur 30 tahun baru saja keluar dari pesawat. Ia adalah Cassandra Prasetyo anak dari Prima Prasetyo dan Vercessa Cristian. Cassandra terlahir di Jerman karena sang ibu adalah asli Jerman dan sang ayah asli Indonesia.
"Aku datang untuk menemuimu Randy," gumam Cassandra sambil menyeret koper miliknya. Saat ini ia sudah berada diparkiran dan sedang menunggu taksi.
Cassandra adalah seorang wanita yang bebas tapi ia terobsesi dengan Randy, sejak Randy bersekolah di Jerman karena mengikuti orang tuanya yang tinggal di Jerman waktu itu.
Rumah Randy dan rumah Cassandra berdekatan sewaktu di Jerman. Jadi ia selalu mencari cara untuk bisa dekat dengan Randy. Tapi Randy selalu menghindar dengan 1001 alasan. Cassandra dan Randy terpaut usia 5 tahun.
"Aku ada di Indonesia sekarang, sebentar lagi aku bertemu dengannya," gumam Cassandra sambil tersenyum.
"Mau kemana nona?" tanya Pak supir.
"Ke alamat ini Pak," jawab Cassandra menyerahkan secarik kertas pada supir taksi itu.
Darimana Cassandra tahu alamat rumah Randy? Tentu dari Mama Cassandra karena Mama Cassandra berteman dengan Denia sewaktu di Jerman.
Randy belum mengetahui perihal kedatangan Cassandra karena ia masih di kantor. Sementara Cassandra sudah tiba didepan rumah Randy.
Cassandra turun dari taksi dan membayar ongkosnya, dengan langkah gemulai ia berjalan menuju pintu utama.
Ting... tong...ting... tong bel berbunyi, pelayan dirumah itu bergegas membukakan pintu.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya pelayan itu.
Cassandra bukannya menjawab malah menepis pelayan dirumah itu sehingga pelayan terhuyung hampir terjatuh.
"Astaghfirullah..." ucap pelayan itu mengelus dadanya.
Cassandra langsung duduk diruang tamu dengan kaki disilangkan.
"PELAYAN.. PELAYAN..!" teriak Cassandra.
Suaranya hingga terdengar kepada Denia yang berada dikamar atas.
"Siapa yang teriak teriak?" tanya Abbas pada Denia. kebetulan saat ini Denia sedang ada dikamar ayahnya.
Pelayan rumah itu tergopoh-gopoh mendekati Cassandra, sedangkan pelayan yang tadi membuka pintu naik keatas untuk memberitahukan kepada majikannya.
"Ada apa nona?" tanya pelayan.
"Buatkan aku minuman, jus melon," perintah Cassandra.
"Baik nona," jawab pelayan itu sambil menunduk hormat lalu pergi dari situ untuk membuatkan minuman pada tamunya itu.
"Amit...amit dah, jangan sampai wanita itu menjadi istrinya tuan muda Randy," gerutu pelayan sambil membuat jus.
"Ada apa Shila?" tanya temannya.
"Itu ada Nenek Lampir diruang tamu," jawab Shila.
"Hah nenek lampir?" tanya Eni.
"Iya, duh jangan sampai dia tinggal disini, masih cantik nona Lina baik lembut dan tidak sombong," ucap Shila.
"Sudah siap belum? Biar aku yang antar aku ingin lihat seperti apa orangnya?" tanya Eni.
__ADS_1
Kemudian Eni pun mengantarkan jus yang sudah dibuat oleh Shila.
"Ini nona jus nya," ucap Eni
"Simpan disitu," jawab Cassandra dengan nada angkuh.
Kemudian Eni pun kembali kedapur, Eni mencebikkan bibirnya mengikuti ucap Cassandra yang sok itu.
"Bagaimana? Cantik nona Lina kan?" tanya Shila.
"Iya, mukanya udah kaya cat tembok," ejek Eni.
Sementara dikamar atas, Denia yang mendapat laporan dari pelayan pun segera turun untuk menemui Cassandra. meskipun Denia kurang suka dengan sikap Cassandra tapi sebagai tamu harus disambut juga.
"Tante...!" teriak Cassandra sambil berlari memeluk Denia. Denia yang masih diujung tangga pun hampir terjungkal karena tidak ada persiapan apapun.
"Kapan datang?" tanya Denia basa basi.
"Barusan Tante, tadi dari pesawat terus kesini," jawab Denia.
"Oh ya Tante, Randy kemana?" tanya Cassandra.
"Randy bekerja, dan dia harus menyelesaikan pekerjaan sebelum mereka bertunangan," jawab Denia.
"Randy mau tunangan?" tanya Cassandra dengan suara naik 5 oktaf.
"Iya, bulan depan dan pacarnya juga sangat c antik baik dan lemah lembut Tante sangat menyukainya," jawab Denia.
Sebelumnya Denia sudah mengirim pesan kepada Randy agar tidak pulang malam ini.
"Kenapa Tante menyetujuinya? Bukankah Tante tahu kalau aku adalah pacarnya Randy?" tanya Cassandra.
Denia hanya tersenyum, "Gadis itu adalah pacar Randy sejak kecil dan mereka berpisah karena Randy harus ikut kami ke Jerman. Tante menyukai gadis itu jadi tidak ada alasan untuk menolaknya."
"Aku tidak akan pernah merestui kamu dengan Randy, beruntung Randy sudah dengan Lina sebelumnya," batin Denia.
Ponsel Denia berdering pertanda panggilan masuk, Denia melihat nama pemanggil yang ternyata dari Delon.
"Sebentar ya, Tante jawab telepon dulu," kata Denia yang kemudian menjauh dari Cassandra.
"Halo pa..!" sapa Denia menjawab panggilan itu.
"Ma, apa benar Cassandra ke Indonesia?" tanya Delon.
"Benar Pa, dan sekarang sudah ada dirumah kita," jawab Denia.
"Apa Randy sudah tau ma?" tanya Delon.
"Belum pa, tapi Mama mengirim pesan agar tidak pulang malam ini," jawab Denia.
"Harus dikasih tau ma, Papa tidak suka dia bersama Randy nantinya," kata Delon.
"Baik Pa, mama juga tidak suka dengan sikapnya itu," ucap Denia.
Kemudian Denia pun memutuskan sambungan teleponnya, dan mencoba menelepon Randy. Satu kali, dua kali tapi tidak ada jawaban. Pesan yang dikirim oleh Denia pun belum dibaca oleh Randy.
"Mungkin Randy sibuk," batin Denia.
"Nyonya, mengapa ada nenek lampir disini?" tanya Shila.
"Hus...ada ada saja kamu Ila, nanti dia dengar loh," jawab Denia.
"Tapi saya tidak suka sama dia, nyonya. Saya lebih suka pada nona Lina menjadi istrinya tuan muda," kata Shila.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Aku juga tidak setuju kalau dia sama Randy." jawab Denia.
"Tapi bagaimana dengan tuan muda?" tanya Eni.
"Sudah tentulah tuan muda memilih nona Lina yang jauh lebih cantik dan lebih baik," bukan Denia yang menjawab tapi Shila.
"Ya sudah, aku mau temani dia dulu," kata Denia. Denia pun kembali keruang tamu.
"Sandra mau istirahat di kamar tamu ya, bibik sudah menyiapkannya," ucap Denia dengan senyum khasnya.
"Baik Tante," jawab Cassandra.
Kemudian Eni pun membawakan koper miliknya, dan memasukkan kedalam kamar tamu tersebut.
"Haah, semoga saja tidak terjadi apa-apa pada hubungan Randy dan Lina," batin Denia.
Denia kemudian kembali kedapur dan ngobrol bersama pelayan di rumah ini. Begitulah keseharian Denia selalu berbaur dengan pelayan sehingga pelayan pun tidak segan segan untuk bercerita dengan nyonya nya itu.
Meskipun mereka sudah akrab, tapi mereka tidak melupakan antara majikan dan pembantu.
Cassandra masuk kedalam kamar mandi dan melepas pakaian satu persatu, dibawah guyuran air dia sudah membayangkan kalau dia pasti akan mendapatkan Randy.
"Aku akan melakukan apapun untuk menyingkirkan perempuan itu yang sudah merebut Randy dariku," gumam Cassandra tersenyum jahat. Sudah tersusun rencana jahat untuk menyingkirkan Lina.
"Malam ini aku pastikan Randy akan aku dapatkan," gumam Cassandra.
Cassandra menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian dengan pakaian yang juga s*ksi. Setiap lekukan tubuhnya terlihat jelas karena pakaian yang ia kenakan cukup ketat.
Cassandra pun berbaring ditempat tidur setelah ia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Cassandra mengambil ponselnya dan langsung menelpon Papanya.
"Halo sayang...!" sapa Prima pada putri kesayangannya.
"Halo pa, aku sudah tiba dirumah Om Delon pa," kata Cassandra.
"Hmmm, tadi Papa juga sudah menelepon Delon dan memberitahu kalau kamu ke Indonesia," kata Prima.
"Iya Pa, sekarang aku ingin istirahat dulu pa, bye..!" kata Cassandra dan kemudian menutup panggilan tersebut.
Sedangkan di perusahaan RAN company, Randy yang baru selesai rapat dengan klien pun baru melihat ponselnya, ada panggilan tidak terjawab dan satu pesan masuk.
"Kenapa Mama melarang aku pulang malam ini?" batin Randy. Kemudian Randy pun menelpon sang Mama.
"Halo sayang..!" sapa Denia menjawab panggilan telepon.
"Ada apa kok Mama melarang aku pulang?" tanya Randy.
"Cassandra ada disini," jawab Denia.
"Ya sudah, aku akan pulang ke apartemen saja. Kalau Sandra bertanya katakan aku ada pekerjaan diluar kota atau dimana saja yang penting alasannya tepat," kata Randy.
"Tenang saja, Mama tau apa yang akan Mama lakukan?" jawab Denia. Kemudian sambungan telepon pun terputus.
.
Ada ular baru datang lagi, ular import dari luar negeri. Hehe.
.
.
.
__ADS_1