THREE ANGEL

THREE ANGEL
Kehancuran Arrabela.


__ADS_3

.


.


.


Abigail menyetir mobilnya dengan kencang, hingga akhirnya Abigail pun tiba di mansion keluarga Henderson.


Dengan terburu buru Abigail membuka pintu mobil kemudian menekan bel pintu mansion tersebut.


Pelayan datang membukakan pintu dan terheran heran saat melihat Abigail yang terlihat begitu cemas.


"Bik Lica ada?" tanya Abigail.


"Ada tuan muda," jawab bik Aida.


Abigail langsung menerobos masuk melewati Aida yang masih bengong dengan tingkah Abigail.


"Non Lica dikamar tuan muda," kata Aida.


Abigail hendak naik ke tangga, tapi dicegah oleh Aida. Abigail pun mengurungkan niatnya.


"Biar saya panggilkan tuan muda tidak enak kalau tuan muda yang datang ke kamar nona Lica," kata Aida.


"Baiklah bik," jawab Abigail akhirnya.


Abigail pun kembali keruang tamu dan duduk disana, Darmendra yang baru datang dari kantor melihat mobil Abigail terparkir sembarangan pun segera masuk.


"Ada apa?" tanya Darmendra.


"Daddy...!" panggil Abigail.


"Ada apa sepertinya kamu terburu buru?" tanya Darmendra lagi.


"Tidak ada apa-apa Dad, hanya ingin bertemu dengan Lica." jawab Abigail.


"Bukankah setiap hari bertemu?" tanya Darmendra.


"Iya, tapi ini sangat penting," jawab Abigail.


"Ya sudah, Daddy kekamar dulu," ucap Darmendra akhirnya.


Lica keluar dari lift bersama Aida, sementara Darmendra naik melalui tangga.


"Ada apa?" tanya Lica saat sudah dekat dengan Abigail. Sedangkan Aida langsung kedapur.


"Kamu tidak apa-apa kan? Arrabela tidak macam macam kan?" tanya Abigail sambil menangkup pipi Lica.


"Kenapa cemas sih? Dia hanya menyewa preman jujur," jawab Lica.


"Preman jujur?" tanya Abigail tidak mengerti.


"Hmmm, belum apa-apa sudah memberitahu orang yang membayarnya," jawab Lica.


"Dan juga Lina sendiri pun bisa membereskan semuanya," kata Lica lagi.


"Syukurlah," ucap Abigail.


"Sebenarnya ada masalah apa sehingga dia menargetkan salah satu dari kami?" tanya Lica.


Abigail pun menceritakan dari undangan makan malam hingga Arifin ingin menjodohkan anaknya dan ditolak oleh Abigail.

__ADS_1


"Cuma karena itu?" tanya Lica, Abigail mengangguk.


"Intinya dia terobsesi sehingga menargetkan salah satu dari kalian, karena ia juga tidak tahu yang mana kekasihku," jawab Abigail.


Lica manggut-manggut, Abigail segera menggenggam tangan Lica. Lica menceritakan kalau Arrabela bukan wanita baik baik, pergaulan bebas di luar negeri ia bawa hingga ke negara ini.


Abigail tidak terkejut sama sekali, karena ia sudah menduga sebelumnya. Kalau barang masih bersegel pasti akan terlihat utuh dan bagus.


"Kalau begitu aku pulang dulu, sekarang aku sudah merasa tenang," ucap Abigail.


"Ingat jangan tarik investasi pada perusahaan orang tuanya, pikirkan nasib karyawan yang tidak tau apa-apa dengan masalah ini," pesan Lica.


"Apapun untuk kekasihku akan aku lakukan," kata Abigail.


Cup... Abigail mengecup bibir Lica.


"Ehhem," suara deheman dari ujung tangga membuat keduanya terkejut dan menoleh.


"Sudah berani ya," kata Darmendra dengan tatapan kurang bersahabat.


"Cuma sedikit kok Dad," ucap Abigail.


"Sudah pulang sana," usir Lica.


"Mau pulang? Mommy kalian sudah masak, setidaknya makan malam dulu disini," tanya Darmendra.


"Ya sudah, mandi dulu dikamar tamu," perintah Lica. Akhirnya Abigail pun kekamar tamu untuk mandi.


"Ada masalah apa dengan kalian?" tanya Darmendra.


"Masalah Arrabela Dad, tapi sudah diselesaikan oleh Lina," jawab Lica.


"Siapa Arrabela?" tanya Darmendra.


"Arifin pemilik perusahaan A&A company itu?" tanya Darmendra.


"Hmmm, aku hanya meminta Abi agar tidak menarik investasi dari perusahaan itu, kasihan para karyawan yang tidak bersalah." jawab Lica.


"Daddy juga ada kerjasama dengan perusahaan itu," kata Darmendra.


"Bukankah investor terbesar adalah Abigail?" tanya Darmendra.


"Itu lah sebabnya, kalau Abi menarik investasi nya sudah dipastikan investor lain juga akan menarik saham mereka," kata Lica.


Tidak berapa lama kemudian Abigail sudah keluar dengan pakaian lengkap. Abigail duduk disamping Lica.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Darmendra.


Abigail menoleh kearah Lica, kemudian Abigail menceritakan semuanya tanpa ditutupi sama sekali.


"Ya sudah kalau begitu, masalah ini harus kita bicarakan nanti dengan Arifin itu." kata Darmendra.


Waktu makan malam pun akhirnya tiba, semua sudah berkumpul dimeja makan. Lica melayani Abigail, Abigail hanya tersenyum saja saat Lica melayaninya.


Saat makan suasana hening tidak ada yang berbicara, hanya dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring saja yang bersuara.


Setelah selesai makan Abigail pun pamit pulang, karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Keesokkan harinya...


Berita tentang Arrabela tersebar luas di media. Arifin yang baru mengetahui berita itu syok, dan istrinya jatuh pingsan.

__ADS_1


Selama ini ia menduga bahwa putri gadis baik baik, ternyata berita itu benar benar mengejutkan keluarga Arifin.


Arrabela pun diusir dari rumah oleh orang tuanya, tapi belum sempat ia pergi beberapa orang polisi datang menangkap Arrabela.


Ternyata selain video itu Arrabela juga memakai obat obatan terlarang di bar.


Arrabela kini harus mendekam dalam penjara karena perbuatannya sendiri.


Afifa benar benar terpukul dengan kejadian ini, selama ini ia begitu menyayangi putrinya dan memanjakannya. Tidak disangka ternyata putrinya seperti itu.


"Bagaimana ini pa?" tanya Afifa.


"Papa juga tidak tahu ma, sudah bisa dipastikan masalah ini akan berimbas pada perusahaan kita." jawab Arifin.


Perusahaan yang mereka bangun hasil jerih payah mereka berdua. Dari sebelum menikah keduanya membangun perusahaan yang mereka beri nama A&A company, yaitu Arifin dan Afifa.


"Tapi putri kita pa," ucap Afifa sambil menangis dalam dekapan suaminya.


"Biarkan putri kita merenung semua kesalahannya," kata Arifin.


"Papa tidak sayang dengan anak kita?" tanya Afifa semakin menangis.


"Sayang ma, tapi apa yang bisa kita lakukan? Anak kita memakai obat obatan terlarang ma," tanya Arifin.


Tiba tiba ponsel Arifin berdering pertanda panggilan masuk, Arifin segera menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari asistennya.


"Halo tuan, semua investor sudah berkumpul di kantor," ucap sang asisten.


"Baik, saya akan segera kesana," jawab Arifin lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Ma, Papa harus segera kekantor, semua investor sudah berkumpul," kata Arifin kepada istrinya.


"Aku ikut pa," kata Afifa.


"Tapi kondisi mama kurang baik," kata Arifin.


"Aku kuat pa, aku siap bila seandainya perusahaan kita bangkrut, Mama yakin kalau semua investor itu akan menarik sahamnya kembali," ucap Afifa.


Lalu keduanya pun pergi keperusahaan, Arifin melajukan mobilnya dengan kencang sehingga membuat Afifa pucat karena takut.


"Pa jangan ngebut Mama takut," ucap Afifa.


Arifin baru menyadari bahwa ia tidak sendiri lalu perlahan memelankan mobilnya.


"Maaf ma, papa panik." kata Arifin.


Setibanya di perusahaan, sang asisten sudah menunggu di lobby. melihat tuan nya datang ia segera menghampirinya.


"Dimana mereka?" tanya Arifin.


"Semua sudah berkumpul diruang rapat tuan," jawab asisten itu.


Ketiganya masuk kedalam lift menuju lantai 15 ruang rapat berada.


"Tuan...!" panggil sang sekretaris yang sejak tadi gelisah.


Ia takut kalau sampai perusahaan ini bangkrut bagaimana dengan nasibnya?.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2