
.
.
.
Abigail mengemudikan mobilnya dengan dengan kecepatan sedang demi memastikan apakah mobil dibelakangnya memang mengikutinya. Dan benar saja mobil itu memang mengikutinya. Tapi belum ada tindakan apapun dari musuhnya.
Abigail akhirnya tiba di perusahaan J H company, ia menunggu Lica didalam mobil. Tidak lupa ia mengirim pesan kepada Lica.
'Aku sudah tiba di perusahaan, dan sedang menunggu dimobil'
Lica membaca pesan tersebut dan tersenyum. Lalu bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada rekan kerjanya.
"Aku duluan ya, do'i sudah menunggu untuk makan siang," kata Lica sambil berjalan keluar ruangan itu.
Lica tersenyum memasuki lift dan menekan tombol angka untuk lantai dasar. Lica keluar dari lift dan berpapasan dengan Jasmine yang hendak ke kantin.
"Ehh, mau kemana?" tanya Jasmine.
"Makan siang sama pacar," jawab Lica singkat kemudian iapun berlalu menuju parkiran mobil.
Abigail keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Lica.
"Terimakasih," ucap Lica, Abigail hanya tersenyum senang. kemudian Abigail pun masuk kedalam mobil.
Saat mereka keluar dari perusahaan, mobil mereka kembali diikuti. Lica yang memang instingnya kuat pun menoleh kebelakang.
"Sudah dari tadi ia mengikuti ku," kata Abigail.
"Apa kamu ada musuh?" tanya Lica.
"Aku seorang pengusaha muda yang sukses pasti banyak musuh. Dalam dunia bisnis kita tidak tahu yang mana kawan dan mana lawan." jawab Abigail.
Mereka pun tiba di sebuah restoran mewah, para penguntit pun mengambil memotret keduanya saat mereka masuk kedalam restoran dan mengirimkan ke Amber.
Tidak berapa lama ponsel milik orang suruhan Amber pun berdering. Pria itu pun segera mengangkatnya.
"Halo nona," kata pria itu.
"Aku mau kau habisi wanita itu, aku tidak peduli bagaimanapun caranya," perintah Amber.
"Baik nona," jawab pria itu.
"Dan satu lagi, kau dan anak buahmu tangkap pria itu dan serahkan kepadaku," perintah Amber.
"Siap nona," jawab pria itu. Kemudian sambungan telepon pun terputus.
Amber yang berada didalam kamar apartemen tersenyum smirk, ia merasa diatas angin saat ini.
Kemudian teleponnya pun berdering, Amber mengernyitkan dahinya melihat nomor tidak dikenal. Tapi rasa penasarannya yang tinggi membuat ia mau mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, siapa ini?" tanya Amber.
"Apakah nona perlu hiburan?" tanya pria itu.
"Ya tapi siapa kamu?" tanya Amber.
__ADS_1
"Saya pria yang Nona inginkan, dan saya butuh uang 500 juta," jawab pria itu.
"Baik, temui aku malam ini di hotel xxxx," kata Amber.
"Kita lihat saja Abigail, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapan ku," ucap Amber tersenyum sinis.
Sementara Abigail sudah berada diruang VVIP, karena ia tidak mau diganggu oleh siapapun. Pelayan memberikan buku menu kepada keduanya.
"Silahkan tuan dan nona mau pesan apa?" ucap pelayan itu ramah.
"Lobster," jawab keduanya serentak. Kemudian keduanya saling pandang lalu tertawa.
"Minumnya?" tanya pelayan itu.
"Jus alpukat," jawab Lica, Abigail juga pesan yang sama.
"Baik tuan dan nona mohon ditunggu sebentar," ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan mereka.
"Aku ada rencana," ucap Lica.
"Apa?" tanya Abigail.
"Sebaiknya kita mengalah dan ikut mereka untuk mengetahui dalangnya," ucap Lica.
"Bagaimana kalau mereka hanya ingin membunuh aku atau kamu?" tanya Abigail.
"Kalau itu yang mereka inginkan baru kita patahkan tangan dan kakinya," ucap Lica santai, seolah mematahkan tangan dan kaki seperti mematahkan ranting kering.
"Kita lihat saja nanti, kalau mereka tidak bertindak maka kita biarkan saja," ucap Abigail. Lica pun mengangguk.
"Silahkan tuan dan nona semoga suka," ucap pelayan itu lalu kemudian pergi untuk melayani pengunjung lain.
"Makan sayang," titah Abigail. Lica pun mengangguk. Keduanya pun makan dengan lahap.
"Kamu sering kesini?" tanya Lica.
"Jarang, palingan saat ketemu klien yang ingin mengajak ketemuan di restoran. Dan aku merekomendasikan restoran ini," jawab Abigail.
Lica manggut-manggut karena mulutnya sedang mengunyah makanan.
"Nambah lagi?" tanya Abigail. Lica menggeleng.
"Nanti aku gendut, kamu berpaling kepada yang lain kalau aku gendut," ucap Lica.
Abigail seketika tertawa mendengarnya, padahal Lica makan banyak pun tidak bikin gendut.
"Aku tidak akan berpaling meskipun kamu gendut. nanti setelah menikah kamu juga akan gendut olehku," ucap Abigail. Lica mencebikkan bibirnya.
"Jangan menggodaku sayang," ucap Abigail.
"Siapa yang menggoda?" tanya Lica.
"Itu bibir bikin aku gemes," jawab Abigail.
Dengan cepat Lica menutup mulutnya, ia masih ingat saat didalam mobil saat Abigail yang tiba tiba menc*umnya.
"Kenapa?" tanya Abigail. Tapi dijawab gelengan kepala oleh Lica.
__ADS_1
"Ya sudah kita pulang ya, maksudnya pulang ke perusahaan." ucap Abigail. kemudian Abigail membayar tagihan makanan mereka.
Para penguntit masih mengawasi mereka, mereka bersembunyi dibeberapa tempat yang mereka pikir aman. Padahal Lica dan Abigail sudah mengetahui semuanya, tapi mereka bersikap biasa saja seolah olah tidak tahu.
Pria itu kembali menelpon Amber dan memberitahukan informasi tentang Lica dan Abigail.
"Yuk ikuti mereka," ajak ketuanya.
Para anak buahnya pun ikut saja perintah bos nya itu. kalau tidak menurut maka tidak dapat uang bayaran.
"Mereka masih mengikuti kita," bisik Abigail ditelinga Lica.
Kalau dilihat dari kejauhan mereka seperti berc*uman, padahal tidak. Lagi lagi pria itu memotret mereka dan mengirimkan kepada Amber.
Amber mengeram geram saat melihat foto yang dikirim oleh orang suruhannya. ia membanting ponselnya keatas ranjang.
"Ahhh, kenapa bukan aku yang di posisi ini?" teriak Amber dengan emosi.
Sedangkan Abigail dan Lica sudah menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan lagi lagi mereka diikuti.
"Bagaimana?" tanya Abigail.
"Giring mereka ketempat sepi kita berantas mereka semua," perintah Lica.
"Baiklah," jawab Abigail lalu menancap gas sehingga mobilnya melaju kencang.
Mobil yang ada dibelakang mereka pun melaju kan mobilnya mengejar mobil Abigail. Tapi mereka kehilangan jejak.
"S*al... kita kehilangan jejak," ucap ketua.
Mereka terus mengendarai mobilnya mencari keberadaan mobil Abigail.
Abigail mengurangi laju kendaraannya agar penjahat bisa menemukan mereka.
"Bos itu mobil mereka," ucap pria A menunjuk kearah mobil yang dikendarai oleh Abigail dan Lica.
"Huh, mereka pikir bisa lolos dari kita," ucap ketua dengan sombongnya. Mereka tidak tahu siapa yang akan mereka lawan?.
Abigail menepikan mobilnya dan berhenti dipinggir jalan. Abigail turun terlebih dahulu baru kemudian giliran Lica yang keluar dari mobil setelah dibukakan pintu mobil oleh Abigail.
Mobil yang mengejar mereka pun berhenti, mereka semua keluar dari mobil.
"Cuma 6 orang?" tanya Lica.
"Hmmm, saatnya kita mematahkan tangan dan kaki mereka." jawab Abigail.
Keenam pria itu berjalan mendekati Abigail dan Lica. mereka menatap sinis kepada Lica.
"Nona kami ingin anda mati," tunjuk bos penjahat tersebut kepada Lica.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
.
.
.
__ADS_1