
.
.
.
Malam ini Randy tidak pulang kerumah, dia akan kembali ke apartemen miliknya yang jarang ia tempati. Meskipun demikian Randy selalu menyuruh orang untuk membersihkan apartemennya.
Sorenya setelah pulang kerja Randy mendatangi Lina ditempat kerjanya. Sebelumnya Randy sudah memberitahukan terlebih dahulu bahwa ia akan datang menjemput Lina.
"Sudah lama menunggu?" tanya Randy yang baru keluar dari mobil.
"Belum setengah jam," jawab Lina enteng.
Sedangkan Lica sudah dibawa kabur oleh Abigail.
Lita? jangan ditanya, setelah dari pantai dan singgah di supermarket, Carel langsung membawanya ke mansion milik keluarganya.
Sebelumnya mereka sudah izin terlebih dahulu kepada Diva, Carel berbicara dengan Diva dan meminta izin untuk membawa Lita ke mansionnya. Tentu saja Diva mengizinkan.
"Mari...!" ajak Randy menuntun Lina kedalam mobil.
"Ada apa? Sepertinya serius sekali?" tanya Lina pada Randy.
"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Randy.
Lina mengernyitkan dahinya. karena raut wajah Randy menampakkan hal yang serius.
"Tapi sebelum itu aku ingin kamu berjanji," kata Randy.
"Berjanji?" tanya Lina.
"Iya, janji jangan marah," jawab Randy.
Kini mereka ada didalam mobil menuju sebuah taman, Lina merasa Randy menyembunyikan sesuatu.
"Jujur sajalah, gak perlu bicara berbelit belit," kata Lina.
"Nanti saja, setelah kita tiba ditaman." ucap Randy.
Randy melajukan mobilnya hingga mereka cepat sampai ditaman. Randy keluar lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Lina.
Kemudian mereka pun duduk dikursi taman, suasana sore ini cukup ramai dikunjungi orang, terutama yang sudah berpasangan.
"Sebenarnya aku ingin berterus terang kepadamu," kata Randy. Lina terdiam mencerna kata-kata Randy.
"Tadi Mama nelpon dan Mama melarang aku untuk pulang kerumah dalam beberapa hari ini," kata Randy.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Lina.
"Cassandra datang dari Jerman, dia adalah tetangga kami sewaktu di Jerman. Dan dia begitu terobsesi denganku, tapi aku selalu menolaknya, bahkan aku sering menghindar darinya," ucap Randy.
"Bagaimana dengan Mama dan Papa? Apakah mereka setuju dengan wanita itu?" tanya Lina.
__ADS_1
"Kalau Mama setuju tidak mungkin aku dilarangnya pulang," jawab Randy.
"Hmmm, sekarang dia ada di rumahmu?" tanya Lina. Randy pun mengangguk.
"Sebentar," kata Lina, lalu ia bangkit dan berjalan kearah mobil. Lina mengambil laptop miliknya. Dan kemudian ia kembali duduk didekat Randy.
"Jadi pria itu harusnya tegas, aku tidak suka pria lemah yang cuma bisa menghindar setiap ada masalah." kata Lina.
Kata kata Lina seakan menampar wajah Randy, Lina tidak peduli sama ada Randy tersinggung atau marah.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan wanita itu?" tanya Lina.
"Sebab itulah aku mengajak kamu kesini, aku ingin minta pendapat serta bantuan kamu," jawab Randy.
"Kalau aku mau menghancurkan wanita itu sih gampang saja," kata Lina enteng.
"Caranya?" tanya Randy.
"Kita serang mentalnya lebih dulu," jawab Lina.
"Bagaimana caranya?" tanya Randy. Randy tidak pintar masalah IT jadi dia kurang mengerti tentang itu.
Lina menghidupkan laptopnya dan menekan tombol keyboard laptop miliknya. Randy begitu takjub dengan kecepatan jari jari Lina.
Tidak sulit bagi Lina untuk mencari latar belakang Cassandra. Hanya dalam beberapa menit Lina sudah dapat video yang membuat merinding. Lina mengirim video tersebut ke ponsel Randy.
"Sekarang kamu kirim video itu kepada pemiliknya," perintah Lina.
"Gampang," ucap Lina.
Dalam sekejap Lina sudah dapat nomor telepon Cassandra. Randy pun segera mengirim video tersebut ke nomor Cassandra.
Ting... satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal, saat ini Cassandra sedang makan bersama keluarga Randy.
Tiba-tiba nasi yang didalam mulut Cassandra menyembur keluar, ia benar benar terkejut saat videonya ada yang mengirim ke dirinya sendiri. Cassandra bangkit dari duduknya dan berjalan keluar, ia langsung menghubungi nomor tersebut.
"Halo...!" sapa Randy menjawab panggilan telepon dari Cassandra.
"Randy...? Itu Kamu Randy?" tanya Cassandra.
"Ya ini aku, kenapa? kaget?" tanya Randy.
"Darimana kamu dapat video itu? Cepat hapus sebelum aku buat kamu menyesal," perintah Cassandra mengancam Randy.
"Hahaha, tidak semudah itu Sandra, aku bisa sebarkan video ini. Dan bukan hanya satu tapi masih banyak lagi video yang lain dengan lelaki yang berbeda, dan soal dari mana aku mendapatkan video tersebut Kamu tidak perlu tau," ucap Randy balik mengancam.
"Be***ah kau, apa mau mu ha?" tanya Cassandra.
"Kau tanya apa mauku? Gampang, malam ini juga kau angkat kaki dari rumahku sebelum aku sebarkan video ini ke seluruh dunia," jawab Randy.
Lina yang disebelah Randy hanya tersenyum, ia percaya Randy mencintainya, tapi ia tidak percaya pada wanita yang ingin merebut Randy darinya. Apalagi karena obsesi wanita itu, bisa saja segala cara ia lakukan untuk mendapatkan Randy.
"Saat aku pulang nanti, kamu harus sudah pergi dari rumahku," ancam Randy. Kemudian Randy mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
"Aaaaaakkh, S*al...S*al...S*al," teriak Cassandra.
Suaranya pun hingga terdengar ke ruang makan. karena saat ini Cassandra berada dibelakang rumah tersebut.
Delon dan Denia saling pandang, mereka tidak tahu apa yang terjadi? Abbas hanya diam saja, ia tidak peduli dengan semua itu.
Cassandra masuk kembali kedalam, dan melewati semua orang yang ada dimeja makan. Dalam keadaan marah ia masuk kedalam kamar tamu dan membanting pintunya. Delon dan Denia hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Selera makanku jadi hilang," ucap Abbas.
"Aku juga," ucap Delon.
"Pa, ayah sayang loh nasinya tidak dimakan," kata Denia.
"Kalau lama lama dia disini bisa bisa hancur rumah ini," kata Abbas.
Tidak berapa lama Randy datang bersama Lina, Eni bergegas membukakan pintu untuk Randy dan Lina.
"Bik apakah wanita itu sudah pergi?" tanya Randy.
"Belum tuan muda, Nenek Lampir itu tadi bicara ditelepon marah marah, kemudian ia masuk kedalam kamar dan membanting pintu," jawab Eni.
"Ya sudah gak apa-apa," jawab Randy.
"Oya bik, Mama mana?" tanya Randy.
"Nyonya ada di meja makan," jawab Eni.
Randy pun mengajak Lina untuk langsung kedapur, dilihatnya hanya tinggal Mamanya sendiri di meja makan.
"Ma...!" panggil Randy. Denia seketika menoleh.
"Kamu pulang? kan Mama sudah bilang jangan pulang dulu," tanya Denia.
"Aku ingin menyelesaikan masalah ini makanya aku pulang," jawab Randy.
"Ya sudah, kalian sudah makan?" tanya Denia.
"Belum ma," jawab Randy.
"Kalian makan dulu, Mama panggil Papa kamu dulu," ucap Denia.
Lina pun mengambilkan nasi dan lauknya untuk Randy, baru setelah itu untuk dirinya sendiri. Tidak berapa lama datang Denia bersama Delon dan langsung duduk dikursi meja makan.
"Ran, sebaiknya kamu usir saja wanita itu, kalau lama dia disini bisa bisa Papa masuk rumah sakit jiwa," ucap Delon.
"Aku sudah punya cara membuat ia pergi dari sini tanpa harus mengusirnya," kata Randy.
.
.
.
__ADS_1