
.
.
.
Davion, Danendra dan Davina pulang bersama Mama nya, begitu juga dengan yang lain. Setibanya di rumah mereka ternyata ada sang nenek yaitu Diana datang menemui cucunya.
Saat turun dari mobil Diana sudah menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Meskipun sering bertemu tapi tetap saja Diana merasa rindu.
"Nenek..!" panggil mereka serentak. Davion, Danendra dan Davina langsung memeluk Neneknya dan mencium tangannya.
"Sudah lama ma?" tanya Nadine.
"Belum, mama rindu dengan mereka sekalian mengantarkan ini," jawab Diana.
"Undangan?" tanya Nadine lalu membaca nama yang tertera disana.
"Devan dan Azura datang ke rumah mengantarkan ini, karena mereka tidak tahu alamat rumah kalian," kata Diana.
"Iya aku juga lupa memberitahukan alamat rumah kami, wajarlah dia tidak tahu." kata Nadine.
"Akhirnya mereka akan menikah juga," kata Nadine lagi.
"Mari masuk, nenek bawa kue kesukaan kalian," ajak Diana.
"sayang jangan lupa mandi dulu," kata Nadine.
"Baik ma," jawab mereka serentak.
"Nek kami mandi dulu ya," ucap Davina.
"Iya, mandi sana setelah itu baru makan kue," ucap Diana.
"Oya ma, papa tidak ikut?" tanya Nadine.
"Papamu sibuk, tidak ada yang menggantikannya mengurus perusahaan," jawab Diana.
"Maafkan aku Ma tidak bisa membantu Papa," kata Nadine sendu.
"Sudahlah Papa gak apa-apa kok," ucap Diana.
Setengah jam kemudian Davion, Danendra dan Davina turun kembali kebawah dan sudah berganti pakaian dan kembali menemui neneknya.
"Hmmm, sudah wangi cucu nenek," ucap Diana sambil mencium pipi Davina. Davion dan Danendra segera menjauh karena takut dicium oleh neneknya.
"Kenapa sih kalian tidak mau dicium oleh nenek?" tanya Diana.
"Kami sudah besar Nek," jawab Danendra.
Nadine hanya tersenyum, memang kedua putranya itu sejak umur 3 tahun sudah tidak mau lagi dicium oleh orang lain selain Mamanya.
"Kalau begitu nenek cium Vina saja," kata Davina sambil duduk dipangkuan sang nenek.
"Davi mau sama nenek" tanya Diana. Davion menggeleng.
"Davina saja, dia masih kecil," jawab Davion.
__ADS_1
Diana malah tertawa melihat wajah cemberut Davina. Diana tidak tersinggung sama sekali dengan perkataan cucu cucunya itu.
"Mama nginap disini?" tanya Nadine
"Maunya begitu sih, tapi Mama belum beritahu Papamu," jawab Diana.
"Tinggal telpon aja Nek," kata Danendra.
"Oh iya, kok nenek bisa lupa ya," ucap Diana.
Kemudian Diana pun menelpon suaminya dan mengatakan bahwa ia sedang berada dirumah anak dan menantunya. Mendengar hal itu Sudibyo pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
( oh iya tentang umur Diva dan Darmendra di novel sebelumnya aku salah hitung. Mohon maaf ya).
Sudibyo akan pulang lebih awal karena ia juga rindu dengan cucu cucunya. Meskipun mereka sering bertemu tapi tetap saja rasa rindu itu ada.
"Mama pasti belum makan," ucap Nadine.
"Iya, mama memang belum makan," kata Diana.
"Aku sudah selesai masak tadi sebelum menjemput mereka," kata Nadine.
"Yuk kita makan," ajak Diana.
"Kami sudah makan Nek," kata Davina.
"Ya sudah biar nenek sama Mama yang makan," kata Nadine.
Diana dan Nadine pun berjalan kedapur, sementara Davion, Danendra dan Davina masuk kedalam kamar Davion.
"Bagaimana?" tanya Danendra.
"Yang ini saja deh," jawab Davina.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Danendra pada Davion.
"Tidak buruk," jawab Davion.
"Benda ini hanya untuk mengelabui musuh, apabila kita menyerang satu markas mafia kita bisa menggunakan benda ini untuk mengelabui mereka," ucap Danendra menjelaskan.
"Bagus, nanti kita mencobanya disaat menyerang musuh," kata Davion. Kemudian mereka pun bertos ria.
Kejeniusan sang Papa dan kepintaran sang Mama benar benar mengalir dalam diri mereka.
"Kalau tidak ada lagi kalian boleh kembali kekamar kalian masing-masing, aku mau tidur siang," usir Davion.
Davion sebagai anak yang tertua diantara mereka, tentu mereka menghormati Davion meskipun mereka seumuran. Akhirnya Danendra dan Davina pun keluar dari kamar Davion dan masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
Sementara disisi lain...
Diva kembali mendatangi kantor suaminya, saat didepan meja resepsionis, Jasmine tertegun melihat wanita didepannya. Karena wajah wanita itu benar benar mirip dengan triple A.
"Apa mereka ibu dari Lina, Lita dan Lica? Tapi wanita ini istri dari tuan Darmendra," batin Jasmine, sambil menggeleng gelengkan kepalanya membuang pikirannya tentang triple A.
"Ehhem," Diva berdehem membuyarkan lamunan Jasmine.
"Ehh maaf nyonya, silahkan tuan Darmendra ada diruangannya," ucap Jasmine gugup. Ia baru saja kembali dari kantin setelah selesai makan siang.
__ADS_1
Diva pun mengangguk, dan segera melangkahkan kakinya menuju lift. Lift hanya khusus mereka. Dan lift untuk para karyawan ada disebelah kiri.
Diva pun masuk kedalam lift dan membawanya kelantai 20 tempat ruangan suaminya bekerja. Dilantai itu hanya ada 3 ruangan yaitu ruang kerja asisten pribadi dan sekretaris serta ruang CEO.
"Selamat siang nyonya," sapa Ardi saat berpapasan dengan Diva. Ardi baru saja keluar dari ruangan CEO.
"Hmmm, siang," jawab Diva ramah. Ardi menunduk hormat kepada Diva lalu kembali keruang kerjanya. Sedangkan Diva masuk kedalam ruang kerja suaminya.
"Kalau masuk ketuk pintu, sudah berapa kali aku bilang," ucap Darmendra tanpa menoleh kearah pintu.
Diva pun mengetuk pintu sebelum kembali membukanya, karena tadi ia menutup pintu itu kembali.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk...!" perintah suara dari dalam. Kemudian Diva pun masuk.
"Selamat siang tuan, apa anda sudah makan?" tanya Diva.
Darmendra mengangkat wajahnya karena begitu kenal dengan suara itu.
"Sayang...?!" panggil Darmendra.
"Hubby sudah makan?" tanya Diva.
"Belum!" jawab Darmendra.
Diva membawakan suaminya makanan karena tau suaminya sibuk pasti telat makan. Meskipun Diva juga terlambat datang membawa makanan untuk suaminya.
Darmendra menghampiri Diva yang sedang duduk di sofa, dan memeluknya dari samping.
"Makan dulu hubby, nanti baru lanjut kerja," kata Diva. Diva dengan telaten melayani suaminya.
Darmendra pun makan dengan hikmat, makanan yang dibawakan Diva pun disantap hingga habis. Kebetulan ia sangat lapar, tapi karena sibuk Darmendra pun menahan rasa laparnya dan melewatkan makan siang.
"Bagaimana dengan rencana pelantikan mereka?" tanya Diva.
"Masih dua bulan lagi, dan mereka juga belum mau untuk dipublikasikan kepada karyawan." jawab Darmendra.
"Bagaimana dengan Lica?" tanya Diva.
"Kenapa dengan Lica? Apa ada masalah?" tanya Darmendra.
"Lina akan menggantikan posisi hubby sedangkan Lita menggantikan posisiku dan Lica bagaimana?" tanya Diva.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk Lica mengelola perusahaan cabang? Nanti bila Lica sudah mengelola perusahaan cabang itu maka nama pemiliknya otomatis berpindah dan bisa menjadi perusahaan pusat, dan otomatis perusahaan itu akan menjadi bagian Lica. Jika Lica berhasil mengelolanya maka perusahaan ini dan perusahaan yang Lica kelola akan langsung dipisahkan menjadi perusahaan milik Lica sendiri," jawab Darmendra menjelaskan.
"Hmmm," ucap Diva manggut-manggut.
.
.
.
__ADS_1