THREE ANGEL

THREE ANGEL
Mengobati kakek Abbas.


__ADS_3

.


.


.


Lina menghampiri Abbas dan duduk disampingnya. Lina memeriksa denyut nadi Abbas. Lina mempraktekan dari buku pengobatan kuno yang ia pelajari.


"Ran tolong ambilkan tasku, tadi lupa ku letakkan diruang tamu," perintah Lina.


Randy pun bergegas turun mengambil tas milik Lina. Hanya dalam sekejap Randy sudah kembali dengan nafas ngos-ngosan karena berlari menaiki tangga.


"Kamu berlari?" tanya Lina, Randy hanya mengangguk.


"Ini tasnya," jawab Randy sambil menyerahkan tas Lina.


Lina membuka tas tersebut dan mengeluarkan kotak kecil berwarna keemasan. Denia hanya memperhatikan saja cara kerja Lina.


Lina mengeluarkan jarum perak dari kotak tersebut. Dan menusukkan jarum tersebut pada titik tertentu dibagian tubuh Abbas.


"Kakek jangan banyak bergerak ya," pesan Lina, Abbas cuma mengangguk.


Kemudian Lina memeriksa kembali denyut nadi dan jantung Abbas. Perlahan lahan denyut jantung Abbas kembali normal.


"Darimana kamu belajar cara pengobatan akupunktur, sayang?" tanya Randy.


"Dari buku kuno pengobatan cina," jawab Lina.


Setelah setengah jam Abbas pun tertidur dengan tenang. Lina membiarkan Abbas tertidur dan Lina pun mencabut jarum tersebut dari tubuh Abbas.


"Biarkan kakek istirahat lebih dulu," kata Lina. Kemudian Lina mengajak semuanya keluar meninggalkan Abbas yang sedang tertidur.


"Sayang, Mama masak dulu nanti kamu makan malam disini ya," ucap Denia. meskipun dirumah ini ada pelayan tapi urusan dapur dan memasak itu urusan Denia sebagai ibu rumah tangga.


"Aku bantu masak ya ma," tawar Lina.


"Dengan senang hati, sayang. Ayo...!" ajak Denia.


Keduanya pun bergegas menuju dapur, sedangkan Randy keluar untuk membeli pakaian ganti untuk Lina.


"Mau masak apa ma?" tanya Lina saat mereka sudah berada di dapur.


"Randy sukanya seafood," jawab Denia.


"masak udang crispy dengan cumi saus Padang aja ma," kata Lina. Denia pun mengangguk.


"Kamu bisa masak sayang?" tanya Denia.


"Sedikit, tapi tidak seperti koki restoran," jawab Lina. kemudian Lina pun mulai memasak. Sedangkan Denia hanya memperhatikan saja. ia ingin melihat kemampuan Lina.

__ADS_1


"Wangi benar bau masakannya," kata Delon saat menuju dapur. Ia baru datang dari kantor langsung kedapur karena mencium bau masakan.


"Papa sudah pulang?" tanya Denia. Delon mengangguk dan langsung mengecup kening istrinya.


"Lihat tempat pa, ada calon menantu kita sedang masak," kata Denia.


"Kalau begitu papa mandi dulu ya ma, papa jadi lapar mencium bau masakan," ucap Delon.


"Papa mandi sendiri saja ya, soalnya Mama bantuin Lina masak," kata Denia. Delon pun mengangguk, sebelum beranjak ia menyempatkan diri mengecup bibir istrinya. Denia hanya tersenyum.


"Semakin tua semakin menjadi jadi," gumam Denia setelah suaminya berlalu.


Lina masih berkutat atik dengan acara memasaknya. Menyediakan berbagai menu olahan dari seafood dan juga ayam. Dan tidak lupa capcay nya juga.


Randy datang dengan menenteng paper bag, dan menyerahkan nya kepada Lina.


"Apa ini?" tanya Lina. kebetulan Lina sudah selesai masak.


"Pakaian ganti, sana mandi," perintah Lina. Lalu Randy mengantarkan Lina kekamar tamu. Sedangkan Randy masuk kedalam kamarnya.


Lina pun segera mandi, setelah itu ia pun berganti pakaian. Lina merasa malu saat melihat d*l*m*n yang ada dalam paper bag tersebut.


"Kok Randy bisa tau ukurannya?" batin Lina. Seketika wajahnya memerah membayangkan Randy memilih pakaian tersebut.


Lina pun berganti pakaian, setelah itu iapun keluar dari kamar menuju ruang tamu.


Sedangkan Randy masih berada didalam kamar, dan baru selesai mandi. Sebab ia tadi berendam cukup lama hingga 30 menit. Setelah berpakaian lengkap Randy pun keluar dari kamar dan turun kebawah. Tapi sebelum itu ia sempat menengok kakeknya yang masih tertidur pulas.


Randy tiba diruang tamu, dan melihat Lina sedang bermain ponsel. Lina mengirim pesan kepada Mommynya mengatakan bahwa malam ini ia akan menginap.


'Iya, semoga kakek Abbas bisa sembuh,'


Lina tersenyum membaca balasan dari Mommynya.


"Ada apa, sayang? Kok senyum senyum?" tanya Randy.


"Ini balasan pesan dari Mommy," jawab Lina.


"Nona, tuan muda waktunya makan malam," ucap pelayan.


"Baik bik," jawab Lina. Randy dan Lina pun berjalan menuju ruang makan. Ternyata di meja makan sudah ada Delon yang susah tidak sabar ingin makan. Denia baru saja turun, karena ia baru selesai mandi dan berganti pakaian.


Lina duduk berdampingan dengan Randy, Lina mengambilkan nasi dan lauknya untuk Randy.


"Siapa yang masak ma?" tanya Randy.


"Calon mantu Mama," jawab Denia. Sedangkan Delon sudah makan dengan lahap.


"Enak pa?" tanya Denia. Delon hanya mengangguk karena mulutnya penuh makanan.

__ADS_1


Randy pun mulai menyuapi makanan kedalam mulutnya dan terasa enak di lidah. Lina hanya tersenyum karena masakannya disukai.


Setelah selesai makan mereka pun berkumpul sebentar diruang tamu, kemudian Lina dan Randy pun masuk kekamar kakeknya.


"Belum pernah kakek tidur senyenyak ini, dari dulu selalu saja gelisah dalam tidurnya," ucap Randy.


"Sebenarnya kakek masih belum bisa melupakan kejadian masa lalu, kematian kedua orangtuanya didepan mata seolah menghantui pikirannya," ucap Lina.


"Aku berharap kakek segera sembuh," ucap Randy.


"Ya, semoga saja kakek sembuh," jawab Lina.


"Mari kita keluar," ajak Randy, dan Lina pun menurut saja.


Randy membawa Lina ketaman belakang, keduanya duduk dikursi taman sambil menikmati indahnya bunga.


"Aku tidak menyangka kalau kamu semakin hebat," kata Randy.


"biasa aja kok," jawab Lina. Randy memegang tangan Lina dan mengecupnya.


"Sudah lama aku menunggu saat saat seperti ini," ucap Randy. Lina menoleh dan keduanya saling bertatapan.


"Kamu yakin dengan pilihanmu? Apa nanti kamu tidak menyesal?" tanya Lina.


"Ya, aku sangat menyesal bila tidak bisa memilikimu," jawab Randy.


"Bagaimana kalau kita bertunangan?" tanya Randy.


"Jangan dulu, kita jalanin dulu hubungan kita apa adanya, aku tidak ingin terburu-buru," jawab Lina.


"Baiklah aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan selalu menunggumu sehingga kau bersedia untuk menjalani hubungan yang lebih serius," ucap Randy.


Randy mendekatkan bibirnya ke bibir Lina, Lina hanya terdiam, tidak ada respon sedikitpun. merasa tidak ada penolakan membuat Randy semakin berani.


Akhirnya Randy pun nenc*um bibir Lina. Lina hanya terdiam dan tidak membalas. Randy tahu kalau Lina masih kaku dan belum berpengalaman. Gak apa-apa Randy bisa pelan pelan mengajari Lina. Meskipun ia juga belum berpengalaman.


Lina melepaskan diri dari Randy, membuat Randy tersenyum senang, karena Lina tidak menolaknya.


"Sudah malam," ucap Lina sambil tertunduk.


"Iya, yuk masuk," ajak Randy lalu bangkit dari duduknya dan menggandeng tangan Lina. Randy mengantarkan Lina kekamar tamu, dan mempersilahkan masuk.


"Rasanya pengen cepat cepat halalin kamu agar tidur tidak sendiri lagi," ucap Randy.


"Sudah, balik sana kekamarnu, besok kita mau kerja," perintah Lina.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2