
.
.
.
"Senjata ini tidak bisa dipergunakan sembarangan, karena terlalu beresiko," jawab Aleta.
"Tapi mengapa kalian menciptakannya?" tanya Kenzie.
"Untuk menghancurkan markas mafia inilah senjata yang tepat," jawab Aldebaran tanpa beban.
Mereka semua manggut-manggut membenarkan. Tapi tetap saja senjata itu terlalu beresiko.
"Kalian menciptakan senjata apa?" tanya Aleta.
"Belum nih, masih dalam proses," jawab Davina.
Sementara ditaman belakang sekolah, mereka masih penasaran penyebab pohon itu patah. Mereka hanya menduga bahwa pohon itu disambar petir.
"Aneh tidak ada hujan tidak ada angin dan cuaca juga cerah tapi kok ada petir?" tanya pak kepala sekolah.
Yang lainnya juga merasa heran dengan semua ini, kemudian mereka pun kembali masuk kedalam sekolah.
Karena tidak ada pelajaran, 17 bocah kembar memilih untuk pulang. Tapi sebelum itu mereka berpamitan kepada wali kelas mereka. Dan mereka pun diizinkan untuk pulang.
Tiba didepan sekolah suasana sepi karena para murid masih berada didalam kelas. 17 bocah kembar pun mulai keluar dari gerbang sekolah. Mereka menggunakan skuter mereka masing-masing.
Sifat mereka sama persis dengan orang tua mereka dulu. Memang benar kata pepatah, buah yang jatuh dari pohonnya tidak akan terlempar jauh. Begitulah perumpamaan untuk mereka.
Oh ya, untuk masalah Cassandra sengaja tidak aku perpanjang lagi, karena aku tidak ingin keluarganya benar benar hancur oleh Lina. Kalau ada yang kecewa mohon di maafkan.
17 bocah kembar kini sudah berada didalam perjalanan, para pengendara lain begitu takjub melihat kecantikan dan ketampanan 17 bocah kembar tersebut. Selain itu mereka begitu lihai memainkan skuter mereka, kalau tidak lihai mungkin sudah terjatuh keaspal.
"Kemana kita?" teriak Davina dengan suara cemprengnya.
"Kita ke mall yuk," ajak Quenni juga berteriak.
"Kita cari tempat untuk ganti pakaian," kata Qirani.
Kemudian mereka pun singgah mencari tempat yang terlindung dari orang. Mereka masuk dibalik semak semak dan berganti pakaian, yang lelaki menjaga dipinggir jalan saat perempuan berganti pakaian. Kemudian mereka bergantian setelah selesai mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju mall.
Lebih kurang 30 menit mereka pun tiba ditempat yang mereka tuju. Mereka masuk kedalam dan berjalan melihat lihat kalau kalau ada yang ingin mereka beli.
Uang? Tidak masalah untuk mereka, orang tua mereka memberikan kartu hitam untuk mereka masing-masing satu, uang cash juga ada. Anak sultan mah bebas.
__ADS_1
Apalagi mereka punya pekerjaan sampingan yaitu menolong perusahaan orang lain untuk memperkuat sistem keamanan agar tidak bisa ditembus oleh hacker lain.
Orang tua mereka tidak melarang pekerjaan mereka, bahkan membantu mereka dan membuatkan mereka akaun Bank sendiri untuk menyimpan uang mereka. Tapi terkadang mereka juga menggunakan uang tersebut untuk menolong orang lain.
"Kalian tidak sekolah? Mengapa berkeliaran di mall?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri didepan toko.
"Kami libur Oma," jawab Aleta.
"Kalian sama siapa? mana orang tua kalian? berbahaya loh kalau anak kecil tanpa pengawasan orang tua?" tanya wanita itu beruntun.
Prok...prok... Davina menepuk tangannya dua kali, dalam hitungan detik empat pengawal bayangan keluar entah dari mana?.
"Ya nona dan kecil, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pria yang berpakaian hitam itu.
Wanita paruh baya tadi terkejut dengan kemunculan 4 orang pria berbadan besar tiba tiba ada didekat mereka.
"Mereka yang menjaga kami Oma," jawab Davina.
"Oh ah iya, iya maaf," ucap wanita itu gugup. Ia masih terkejut dengan kemunculan 4 pria itu.
"Orang tua kami tidak akan membiarkan kami celaka Oma," kata Naraya.
"Ternyata mereka bukan anak sembarangan, kalau mereka anak orang miskin mana mungkin bisa menyewa pengawal bayangan?" batin wanita itu.
Mereka memanggil wanita itu dengan sebutan Oma, karena wanita itu terlihat lebih tua dari Diva.
"Oma mau beli apa?" tanya Aleta.
"mmmm, tidak ada," jawab wanita itu. Tapi matanya melihat perlengkapan sekolah, cucunya berusia 6 tahun dan tahun ajaran tinggal beberapa bulan lagi. Sedangkan cucunya ingin sekali masuk sekolah dasar.
"Disini terlalu mahal lebih baik cari ditempat lain saja," jawab wanita itu.
Siapa yang ingin masuk sekolah, Oma?" tanya Qirani.
"Cucuku, beberapa bulan lagi pendaftaran akan dimulai dan dia ingin sekali bersekolah," jawab wanita itu.
"Berapa umurnya?" tanya Aldebaran, entah mengapa ia tergerak hatinya untuk bertanya.
"6 tahun," jawab wanita itu.
Aldebaran yang lebih dulu masuk kedalam toko tersebut dan langsung berbicara dengan pelayan ditoko itu.
Pelayan pun bergegas melayani Aldebaran yang memesan perlengkapan sekolah. Dari tas sekolah, sepatu, serta seragam sekolah.
"Ini tuan muda," ucap pelayan itu.
__ADS_1
"Hmmm," jawab Aldebaran.
Penjaga kasir tercengang melihat seorang anak kecil sudah memegang blackcard, bahkan ia gugup saat memegang kartu hitam itu. Penjaga kasir tersebut sudah sering melihat kartu hitam, tapi kali ini entah kenapa ia merasa sangat gugup menggesek nya.
Selesai pembayaran, Aldebaran pun keluar. Saudara saudaranya yang tadi ingin masuk tidak jadi karena Aldebaran pasti sudah membeli semuanya.
"Ini Oma," ucap Aldebaran sambil menyerahkan kotak yang berisi perlengkapan sekolah.
"Apa ini nak?" tanya wanita itu.
"Untuk cucu Oma, semoga bisa bersekolah dengan baik," jawab Aleta. karena Aldebaran tidak lagi menyahut jadi adiknya lah yang mewakilinya. Aleta sudah terbiasa seperti itu.
"terimakasih banyak Nak, terimakasih," ucap wanita itu.
Kemudian 17 bocah kembar itupun segera pergi meninggalkan wanita itu yang masih menangis terharu.
Mereka pergi ke zona permainan anak anak, mereka akan bermain mobil mobilan. Setibanya ditempat itu, mereka pun membeli tiket, kebetulan tempat itu sepi hanya ada beberapa orang dewasa saja.
"Ada yang mengikuti kita sejak tadi," ucap Davion sambil berbisik.
"Iya, aku merasa mereka memperhatikan kita sejak kita tiba di mall ini," jawab Kenzo.
"Jangan terlalu mencolok," ucap Kenzie.
Davion mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada grup mereka. tidak berapa lama pesan masuk ke ponsel mereka. Karena anggota grup hanya mereka saja.
"Jangan terlalu diperhatikan," ucap Danendra.
Mereka semua mengangguk dan melanjutkan aktivitas mereka seolah olah tidak terjadi apa-apa.
Para pria yang sejak tadi mengikuti mereka juga ikut bermain mobil-mobilan bersama mereka.
Mereka hanya bertingkah seperti anak kecil normal pada umumnya, tidak memperlihatkan keahlian mereka. mereka tertawa bercanda selayaknya anak anak.
"Kenapa kita harus ikut ikutan bermain?" tanya si A.
"Bos hanya menyuruh mengikuti mereka," jawab si B.
"Lalu kapan kita merampas uang mereka? Mereka anak orang kaya," tanya si A
"Nanti tunggu mereka lengah," ucap si B.
Mereka hanya mengikuti arahan dari bos mereka.
.
__ADS_1
.
.