
.
.
.
"Sangat mewah," ucap Lica saat melihat apartemen milik Abigail.
"Kamu suka, sayang?" tanya Abigail sambil memeluk Lica dari belakang. Lica seketika mendesir belum pernah merasakan hal seperti ini.
Abigail menyandarkan dagunya dipundak Lica, Lica hanya terdiam mematung tanpa ekspresi.
"Ahh jantungku," jerit batin Lica.
"Kok diam? Apa kamu suka apartemen ini?" tanya Abigail.
"Suka, sangat bagus dan bersih," jawab Lica gugup.
"Kenapa kau berkeringat, hmmm?" tanya Abigail.
"Jantungku, ah maksudku aku belum terbiasa seperti ini, aku belum pernah dipeluk oleh pria," jawab Lica jujur. Abigail tersenyum mendengarnya.
"Berarti semua yang ada pada dirimu aku yang pertama menyentuhnya?" tanya Abigail.
Lica mengangguk, sementara Abigail hatinya bersorak senang mendapatkan seorang gadis secantik bidadari berhati mulia. meskipun ada sisi kejamnya. Dan juga tubuh Lica belum dijamah oleh pria lain.
"Benar benar gadis murni," batin Abigail.
"Apa rencanamu dengan wanita itu?" tanya Lica.
"Untuk saat ini biarkan saja dia, kalau kedepannya ia berani macam macam maka aku tidak akan segan segan menghancurkan keluarganya," jawab Abigail enteng.
"Kamu bilang dia sepupu jauh?" tanya Lica.
"Hmmm, benar. Sebenarnya kami tidak ada ikatan darah apapun, dan Mama juga tidak menyukai sikapnya yang semena-mena. Dulu orang tuanya sempat meminta Mama dan Papaku untuk menikahkan kami, tapi Mama dan Papa tidak setuju dengan adanya perjodohan. Mama dan Papa ingin aku memilih sendiri pasangan hidupku, mereka hanya mendukung dan bukan untuk ikut campur. Bila pilihku baik dan bisa membuat aku bahagia maka mereka akan lebih bahagia," ucap Abigail panjang lebar.
Sebenarnya Abigail orang yang irit bicara kalau bukan dengan orang terdekatnya. Sikapnya cenderung dingin pada orang lain, tapi hangat pada keluarganya.
Abigail yang sejak dulu ingin selalu hidup mandiri sehingga memilih tinggal di apartemen dan sangat jarang pulang ke mansion.
"Kamu mau minum atau makan?" tanya Abigail.
"Apa saja yang ada?" tanya Lica.
Abigail berjalan kedapur dan membuka kulkas disana ada buah apel dan roti tawar. kemudian ada ikan dalam kemasan kaleng.
"Cuma ada ini," ucap Abigail sambil menunjuk kearah kulkas yang masih terbuka.
__ADS_1
"Hmmm bagaimana kalau kita buat cemilan?" tanya Lica.
"Kita..?" tanya Abigail balik.
"Ya, siapa lagi? Memang disini ada orang lain selain kita?" tanya Lica. Abigail hanya nyengir saja.
"Kamu bisa membuat jus?" tanya Lica.
"Bisa, bahkan aku juga bisa masak," jawab Abigail.
"Tapi tidak seenak koki handal di restoran berbintang," jawab Abigail lagi.
Lica melihat ada bawang bombai, telur, roti tawar dan tepung roti. Kemudian ia mengeluarkan semua yang ingin ia perlukan untuk membuat cemilan.
Pertama tama Lica memotong beberapa buah bawang bombai, kemudian Lica mencincang bawang merah dan bawang putih, barulah ia membuka kaleng sarden dan membuang airnya dan hanya mengambil ikannya saja kemudian dihancurkan. Dan memasaknya bersama dengan bawang bombai tadi.
Lica mengambil roti tawar tersebut dan mengisinya dengan ikan dan bawang yang sudah dimasak tadi kemudian menggulung roti tersebut dan dicelupkan kedalam putih telur dan tepung roti Lalu digoreng.
"Hmmm wangi banget aromanya," gumam Abigail sambil mengendus-endus masakan yang masih digoreng oleh Lica.
Lica seketika tertawa melihat Abigail yang seperti anjing pelacak saja. Hidungnya kembang kempis membuatnya terlihat sangat lucu.
"Sepertinya enak," ucap Abigail saat cemilan itu sudah matang dan ditata rapi diatas piring.
"Pelan pelan, itu masih panas," ucap Lica.
Tapi Abigail tidak peduli sama sekali masih tetap melahapnya. Lica memperhatikan saja saat Abigail memakan cemilan tersebut seperti tidak merasakan panas sama sekali.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Abigail.
"Tidak, itu kan panas tapi sepertinya kamu tidak merasakannya," jawab Lica.
"Panas panas begini yang enak, kalau sudah dingin jadi kurang enak," jawab Abigail santai.
"Aku buat banyak, gimana kalau tidak habis?" tanya Lica.
"Kita ke mansion yuk, Mama pasti senang kamu datang, tadi pagi Mama masih syok dengan kelakuan wanita tidak waras itu." ucap Abigail.
"Tapi Mama tidak kenapa-kenapa kan? maksudnya tidak dipukuli oleh wanita itu?" tanya Lica.
"Tidak, karena Mama tidak berani untuk mendekati wanita itu yang seperti banteng betina," jawab Abigail.
"Ya sudah, yuk kita temui Mama," ajak Lica.
"Tapi kamu tidak sibuk kan? Tanya Lica lagi.
"Enggak, semua pekerjaan sudah aku selesaikan, makanya aku bisa mengajak kamu makan siang," jawab Abigail.
__ADS_1
"Apapun demi kamu, akan aku lakukan," batin Abigail.
Kemudian Lica memasukkan kue yang ia buat tadi kedalam Tupperware yang kedap udara agar tetap garing dan renyah.
"Yuk...!" ajak Lica tanpa sadar menggandeng tangan Abigail.
Abigail mematung sebentar, Lica menyadari kalau tangannya melingkar dilengan Abigail dan segera melepaskannya.
"Maaf," ucap Lica kikuk. Kemudian Abigail meraih tangan Lica dan menggandengnya.
"Begini baru benar," ucap Abigail.
Kemudian keduanya meninggalkan apartemen tersebut. Keduanya masuk kedalam lift dan segera turun kelantai dasar.
Pintu lift terbuka dan mereka pun keluar dari dalam lift menuju parkiran mobil, banyak juga mobil terparkir disana, semua itu pemilik orang yang tinggal di apartemen ini.
Abigail mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga keduanya pun cepat sampai ke mansion. kebetulan jalanan cukup senggang jadi terhindar dari kemacetan.
Abigail membukakan pintu mobil untuk Lica. Alika yang mendengar suara mobil pun segera berlari kearah pintu depan. Melihat calon menantunya yang datang Alika langsung sumbringah.
"Mama tidak apa-apa?" tanya Lica setelah mencium tangan Alika. Inilah yang Alika suka dari gadis ini, selain cantik parasnya tapi juga etikanya sangat baik dan pandai menghormati orang tua. Lica mendapatkan nilai plus dari calon mertuanya itu.
"Mama baik baik saja, apalagi dengan kedatangan calon mantu Mama ini," jawab Alika.
"Ehhem" Abigail berdehem karena ia merasa Mamanya lebih menyayangi kekasihnya, tapi Abigail sejujurnya sangat bahagia karena pilihannya membuat sang Mama bahagia.
"Kalian mau sampai kapan ngobrol di luar?" tanya Daka yang ternyata sudah berada didepan pintu.
"Ah iya sampai lupa ngajak masuk," jawab Alika.
Kemudian Alika menarik tangan Lica pelan dan membawanya masuk. Lica menyerahkan kantong plastik yang berisi kue buatan Lica.
"Apa ini?" tanya Alika.
"Tadi sebelum kesini aku sempat buat kue ini, semoga Mama dan Papa suka." jawab Lica.
Daka membuka Tupperware tersebut dan mengambil satu kue dan menggigitnya. Gigitan pertama membuat matanya membelakak.
"Enak," satu kata yang keluar dari mulutnya.
Alika yang penasaran pun mencoba mengambil satu dan langsung menggigit serta mengunyahnya. Alika tidak berkomentar apa-apa, tapi cara dia makan sudah bisa ditebak kalau kue itu memang benar enak.
"Bagaimana kamu membuatnya sayang?" tanya Alika.
"Belajar sama author Ma," jawab Lica.
.
__ADS_1
.
.