
.
.
.
Afifa membawa putrinya keruang tamu, dimana ada Abigail dan suaminya. bersamaan dengan pelayan mengantarkan minuman untuk tamunya.
"Kenalkan Nak Abigail, ini putri saya. Orang nya pintar dan berpendidikan tinggi, baru umur 21 sudah lulus kuliah S1," kata Afifa memperkenalkan putrinya dan membanggakan putrinya itu.
"Masih kalah jauh dari Lica," batin Abigail.
Abigail terdiam, mereka pikir Abigail terpesona dengan putri mereka. Dengan gaun malam yang terbuka dibagian atas dan panjangnya diatas lutut.
"Ah iya maaf," ucap Abigail.
"Kenalkan nama saya, arrabela. Biasa dipanggil arra," ucap Arrabela sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Abigail," jawab Abigail sambil menangkup kedua tangannya di dada tanpa berniat menyambut uluran tangan Arrabela.
"Mari pa kita kedapur untuk menyiapkan makan malam," ucap Afifa pada suaminya.
Suaminya hanya menurut saja karena kedua pasangan suami istri itu ingin mendekatkan anaknya dengan Abigail.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Abigail.
"Belum," jawab Arrabela sambil tersenyum senang. ia pikir Abigail ada rasa dengan dirinya.
"Tidak mungkin cewek secantik dan ses*ksi kamu belum punya pacar?" tanya Abigail lagi.
Abigail sengaja mengangkat cewek itu sebelum nanti ia akan menjatuhkan cewek itu sejatuh jatuhnya.
"Aku sibuk belajar dan tidak sempat untuk memikirkan hal itu," jawab Arrabela.
"Ouch," kata Abigail.
Arifin dan Afifa bukan menyiapkan makan malam tapi mengintip dari balik tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang makan.
Kedua pasangan suami istri itu tidak tau apa yang Abigail bicarakan dengan Arrabela.
"Aku suka anak itu pa, tampan sopan dan kaya," ucap Afifa.
"Itu sebabnya aku ingin mereka menjalin hubungan, agar kedepannya perusahaan kita semakin berkembang dan kita akan ikut semakin kaya karena mendapat menantu kaya," jawab Arifin.
Dalam bayangan keduanya sudah bisa dipastikan kalau Abigail mau dengan anaknya itu.
Sedangkan Abigail dan Arrabela masih berbincang bincang ringan, Arrabela menceritakan kepintaran dalam pelajaran, dan mengatakan bahwa ia pelajar 5 besar terbaik dikampus tempatnya belajar.
"Hebat dong, kekasihku pelajar terbaik di Los Angeles," jawab Abigail.
"Kamu sudah punya kekasih?" tanya Arrabela.
__ADS_1
"Sudah, dia lebih cantik dan lebih hebat dari kamu." jawab Abigail.
Arrabela terdiam beberapa saat, baru saja hatinya senang saat dipuji oleh Abigail. Namum kini ia merasa dijatuhkan dari atas tebing.
"Sehebat apa kekasihmu itu?" tanya Arrabela yang masih belum menyerah.
"Dia baru umur 19 tahun sudah lulus kuliah S3 dan mendapatkan predikat pelajar terbaik," jawab Abigail membanggakan kekasihnya.
Belum sempat Arrabela hendak bicara lagi, Arifin dan istrinya datang untuk mengajak makan malam.
"Nak Abigail, makan malam sudah siap, mari," ucap Arifin. Mereka tidak tahu kalau putrinya lagi patah hati karena ditolak.
Abigail bangkit dari duduknya dan berjalan dibelakang Arifin. Afifa menyenggol lengan Arrabela agar lebih dekat dengan Abigail.
Arrabela mendekat dan menggandeng tangan Abigail, tapi dengan sedikit kasar Abigail menepisnya. Wajah Arrabela memerah karena ditolak mentah-mentah oleh Abigail.
"Silahkan nak," ucap Afifa dengan ramah.
"Layani Abigail," bisik Afifa pada putrinya.
Arrabela hendak melayani Abigail, tapi Abigail sudah lebih dulu mengambil nasi dan lauknya sendiri.
"Nak setelah makan nanti ada yang ingin saya bicarakan," ucap Arifin.
"Kalau soal pekerjaan sebaiknya datang ke perusahaan saja Om," kata Abigail.
"Ini masalah pribadi," jawab Arifin.
"Baiklah, tapi kalau masalah perjodohan, maaf aku menolak mentah-mentah," kata Abigail tegas.
"Maaf sebelumnya Nak Abigail. Apakah nak Abigail sudah punya kekasih?" tanya Afifa.
"Sudah, dan dalam waktu dekat ini aku akan melamarnya," jawab Abigail.
Abigail masih tetap santai menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Sedangkan Arrabela hanya mengaduk aduk nasi didalam piringnya saja dan tidak berniat untuk memakannya.
"Apakah dia dari orang kaya?" tanya Arifin.
"Dia orang yang sederhana dalam kehidupannya sehari-harinya." jawab Abigail.
"Mengapa Nak Abigail memilih gadis dari kalangan bawah?" tanya Afifa.
"Maaf Tante, apa maksud Tante mengatakan aku memilih gadis kalangan bawah?" tanya Abigail.
"Anak Tante cantik juga dari kalangan atas bahkan hidup dalam kemewahan," jawab Afifa.
"Aku tidak bilang kalau kekasihku itu miskin," kata Abigail.
"Bukankah kamu tadi bilang kalau kekasihmu hidup dalam kesederhanaan? Berarti ia dari kalangan bawah dong dan tidak setara dengan Kita," tanya Afifa.
"Tante kenal dengan keluarga Henderson?" tanya Abigail.
__ADS_1
"Ya kenal, dan keluarga itu orang terkaya di negara ini," jawab Afifa.
"Tante tahu kalau Jordan mempunyai 3 cucu perempuan yang kembar?" tanya Abigail lagi.
"Ya tau, jangan bilang kalau kamu....?" pertanyaan Afifa terjeda.
"Benar Tante, kekasihku adalah salah satu dari ketiga cucu perempuannya itu," jawab Abigail.
Arifin sampai menjatuhkan sendoknya saking terkejutnya. begitu juga dengan Afifa dan Arrabela keduanya tidak kalah syok.
Meskipun mereka tidak mengetahui wajah dari cucu keluarga terpandang itu, tapi mereka tahu kalau Jordan Henderson mempunyai cucu perempuan yang kembar.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal?" tanya Arifin setelah menetralkan keterkejutan.
"Karena itu permintaannya agar hubungan kami jangan dulu dipublikasikan sebelum kami resmi menikah," jawab Abigail.
"Lalu bagaimana dengan saya?" tanya Arrabela.
"Sebaiknya kamu mundur dan jangan mencari masalah dengan keluarga itu kalau tidak ingin jadi gembel," jawab Abigail lembut tapi penuh nada ancaman.
"Secantik apa sih dia?" tanya Arrabela yang belum terima ditolak.
"Kamu tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengannya," jawab Abigail.
Arifin tidak bisa berkata apa-apa lagi, kalau dia menentang keluarga Henderson itu sama saja menjerumuskan dirinya kedalam jurang kehancuran. Begitu juga dengan istrinya yang masih syok mendengar pengakuan Abigail.
Mereka sudah sangat berharap bisa menjodohkan anaknya dengan Abigail. Tapi nyatanya Abigail sudah punya kekasih yang jauh lebih baik dari anaknya yang manja itu.
Setelah selesai makan malam Abigail pun pamit pulang. Abigail tidak betah berlama lama dirumah ini yang membuatnya merasa eneg.
Arrabela hanya memperhatikan kepergian Abigail dari balik pintu sampai Abigail menghilang dari pandangan matanya.
"Papa akan Carikan pria lain yang juga tidak kalah dari Abigail itu," ucap Arifin pada putrinya yang saat ini sedang menangis dipelukan Mamanya.
Padahal Arrabela sudah punya pacar di luar negeri, bahkan hubungan mereka sudah bukan lagi hal wajar. Bahkan Arrabela sering gonta-ganti pasangan. Tapi dia selalu mengaku tidak pernah pacaran.
Sementara Abigail menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan ia mengambil ponselnya dari saku jasnya.
"Halo sayang!" sapa Abigail setelah panggilan terhubung.
"Halo, ada apa nih malam malam nelpon?" tanya Lica to the point.
"Cuma kangen saja, bolehkah aku ke mansion?" tanya Abigail.
Lira melihat jam baru jam 8 malam. merekapun baru selesai makan malam.
"Datanglah, kebetulan aku juga baru habis makan malam," jawab Lica.
"Oke, 15 menit lagi aku sampai," kata Abigail lalu mematikan sambungan teleponnya.
.
__ADS_1
.
.