
.
.
.
"Bos, mereka ada didekat kami, terus bagaimana?" tanya si B melalui telepon.
"Kalian turun, kita tunggu mereka dibawah. Kalian berdua yakin mereka banyak bawa uang?" tanya bos itu balik.
"Yakin bos, kami sempat melihat salah satu dari mereka membelikan ibu ibu keperluan sekolah," jawab si B.
"Hmmm bagus." jawab bos itu.
Tanpa mereka sadari Aldebaran meletakkan alat penyadap suara pada salah satu dari mereka. Saat mobil mobilan mereka bertabrakan, Aldebaran dengan gerakan cepat menempelkan alat tersebut di baju salah satu dari pria itu.
Aldebaran tersenyum mendengar pembicaraan mereka, dan hal itu terlihat oleh Rayyan. Rayyan kemudian mendekati Aldebaran.
"Ada apa?" tanya Rayyan.
"Nanti juga bakalan tahu," jawab Aldebaran santai.
"Udah yuk...!" ajak Abqari.
Mereka semua pun menyudahi permainan mereka. Jam makan siang pun tiba, mereka menuju restoran yang ada di mall tersebut. Mereka hanya memesan fast food untuk makan siang mereka.
"Ada yang ingin main-main dengan kita," kata Aldebaran saat mereka sedang menikmati makanan.
"Apakah orang tadi?" tanya Rayna.
"Hmmm, mereka berkomplotan," jawab Aleta.
"Mereka hanya ingin uang," kata Aldebaran.
"Kamu sudah tau Al?" tanya Danendra.
"Aku ada ini," jawab Aldebaran memperlihatkan penyadapan suara yang lainnya. Karena Aldebaran menciptakan alat itu bukan cuma satu.
"Itu kami tahu, sejak kapan kamu menempelkannya pada mereka?" tanya Danendra lagi.
"Sewaktu kita di zona permainan," jawab Aldebaran santai.
"Bayar Al," kata Aksa Delvin.
"Cih.. selalu begitu, ujung ujungnya aku juga yang bayar," jawab Aldebaran. Dia sebenarnya cuma bercanda, sebab Aldebaran tidak pernah perhitungan sedikitpun apalagi dengan saudara saudaranya.
Lalu Aldebaran pun bangkit untuk membayar makanan mereka, Aldebaran menyerahkan kartu hitam miliknya. Penjaga kasir membolak-balik kartu hitam tersebut setelah itu baru menggeseknya.
"Terimakasih dek," ucap pelayan kasir tersebut.
"Sama sama kakak cantik," jawab Aldebaran, kemudian pergi dari tempat kasir.
"Tampan sekali anak itu," ucap penjaga kasir tersebut sambil tersenyum.
"Kenapa Lo senyum senyum?" temannya.
__ADS_1
"Bocah itu tampan sekali," jawabnya.
"Menggemaskan sekali mereka," ucapnya lagi.
"Sudah, sudah Masih bocil juga," kata temannya.
Sedangkan yang mereka bicarakan sudah keluar dari restoran tersebut, mereka berjalan beriringan di sekitar mall tersebut.
"Bos mereka sudah mau keluar dari mall," lapor pria tadi melalui telepon.
"Hmmm, bagus," jawab bos.
Sementara para bocah masih berjalan jalan, tiba-tiba ponsel Aldebaran berdeing pertanda panggilan masuk.
Aldebaran melihat nama pemanggil dan segera menjawabnya.
"Halo bunda," sapa Aldebaran menjawab panggilan tersebut.
"Kalian dimana? Tadi bunda ke sekolah kalian, guru kalian bilang kalian sudah pulang sejak tadi," tanya Cahaya.
"Kami berada di mall Bunda, bunda jangan khawatir kami sebentar lagi pulang kok," jawab Aldebaran.
"Baiklah, jangan sampai bunda mengadu ke ayah kalian," ancam Cahaya.
"Iya, iya bunda kami segera pulang," kata Aldebaran.
"Bunda menelpon?" tanya Abqari, Aldebaran mengangguk.
"Dek kita harus segera pulang," kata Aldebaran pada Aleta.
Aldebaran menyebut Aleta kadang panggil adek kadang panggil nama, sedangkan Aleta sendiri tidak mau memanggil Aldebaran kakak atau Abang, karena merasa mereka seumuran. Begitu pula dengan yang lain tidak ada yang memanggil Abang atau kakak pada saudara masing-masing, mereka hanya memanggil nama saja. Sering kali orang tua mereka menyuruh jangan memanggil nama saja, tapi mereka tetap tidak mau.
"Kalau begitu kita pulang sekarang," kata Kayden.
"Yuk lah," ajak Viora.
Mereka pun berjalan keluar dari mall tersebut, tapi tiba di luar mall mereka dihadang oleh beberapa orang pria berbadan besar.
"Serahkan uang kalian, tadi kami lihat kalian banyak uang," ucap bos itu.
"Paman, kalau mau uang harus kerja, kami yang masih kecil ini pun bekerja," kata Davion.
"Hahaha... jangan ngelawak deh. Apa yang bisa kalian kerjakan?" tanya bos itu.
"Kami bekerja menggunakan ponsel dan laptop Paman," jawab Danendra.
"Kalau begitu serahkan uang kalian, kalian pasti anak orang kaya kan?" tanya bos itu lagi.
"Hadapi kami dulu paman," tantang Aleta.
"Dek tahan emosimu, jangan sampai kamu memb*nuh orang," ucap Aldebaran.
Gleek...para pembegal itu menelan ludahnya mendengar kata memb*nuh. Mereka melihat sorot mata Aleta dan yang lainnya berubah tajam.
"Menyingkirkan lah paman, sebelum kami buat babak belur," kata Rayna.
__ADS_1
"Kalian anak kecil bisa apa?" tanya bosnya itu.
"Jangan salah Paman, kecil kecil begini sudah ratusan orang yang mati ditangan kecil kami ini," ucap Nayara.
"Paman mau mencoba?" tanya Quenni.
Belum sempat bos itu menjawab, Qirani sudah bersalto dan menendang salah satu dari mereka. Bos penjahat dan yang lainnya tercengang melihat salah satu temannya terlempar beberapa meter dan langsung pingsan ditempat.
"Itu baru satu tendangan paman. Bagaimana kalau tendangan bertubi tubi?" tanya Viora.
"Dan itu baru satu orang yang menyerang. Bagaimana kalau kami semua yang menyerang?" tanya Quenni.
Sedangkan Aldebaran sudah menahan adiknya agar tidak bertindak. Aldebaran paling tau kalau adiknya itu paling mudah emosi.
"Dek kendalikan emosimu, jangan sampai emosimu merusak dirimu," ucap Aldebaran.
Aleta berusaha mengendalikan emosinya, sedikit demi sedikit maka iapun mulai tenang.
"Nanti aku akan menyuruh ayah untuk melatihmu mengontrol emosi. Bisa bahaya dek kalau tidak terkontrol," kata Aldebaran.
Aleta menarik nafas dan menghembuskannya. Begitu berulang ulang sehingga emosinya mulai mereka.
"Kalian tunggu apalagi? Tangkap anak itu dan rampas uangnya," perintah bosnya.
Lima orang maju, tapi tidak membuat gentar 17 bocah kembar tersebut. Davina, Viora, Qirani, Kayvira dan Rayna juga maju melawan kelima pria berbadan besar tersebut. Sedangkan Quenni, Nayara dan Aleta melawan bos dan dua lainnya. Mereka pun bertarung satu lawan satu.
"Perlu kami bantu?" tanya Abqari.
"Sepertinya tidak perlu," bukan para bocil perempuan yang menjawab, tetapi Danendra yang menjawab.
Mereka hanya menjadi penonton saja, menyaksikan saudara perempuan mereka melawan penjahat tersebut.
Tidak butuh waktu lama para penjahat sudah babak belur dibuatnya. Mereka terkapar diaspal dengan luka lebam, bahkan ada yang patah tulang dibagian tangannya.
"Lain kali jangan meremehkan anak kecil Paman," ucap Aleta sambil melangkahi bos penjahat tersebut.
"Nih, obati luka kalian, setelah itu cari kerja yang benar dan halal," ucap Aldebaran sambil menyerahkan uang yang entah berapa jumlahnya.
Kemudian mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Baru saja beberapa puluh meter mereka berjalan, beberapa buah mobil sudah berhenti didekat mereka.
Ternyata Mama mereka yang menjemput, karena mereka juga khawatir dengan anak anaknya saat Cahaya menelpon mengatakan anaknya sudah pulang sekolah sejak tadi.
Kemudian Cahaya pun memberitahukan bahwa mereka ada di mall. mendengar hal itu Mama mereka pun segera menjemput mereka.
"Kalian bikin bunda khawatir, lihat Mama kalian juga mengkhawatirkan kalian," ucap Cahaya.
"Maafkan kami Mama, bunda," ucap mereka serentak.
Mereka memeluk anak anak mereka masing-masing sebelum masuk kedalam mobil.
"Lain kali jangan seperti ini lagi," ucap Aisyah. Merekapun mengangguk bersamaan.
.
.
__ADS_1
.