
.
.
.
Triple A diantar pulang oleh pasangannya, sedangkan yang lain menggunakan mobil masing-masing. Sikembar beserta keluarga kecilnya seperti biasa setiap Sabtu dan Minggu pasti pulang ke mansion. Sedangkan untuk menemui orang tua mereka dari istri istrinya sikembar memanfaatkan waktu lain hari, karena anak anaknya juga dekat dengan kakek dan nenek mereka. Khusus untuk Sabtu dan Minggu mereka mengunjungi mansion keluarga Henderson. Mereka semua pun sudah tiba di mansion.
"Sebaiknya kalian bertiga nginap saja disini," kata Darmendra pada Randy, Carel dan Abigail.
Mendengar hal itu tentu saja mereka senang, bagaikan hujan dimusim kemarau. ketiganya pun tersenyum sangat manis.
"Baik Dad," jawab Randy.
"Siapa yang menyuruhmu memanggil Daddy?" tanya Lina.
"Inisiatif sendiri, lagi pula sekarang atau pun nanti juga tetap memanggil Daddy," jawab Randy santai.
"Sudah, sudah mari masuk," ajak Diva.
"Daddy, bolehkah besok kita mengunjungi kakek Abbas?" tanya Lina.
"Boleh juga tuh, kebetulan besok hari Minggu." jawab Darmendra.
"Sebenarnya ada yang ingin aku diskusi dengan beliau," kata Lina. Lina merasa dia harus membantu kakek Abbas untuk merebut kembali tahta kerajaan tersebut. Meskipun sekarang kerajaan itu sudah modern tapi setidaknya itu masih hak kakek Abbas.
Mereka semua berkumpul bersama diruang keluarga, tapi tidak dengan para bocah. mereka dilarang menguping pembicaraan orang dewasa.
Randy hanya terdiam, karena ia sudah menduga apa yang ingin Lina diskusikan dengan kakeknya itu.
"Aku sudah menyelidiki kerajaan di negara itu, ternyata rakyatnya hidup dalam penderitaan. Maka dari itu aku ingin berdiskusi dengan kakek, setidaknya membebaskan rakyat dari penderitaan raja yang sekarang." ucap Lina panjang lebar.
"Kalau itu keinginanmu, aku siap membantu," ucap Ram. Semua menoleh kearah Ram yang rela membantu.
"Baiklah, aku juga setuju," jawab Darmendra. Diluar perkiraan Randy ternyata semua keluarga Henderson ingin membantu.
"Tapi aku tidak ingin peperangan terjadi yang akan menelan banyak korban," kata Randy.
"Kita bisa menggunakan cara lain yang tidak dengan cara membunuh," kata Ray.
"Bukankah kita punya senjata yang tidak membunuh, tapi hanya bisa melumpuhkan?" tanya Ren.
"Apakah yang seperti ini?" tanya Abigail menunjukkan pulpen pemberian Lica.
"Dimana kamu mendapatkan itu?" tanya Rakha.
__ADS_1
"Lica memberikannya kepadaku, katanya untuk berjaga-jaga dan tidak perlu menggunakan senjata api dan sejenisnya," jawab Abigail.
Sikembar menoleh kearah Lica yang hanya tersenyum saja. Seolah olah tidak merasa bersalah.
"Sudahlah, kalian juga masih punya yang lain," kata Diva menengahi.
"Sekarang semua masuk kedalam kamar masing-masing, besok kita akan pergi kerumah kakek Abbas," perintah Darmendra.
Vera digiring oleh Diva dan Jordan digiring oleh Darmendra menuju kamar mereka. Sebenarnya mereka bisa berjalan tapi karena anak dan menantunya itu terlalu khawatir dengan kedua lansia tersebut.
Randy, Carel dan Abigail masuk kekamar tamu dilantai bawah, mereka memilih tidur bertiga saja.
Ram, Ren dan Rakha memberikan pakaian baru yang belum dipakai oleh mereka untuk pakaian ganti ketiga pria itu serta piyama tidur yang juga masih baru.
"Jadi ngerepotin bang," kata Randy.
"Gak apa-apa," jawab Ram.
"Tapi awas kalau kalian berani macam macam sebelum halal pada adek kesayangan kami," ancam Ram.
"Tidak berani bang, kami tahu kekuasaan keluarga Henderson. Dan kami mencintai mereka bukan karena harta tahta dan na*su semata." jawab Abigail dan diangguki oleh Randy dan Carel.
Pagi hari...
Seperti biasa kalau hari libur triple A pergi berjoging. ternyata bukan mereka saja ada sikembar dan Randy, Carel dan Abigail.
"Apakah kalian selalu seperti ini?" tanya Abigail pada Lica.
"Ya, setiap hari Minggu kalau tidak ada acara lain," jawab Lica.
"Joging hanya keliling mansion?" tanya Abigail lagi.
"Biasa ketaman kota," jawab Lica. Mereka terus berlari walaupun tertinggal jauh dari yang lain.
Sikembar tidak peduli dengan mereka, karena merasa pada diri mereka sendiri sewaktu pacaran memang ingin selalu bersama. Jadi mereka tidak melarang adik adiknya untuk pacaran asal tidak diluar batasan.
Sikembar yakin adik adiknya bisa menjaga diri agar tidak terjerumus pergaulan bebas. Dan mereka juga tau kalau calon adik iparnya itu orang baik baik. Diam diam sikembar juga menyelidiki latar belakang Randy, Carel dan Abigail yang bersih dari skandal apapun termasuk perempuan.
Setelah selesai berjoging, mereka semua mandi. Sedangkan Diva sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Para bocah baru saja keluar dari kamar mereka masing-masing.
"Ayah kok gak ngajak Ale kalau mau joging?" tanya Aleta pada Ram.
"Tapi ayah kekamar Ale, tapi Ale masih nyenyak tidurnya jadi gak tega bangunkan." jawab Ram.
Aleta menarik tangan Aldebaran untuk menemaninya joging, ternyata dibawah sudah ada yang lain yang juga mau joging.
__ADS_1
"Kalian kurang awal bangunnya," kata Lina.
"Gak apa-apa aunty, kami tidak akan lama joging nya, mumpung matahari belum terlalu terik." jawab Qirani. mereka pun pergi berjoging keliling mansion. Para pengawal begitu takjub melihat bocah kembar itu. mereka teringat dengan sikembar sewaktu kecil dulu yang juga suka berjoging.
Hanya 30 menitan mereka berjoging kemudian mereka pun mandi, karena mereka juga akan ikut bersama keluarganya untuk pergi kerumah kakek Abbas.
Kini mereka sudah berkumpul dimeja makan, keluarga besar Henderson berkumpul memang sangat menyenangkan.
"Setelah sarapan kita berangkat kerumah kakek Abbas," kata Darmendra. mereka semua mengangguk.
Setelah selesai makan mereka semua bersiap siap untuk pergi, dengan mengendarai mobil masing-masing mereka pun berangkat. Ada 11 buah mobil mewah melintas dijalan raya membuat pengendara lain menjadi heran.
Ajaib nya mereka malah memberi jalan kepada mobil tersebut. Mereka tahu itu mobil keluarga orang terkaya nomor 1 di negara ini.
Akhirnya mereka pun tiba dirumah yang mereka tuju. Sebelumnya Randy sudah memberitahukan Papa nya bahwa keluarga Henderson akan berkunjung. Awalnya Delon mengira keluarga Henderson akan melamar.
Melamar? Apa gak kebalik Pak Delon. Bukannya pihak laki laki yang melamar.
11 buah mobil pun terparkir sempurna dihalaman rumah tersebut, beruntung halaman rumah itu luas jadi bisa menampung banyak mobil.
Mereka pun keluar dari mobil dan disambut tiga orang berbeda gender dan usia itu.
"Ada gerangan apa datang kemari bersama keluarga besar?" tanya Abbas sambil memeluk Jordan sang sahabat.
"Ada yang ingin kami diskusikan dengan mu," jawab Jordan.
Sikembar pun langsung menyalami kakek Abbas dan mencium tangannya.
"Ini cucu cucu ku, dan cicit cicitku," kata Jordan mengenalkan mereka satu persatu.
"Segitu banyak mana bisa aku mengingat namanya satu persatu," kata Abbas.
"Iya kamu benar, bahkan author nya aja bingung tuh dengan nama nama mereka saking banyaknya," ucap Jordan.
"Mari masuk," ajak Delon.
"Ah iya, sampai lupa ngajak masuk," kata Abbas. Mereka semua pun masuk kedalam rumah. Dan duduk diruang tamu, diam diam Aldebaran menyimpan alat penyadap suara dibawah meja tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan orang tuanya pun tidak menyadari.
Kemudian mereka ber 17 pun pergi ketaman belakang dan diantar oleh pelayan. Aldebaran pun memberikan earphone ke saudara saudaranya.
"Apa ini?" tanya Davion.
"Pakai aja, nanti juga tau," jawab Aldebaran.
.
__ADS_1
.
.