
.
.
.
Tiga buah motor melaju dengan kecepatan sedang melewati jalan yang tidak terlalu besar. Lica berdiri di jok belakang motor dan merentangkan kedua tangannya menghirup udara segar dipagi hari. Tempat ini indah karena ada pegunungan yang terlihat membiru dari kejauhan.
"YUHHHUUU...YEEEE..!" teriak Lica seolah olah melepaskan beban yang menghimpit padahal tidak sama sekali.
"INDAHNYA TEMPAT INI...!" teriak Lica lagi.
Abigail tersenyum senang melihat pujaan hatinya begitu bahagia seolah baru terbebas dari belenggu dan sangkar emas.
"APA KAMU BAHAGIA?" tanya Abigail sambil berteriak pula.
"Iya aku sangat bahagia," jawab Lica dan kembali duduk.
"Cepat sedikit, jangan kaya kura kura nanti lambat nyampai nya," perintah Lica.
Randy dan Carel sudah jauh didepan sehingga Abigail dan Lica tertinggal dibelakang.
Abigail melajukan motornya mengejar motor Randy dan Carel. Dalam sekejap Abigail sudah bisa mengimbangi motor mereka.
"Kemana dulu kita?" tanya Randy pada Lina.
"Terserah," jawab Lina.
"Begitulah kalau perempuan ditanya, jawab bikin laki laki bingung," kata Randy. Lina mengernyitkan keningnya.
"Bingung?" tanya Lina.
"Terserah itu bukan jawaban, kan aku jadi bingung mau kemana?" tanya Randy. Lina terkekeh geli dengan ucapan Randy seolah menuangkan segala uneg-uneg nya.
"Kepasar tradisional saja dulu," Jawab Lina kemudian.
Randy pun mengarahkan motornya menuju pasar tradisional yang dimaksud. Tiba disana para pengunjung pasar sudah sangat ramai, pengunjung yang kebanyakan dari desa Asri itu berbelanja di pasar ini.
Randy segera memarkirkan motornya di depan sebuah masjid, kebetulan dekat pasar tradisional itu ada masjid yang tidak terlalu besar.
Lina memperhatikan masjid tersebut yang terlihat sudah sangat usang, mungkin karena sudah terlalu lama tidak diperbaiki.
Begitu juga dengan Lica dan Lita keduanya juga memperhatikan masjid tersebut.
"Wah ramai sekali," ucap Lina setelah ia memasuki pasar tersebut.
"Disini hanya buka seminggu dua kali, yaitu Sabtu dan Minggu," kata Randy.
"Kok begitu?" tanya Lina.
"Iya, karena pada hari hari lain mereka berkebun dan juga menanam padi di sawah. Pada hari Sabtu dan Minggu mereka libur," jawab Randy menjelaskan.
Lina pun manggut-manggut saja, Lina, Lica dan Lita berjalan beriringan. Para pengunjung pasar tersebut terpana melihat kecantikan ketiga gadis itu dan juga ketampanan ketiga pria yang ada disamping mereka.
"Sepertinya mereka orang kota deh, lihat cara mereka berpakaian dan juga mereka cantik dan tampan," ucap seorang wanita pengunjung pasar itu.
__ADS_1
"Benar, atau mungkin mereka pemilik villa dikaki bukit sana," jawab pengunjung A.
Triple A menghampiri penjual aksesoris dan melihat lihat aksesoris tersebut. Lina memilih milih kalung cantik meskipun bukan terbuat dari berlian dan semacamnya.
"Mau beli?" tanya Lica.
"Aku suka bentuknya," jawab Lina.
"Berapa Bu?" tanya Lita.
"20 ribu satu," jawab ibu penjual aksesoris tersebut.
"Aku mau gelang yang seperti ini 6 ada gak Bu?" tanya Lina.
"Kok cuma 6? Aku sama Lica juga mau," tanya Lita.
"8 Bu ada gak?" tanya Lina lagi.
"Ada neng, ini buatan anak saya sendiri dan uangnya untuk biaya sekolahnya," jawab ibu itu.
"Berapa usia anak ibu?" tanya Lina.
"10 tahun neng, baru kelas 6 SD," jawab ibu itu.
"Berarti anak ibu termasuk pintar ya? Baru usia 10 tahun sudah kelas 6 SD," tanya Lina.
"Alhamdulillah neng, sering juara 1 di sekolah." jawab ibu itu.
"Pertahankan prestasinya Bu, semoga tercapai cita-citanya," ucap Lica.
Triple A selalu membawa uang tunai yang banyak setiap keluar mansion, semua itu hanya untuk persiapan bila sewaktu waktu ada yang membutuhkan.
"Disini ada ATM gak Bu?" tanya Carel.
"Ada dekat kantor kelurahan," jawab ibu itu.
Ibu itupun mengeluarkan gelang yang ingin dibeli oleh Lina. 8 buah gelang, nanti akan ia hadiahkan pada rekannya di kantor.
"Ini Bu," ucap Lina menyerahkan uang seratus ribu dua lembar.
Ibu itu menerima uang dan ingin memberikan kembaliannya tapi dicegah oleh Lina.
"Tidak usah, kembalian buat ibu saja," kata Lina.
Kemudian Lina menyerahkan amplop putih berisi uang kepada ibu itu, dan ibu itu heran melihat amplop tersebut.
"Apa ini neng?" tanya ibu itu.
"Ini untuk biaya sekolah anak ibu, semoga bermanfaat bagi ibu dan anak ibu," ucap Lina.
"Tidak usah neng, ibu masih bisa cari uang sendiri," jawab ibu itu. Padahal ia sangat kesulitan.
Menjual aksesoris terkadang tidak ada yang membeli, jadi ibu itu pulang dengan tangan kosong, belum lagi para preman pasar yang selalu meminta uang keamanan pada penjual dipasar ini.
"Ambil saja Bu, kami ikhlas kok," ucap Lica.
__ADS_1
Baru saja ibu itu memegang amplop tersebut, amplop itu sudah dirampas oleh seseorang.
"Katanya tidak punya uang, ini apa?" tanya bos preman itu.
"Anda siapa?" tanya Lina.
"Kami preman di pasar ini, siapa saja yang tidak bayar uang keamanan maka hidupnya akan celaka," ucap salah satu dari mereka.
6 orang preman itu seminggu sekali datang meminta uang. Lina, Lica dan Lita masih tenang tenang saja menyaksikan semua itu.
"Jadi kalian preman yang memeras warga?" tanya Lina.
"Ya, kami lah orangnya," jawab bos preman itu dengan angkuhnya.
"Tidak sia sia kami menyamar untuk membasmi kalian," ucap Lita.
"Si.. siapa kalian?" tanya bos preman itu gugup.
"Kami dari kepolisian dan mendapatkan tugas untuk memberantas orang orang seperti kalian," jawab Lina.
"Bohong...!" teriak salah satu preman itu dengan lantang.
"Kalau kalian tidak percaya, tidak apa-apa tapi jangan salahkan kami," ucap Lica.
Buugh... Lica menendang bos preman itu hingga terjungkal ke tanah. Lica menghampiri bos preman itu seketika preman yang lain mundur. Lica mengambil amplop tersebut dan tanpa hati mematahkan tangan dan kaki bos preman itu.
"Aakkkhh," teriak bos itu.
Para bawahannya saling pandang, ia ingin melarikan diri tapi sudah dihadang oleh Randy, Carel dan Abigail. mereka pun menghajar preman tersebut, orang orang yang ada disitu pun kagum melihat tiga gadis yang jago berkelahi.
"Wah hebat sekali gadis itu," ucap A.
"Iya, kelihatannya lemah tau tau sangat kuat," ucap B.
Banyak lagi perkataan perkataan memuji dari mereka tentang kehebatan mereka.
"Tenang semuanya, barang barang yang rusak akan kami ganti rugi," ucap Lita.
Kemudian ia mengeluarkan uang tunai dan memberikan kepada pedagang yang barang jualannya rusak.
"Sekarang kalian sudah aman, tidak ada lagi yang memalak kalian," ucap Lina.
"Terimakasih banyak, terimakasih," ucap mereka serentak.
Para pedagang memberikan apapun yang dijualnya kepada triple A sebagai ungkapan rasa terimakasih, tapi triple A menolak dan mengatakan bahwa ia ikhlas melakukannya.
"Terimakasih banyak," ucap ibu penjual aksesoris tersebut.
"Sama sama Bu," jawab triple A serentak.
Kemudian mereka lanjut lagi jalan jalannya, dan mereka membeli apa saja yang terlihat menarik dimata mereka.
.
.
__ADS_1
.