THREE ANGEL

THREE ANGEL
Kehancuran Raja lalim.


__ADS_3

.


.


.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Gardareksa.


"Malaikat maut mu," jawab Lina.


"Cih. Kau pikir mudah membunuhku?" tanya Gardareksa.


"Tidak bisa membunuhmu, setidaknya kami bisa menghancurkan raja lalim," bukan Lina yang menjawab, tetapi Randy.


"Kau ...." tunjuk Gardareksa pada Randy.


"Apa? Mau aku patahkan jarimu itu?" tanya Lina.


"Hahaha ... Kau hanya perempuan. Bisa apa? Paling bisanya cuma diatas ranj*ng," tanya Gardareksa.


Lina tersenyum sinis, "Kau meremehkan perempuan?."


"Memang itu kenyataannya," jawab Gardareksa.


Lina tidak ingin bermain-main lagi. Ia berlari kecil menghampiri Gardareksa dan menendangnya. Namun dengan gesit Gardareksa mengelak. Randy hendak maju, tapi ditahan oleh Lina.


"Biar aku saja," ucap Lina. Randy pun mengangguk dan mundur beberapa langkah.


"Sudah kubilang, kau bukan tandinganku, jal**g," kata Gardareksa.


Lina kembali menyerang, kali ini ia melakukan tendangan tipuan. Gardareksa kembali mengelak. Lina kemudian memutar tubuhnya dan kakinya terangkat keatas.


Bruuk. Satu tendangan mengenai kepala Gardareksa. Gardareksa terhuyung kebelakang. Hampir saja ia tumbang ke tanah.


Lina bersalto, dan sekali lagi tendangan kakinya mendarat sempurna didada pria itu. Gardareksa terpental beberapa meter ke tanah.


"Ternyata aku tidak bisa meremehkanmu. S*alan," kata Gardareksa.


"Bagaimana?" tanya Lina.


"Aku akan serius melawanmu," kata Gardareksa.


Gardareksa maju, ia menendang kearah Lina. Tapi dengan mudah Lina menangkis tendangan itu dengan tendangan pula. Lina kemudian memutar tubuhnya dan melakukan tendangan susulan. Gardareksa yang belum siap setelah serangannya diblokir oleh Lina pun terkena tendangan tersebut. Telinga Gardareksa berdarah, saking kuatnya tendangan tersebut.


Gardareksa tergeletak ditanah. Lina kemudian bersalto dan menggunakan lutut menghantam dada Gardareksa. Seketika Gardareksa muntah darah.


"Bawa dia!" perintah Lina.


Tanpa diperintah kedua kalinya, Randy segera menggiring Gardareksa yang sudah tidak berdaya.


Tiba didepan istana, para wanita yang menjadi korban Gardareksa pun segera berlarian. Randy yang melihat itu segera menyingkir dan melepaskan Gardareksa.


Para wanita itu menghajar Gardareksa tanpa ampun. Mereka secara bersamaan memukul, menendang Gardareksa yang sudah tidak berdaya. Bahkan ada yang menjambak rambut Gardareksa dan membenturkan kepalanya pada lantai keramik.


Gardareksa hanya bisa pasrah, karena dia sendiri tidak bisa melawan. Kemudian setelah merasa puas, para wanita itu meludah ke muka Gardareksa.

__ADS_1


Bardergara yang masih bisa melihat kejadian itu hanya bisa menangis. Ia tidak pernah menduga akan mendapatkan balasan seperti ini.


"Lihatlah Paman. Seluruh rakyat mu membalaskan dendam mereka. Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu petik," ucap Abbas.


"Kita terbebas...!" sorak salah seorang wanita yang tadi menghajar Bardergara.


"Aku belum puas kalau belum membunuhnya," ucap salah satu wanita yang tadi juga menghajar Bardergara.


Mereka hanya membiarkan saja wanita itu menghabisi Bardergara dan Gardareksa. Akhirnya Bardergara menghembuskan nafas terakhir ditangan rakyatnya sendiri.


"Sebenarnya aku tidak ingin ada pertumpahan darah seperti ini," kata Lina pada Randy.


"Bukan kita yang membunuhnya, jadi tidak ada yang perlu disesali," kata Randy. Kemudian ia merangkul pundak Lina.


Seorang pria paruh baya menghampiri Randy dan berkata, "Maukah anak muda menjadi raja kami?."


Randy terdiam sejenak, lalu kemudian menggeleng cepat. Seluruh rakyat merasa kecewa. Mereka semua tertunduk, mereka berharap akan ada seorang raja yang adil dan bijaksana dalam memimpin negara mereka.


"Kalian semua dengarkan saya," ucap Abbas.


Mereka semua mendongak. Mereka menunggu berita apa yang ingin Abbas sampaikan?.


"Kalian, boleh memilih pemimpin kalian sendiri. Untuk menjadi raja kalian. Karena semua sudah terlepas dari belenggu raja yang lalim," ucap Abbas.


"Dan kami akan kembali ke negara kami, karena urusan kami untuk membebaskan kalian sudah selesai," ucap Abbas lagi.


"Saya setuju dengan usulan sahabat saya," ucap Zerro yang tiba-tiba muncul.


Semua mata tertuju pada pria tua itu, yang sekarang sudah bisa berjalan dengan baik.


"Benar. Tapi berkat mereka, kakek bisa sembuh," jawab Zerro.


Mereka kembali memandang orang yang berdiri berjejer dihadapan mereka. Warga asing yang membebaskan mereka dari belenggu raja lalim.


"Semua sudah selesai, sekarang saatnya untuk kami kembali ke negara kami," ucap Lina dengan lantang.


Mereka seperti tidak rela penyelamat mereka kembali ke negaranya.


"Tidak bisakah kalian tinggal disini untuk beberapa hari?" tanya Zerro.


"Maaf si kecil, kami juga masih ada urusan di negara kami," jawab Abbas.


Seorang wanita muda berlari kecil kearah 17 bocah kembar. Dan ia langsung memeluk salah satu dari mereka.


"Kalian masih kecil, tapi sangat berani," ucap wanita itu.


"Keberanian ada pada diri kita sendiri, kak," jawab Aleta. Ya yang dipeluk wanita itu adalah Aleta.


"Belajarlah ilmu beladiri, maka kita akan menjadi lebih kuat kedepannya," ucap Davina yang berada didekat Aleta.


"Terimakasih. Terimakasih banyak," ucap wanita itu.


"Perbaiki negara ini, meskipun hanya negara kecil tapi aku yakin kalian semua bisa memakmurkan nya," ucap Darmendra.


"Ya. kami akan membuat negara kami makmur...!" teriak mereka bersamaan.

__ADS_1


Kemudian mereka membereskan kekacauan di istana ini. Mereka semua bekerjasama saling bahu-membahu membersihkan istana tersebut.


Foto Atalarik Attar dan Alona Attar kembali dipajang di istana itu. Setelah sekian lama foto itu disingkirkan oleh Bardergara.


Abbas dan yang lainnya berziarah ke makam Atalarik Attar. Mereka mengirimkan doa dimakam tersebut.


"Sekarang dendam sudah terbalaskan, Baginda," ucap Zerro.


"Semoga ayahnda dan ibunda tenang dialam sana," ucap Abbas.


"Paduka raja, kami semua sudah membalaskan dendam mu," ucap Lina. Kemudian mereka pun menabur kelopak bunga mawar diatas makam tersebut.


"Kami akan kembali ke negara kami," ucap Abbas sambil merangkul tubuh Zerro yang terlihat sangat kurus.


"Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Zerro.


"Semoga kita diberi umur panjang, saat pernikahan cucuku nanti aku akan menjemputmu untuk datang ke negaraku," ucap Abbas.


Semua rakyat yang menyaksikan hal itu pun terharu. Mereka satu persatu menyalami Abbas dan yang lainnya.


"Maaf, kami tidak bisa mengantarkan ke bandara," ucap salah satu dari mereka.


"Tidak apa-apa," jawab Lina.


Kini mereka pun kembali ke hotel tempat mereka menginap. Dan hari ini juga mereka akan kembali ke negara mereka.


Rakyat melambaikan tangannya mengiringi kepergian pahlawan mereka.


"Bagaimana dengan janjimu, sayang?" tanya Randy saat mereka sudah berada di hotel.


"Janji yang mana?" tanya Lina mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Jangan bilang kamu mau ingkar janji?" tanya Randy lagi.


"Tidak!" jawab Lina.


"Kalau begitu aku akan melamarmu," kata Randy.


"Hei ... Kita ini mau pulang, kalian malah pacaran," ucap Lica.


"Kamu juga gandeng tangan tuh," tunjuk Lina.


"Tapi aku sudah selesai berkemas," jawab Lica membela diri.


"Ya, sudah. Aku juga mau berkemas." kata Lina.


"Gara-gara kamu," ucap Lina mendorong tubuh Randy. Randy hanya tertawa saja melihat tingkah kesal Lina.


Kini mereka sudah berada di bandara. Hanya tinggal menunggu keberangkatan saja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2